
Luke yang menyempurnakan mana di dalam tubuhnya itu pun selesai.
Bentuk mana punya Luke berbeda dari yang biasa di miliki oleh para penyihir atau pengguna mana lainnya, yang biasanya cuma seperti lingkaran atau cuma bola, punya Luke membentuk tiga yaitu Mana biasa, Divine Power dan Demonic Power yang saling kemudian di lindungi oleh Ki sementara itu Ki di lindungi oleh tenaga dalam.
Kekuatan Luke saling berputar dan meregenerasi dengan sangat cepat tidak seperti yang lainnya butuh waktu yang lama untuk meregenerasi. "Hah.... pada akhirnya aku berhasil menyempurnakan ini" ucap Luke. Setelah menyempurnakan itu, tubuh Luke terasa sangat ringan dan semua kekuatan Luke di tingkatkan dari fisik sampai sihir.
"Lumayan, sepertinya aku bisa mencapai tingkat lebih tinggi lagi daripada dulu" ucap Luke yang kemudian mengamati pertarungan Vulka dan lawannya. "Kenapa kau kembali ke sini dasar pengkhianat.....!!!" ucap Vulka dengan penuh emosi dan di tangannya terdapat sebuah pedang yang pernah ia ceritakan padaku ke. "Hahaha.... kau masih mempermasalahkan hal yang sudah terjadi dulu, Vulka.....?" ucap orang itu.
"Ya.... aku tak akan lupa apa yang telah kau lakukan pada desa ini....." ucap Vulka. "Hahahaha..... karena kau ingatkan kembali, aku jadi teringat bagaimana rasa penderitaan mereka....." ucap orang itu dengan senyum lebar. "Izzy.....!!! bajingan kau.....!!" ucap Vulka yang kemudian melesat ke arah Izzy. "Ya.... ayo kita lakukan lagi.....!! aku juga akan membalaskan dendam ku" ucap Izzy.
__ADS_1
"Swash.... Ting ... Ting.... tingg....." pedangilim Vulka dan Izzy berbenturan dengan sangat keras. Pertarungan itu sangat intens hingga membuat luke yang hanya melihat sedikit bersemangat. "Sihir, Homura" Izzy menggunakan sihir dan membuat pedangnya di selimuti oleh api. "Sihir, Kiro Hi" Vulka juga menggunakan sihir yang kemudian menyelimuti pedangnya dengan api hitam.
"Sring....sring.... sring..... sringg....." pertarungan pun menjadi lebih panas. "Swash...... Cruuuattt......!!" sebuah tebasan yang sama sama mengenai satu sama lain. Vulka kehilangan tangan kirinya akibat tebasan dari Izzy, akan tetapi Izzy juga kehilangan tangan kanannya dan pedang yang ia pegang itu juga jatuh.
"Sial....!! sial.....!! kenapa......?!! kenapa......?!! kenapa.....!!!!" teriak Izzy yang penuh kekesalan yang kemudian tangan kanannya muncul, akan tetapi tangan kanannya itu bukan tangan biasa, itu adalah tangan iblis api. "Vulka.... akan ku bunuh kau di sini......!!" ucap Izzy yang tubuhnya sudah berubah, ia sudah hampir menjelma sepenuhnya menjadi iblis. "Menarik, akan aku ku kalahkan kau dengan kekuatan ku meski kau sudah berubah menjadi monster" ucap Vulka yang dengan kuda kuda.
"Tap...." pedang Izzy terlempar dan kembali ke tangan Izzy. "Grrrr......." ucap Izzy yang sudah menjadi jelmaan iblis api dan ia kehilangan kewarasannya. "Sepertinya begitu itu adalah konsekuensi dari kekuatannya" ucap Vulka. "Sriing...... sriing.... sriing....." Vulka dan Izzy melakukan tebasan, akan tetapi vulka tidak di untungkan pada pertarungan ini, setiap ia mendekatkan diri kepada Izzy kulitnya terbakar.
"Begitu kah..... baiklah info diterima" Ucap Luke. Vulka yang menyadari kalau ia tidak di untungkan, itu membuatnya ingin melakukan serangan terakhir. "Style, Sword of Hatred" seketika pedang yang di pedang Vulka itu mengeluarkan aura hitam pekat dan konsekuensi yang ia dapatkan itu adalah pengikisan jiwa, semakin lama di gunakan semakin banyak jiwanya yang terkuras.
"Sriing.... sriing.... sringgg.... Sringg ......" Vulka melakukan tebasan dengan sangat cepat, meski tak semua serangannya masuk, tetapi beberapa menimbulkan luka pada Izzy. "Wush....." Izzy langsung melompat ke belakang. "Ugh.... Si... Alan....!! Sa.... Kitt.....!!!" ucap Izzy yang merasakan sakit. "Caught......" Vulka memuntahkan darah yang lumayan banyak, meskipun jiwa, tubuh ku rasanya mau hancur" ucap vulka.
__ADS_1
"Ultimate, Sword of Fire" Izzy menembakkan pedang ke arah Vulka. "Ultimate, Hatred of Endless" Pengurasan jiwa yang di alami Vulka meningkat akan tetapi itu terbayarkan karena serangan Vulka meningkat berkali kali lipat. "Swash.... swash... swash...." Vulka melesat sambil menebas pedang api yang mengarah ke arahnya. "Srriiingg...... Jlebb....." Vulka berhasil menusuk Izzy tepat di dadanya. "Huhu.... berhasil" ucap Vulka.
"Apanya yang berhasil......!!" ucap Izzy yang kemudian mengeluarkan aura panas ke sekeliling dan membuat Vulka terhempas. "Jleb.... jleb.... jleb....." tiga pedang menusuk vulka yang terbaring di tanah, dan vulka pun tak bisa bergerak karena sekarat. "Yup.... sekarang waktunya" ucap Luke yang kemudian berpindah ke depan Vulka menggunakan skill yang pernah Izzy gunakan pertama kali.
"Yo.... pak tua, apa yang akan kau pilih....." ucap Luke. "Ah.... Sepertinya ini adalah akhir ku, ini juga tebusan dari dosa yang pernah aku lakukan, dan tolong hiduplah lebih baik dari ku, Luke....." ucap Vulka yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. "Ah.... begitu, baiklah dan terima kasih untuk waktu yang singkat ini" ucap Luke yang kemudian berdiri dan menatap Izzy yang sudah mencapai wujud terkahir dengan tatapan datar.
"Siapa kau.....?!! beraninya kau mengganggu ku.....!!!" ucap Izzy. "Ah so.... aku menganggu mu, maaf dan berani sekali kau melototi ku....." ucap Luke. Izzy yang melihat ke arah mata Luke itu pun langsung berpindah ke suatu tempat. "Eh....? di mana ini....? apa ini.....?" ucap Izzy yang berada di sebuah tempat kosong dengan langit berwarna merah kehitaman.
"Sihir, Illusion" Luke menggunakan sihir ilusi dan ia tambahkan Demonic Power itu membuat sihirnya menjadi lebih kuat dari biasanya. "Kau tau, bagaimana rasanya di tusuk di mata.....?" ucap Luke yang ada di dunia ilusinya. "sialan kau....? ini di mana.....?!!" ucap Izzy yang akan menyerang Luke akan tetapi ada sebuah rantai yang mengikutinya dan membuatnya tak bisa bergerak.
"Jleb...." sebuah batang besi menusuk mata Izzy. "Arrrrggg.....!!!" teriak Izzy yang sangat kesakitan. Di dunia nyata, Izzy diam berdiri tak bergerak. "Hmm..... aku bunuh seperti apa enaknya.....?" ucap luke yang berpikir bagaimana membunuh Izzy. Beberapa detik di dunia nyata memang sangat, akan tetapi di dunia ilusi satu detik di dunia nyata sudah puluhan kali penyiksaan. "Baiklah.... akan ku hancurkan saja" ucap Luke.
__ADS_1
"Style, Atomic Slash" sebuah tebasan yang sangat banyak dalam waktu satu detik. "Cruuuattt......!!" tubuh Izzy itu langsung hancur dan tak tersisa apa apa darinya. "Baiklah, untuk sekarang aku akan mengubur Vulka dengan layak" ucap Luke yang kemudian mengubur Vulka di sana dan mengunakan pedang miliknya sebagai batu nisan. "Semoga kau bisa hidup kembali di tempat yang indah, meskipun aku tak terlalu percaya bisa ada tempat yang indah seperti impian" ucap luke yang kemudian membalikkan badan dan pergi kembali ke kota.