THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Bertemu lagi


__ADS_3

Setelah tak bertemu selama 2 minggu dengan Zea, akhirnya Lino, berhenti mencarinya. Lino, percaya mereka akan bertemu lagi walaupun surga tak menjodohkan mereka berdua.


Lino, memiliki urusan pribadi di Itali, jadi hari ini dia berangkat bersama Reizo dan hanya beberapa pengawal saja. Saat dia melewati hutan-hutan menuju bandara, tiba-tiba saja ban mobilnya meledak.


"Apa yang terjadi?" tanya Reizo dari alat Earpiece (penyuara telinga).


"Ban mobil kita meledak, padahal sebelum berangkat kami semua sudah memeriksanya," sahut pengawal di mobil paling depan.


"Bersiaplah, pasti kita sedang di jebak. Utamakan keselamatan, Bos, terlebih dahulu." Reizo, mengeluarkan senjata dari dalam jasnya dan memasang predam secepatnya.


"Dasar bodoh!! Mereka tidak akan menyerang kita. Tetapi, ingin kita mengalami kecelakaan besar," jelas, Lino, saat melihat tikungan tajam di depan mereka sejarak 100m.


"Ciitt...." Nea, tiba-tiba mengerem mendadak membuat kepala ketiga saudarinya terhantup.


"Nea!!" rilih Tea.


"Di depan sepertinya akan terjadi kecelakaan. Kasian sekali mereka harus menderita jatuh ke jurang yang tinggi itu."


"Plak!!" Hea, memukul kepala Nea.


"Yak!! Apa yang kau lakukan. Sakit tau!!" seru Nea.


"Kau lihat akibat perkataanmu itu. Zea, menolong orang itu!!" Hea, menunjuk Zea, berjalan sembari menggunakan topeng dan jubahnya tersebut.


"WHOOSHH...." Zea, berlari sangat cepat dan berhenti di depan mobil yang di dalamnya ada, Lino dan Reizo.


Hanya dengan satu tangannya saja, mobil yang melaju tak beraturan tersebut langsung terhenti seketika. Lino dan Reizo, sangat terkejut melihat hal itu. Mereka tak sempat melihat siapa yang telah menolong mereka.


Setelah menghentikan mobil tersebut, Zea, langsung berpindah tempat menyelamatkan mobil satunya yang sudah hampir jatuh ke jurang.


"Aakkhhh...," teriak sopir di dalam mobil tersebut. Zea, menarik mobil itu ke tepi jalan. Setelah melihatnya semuanya telah beres, Zea, kembali ke mobilnya.


"Ahh... Sangat melelahkan," ucap Zea dengan helaan napas seperti desa*an.


"Segera ke bandara, kita akan ketinggalan pesawat," sambung Zea, sembari mengenakan headset.


"Bukankah, itu semua karena dirinya yang menghambat perjalan kita!! Biarkan, aku menjambak rambutnya itu," geram Tea, sembari meraih Zea, tetapi tak sampai karena tubuhnya masih menggunakan sabuk pengaman.

__ADS_1


"Diamlah, jika tidak kecelakaan selanjutnya adalah kita," sahut Nea, langsung menancapkan gasnya.


Saat mobil mereka melewati mobil Lino, saat itu Lino, memperhatikan mobil tersebut, lalu dia merasa melihat Zea, berada dalam mobil tersebut.


"Kirimkan beberapa mobil dan pengawal lagi. Sekarang!!" Reizo, menelepon kepala penjaga di rumah utama, Lino.


"Sepertinya aku tak salah lihat. Itu memang dia," gumam Lino, dalam hati.


Di dalam pesawat


Zea dan ketiga saudarinya tersebut sudah berada di dalam pesawat kelas bisnis.


"Ahh... Aku sudah lama tak bertemu dengan, Mommy Angkat. Aku sangat merindukannya," ucap Nea, sembari mengambil posisi untuk beristirahat.


"Apa kau tak ingin bertemu dengan, Mommy Angkat?" tanya Hea.


"Entahlah. Biarkan aku istirahat," jawab Zea, sembari menjulurkan tangannya ke arah jalanan.


Saat menjulurkan tangannya Zea, merasa sedang menyentuh sebuah dinding yang di tengah-tengahnya memiliki benjolan besar.


Zea dan ketiga saudarinya tersebut melihat asal suara tersebut.


"Zea!!" hardik ketiga saudaranya bersamaan yang terkejut melihat tangan Zea, berada si tempat yang tak semestinya.


"Ohh... Maaf," sahut dingin Zea. Lalu, segera membalikkan badannya membelakangi, Lino.


"Zea, apa yang sudah kau pegang? Mengapa itu ada berada di sana? Mengapa punya sangat besar?" gumam Zea dalam hati sembari menggenggam kedua tangannya.


"Maafkan, saudari saya, Tuan," ucap Hea, sembari membungkukkan badannya.


"Hea!! Apa yang kau lakukan?" tanya Zea.


"Palakk!!" Hea, memukul kepala, Zea. "Dasar anak bodoh, kau sudah salah malah bertanya!" seru Hea.


"Tidak apa-apa. Mungkin saudari, Nona, masih ingin memegang pisang raja saya," jawab Lino, tak tahu malu.


"Dari mana asalnya pria cabul in...." Zea, berhenti berbicara saat melihat pria yang dia sentuh tadi adalah Lino.

__ADS_1


"Perkataanmu belum selesai." Lino, mengingatkan, Zea.


"Hea, berhentilah, membungkuk. Itu salahku, kau tak perlu merendahkan dirimu."


"Maafkan saya."


Ucap dingin dan tak tulusnya Zea, sangat terlihat jelas.


"Haa... Zea, tetaplah Zea. Maafkan kami, atas kesalahan saudari kami. Silahkan, nikmati perjalanan, Anda," sahut Tea, sembari membungkukkan badannya juga.


"Apa aku harus membungkukkan badanku? Kurasa tak perlu. Hei... Kau yang memiliki pisang raja, duduklah di tempatmu. Pesawat akan berangkat," ketus Nea.


"Plak!! Dasar bodoh!!" Tea, memukul kepala, Nea.


"Aku tunggu traktiran kalian, sebagai tanda maaf," sahut Lino, lalu menuju tempat duduknya.


"Dasar manusia, bodoh!" ketus Zea.


"Kami bertiga juga manusia, bodoh!! Plak!! Plak!! Plaak!!" Hea, memukul, Zea.


"Tetapi, siapa dia?" tanya Tea.


"Hah... Kalian audah berumur, tentu saja melupakan semuanya sangat cepat," sahut Zea.


"Bisakah, aku menggulungnya dan memasukkannya dalam koper!!" marah Nea, karena Zea, selalu saja berkata tak sopan. Tea, berusaha menahan Nea, agar tak menambah pukulan untuk, Zea.


"Dia, yang menculikku dan orang yang memilki data saat ini aku pegang," jelas Zea, lalu kembali ke posisi nyamannya.


Mereka bertiga langsung mengingat dan melihat, Lino, secara diam-diam.


"Ternyata, saat melihat lebih dekat dia sangat tampan," ucap Nea, tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


"Hehe... Kau betul sekali, Nea," sahut Tea dan Hea, bersamaan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


OKE SAMPAI DI SINI DULU. JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAKNYA YA BERUPA, LIKE, KOMEN ATAU VOTE 😊 TUNGGU UP BERIKUTNYA ESOK HARI, BYE BYE πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2