
Beberapa hari kemudian, akhir pekan pun tiba. Di mana keluarga Alvano mengunjungi keluarga Baccara. Sebelum mereka datang beberapa penjaga digantikan dan diperbanyak.
Milan pun menjalankan tugasnya yaitu membuat jembatan penyebrangan. Kekuatan Milan terbilang sangat lemah dia hanya bisa membuat sebuah benda sebesar gedung tingkat 10.
Semua persiapan telah selesai hanya tinggal menunggu keluarga Alvano tiba. Tetapi Zea belum kunjung bangun dari pingsannya waktu lalu. Tea dan Nea berkelahi karena masalah pakaian, sedangkan Hea hanya pasrah di rias oleh Elena. Lalu Lea membantu beberapa pelayan menyiapkan makanan dan mengatur ruangan.
"Lea!! Kau jangan banyak bergerak nanti riasanmu luntur!!" tegur Elena. Lea sudah selesai berdandan sedari tadi karena dia paling enak di atur.
"Tea, Nea!! Yang biru punya Tea, yang putih punya Nea. Cepat kenakan pakaian kalian," suruh Elena mulai emosi.
"Mengapa? Mengapa aku seperti ini!! Ini hanya teman daddy angkat yang datang, mengapa kami harus seperti ini mommy? Ini seperti akan ada... arghh...." Hea tak bisa lagi berkata-kata karena Elena memakaikan Hea dress berwarna pink muda.
"Tamatlah riwayatku...," sambung Hea sangat pasrah.
Setelah bergulat dengan anak-anaknya akhirnya persiapan Elena selesai, keempat putri kecilnya yang kini telah dewasa sangat tidak bisa Elena percaya.
"Kalian sudah dewasa, waktu berjalan dengan cepat dan mommy sudah tua. Apa kalian tidak ingin memberikan mommy menantu?" ucap Elena dengan wajah yang sedih.
"Dahlah, bubar semua, bubar...," sahut Tea setelah dengar ucapan Elena yang bertujuan untuk memberikan kode agar segera menikah.
"Siap, Lea akan memberikan mommy angkat menantu yang tampan dan cucu kembar, hehehe...," ucap Lea dengan semangat 45.
__ADS_1
"Kau masih bocah!! Jangan menghalang jodoh kami!! Apa kau mengerti!!" ketus Tea membuat Lea takut karena tatapan ketiga saudarinya tersebut seperti elang yang mendapatkan mangsanya.
"Haha... aku akan menjadi kakek, haha...," sahut Milan tiba-tiba entah dari mana muncul dengan tawaan yang mengerikan itu.
"Tetapi... bagaimana dengan Kak Zea, Mommy?" tanya Lea dengan wajah yang sangat sedih.
"Apakah dia baik-baik saja? Ini sudah beberapa hari dia tidak bangun, aku sangat mengkhawatirkannya," sambung Lea dengan mata berlinang.
Hea menepuk dan mengelus kepala Lea hingga membuat rambutnya berantakan. Lalu berkata, "Haha... dia tidak selemah itu. Sebentar lagi dia bangun dan menggemparkan kastil ini, boowwmm... hahah...." Hea hanya bisa menenangkan Lea dengan cara seperti itu, karena dia tidak pandai menghibur seseorang.
"Dia selalu payah dalam hal ini!!. Lea, kau sudah sangat cantik jika kau menangis nanti Zea akan marah melihat riasanmu hilang. Dia akan segera bangun dan akan boowwmm seperti yang di katakan Hea. Apa kau mengerti?" sambung Tea sembari menghapus air mata Lea agar tidak merusak riasannya.
Di sisi lain keluarga Alvano sudah berada di depan danau ingin menyebarang. Sebelum itu Lino dan kakeknya bertengkar membuat Reizo menghentikan mobil.
"Sudah aku katakan aku tidak ingin memakai parfum yang dia gunakan itu, tetapi dia tetap memaksaku, lalu salahku apa, hah!" ketus Lino.
Reizo mengambil parfum tersebut lalu menyemprotkan di seluruh dalam mobil, hingga Lino dan kakeknya terbatuk-batuk.
"Sudahkan, apa lagi yang ingin di ributkan? Kita mau ke berkunjung ke rumah keluarga Baccara, tapi mengapa sikap kalian seperti ini, mengapa?" Reizo sangat tertekan.
"Jika kalian tidak bisa akur akan aku tinggal dan jalan kaki saja menuju kastil itu," tegas Reizo.
__ADS_1
"Baiklah," sahut lesu Lino dan kakeknya bersamaan.
Reizo menghela napasnya lalu menancapkan gasnya menyebrangi danau tersebut. Mereka pun tiba dan di sambut oleh penjaga dan pengawal keluarga Baccara hingga masuk ke dalam.
"Ternyata masih ada orang yang tinggal di kastil tua seperi ini," ucap Reizo tak henti-hentinya melihat sekeliling.
"Kau menyimpulkan terlalu awal, jangan melihat sesuatu hanya dari covernya saja, Reizo," ucap kakek dengan senyuman.
"Selamat datang," ucap serempak para pelayan saat keluarga Alvano berada di depan pintu.
Saat pintu terbuka, Reizo tak berhenti melihat sekeliling hingga matanya berair karena tidak berkedip.
"Dari luar seperti kastil tua, mengapa dalamnya seperti kerjaan?" ucap Reizo terkagum melihat di dalam kastil tersebut semuanya emas.
"Haha... inilah keluarga Baccara, haha...." Kakek Lino hanya tertawa dan terus berjalan.
ππππ
JANGAN LUPA LIKENYA YAA HYUNGππ
SORRY KALO ADA TYPO YAππ
__ADS_1
JANGAN LUPA KLIK β€οΈ BIAR MAKIN SAYANG, EH SALAH WKWK.
ππππ