THE DEVIL PSYCHO

THE DEVIL PSYCHO
Perjodohan


__ADS_3

Zea menghela napasnya lali menggenggam tangan Lea. Perlahan pula dia melepaskan topengnya tersebut.


"Ahh... sepertinya aku tidak bisa bersembunyi lagi di topeng ini."


"Dia... dia yang mencuri datamu, Lino. Pantas saja gadis kecil itu tidak asing. Tapi bagaimana kau bisa mengambilnya? Aku sudah memberikan 50 pengawal saat memindahkan mereka," ucap Reizo kebingungan dengan hal tersebut.


"Ohh... hanya pengawal kalian saja, itu sangat mudah... seperti ini...." Tiba-tiba Zea muncul di belakang Reizo.


"Bomm... hahaha...."


"Kyaa!! Jantungku... haaa... jantungku." Reizo sangat terkejut.


"Bagaimana bisa dia di belakangku? Plak!! Plak!!" Reizo memukul pipinya sendiri dengan kedua tangannya. Dia merasa semua ini hanya di dalam mimpinya saja.


"Aww... aw... pipiku sakit. Berarti ini bukan mimpi, whuuaa...."


"Haha... manusia buruk rupa!! Lihat aku di sini."


"Lalu di sini."


"Dan ke sini."


"Lalu ke sini lagi, haha...."


Zea berlari mengelilingi rumah hingga Reizo tak bisa mengikuti ke mana arah Zea. Si kembar dan Lea tertawa melihat Reizo yang kebingungan dan ketakutan.


"ZEA!! HENTIKAN ITU!!" hardik Hea, membuat semuanya terdiam. Zea langsung berjalan lesu menuju Hea.


"Makan sudah siap," ucap kepala pelayan dari arah dapur.


"Ahaha... mari kita makan terlebih dahulu. Pasti kalian tidak sempat makan bukan?" ucap Milan mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi tegang.


"Haha... kau tidak perlu sampai menyiapkan makanan...."

__ADS_1


"Kami sudah makan. Apa kalian kira kami semiskin itu hingga tidak bisa makan di rumah," ketus Lino dengan wajah datar.


Alvano yang baru saja ingin berdiri, mendengar omongan Lino tersebut dirinya langsung terduduk. Tetapi tiba-tiba saja perut Lino berbunyi karena sedang lapar. Semua mata tertuju padanya, muka Lino mulai memerah karena malu, tetapi dia tetap bersikap dingin dengan tatapan datar.


"Auhh... apakah ingin hujan. Seperti aku mendengar suara guntur tadi," goda Zea dengan melirik ke arah Lino.


"Sepertinya sedang mengadakan pawai, deh. Soalnya suaranya kedengaran sampai ke sini, haha...," sambung Tea dan juga disertai tawaan Nea.


Wajah Lino semakin memerah, tetapi dia tetap saja bergaya cool.


"Ahaha... sepertinya aku sangat lapar. Di mana dapurnya?" Reizo langsung berdiri dan berpura-pura memegangi perutnya.


"Akanku bunuh kau, Lino!! Jika kau lapar mengapa kau menolak dan harus bersikap cool seperti itu, bodoh!!" gumam Reizo dalam hati karena kesal dan malu.


"Ahh... sangat membosankan!! Ayo kita makan," ucap Nea menarik tangan Tea dan Lea menuju dapur.


"Mengapa!! Mengapa kalian demo saat seperti ini!!" gumam Lino dalam hati karena sangat malu.


Elena memberikan lauk ke anak-anaknya terlebih dahulu. Lino yang melihat hal tersebut wajahnya langsung terlihat sedih, tentu saja dia sedih sudah lama dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Zea memperhatikan Lino dan hatinya mulai luluh melihat wajah Lino seperti itu, dia merasakan apa yang sedang dirasakan Lino saay ini. Walaupun dia memiliki orang tua, tatapi dia juga jarang mengunjungi orang tuanya.


Zea mengambilkan lauk, lalu menaruh di piring Lino. Reizo terkejut dan Lino tersadar dari tatapannya yang begitu dalam sedari tadi. Dengan wajah datar dinginnya tersebut dia melirik Zea dengan tatapan tajam.


"Makanlah, jika tidak perutmu akan mengeluarkan suara lagi."


"Lalu berhentilah menatapku seperti itu, jika tidak ingin aku congkel matamu!!"


Ketus Zea yang asik dengan makanannya sendiri.


"Haha... Zea sebenarnya anak yang baik dan kau juga harus terbiasa akan hal tersebut. Kelak saat kalian jadi suami istri hal tersebut akan terbiasa," ucap Milan sembari menepuk pundak Lino.


"Aku memang anak yang baik dan akan menjadi istri yang... ehh... suami istri!!"

__ADS_1


Awalnya Zea sangat senang mendengar dirinya di puji oleh daddynya, tetapi saat mendengar kata suami istri dia tersadar dan sangat terkejut. Begitu pula yang lainnya terkecuali Alvano dan Elena mereka tersenyum hanya bahagia, karena sudah mengetahui hal tersebut.


Yang lainnya menjadi kaku dan suasana menjadi tegang, sendok yang sudah siap masuk ke dalam mulut pun ikut terhenti. Mereka semua menjadi membeku karena mendengar hal tersebut.


"Hehe... mereka akan menikah. Lalu aku memiliki menantu, hore...." Elena menyuap makanannya dengan sangat bahagia.


"Eehh...," ucap serempak semua anak-anak yang sangat bingung.


"Dan aku memiliki penerus lagi, haha...," sahut Alvano.


"Eehh...," jawab serempak semua anak-anak lagi.


"Jika Zea sudah siap, kalian akan segera menikah," sambung Milan dengan semangat menepuk pundak Lino.


"EEHH...." Lagi-lagi ucap serempak semua anak-anak.


"Apa maksud semua ini?" tanya Lino dengan amarah.


Tiba-tiba Zea menyiram segelas air ke wajah Lino, membuat semua orang yang ada di situ sangat terkejut.


"Kalian semua sedang bermimpi!! Lanjutkan mimpi kalian itu, aku sungguh tidak tertarik."


Ucap dingin Zea lalu meninggalkan meja makan, tetapi baru beberapa langkah dia meninggalkan meja makan langkahnya langsung terhenti. Dia langsung melepaskan feromonnya ke seluruh ruangan dan dengan cepat memeluk Lino.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA, HYUNG. BERUPA LIKE, KOMEN ATAU VOTEπŸ˜ŠπŸ‘Œ


MAAF KALO ADA TYPO ATAU KATA YANG KURANG DIMENGERTI πŸ˜ŠπŸ‘Œ


JANGAN LUPA KLIK ❀️ NYA JUGA YAA πŸ˜ŠπŸ‘Œ


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2