
Zea membuka pintu kamar Tea dengan perlahan, Tea duduk di sudut ruangan dengan wajah lesu dan badan yang masih penuh darah. Ruangan khusus tersebut mengandung obat penenang untuk para drakula yang kehilangan kendalinya.
"Tea, apa kau bisa mendengarku?" tanya Zea dengan perlahan mendekati Tea.
"Ohh, Zea, aku mendengarmu. Apa kau baik-baik saja? Apakah lukamu sudah di obati? Kau sudah makan? Aku harus memesankan makanan untukmu. Nea, apakah dia sudah bangun?"
"Kak, tenanglah. Kau membuatku takut," ucap Zea memeluk Tea dengan tetesan air mata yang tiada henti.
"Aβaku takut dengan diriku sendiri, Zea, hikss... bagaiman jika aku menyakiti kalian? Aku takut hiks...."
"Maafkan aku, kak. Maafkan aku telah mengubah menjadi monster, aku tidak bisa kehilangan dirimu, maafkan aku."
"Zea, kau menangis? Maafkan aku membuatmu menangis, maafkan aku. Zea kami tidak pernah menangis, jadi kumohon berhentilah menangis." Tea mengusap air mata yang ada di pipi Zea.
"Tidak, ini hanya keringat. Aku tidak menangis, apakah kakak lapar?"
"Hmm... aku merasa perutku sudah berhari-hari tidak makan."
"Haha... kau memang tidak makan berhari-hari. Ayo kita makan, lalu melihat kemampuan apa yang kau miliki. Lalu kita bergegas menyelesaikan tugas kita yang tak dikerjakan beberapa hari."
Zea menarik tangan Tea, tapi mereka berhenti di depan pintu karena Tea berhenti berjalan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Zea bingung.
"Apakah aku tidaka akan menyakiti orang?"
"Bagaimana jika aku melukai Nea atau yang lainnya?"
"Apakah kau bodoh? Kau tidak pernah menyakitiku, lalu mengapa karena kau menjadi kuat dan memiliki kekuatan kau akan menyakitiku? Apa kau mau pamer? ucap Nea dari samping pintu.
"Cepatlah turun kami sudah sangat lapar." Nea menarik tangan Tea menuju ruang makanan.
"Tunggu," ucap Zea, membuat langkah kaki saudari kembarnya tersebut berhenti.
"Bukankah kau harus mandi dulu, Tea? Kau sudah tidak mandi beberapa hari, kau sangat bau," ketus Zea.
"Terimakasih, Zea," ucap Nea.
"Dia juga kakakku, segeralah turun ke bawah."
Setelah selesai makan Zea dan lainnya membawa Tea ke halaman belakang rumah, di belakang rumah Zea seperti hutan rimba. Dia sengaja memilih tempat tinggal dengan lingkungan seperti itu, untuk tempat latihannya dan juga untuk kejadian seperti ini.
Zea memang tidak ingin saudarinya berubah seperti setengah dirinya, tetapi semakin dewasa dia tidak bisa berpegang teguh dengan ucapannya tersebut. Dia sudah merasakan pasti suatu saat saudarinya akan berubah sepertinya, entah oleh dirinya atau oun dari musuhnya.
__ADS_1
"Baiklah, ini tes paling awal untuk seorang drakula muda. Aku harap ini berjalan lancar," ucap Zea.
Zea mengikat seekor rusa 100 meter dari tempat mereka berdiri. Untuk beberapa hari ke depan Zea hanya akan mengajarkan Tea menahan rasa haus akan darah. Tea harus bisa menahan aroma darah manusia, bagi kaum drakula aroma darah manusia sangat harum, sedangkan hewan aromanya harum tetapi ada amisnya sedikit.
Kali ini Nea yang akan menjadi bahan untuk percobaan tersebut. Tetapi jarak Nea dan Tea hanya 10 meter, sedangkan rusa 100 meter, itulah tantangan yang sangat efektif untuk menahan tidak mengigit manusia saat sedang rasa hausnya muncul.
"Baiklah hitungan ketiga, kalian harus mengeluarkan darah," tegas Zea.
"Oke," sahut Nea dan Hea yang menjaga tubuh rusa bersama Milan.
"Satu...."
"Dua...."
"Ti... gaa."
Srattt....
"Akhh...." desis Nea merasa perih.
ππππππ
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA, HYUNG ππ
πππππ