THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Lepaskan aku


__ADS_3

Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di negara K. Zea dan keempat saudaranya langsung turun saat pesawat mendarat. Lino baru saja bangun dari tidurnya, dengan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, karena menghabiskan tiga botol wine tadi malam.


Sebelum Zea masuk ke dalam mobil, Reizo menghentikannya secara tiba-tiba.


"Tunggu sebentar, Lino ingin mengatakan sesuatu," ucap Reizo, menghentikan langkah kaki Zea.


"Bukankah, kita sudah tidak ada urusan lagi?"


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu," sahut Lino baru keluar dari pesawat, lalu menghampiri Zea.


"Kak Hea, bukankah mereka sangat serasi? Jika orang lain melihat pasti mengira mereka pasangan," ucap Lea yang sudah duduk manis di dalam mobil, sembari melihat Zea dan Lino di balik kaca mobil.


"Kau tidak perlu menanyakan hal itu kepadanya. Dia tidak menyukai Lino, dia selalu saja seperti itu," sahut Tea dengan nada kesal.


"Haa... sebetulnya aku tidak membencinya."


"Hah...." Tea, Nea dan Lea terkejut mendengar ucapan Hea, hingga menghentikan omongannya.


"Lalu mengapa kakak selalu berkata kasar dan menjauhinya dari, Kak Zea?" lanjut Lea.


"Bagaimana aku mengatakannya, ini sedikit rumit," jawab Hea membuat ketiga adiknya tersebut memasang wajah serius.


"Hmm... karena... hmm... aku tidak ingin di dahului adikku menikah, hahaha." Hea tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah adik-adiknya menjadi datar.


"Maaf-maaf, wajah kalian terlalu imut. Hmm... Lino itu sangat sempurna. Dia kaya, pemberani, bertanggung jawab mungkin, hmm... lalu apa lagi, ya... ahhh paling penting dia cukup tampan."


"Hanya itu saja?" tanya Lea.


"Tidak!! Yang paling penting, itu adalah dia." Hea melirik Zea.


"Mungkin umurnya sudah cukup untuk menikah, tetapi umur bukan patokan untuk mengatakan diri kita dewasa. Ya, dia sudah dewasa, tetapi pemikirannya lebih dangkal dari pada dirimu." Menunjuk Lea.

__ADS_1


"Lalu, dia belum bisa menempatkan seorang pria di dalam hatinya, karena dia selalu berpikir kalau dia adalah makhluk hidup yang gagal. Dia bukan manusi juga bukan drakula dan kemungkinan besar jika dia mati, dia akan berubah menjadi drakula."


"Lalu, mengapa jika berubah menjadi drakula?" tanya Lea lagi.


"Dia tidak ingin mengulang kehidupan seperti, mommy dan daddy." Hea langsung menundukkan kepalanya dan di ikuti oleh Tea dan Nea. Mereka merasa sangat frustasi dengan keadaan Zea sekarang.


"Kak Zea." Lea menatap Zea dengan mata yang berbinar-binar menahan tangisannya.


Di sisi lain, saat Lino sudah di hadapan Zea. Tiba-tiba saja dia langsung menggenggam tangan Zea dan menariknya dengan kasar. Zea langsung menepis tangannya, membuat genggaman tersebut terlepas.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zea dengan tatapan datar.


"Masuklah ke dalam mobilku, aku akan mengantarkanmu," jawab dingin Lino.


"Suasana macam apa ini? Lebih baik aku menjauh dari mereka," gumam Reizo, melangkahkan kakinya dikit demi sedikit menjauh dari Lino dan Zea.


"Bukankah sudah tidak ada kakekmu? Lalu buat apa bersandiwara lagi?"


"Lino, lepaskan aku!! Aku bukan, Lyra!!" Zea menundukkan kepalanya dengan wajah menahan rasa sakit.


"Ada apa dengan jantungku?" gumam Zea dalam hati.


"Deg...."


Jantung Lino serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Zea tersebut. Dengan perlahan Lino melepaskan tangan Zea, wajah suramnya terlihat jelas.


"Aku hanya ingin mengantarmu. Jika kau menolak, aku tidak akan memaksa lagi," sahut Lino sangat pasrah.


"Bukankah dari tadi aku sudah menolakmu!!"


"Baiklah, mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tetapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu."

__ADS_1


"Selagi pertanyaanmu bisa aku jawab, akan aku jawab."


"Siapa bos besar kalian? Maksudku, siapa yang memerintahkan semua perkerjaan kalian?"


"Hmm... maksudmu, tentang data kemaren? Itu hanya disuruh oleh daddy. Kau pasti tau mengapa dia melakukan hal itu."


"Iya, kakekku sudah mengatakannya. Yang aku tanya perkejaan lainnya, yang bukan disuruh oleh orang tuamu."


Zea langsung menatap Lino, lalu berkata, "Itu bukan urusanmu, sampai jum... tidak-tidak, kita tidak akan bertemu lagi. Hati-hati di jalan."


Zea langsung menghampiri saudaranya, setelah Zea masuk Nea langsung menancap gas dan melaju menuju rumah mereka.


Lino juga masuk ke dalam mobilnya dengan suasana hati yang tidak bagus. Mendengar perkataan Zea tersebut membuat dirinya mengingat hal-hal bersama dengan Lyra lagi.


"Maafkan aku telah melupakanmu beberapa hati ini, Lyra," gumam Lino dalam hati.


"Mengapa ini bisa terjadi?" gumam Lino membuat kepala semakin sakit.


"Hah? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Reizo.


"Tidak, segera pulang. Kepalaku sedikit pusing."


"Baiklah." Reizo langsung menancap gas mobilnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA HYUNG, BERUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTENYA.


MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU DIKURANG MENGERTI.


JANGAN LUPA KLIK ❀️ NYA JUGA YA. πŸ˜ŠπŸ‘Œ

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


__ADS_2