THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Tak bertemu lagi


__ADS_3

Matahari pagi sudah masuk melalui celah-celah tirai di kamar, Lino. Lino, merasa tangannya sangat kram hingga tidak bisa bergerak. Tidak seperti pagi-pagi lainnya, hari ini Lino, merasa sangat hangat.


"Mengapa aku merasa ada seseorang di hadapanku," gumam Lino, dalam hati sembari membuka matanya perlahan.


Lino, sangat terkejut hingga ingin menendang seseorang yang ada di depannya itu. Tetapi, saat orang itu bergerak dan memperlihatkan wajahnya, ternyata itu adalah Zea.


Di pagi yang cerah itu, wajah Zea, yang terkena sinar matahari membuat wajahnya seperti berbinar di mata, Lino. Lino, tak bisa berkata-kata dan bergerak, walaupun tangan kirinya sangat kram karena tertindih kepala, Zea.


Tanpa Lino, sadari tangan kananya perlahan mendekati wajah Zea.


"Mengapa saat tidur dia sangat imut? Apakah, kau sungguh bukan, Lyra?" gumam Lino dalam hati, sembari mengelus rambut, Zea.


"Zea!! Bangun!!" ucap Hea, lewat alat pendengar mereka. (Alat pendengarnya itu kalung yang di pake Zea, ya. Bukan Zea, aja yang pake lainnya juga. Nanti akan di jelaskan lebih ditel lagi.)


Zea, langsung membuka matanya dengan spontan, hal itu membuat Lino, terkejut dan badannya tambah tidak bisa di gerakkan.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Zea, lalu menendang, Lino.


"Bruakk!!" Lino, terguling hingga jatuh dari atas kasur.


"Aakkhhh!! Pantatku!!" ucap Lino, tak bisa berdiri karena semua badannya kaku dan kesemutan.


"Lino!! Apa yang terjadi?" tanya Reizo, langsung masuk mendengar keributan dari luar.


"Tuanmu, ini sudah melecehkanku. KELUARR!!" hardik Zea, sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tapi...."


"Reizo, angkat aku keluar, sekarang," pinta Lino. Reizo, langsung bergegas membawa Lino, keluar.


Di ruang tamu


"Akh... Akh... Turunin aku perlahan," ucap Lino, dengan badannya yang keram tersebut. Setelah, menuruni Lino. Reizo, langsung bergegas kembali ke kamar, Lino.


"Kau mau ke mana?" tanya Lino, menghentikan langkah, Reizo.


"Kau mau ke kamarku? Biarkan saja dia di sana," sambung Lino.


"Tapi, di sana banyak barang-barang berhargamu," jawab Reizo, khawatir.


"Tenang saja, tanpa sidik jariku semuanya tidak akan bisa di buka walau kau menghancurkan."

__ADS_1


"Tapi..."


"Sudahlah, lebih baik kau bantu aku. Badanku masih keram, aku seperti seseorang yang sedang terkena struk."


Ucap Lino, membuat Reizo, tak jadi pergi dan segera memijat badan Lino, agar kembali seperti semula. Di sisi lain, Zea, sangat bahagia, dia tak perlu lagi memikirkan cara agar bisa masuk ke kamar Lino, tanpa hambatan.


"Alam, sangat memberkatiku hari ini, akan aku traktir makan kalian hari ini," gumam Zea.


"Baiklah, kami akan menunggumu di tempat biasa," sahut Tea, sembari mandi.


"Jika, tahu alam sedang memberkatimu, aku tidak akan masak hari ini," sambung Nea, baru saja selesai memasak makanan.


"Ahh... Sudah berapa lama, aku tidak mandi pagi. Apakah, aku harus mandi pagi hari ini?" gumam Hea, sembari memilih beberapa baju.


"Jika, dari sekitan miliyar orang di dunia ini, lalu hanya 10% saja yang memiliki sidik jari yang sama. Mungkinkah, sisik jariku sama dengannya," gumam Zea, sembari perlahan menempelkan jarinya ke laci Lino, berisi data yang dia cari.


"AKSES DITERIMA." Tulisan yang tertera di keamaan laci tersebut.


"Wah... Sidik kami memang sama. Haha... Aku bisa keluar masuk rumah ini tanpa menggunakan kekuatanku. Haha... Baiklah saudari-saudariku, waktunya aku kembali di mana temaptku berasal.


Zea, menyipan dat tersebut di dalam bajunya, lalu keluar lewat balkon kamar Lino, tetapi, sebelum dia pergi, Zea, menuliskan sesuatu di kertas dan di letakkannya di atas meja.


"Hahaha...." Zea, tertawa dengan lantang, lalu melompat dan meninggalkan tempat tersebut dengan sekejap.


"Bos, Nona Lyra, hilang lagi," ucap penjaga tersebut ketakutan.


"APA!!" ucap Lino dan Reizo bersamaan. Mereka langsung, bergegas menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar Lino, Reizo langsung memeriksa semua barang-barang yang ada di kamar Lino, sedangkan Lino, dia menuju arah balkon dan melihat ke arah luar.


"Lino, yang kita ambil hilang. Bagaimana bisa? Bukannya kau bilang itu tidak akan terbuka walaupun di hancurkan," tanya Reizo, tak habis pikir.


"Dia bukanlah, Lyra," sahut Lino, yang masih menatap ke arah luar. Reizo malah syok mendengarkan perkata Lino, tersebut.


"Yak!! datamu hilang datamu!! Mengapa kau malah membahas, Lyra?"


"Aku tahu itu akan hilang, tenang saja walaupun yang di ambilnya asli, tetapi aku sudah menyalinnya."


"Lino...," panggil Reizo, karena melihat surat yang di tinggalkan, Zea.


"Sudahku katakan dia bukan, LYRA!!" bentak Lino.

__ADS_1


"Yak!! Bajingan tengik!! Dia meninggalkan surat untukmu. Jika, kau tak ingin membacanya aku akan membak...."


"Whosshh...." Dengan sergap Lino, mengambil surat tersebut dan itu membuat Reizo, terhenti berbicara.


"KITA TAK AKAN BERTEMU LAGI. WALAUPUN KITA BERJODOH, TETAP SAJA TIDAK AKAN BERTEMU LAGI!!" Tulisan yang tertulis di surat tersebut, lalu di ujungnya memiliki cap bibir, Zea.


"Hah!! Kita pasti akan bertemu lagi!! Walaupun dewa sekalipun yang melarang itu, kita akan tetap bertemu," gumam dingin Lino, dengan senyum tipis.


***


"Ahh... Sudah lama kita tak bersantai seperti ini," ucap Tea, sembari menghela napasnya.


"Latte 2, mochacino 1 dan kopi satu sendok gula 1. Apa ada yang ingin memesan lainnya?" tanya Hea.


"Aku ingin kebab 3," sahut Nea.


"Berhentilah, membuang makanan, Nea!" tegur Zea.


"Yak!! Aku lebih tua darimu, mana sopan santunmu?"


"Bukankah, sejak lahir otak dan akhlaknya di tinggalnya dalam rahim?" sahut Tea.


"Kalian, terlalu kejam dengan diriku." Zea, mengimutkan wajahnya.


"Zea, lama tidak bertemu," ucap seorang lelaki sembari memegang pundak, Zea.


Ternyata lelaki tersebut adalah Dion Bratram. Dion, berasal dari klan Hale, di keluarga memiliki kekuatan memanipulasi pengelihatan seseorang. Keluarga Dion, berencana menikahi anaknya dengan Zea. Tetapi hal tersebut langsung di tolak mentah oleh keluarga, Zea.


Hampir seluruh klan ingin menikahi anaknya dengan, Zea. Karena, kekuatan yang di miliki Zea, tiada habisnya setiap hari selalu berkembang. Bahkan untuk saat ini dia sudah menguasai separuh kekuatan di seluruh klan di dunia.


"Berhentilah, sebelum matamu, aku buat buta," tegas Zea, karena merasa Dion, ingin menggunakan kekuatannya.


"Haha... Kekuatanmu bertambah lagi, Zea," sahut Dion dengan tertawa agar tak membuat suasana bertambah canggung.


"Minuman datang," ucap pelayan cafe. Karena, mereka sering menongkrong di cafe tersebut jadi, setiap pelayan maupun orang yang memiliki cafe tersebut sudah akran dengan mereka.


Setalah pelayan itu menaruh minuman Zea, Dion, langsung mengambil ingin meminumnya. Nea, ingin menghentikannya tetapi sudah tak sempat lagi.


"Uwwekk... Uhuk! Uhuk!!" Dion memuntahkan minuman tersebut.


"Zea, minuman apa ini? Mengapa rasanya sangat pahit? Akhh... Lidahku mati rasa...." oceh Dion, tak henti-henti, sembari berjalan meninggalkan mereka berempat.

__ADS_1


"Haa... Aku sangat kasihan pada lidahnya," ucap lesu Hea.


Pelayan cafe segera menggantikan minuman Zea, lalu mereka kembali menikmati hari santai yang mengharukan tersebut.


__ADS_2