
Bradley's Mension, Newcastle (Tyne and Wear), UK- 09.17 pm.
"Bukankah ini konyol? Maksudku rencana besar keluarga kita." Tangan kiriku memegang erat gelas wine yang masih utuh isinya tak tersentuh. Sedangkan tangan kananku kaku di atas tepian teras balkon. Aku sedikit mencuri pandang ke arah lelaki di sebelahku yang masih setia menikmati rokoknya. Entah apa yang masih kuinginkan dari lelaki ini.
Perkumpulan antara keluarga Amstrong dengan keluarga Bradley sudah tidak membuatku terkejut. Tentu saja aku sudah siap dengan situasi ini. Tapi aku tak menyangka akan menerima penolakan ini secara langsung di depan mataku.
Kepulan asap kembali keluar dari mulutnya. Bahkan asap itu serasa berhasil sampai ke paru-paruku membawakan rasa sesak yang berlebih.
"Kau sudah mengetahuinya?" Dia bertanya dangan nada sinis. Aku gugup. Aku tak pernah merasa terintimidasi olehnya. Dia selalu ramah dan berkata lemah lembut kepadaku. Tidak. Dia memang seperti itu kepada semua orang.
"Ya, seperti itulah. Tapi kukira ini hanyalah lelucon yang keluar dari mulut ibuku beberapa hari lalu."
"Lantas untuk apa kau seperti ini!" Dia bukan bertanya, dia berteriak. Kami berhasil menatap diri kami masing-masing. Tak ada kelembutan di wajahnya, yang ada hanya amarah dan kekecewaan. Apa dia begitu benci dengan rencana perjodohan ini? Dia bahkan tak bertanya pendapatku, dia hanya menunjukkan rasa tak sukanya kepadaku.
Aku tak bisa berkata apa pun. Ini begitu menyesakkan, aku bahkan tak bisa meneteskan air mata di depannya. Aku tak bisa mengukuhkan perasaanku karena yang lebih menakutkan adalah dia yang meninggalkanku. Aku akan jauh hancur ketika dia memutuskan untuk itu.
Aku masih mengingat penolakannya tadi. Semua orang bahkan diriku sangat tak menyangka dia mengeluarkan amarahnya di depan keluarganya.
...***...
A few minutes ago...
Tanganku terasa dingin di atas paha, bahkan terasa menembus gaun yang kukenakan. Aku duduk di tengah-tengah keluargaku dan keluarga Bradley. Kehangatan yang terus diberikan oleh keluarga Bradley membuatku semakin tegang. Kedua orang tuaku masih asyik berbicara dengan Tuan dan Nyonya Bradley sambil menikmati beberapa hidangan pembuka yang enak.
Kami menunggu satu orang penting sekaligus yang membuat dadaku berdekat semakin kencang setiap detiknya. Dia adalah Kyle Alfred Bradley. Dia teman masa kecilku, dia teman kuliahku, dia partner bisnisku, dan dia ... lelaki yang kucintai.
"Santailah sedikit, Elisa. Kyle, akan datang. Dia berjanji kepadaku akan menginap di sini. Kita akan mengejutkannya bersama-sama. Kuyakin ini adalah hari terindah kalian berdua." Samanta kembali menenangkanku, dia adalah Kyle versi perempuan. Adiknya ini sangat cantik dan memukau. Aku tak menjawab apa pun, hanya tersenyum singkat.
Tak beberapa lama terdengar langkah tegas seseorang memasuki ruang makan dan jantungku dua kali lipat semakin berdekat kencang. Aku melirik ke arah ibuku dan dia hanya tersenyum. Suara langkah tersebut seperti berhenti tak jauh dariku. Aku tak bisa menatap tubuh yang tak jauh di belakangku itu karena aku duduk membelakanginya.
Samanta berdiri dari duduknya dan berteriak sangat kencang. Kutahu dia akan bersikap selayak adik yang menggemaskan di depan Kyle dengan pelukan yang sangat erat.
"Kakak! Kutahu kau akan datang. Kau membuatku cemas. Bagaimana kau terlambat di makan malam keluarga?!"
"Hahahaha, maafkan aku. Ada hal yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Kurasa ini bukan lagi makan malam keluarga kita. Ada tamu? Kau harusnya memberitahuku agar aku datang lebih cepat."
"Haruskah ada tamu baru kau datang cepat ke rumahmu sendiri?" Aku mendengar Nyonya Bradley menyindirnya. Sambil berjalan mengelilingi sisi meja di depanku, Kyle membalas ucapan ibunya, "Ayolah, Bu. Kau sendiri tahu seperti apa Tuan Bradley saat berada di posisiku."
"Yeah, kalian sama-sama menyebalkan. Setidaknya dia bekerja mencari uang untuk istri dan anaknya, bukan menghabiskan waktu memetik senar gitar seharian." Kyle mengecup pipi ibunya setelah duduk. Dia menanggapi ucapan ibunya sambil tertawa, "Hahahaha, bukankah aku juga melakukannya sekarang, Bu."
Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Dia hanya memberikan senyuman menawannya kepadaku, tak berniat untuk bertanya karena keluarga kami memang sering mengadakan makan malam bersama. Apa dia tak melihat ada yang berbeda denganku? Padahal aku sudah mengerahkan segala kemampuanku untuk telihat cantik di depannya.
Semua berjalan sempurna seperti biasanya, hingga arah pembicaraan orang tua kami mengarah pada inti pertemuan ini. Dan saat itulah kami menyaksikan kemarahan Kyle yang sesungguhnya. Dia membentak semua orang yang ada di meja makan. Bahkan ibunya sudah menangis tersedu-sedu.
"Apa hak kalian mengatur hidupku! Aku selalu memberikan yang terbaik untuk kalian, tapi kenapa kalian tak pernah mengerti diriku! Sudah cukup kalian mengabaikan keinginkanku dan aku mengalah untuk itu, tapi tidak untuk kali ini. Kalian mengecewakanku!" Setelah gebrakan keras di atas meja, dia meninggalkan ruang makan, tak berniat menenangkan suasana yang sudah hancur ini.
Bukankah aku yang paling tersakiti dari semua orang di sini. Dengan marahnya Kyle, dia menunjukkan penolakannya yang keras terhadapku. Aku tak sempat menangis atau pun menenangkan semua orang di sini. Aku harus membuktikan sendiri apa dia memang tak menginginkan perjodohan ini.
...***...
Now...
"Aku tak bisa, Elisa. Sungguh tak bisa. Kau tahu kita sudah bersama cukup lama dan aku tak pernah terpikir sedikit pun untuk menerima ini semua-"
"Bagaimana kalau aku sendiri menginginkannya?" Aku memotong perkataannya dengan cepat. Kutahu dia akan membuatku lebih kacau lagi jika terus melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. Aku tak bisa menunggu lagi, aku memutuskan untuk mengakhiri sandiwaraku sebagai adik kesayangannya, teman terbaiknya, dan partner bisnis terhebatnya. Aku ingin dia juga menganggapku sebagai seorang wanita.
Namun yang kudapatkan adalah wajah terkejut. Aku benci ekspresi yang dia tunjukkan. Itu menunjukkan bahwa dia merasa sangat menyesal dan seakan bersiap-siap meminta maaf untuk penolakannya. Jika dalam suatu game pertarungan aku sudah dianggap kehabisan nyawa. Hantaman bertubi-tubi dari musuh tak bisa terelakkan.
__ADS_1
Menyedihkan.
Aku bisa melihat Kyle dengan cepat mengatur wajah keterkejutannya dengan cepat. Dia kembali memandang jauh ke pemandangan gelap di depan sana. Dia menyesap kembali rokoknya yang sudah hampir habis. Aku kembali menguatkan diri.
"Aku tak bisa menghentikan mereka, Kyle."
"Kau bukan tak bisa ... Kau tak ingin." Aku sedikit tersentak dengan jawabannya. Ya, aku memang tak ingin membiarkan ini berakhir begitu saja bahkan jika itu akan menyakiti semua orang. Jahat bukan.
"Apa pun yang telah kalian rencanakan itu tak kan terjadi. Akan kupastikan rencana ini tak pernah masuk dalam rencana hidupku. Bahkan jika itu membuatku sekarat sekali pun. Aku tak kan ingin-"
"Bagaimana kau bisa mengatakan semua itu, Kyle! Lalu aku ini apa?"
"Kau tahu aku menganggapmu bukan seperti apa yang kau pikirkan. Aku memiliki batasan yang tak bisa kau masuki. Aku hanya membiarkanmu menyentuh serpihan kecil hidupku. Percayalah kau tak tahu apa-apa."
Aku terdiam cukup lama mencerna ucapannya. Apa itu benar? Aku sudah lama berada di sisinya dan tak ada rahasianya yang tak pernah kuketahui. Ini hanyalah pengalihannya untuk situasi ini. Tolong jangan membodohiku.
"Aku mencintai wanita yang bahkan tak pernah kau ketahui, Elisa. Aku meninggalkannya untuk ini semua. Kau tahu, bahkan sekarang aku tak menikmati keadaan ini. Sangat memuakkan. Aku membuang segala yang berharga untuk menyakiti diriku sendiri. Terima kasih untuk kejutan kalian malam ini. Membuatku tak ragu untuk egois kali ini saja."
Setelah mengakhiri ucapannya, Kyle berbalik meninggalkanku entah ke mana. Seketika tubuhku lemas, dan kakiku serasa tak bertulang. Aku jatuh dengan gelas wine yang kuhempaskan tak jauh dariku. Aku menangis dalam diam sembari memukul dada. Ini sangat menyesakkan. Aku tak pernah mendapatkan penolakan sebesar ini dalam hidupku.
Tak lama aku mendengar deru mobil menjauhi mension ini. Kuyakin itu Kyle. Dia benar-benar meninggalkanku. Apa yang harus kulakukan? Hidupku hancur. Badai terbesar telah menghantamku. Aku bahkan tak bisa mengendalikan kemudi dengan benar. Aku siap untuk tenggelam kapan pun.
...***...
Three days later...
Amstrong's Mension, Newcastle - 7.21 pm.
"Bisakah aku mendapatkan sedikit privasi di suatu tempat? Mungkin beberapa hari atau beberapa minggu."
Terdengar hembusan napas kasar dari ayahku. Tapi dia hanya melakukan itu tanpa ingin menanggapi ucapanku. Tak lama ibuku berkomentar.
"Kalian tak tahu seperti apa rasanya berada di posisiku." Ibuku menggenggam telapak tanganku.
Kekhawatirannya sangat beralasan mengingat aku anak satu-satunya. Yeah, aku anak tunggal dari seorang James Amstrong yang terkenal sebagai pengusaha di bidang bisnis dan keuangan terbesar di Inggris. Bersama dengan temannya Sam Bradley, mereka menjalankan bursa efek di London yang merupakan bursa saham terbesar di Eropa.
Pertemanan antara ayahku dan paman Sam membawaku masuk ke dalam rencana masa depan yang mereka inginkan. Tapi dengan kejadian penolakan Kyle membuatku sangat terpuruk. Mereka tak mengerti betapa ini sangat berat untukku. Aku butuh pengalihan untuk situasi yang baru saja kuhadapi beberapa hari lalu. Aku belum melupakannya sedikit pun.
"Kau ingin menemaniku? Ya, mungkin melihat pelatihan beberapa lelaki tampan, tinggi, dan berotot." Aku memutar bola mataku mendengar ucapan sepupuku ini. Kami sedang makan malam di mension keluargaku dan sialnya sepupuku yang menyebalkan hari ini datang. Jarang sekali dia memiliki waktu untuk hal ini. Kupikir dia sibuk mengurusi perusahaannya itu.
Dia memiliki perusahaan penyedia jasa keamanan terbesar di Inggris dan sayangnya kekayaannya bahkan tak bisa kuperkirakan karena usahanya merambat ke berbagai bidang lainnya, salah satu yang kuketahui dia juga masuk ke dalam industri senjata. Mungkin kurasa sudah di seluruh daratan Eropa bahkan Amerika sudah mengenal namanya. Selain itu, dia juga memiliki koneksi yang kuat dengan keluarga kerajaan. Dia bahkan memiliki aset kuno yang sekarang menjadi salah satu kediamannya berupa istana di daerah Waltham Forest.
Dia adalah Zachary Parker. Usia kami berbeda tujuh tahun dan itu tak membuat sifat kekanakan antara kami hilang jika bertemu. Dia yang sibuk dengan dunia bisnisnya dan ... bagaimana aku menyebutnya. Mantan istri atau istri. Aku tak berani menanyakan keberadaan istrinya, aku hanya melihatnya sekali di pernikahannya dan tak pernah menemukannya lagi. Aku tak ingin terus memikirkan nasib Zach yang menyedihkan karena aku juga sama menyedihkannya dengannya.
"Aku tak tertarik."
"Yeah terserahlah, aku hanya menawarkan bantuan yang mungkin bisa disetujui ayahmu karena akan lebih aman jika bersamaku. Aku berencana berkeliling ke beberapa cabang perusahaan di seluruh Eropa. Mungkin kau bisa menemukan sesuatu yang menarik di perjalanan."
"Benarkah! Benarkah itu, Dad?!" Ayahku kembali menghembuskan napas kasar tapi kali ini berbeda. Dia menghentikan acara makan malamnya dan meletakkan segala yang dia pegang.
Akhirnya dia angkat bicara, "Apapun yang kau inginkan asalkan keamananmu terjamin. Kusarankan berikan beberapa pengawal terbaik yang kaumiliki untuk mengikutinya."
"Ayolah, Dad. Aku tak butuh itu!" Aku tak suka dengan sifat berlebihan ayahku ini.
"Ibu juga tak mengizinkanmu jika tanpa pengawal, Elisa." Apa-apaan ini, ibuku juga ikut menyetujui syarat dari ayahku.
"Baiklah, baiklah, baiklah. Satu orang saja." Aku mencoba memanfaatkan kemampuan bisnisku untuk bernegosiasi.
__ADS_1
"Tiga." Yang benar saja, ayahku menginginkan tiga orang yang akan menjadi ekorku di setiap perjalanan.
"Tidak, Dad. Satu." Satu kali lagi, ayolah.
"Dua." Balas ayahku.
"Nooo, satu atau tidak sama sekali?" Kumohon.
"Baiklah satu, Zach aku menginginkan yang terbaik. Aku tak masalah jika tak ada pengawal jika dia bersamamu tapi tidak jika kau tak bersamanya. Jangan membiarkannya berkeliaran tanpamu."
"Ya, baiklah." Aku terus mengeluarkan senyum sumringahku yang tak bisa tertahankan. Ah, akhirnya aku bisa menikmati udara segar di luar Inggris.
...***...
One week later...
Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 5.41 pm.
Apa-apaan ini. Ini bukan liburan yang kuinginkan. Tak ada laki-laki tampan dan gagah berbadan tegap dengan keringat yang mengalir keluar dari dahinya yang membuatku tergoda. Aku malah terkurung di dalam istana kuno Zach yang menyeramkan.
"Ayolah Zach, kau baru saja beberapa hari kemarin mengatakan akan menunjukkan sesuatu yang menarik dari daratan Eropa yang membosankan ini." Aku mencoba memelas kepada Zach.
"Sabarlah, Princess. Kita baru saja datang dan aku masih memiliki sesuatu yang harus dikerjakan. Mungkin besok aku bisa membawamu ke mension Timur untuk melihat pelatihan. Sekarang biarkan tubuhmu beristirahat, kita akan bertemu kembali di makan malam," jelas Zach.
"Kau lebih memilih bekerja daripada menepati janjimu, Zach. Setidaknya berikan aku seseorang untuk mengobrol. Mungkin salah satu bodyguard tampan yang kau miliki." Kulihat Zach memutar bola matanya. Kurasa dia mulai muak dengan sifat kekanak-kanakanku. Tapi siapa yang dulu menjanjikanku hal tersebut. Percayalah aku akan menagih hutang janji walau sekecil apa pun.
"Kau buta. Di sini banyak orang-orangku. Kau bisa mengajak salah satu untuk mengobrol. Ayolah, Elizabeth Amstrong, aku tak kan mengingkari janjiku. Aku akan mengajakmu besok. Jadi kumohon bersabarlah." Setelah mengatakannya dia dengan cepat mengecup kepalaku dan langsung menutup pintu ruang kerjanya.
"Tapi mereka tak ada yang tampan, Zach! Aku telah berkeliling sekitar mension ini tadi, kau berbohong!"
Menyebalkan. Aku berteriak dengan kencang ke pintu yang tertutup di depanku hingga salah satu orang yang mungkin ditugasi untuk menjaga ruang kerja Zach sedikit terkejut. Terkejut karena teriakanku entah karena tersinggung saat aku mengatakan tak ada seorang pun yang tampan. Masa bodoh. Saat aku ingin meninggalkan pintu tersebut, tak lama pintu terbuka kembali dan menyembulkan wajah Zach yang sedikit aneh.
"Benarkah? Jangan katakan kau ke mension Selatan tadi."
"Aku bahkan tak tahu nama mension tempatku berdiri sekarang, Zach." Aku memutar bola mataku karena ketidaktahuanku.
"Bagus, jangan coba ke mension Selatan. Di sana sengaja kupersiapkan untuk tamuku yang tak ingin diganggu. Aku tak ingin kau mengacau di bagian sana." Setelah mengatakannya dia kembali menutup pintu itu tanpa permisi.
Ahhhh.
Aku akhirnya kembali ke kamarku dan berniat merajuk. Aku tak ingin makan malam hanya berdua dengan Zach yang membosankan. Aku akhirnya mengajak seorang pelayan wanita yang seusiaku untuk mengobrol. Tak lupa aku menyuruhnya membuatkan makanan apa pun yang kusukai. Cukup memuaskan karena makanan yang disediakan memang enak.
Ah, setidaknya aku mendapatkan segala yang kuinginkan di sini dan tak repot-repot untuk belajar menjadi seorang wanita anggun yang penuh dengan tata krama sialan. Aku juga sudah cukup lelah dengan pelajaran bisnis yang memuakkan. Tak ada hal yang harus kuperbuat selain masuk ke dalam dunia bisnis karena aku satu-satunya yang akan menggantikan ayahku. Aturan tak kasat mata yang kuno itu sangat tak cocok untuk diriku.
Sejenak aku bisa melupakan kesedihanku di sini. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menata hatiku yang telah hancur tak beraturan. Kutahu tak semudah itu, tapi kuharap ini akan segera berlalu. Setidaknya aku sudah tahu akhir dari segala kesabaranku.
Dan aku sudah tak berharap darinya. Kuatlah Elisa.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...