
"Dorr.....!!" Riz pun dengan cepat menebak bos mafia itu di perut bagian kanan. "Kuhg.... sialan kau" ucap bos mafia itu yang menodongkan pistol pada Riz.
"Siapa yang cepat dia yang menang, kalau kau banyak bacot seperti itu aku yang akan menang" ucap Riz. "Sialan....!!!" ucap bos mafia itu yang sangat marah. "Dor.... dor.... dor.... dor....." bos mafia itu menambak secara beruntun ke arah Riz. Akan tetapi dengan cepat Riz menghindar dan bersembunyi di balik sebuah tembok.
"Hahahaha.... apakah kau takut hingga bersembunyi di balik tembok......?" ucap bos mafia itu. "Wush....." Riz melempar pistol hingga mengenai pergelangan tangan bos mafia dan membuat bos mafia menjatuhkan pistol nya. "Hahaha.... apakah kau sudah kehabisan cara.....?" ucap bos mafia. "Tidak, kau cuma mau mengalihkan perhatian" ucap Riz.
"Dor.....!!" Riz langsung menampakkan diri dan langsung menembak ke arah kepala bos mafia itu. "Bruuk......!!" bos mafia itu langsung terjatuh dan mati di tempat. "Hah.... untunglah aku berhasil" ucap Riz. "Bip.... bip.... bip.... bip...." terdapat sebuah suara di mayat bos mafia. Karena penasaran Riz pun melihat mendekat.
Riz melihat dengan dekat dan mengetahui kalau itu adalah bom waktu, akan tetapi Riz sudah terlambat karena waktu di bom sudah habis bersamaan Riz selesai mengetahui kalau itu bom waktu. Bom waktu sudah terpasang di seluruh gedung itu, dan gedung itu memiliki enam lantai.
"Duuuarrr......!!" lantai paling atas meledak lebih dulu dan Riz terkena ledakan itu secara langsung. "Ugh..... sial.... kaki ku tak bisa bergerak" ucap Riz yang terbaring di lantai dengan paha kanan tertusuk batang besi hingga tembus. Dan tak lama lantai lainnya pun ikut meledak. "Ah.... pasti ini adalah akhir dari hidupku, aku sedikit menyesal karena berakhir seperti ini, tapi aku tak bisa melakukan apapun....." batin Riz.
__ADS_1
Di sebuah dunia dengan sihir dan berbagai hal fantasi, dan di depan sebuah panti asuhan yang hanya di huni beberapa orang. Di malam hari di depan panti asuhan itu terdapat seorang wanita yang sambil membawa seorang bayi di keranjang bayi, wanita itu pun meletakkan bayi dan keranjang bayi di depan pintu panti asuhan.
"Srraaatttccc..... Duuuurr......!!" Suara petir menggelar dengan sangat keras, angin dingin berhembus dan awan hitam menyelimuti langit. "Maafkan aku Luke, semoga kau bisa hidup dengan nyaman" ucap wanita itu yang kemudian menghilang bersamaan dengan sebuah petir menggelegar. "Ugh..... aku meninggalkan pedangku di luar....." ucap seorang perempuan yang ada di dalam panti itu yang kemudian membuka pintu.
"Eh......?! a- a- ada bayi di sini........!!" ucap perempuan itu setelah membuka pintu dan menemukan Luke yang masih bayi. "Ada apa Shantae, kau teriak teriak di malam hari begini.....?" ucap perempuan lain yang menghampiri Shantae. "I- ini aku menemukan bayi, kita apakan dia.....?" ucap Shantae.
"Hah......?! bayi......? kenapa juga ada bayi di panti asuhan tua ini......?" ucap perempuan itu. "Ya aku ga tau lah, tapi buktinya ada di sini....." ucap Shantae. "Ah..... tanpa kau katakan aku juga tau, tapi siapa yang meletakkan bayi di sini.....?" ucap perempuan itu. "Shantae..... Norberta..... kenapa kalian berisik malam malam.....? kenapa ga tidur aja seperti Garnet yang udah pindah alam......" ucap D'etre.
"Oh ya..... aku baru ingat kalau aku mau mengambil pedang ku yang ada di luar" ucap Shantae yang pergi keluar dan juga untuk menghindari ceramahan dari D'etre. "Jadi siapa nama bayi ini.....?" ucap D'etre. "Aku ga tau, baru aja Nemu itu bayi..... tapi coba cari siapa tau Nemu nama bayi itu...." ucap Norberta.
"Hmm..... Coba ku liat....." ucap D'etre yang mencari sesuatu siapa tau menemukan nama dari bayi itu. "Ah.... ketemu, coba kita liat siapa namanya......? Luke.... Lucifer, hmm..... namanya yang cukup bagus" ucap D'etre. "Hmm.... Luke Lucifer.... kalau begitu kita panggil dek Luke....." ucap Norberta. "Ya..... kita panggil Luke aja, karena lebih singkat" ucap D'etre.
__ADS_1
"Jadi ada apa ini.....?" ucap Shantae yang masuk sambil memegang sebuah pedang di tangannya. "Bayi ini bernama Luke Lucifer, dan kita akan merawatnya mulai sekarang......" ucap D'etre. "Owh..... nama yang keren, dia cowok berarti..... siapa tau dia kalau sudah besar bisa menjadi cowok yang kuat, nanti akan ku latih berpedang" ucap Shantae.
"Sudahlah..... sekarang kalian tidur aja sana, aku yang akan merawat bayi ini mulai sekarang......" ucap D'etre. "Eh......?! ga adil D'etre, aku juga bisa kok merawat bayi......" ucap Shantae. "Ya..... aku juga bisa kok.... jangan khawatir....." ucap Norberta. "Tidak.... Aku tak percaya kalian" ucap D'etre sambil menatap tajam kearah arah mereka berdua.
"Ya.... baiklah, kalau begitu aku akan merawatnya saat udah cukup besar....." ucap Shantae. "Ya..... aku juga....." ucap Norberta, dan mereka berdua pun pergi ke kamar mereka. "Baiklah Luke, mulai sekarang aku yang akan merawat mu" ucap D'etre sambil mengelus kepala Luke yang tertidur pulas. Dan D'etre membawa Luke ke kamarnya.
Setelah itu, D'etre menaruh keranjang Luke di atas tempat tidurnya. Setelah itu D'etre tidur si samping keranjang bayi itu. "Selamat malam Luke" ucap D'etre yang kemudian tidur. Keesokan harinya, D'etre bangun pagi pagi dan pergi untuk membeli susu dan bahan bahan untuk membuat sarapan.
Kembalinya D'etre ke panti asuhan, dan setelah membuka pintu masuk panti. Luke kecil menangis dengan keras, Luke sedang berada di ruang tengah tak lagi di kamar D'etre. Luke menangis dan di sana ada Shantae, Norberta dan Garnet. "Hey......?! apa yang kalian lakukan pada Luke.....?" D'etre.
"A-Aku tadi cuma membawa Luke ke sini dan aku ingin bermain dengannya, tapi setelah itu dia menangis" ucap Shantae. "Hah..... sepertinya dia lapar, untungnya aku sudah membawa susu" ucap D'etre. Dan kemudian D'etre pun meminumkan susu yang ia beli pada Luke. Setelah minum hingga kenyang, luke pun berhenti menangis.
__ADS_1
"I-ini di mana.....? dan juga kenapa tanganku menjadi pendek seperti ini.....?" batin Luke kecil sambil tangannya meraba raba udara. "Wah.... liat dia, dia sudah tenang.... kamu hebat D'etre......" ucap Shantae. "Ya..... D'etre emang bisa di andalkan....." ucap Norberta. "Ya..... D'etre emang hebat....." ucap Garnet.