
"I-ini dompetku......!! bagaimana bisa ada di kau.....? sejak kapan.....?" ucap orang itu. "Entahlah, aku juga tidak tau" ucap Riz.
"Prok.... prok.... prok,..." bos dari orang orang itu pun menepuk tangan nya. "Wow.... hebat, aku tak menyangka kau bisa mengalahkan tangan kananku dengan begitu mudah" ucap orang itu. "Dengan mudah pala kau.....? tulang lenganku hampir patah" ucap Riz. "Hahaha.... maaf maaf aku tidak tau kalau kalau kau hampir mengalami patah tulang" ucap orang itu.
"Hahahaha..... candaan mu sangat tidak lucu sama sekali" ucap Riz. Dan kemudian Riz pun masuk ke dalam grup mafia Nostra. Karena bos mafia itu tak memiliki istri bahkan ia menjomblo seumur hidup, bos mafia Nostra mengangkat Riz menjadi penerus pemimpin mafia Nostra. Beberapa tahun pun terlewat, Riz yang dulunya hanya seorang anak kecil sekarang sudah menjadi pria dewasa.
Riz sudah banyak melakukan berbagai pekerjaan dari membunuh, transaksi dan berbagai hal lainnya. Dan tahun sekarang umur Riz sudah mencapai umur dua puluh tahun. "Hah..... sekarang hari libur, tidak juga sih.... hampir tiap hari aku lebih sedikit menerima pekerjaan" ucap Riz yang sedang duduk di bangku taman.
Tak lama ada seorang perempuan yang berjalan dengan tongkat. "Tap.... tap.... tap...." perempuan itu mengetukkan tongkat ke jalan untuk menuntun jalannya. Dan tak sengaja tongkat perempuan itu memukul sepatu yang di gunakan Riz. "Eh.....? maaf aku tidak sengaja" ucap perempuan itu. "Ya tak apa apa, tidak sakit kok" ucap Riz.
"Yang benar......? kalau sakit atau kamu ingin aku ganti rugi, juga tidak apa apa....." ucap perempuan itu. "Tidak perlu, kau tidak sengaja kan, kalau begitu tidak apa apa" ucap Riz. "Baiklah kalau begitu, dan juga apakah boleh saya duduk di samping mu.....?" ucap perempuan itu. "Ya.... duduk saja, tidak ada siapa siapa di samping ku" ucap Riz.
__ADS_1
"Baiklah....... aku akan duduk" ucap perempuan itu. Saat perempuan itu mau duduk, Riz membantu perempuan itu untuk duduk di kursi. "Terima kasih....." ucap perempuan itu. "Ya.... sama sama" ucap Riz. "Apakah saya boleh kenalan dengan kamu.....?" ucap perempuan itu.
"Ya.... namaku Riz Cloudy, aku tinggal di dekat sini" ucap Riz. "Oh.... perkenalkan, namaku Lumina Vesa, salam kenal Riz....." ucap Vesa dengan senyuman lebar. "Ya.... salam kenal juga, Vesa" ucap Riz. "Cuaca hari ini bagus ya....." ucap Vesa. "Ya.... langit berwarna biru cerah dengan awan putih, angin bertiup sepoi sepoi" ucap Riz.
"Hmm.... bagitukah, apakah kamu tidak membenci orang seperti ku.....?" ucap Vesa. "Membenci.....? tidak buat apa, kalau kau tidak menganggu ku, aku tak masalah, dan juga aku yang di benci bukan membenci" ucap Riz. "Hmm.... begitu... sepertinya hidup mu juga berat" ucap Vesa. "Entahlah, berat juga berat, ringan juga ringan, hidup ku tidak pasti" ucap Riz.
"Oh.... tapi kamu harus semangat menjalani hidup mu" ucap Vesa. "Ya..... terima kasih atas kata katanya" ucap Riz. Dan tak lama, terdapat telepon dari hp milik riz. "Halo.....? oh... ya... aku akan datang" ucap Riz yang kemudian menutup teleponnya. "Apakah kamu akan pergi.....?" ucap Vesa. "Ya.... aku akan pergi" ucap Riz yang sambil berdiri.
Riz pun pergi untuk menerima pekerjaan yang, Riz mengerjakan pekerjaan selalu dengan sangat sempurna dan sangat bersih. Setelah menyelesaikan pekerjaan, Riz pun pulang ke rumah pada saat malam hari. Besok paginya, Riz duduk di bangku taman dan tak lama Vesa pun datang dan duduk di samping Riz.
Mereka pun berbincang bincang hingga Riz pergi karena pekerjaan. Dan pada suatu hari Riz ikut dalam pertikaian antar mafia yang berada di luar negeri. Riz ikut dalam pertarungan itu hingga tiga Minggu lebih. Dalam pertarungan itu, kelompok mafia yang di pimpin Riz pun menang telak. Setelah itu Riz pun kembali dengan naik pesawat.
__ADS_1
Dalam waktu tiga Minggu lebih itu, Vesa duduk di bangku taman sambil menunggu Riz. "Kemana perginya Riz ya......? apakah dia benar benar sudah pergi.....?" ucap Vesa pada hari Riz baru sampai di bandara. Saat keluar dari bandara, Riz di telepon dan akan di berikan tugas. "Woy.....!! ngotak dong bangsat......!! kau kira perang di sana seperti sulit atau permainan anak kecil......?! sekarang baru sampai kau berikan tugas...... bukannya banyak anggota lainnya, jangan aku saja yang di andalkan, sialan......!!" ucap Riz yang kemudian menutup teleponnya.
Tak lama seseorang menelpon kembali. "Jangan ganggu aku seminggu ini bangsat.....!! kalau kau mengganggu, akan kau jadikan kau sarden atau daging guling......!!" ucap Riz yang kemudian mematikan teleponnya. Setelah itu, tak ada telepon yang masuk lagi. "Sialan, setelah paman di gantikan anak baru itu, dia malah ngelunjak, akan ku rujak nanti si bajingan itu" ucap Riz.
Dan Riz pun bergegas untuk kembali, Riz yang naik taksi dan di turunkan di taman. Saat melihat ke taman, ia melihat Vesa yang sedang duduk sendirian. Dan Riz pun berjalan ke arah vesa yang sedang duduk. "Permisi, apakah aku boleh duduk di samping mu.....?" ucap Riz. "Riz......!! kamu kembali.....!!" ucap Vesa yang kemudian berdiri dan memeluk Riz.
"Kenapa kau ini Vesa.....?" ucap Riz. "Aku kira kamu sudah pergi dan aku kehilangan teman ku lagi.....hiks....." ucap Vesa sambil menangis. "Hmm.... tenanglah aku ada di sini" ucap Riz yang juga memeluk Vesa. Dan setelah beberapa saat dan beda sudah tenang, mereka pun duduk di bangku.
"Apakah selama ini kau menunggu ku selama hampir satu bulan ini.....?" ucap Riz. "Ya.... aku senang kamu kembali......" ucap Vesa sambil tersenyum lebar. "kau cantik Vesa saat tersenyum seperti itu" ucap Riz. "Eh.....? a-a-apa yang baru kamu katakan Riz......?" ucap Vesa yang sambil memegang pipinya. "B-bagaimana muka ku ini.....? apakah memerah......?" batin Vesa.
"Tidak, lupakan saja yang aku katakan barusan" ucap Riz. "Ya.... baiklah kalau begitu " ucap Vesa. Dan mereka pun berbincang satu salam lain hingga menjadi lebih dekat. Hari demi hari mereka selalu bertemu di bagi hari di bangku taman, dan mereka berpisah saat hampir siang hari karena Riz mendapatkan pekerjaan. Hari demi hari telah mereka habiskan bersama tiap pagi dengan berbagai canda dan tawa.
__ADS_1