THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Wanita yang misterius


__ADS_3

"Hehe... ini sangat menyenangkan," ucap seorang wanita dengan senyuman tipis ya di balik pepohonan di tepi danau.


"Maafkan saya nona, saya terlalu meremehkannya,"


Pria misterius yang hilang tadi menunduk memohon pada wanita tersebut.


"Lupakan itu. Kau sudah berusaha dan aku hargai itu, hehe...."


Pria tersebut menyeringai, tetapi tiba-tiba matanya membulat terkejut dia merasa aneh dengan badannya. Ternyata kepalanya sudah terlepas dari tubuhnya, wanita itu menggotong kepala pria tersebut.


"Ouhh... tubuhmu mulai menjadi abu, haha... bye bye...."


Wanita itu melemparkan kepala pria tersebut ke atas dan turun perlahan menjadi abu. Wanita itu berjalan sembari meloncat-loncat kegirangan dan diiringi dengan tawaan yang sangat menyeramkan.


"Hehe... masa depan yang aku lihat tidak pernah meleset. Ini sangat menyenangkan, haha... sampai jumpa lagi, Zea." Wanita itu pun pergi dengan kegembiraan.


Di sisi lain Tea membawa Reizo ke kamar tamu sedangkan Lino masih syok dengan apa yang di lihatnya hari ini. Tubuhnya menggetar dengan tatapan yang kosong, lalu Hea membawa Zea ke kamarnya.


Nea dan Lea membawa kedua saudara klan Vicious ke penjara bawah tanah. Mereka jalan dengan sempoyongan dengan tatapan kosong karena masih tidak menyangka saudari mereka meninggal.


"Vano, maafkan kami telah membawamu dalam masalah ini," ucap Milan sungguh-sungguh menyesal.


"Tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Apakah Zea baik-baik saja?" sahut Alvano, malah mengkhawatirkan Zea dari pada Lino.


"Tn. Alvano, bukankah harusnya kau mengkhawatirkan cucumu?" tanya Elena ragu-ragu.


"Dia? Tidak perlu. Dia harus menerima semua ini, karena di masa depan dia akan melihat hal yang lebih mengerikan dari pada ini–"

__ADS_1


"Tn. Alvano, sebaiknya kalian tinggal saja beberapa hari di sini. Zea mengatakan...."


"Baiklah, aku mengerti tunjukkan kamarku," sanggah Alvano membuat penjelasan Hea terhenti.


"Dia terlihat lebih tidak manusiawi."


"Mungkin kita yang telah menjadi manusia seutuhnya."


Ucap Elena dan Milan tercengang melihat Alvano sama sekali tidak ketakutan akan semua yang di lihatnya tadi.


"Nak, bagaimana jika kamu istirahat dahulu," ucap Elena menghampiri Lino dan mengelus pundaknya.


"Pasti sangat berat untukmu untuk memikirkan semua ini. Tetapi ini semua adalah nyata bukan fantasi yang ada di cerita. Kau...."


"Tinggalkan aku sendiri," sahut Lino memutuskan pembicaraan Elena. Milan yang mengerti perasaan Lino langsung membawa Elena menjauh dari Lino.


"Dia seperti kakeknya, bukannya si tua itu juga seperti dia waktu dulu."


"Dia harus menerima semua ini. Kita sudah bersumpah darah dengan Alvano, kita tidak bisa mengingkarinya, Sayang."


"Baiklah."


Milan dan Elena khawatir tentang Lino. Mereka takut Lino tidak bisa menerima Zea yang berbeda dunia dengan dirinya.


Di sisi lain, di sebuah kastil yang gelap, suram dan di penuhi drakula haus akan darah. Wanita yang berada di kastil Zea tadi menghampiri seseorang yang duduk di sebuah kursi kerajaan.


"Mama, ini sangat menyenangkan, haha...."

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Ramalan kita tidak pernah meleset dan kita selangkah mendekati tujuan kita, hehe...," ucap seorang wanita dengan senyuman yang mengerikan, memakai sebuah mahkota di atas kepalanya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Zea pergilah. Pergi...."


"Zea, aku mencintaimu!! Dan maafkan aku!!"


"Zea, pergilah sejauh mungkin dengan saudarimu. Pergilah, Nak!!"


"Mommy, Daddy, Lino!!! Hikss... tidak... jangan... TIDAKK!!"


"Haaa... ahhh... haaa...."


"Hanya mimpi, hanya mimpi. Semuanya hanya mimpi." Zea bangun dari tidurnya dan mengelap air mata yang ada di pipinya.


Lalu keluar dari kamarnya dan datang ke kamar Lino dan berbah di samping Lino. Zea menatap Lino hingga dirinya tertidur pulas.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA HYUNG. BERUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE.


MAAF KALO ADA KATA TYPO ATAU KURANG DIMENGERTI


JANGAN LUPA KLIK ❀️ NYA JUGA YAβ˜ΊοΈπŸ‘Œ


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2