THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
KLAN VICIOUS


__ADS_3

"Apakah, tadi kalian melewati gunung jurang?" tanya Lino, tiba-tiba.


"Sepertinya aku baru mendengar nama itu," sahut Hea.


"Mengapa? Apakah, kau melihatku. Melewati tempat tersebut?" tanya balik Zea, dengan mata yang tertutup.


"Aku hanya bertanya, mengapa kau tak suka. Hmm... Ataukah itu memang kalian?" jawab Lino, membuat mereka tak bisa berkata-kata.


"Tutuplah mulutmu itu, walaupun itu aku. Memangnya kenapa? Kau sangat berisik!!" geram Zea.


"Terkadang mulutnya yang ceplas-ceplos itu sangat berguna," sahut Nea.


Makan malam pun tiba. Mereka makan bersama walau beda tempat duduk. Lino dan Zea mendapatkan kursi yang berhadapan walaupun bersebrangan, tetap saja mereka bisa melihat satu sama lain.


"Nona Zea, apakah kau menikmati tidur bersamaku waktu itu?" tanya Lino, sembari mengangkat gelas anggurnya dan memutar-mutarkannya.


"Uhukk... Uhuk...." Mereka berempat dan Reizo, pun ikut tersedak mendengar perkataan, Lino.


"Yaakkk!!" tegur Zea, dengan wajah yang terlihat mengatakan 'Mengapa kau mengatakan itu.'


"Aku hanya menanyakan saja. Saat itu wajahmu sangat mer...."


Dengan sergap Zea, berlari ke arah Lino, untuk menutup mulut, Lino, yang tak ada remnya itu. Tanpa Zea, sadari dia terduduk di pangkuan, Lino.


"Jika, kau mengatakannya lagi. Tak akan aku buka mulutmu. Apa kau mengerti?" tanya Zea. Lino, menganggukkan kepalanya. Perlahan Zea, membuka mulut, Lino.


Tetapi, tangan Lino, malah merangkul pinggang Zea yang ramping tersebut. Zea, terkejut karena baru tersadar sedang berada di pangkuan, Lino.


"Wahh... Pahamu sangat kekar," ucap Zea yang tak di sangka.


"Berapa lama kau akan duduk di pangkuanku?" tanya Lino.


"Ahem... Zea, kembalilah ke tempat dudukmu!!" tegur Hea.

__ADS_1


"Baiklah. Bisakah, singkirkan tangan cabulmu itu dari tubuh anggunku ini!" seru Zea.


Zea segera kembali ke tempat duduknya, melanjutkan makanannya bersikap seperti tindak tejadi apa-apa.


"Zea, sekarang apa lagi alasanmu?" tanya Tea. Tatapan Zea, tiba-tiba menjadi tegang.


"Zea, tatapan itu tak bisa membuatkan alasan untukmu," sambung Tea, sembari menghela napas.


"Klan Vicious, ada di sini." Saat mengatakan hal itu mata, Zea, perlahan berubah dari warna biru langit menjadi merah delima.


"Segera bawa mereka, ke kelas VVIP. Sebut saja sana Si Tua (Ayah Zea), itu. Pergilah kau, Tea."


"Zea, rambutmu!!" Hea, terkejut melihat rambut Zea, berubah juga menjadi warna biru malam.


"Cepat bawa mereka!!" hardik Zea.


Tea, langsung mengeluarkan sebuah serbuk jika di hirup sedikit saja akan langsung pingsan. Setelah mereka pergi, Zea, bergegas membersihkan jejak Tea, Nea, Lino dan Reizo.


Mereka memang bukan tandingan Zea. Tetapi Zea, tidak bisa melindungi lebih dari 2 orang, karena kekuatannya belum bisa dia gunakan sepenuhnya.


"Mereka datang. Mereka hanya berdua anak kedua dan terakhir. Bersikaplah, tak terjadi apa-apa. Lanjutkan makanmu," jelas Zea.


"Bisakah sekali saja kau sopan santun padaku. Dulu kau sangat sering memanggilku kakak, saat umurmu masih 5 tahun," sahut Hea.


"Kata-kata ini bagus untuk membuat suatu drama," gumam Zea, dalam hati disandingi senyum tipis dari bibirnya.


"Cletek...." Pintu terbuka.


"Wah... Tak di sangka, kita bertemu di sini," sapa Anna. Anak kedua.


"Apakah, dia yang bernama Zea, itu? Tampangnya wajahnya seperti babi tetapi, tubuhnya seperti jerapah, sangat kurus. Apa kau hanya memberi makan wajahmu?" celetuk Miren. Anak terakhir.


"Ahh... Kalian mengenaliku. Tetapi, maaf kalian siapa? Ini pertama kalinya kita bertemu!" tutur Zea, membuat kedua saudari itu emosi.

__ADS_1


Whooss.... Miren, sudah berada di hadapan Zea, sembari mencekik leher, Zea.


"Apa kau lihat Hea, tidak sopannya aku, ada lagi yang lebih tidak tau sopan satun. Bagaimana, seseorang menyapa dengan seperti ini? Dasar makhluk bodoh!!" cetus Zea.


"Kau!!"


"Plakk!!" Seseorang pria menampar Anna dan menarik Miren, menjauhi, Zea. Ternyata pria tersebut, kakak pertama mereka yaitu, Kapila.


"Ahh... Dia menyembunyikan baunya. Lumayan pintar," gumam Zea, sembari melirik Kapila.


"Maafkan atas kelancangan kedua saudari saya, Nona Zea," ucap Kapila, sembari mencium tangan Zea.


Zea, segera menarik tangannya, lalu mengelap bekas kecupan tersebut ke baju Hea, dengan menyembunyikannya dari, Kapila.


"Ahh... Tak apa-apa. Aku hanya menanyakan siapa mereka. Tetapi, malah mereka menyerangku," jelas Zea dengan senyuman terpaksa.


"Sekali lagi saya meminta maaf atas saudari saya. Kami dari Klan Vicious, keluarga Arsalan," jelas Kapila.


"Ahh... Keluarga Arsalan. Tetapi, maaf aku tak mengenalnya, tapi tak apa-apa kita sudah berkenalan di sini. Maafkan jika saya sudah membuat saudari Anda, merasa tak nyaman," ucap Zea, dengan penekanan di akhir ucapannya.


"Seperti yang di rumorkan, Nona Zea, sangat cantik, anggun dan aura, Nona Zea, sangat kuat. Tetapi...." Melirik ke arah Hea. "Mengapa, Nona Zea, bersama dengan manusia rendahan?" sambung Kapila.


Perkataan yang menghina Hea, tersebut membuat Zea, sangat marah. Kemudian, cahaya merah bercampur emas keluar dari seluruh tubuh, Zea. Cahaya tersebut membuat Anna dan Miren, menggetar dan kesakitan, meraka tak bisa bernapas dengan benar seperti ada yang mencekik mereka.


Sedangkan, Kapila, di dorong Zea, hingga ke dinding pesawat dengan cekikan satu tangan Zea, saja. Membuat, Kapila, terangkat tinggi.


"Siapa yang kau sebut rendahan!!" ketus Zea.


"ZEA!! HENTIKAN ITU!!" hardik Hea.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAKNYA KAKAK๐Ÿ˜Š HANYA LIKE SAJA TAK APA-APA KOK๐Ÿ˜Š AGAR AUTHORNYA SEMANGAT BUAT UP๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2