
Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK – 07.21 am.
Aku mengepalkan telapak tanganku dengan kuat sembari menatap wanita yang kemarin hampir kutikam. Aku memang sudah gila. Dokter Robinson mengatakan dia seharusnya sebentar lagi akan bangun tapi kenapa sampai sekarang dia masih menutup mata.
Perhatianku terpecah saat Dokter Robinson datang kembali setelah bertemu dengan Zach. "Tak usah khawatir, dia baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan Zach agar dia juga tidak terlalu khawatir. Kau bisa menghubungiku lagi jika terjadi sesuatu." Aku tak memberikan respon apa pun dan hanya fokus melihat apakah makhluk yang di tempat tidur ini akan bergerak.
Setelah merapikan peralatan medisnya, Dokter Robinson segera keluar kamar. Namun sebelum itu dia berhenti di ambang pintu dan mengatakan, "Ah ya, Zach ingin berbicara denganmu. Dia ada di ruangannya. Kau bisa meninggalkan wanita itu. Dia juga belum memiliki kekuatan untuk berjalan setelah bangun jadi berhentilah menatapnya seperti itu."
Entah mengapa aku selalu tidak menyukai candaan Dokter Robinson yang tidak lucu. Bahkan aku rela mengeluarkan peluru dari tubuhku sendiri daripada harus meminta bantuannya. Cuman untuk kali ini saja aku sangat panik karena tak ada yang bisa kulakukan untuk membuat wanita ini lebih baik selain meminta tolong kepadanya.
Dengan kepala yang masih berdenyut, akhirnya aku memutuskan untuk menghadapi Zach. Saat sampai di depan pintu ruangannya, aku masih ingin lama berdiri di luar sini. Aku tahu Zach sangat kecewa dengan tindakanku. Aku menarik napasku sangat dalam dan menghembuskannya. Aku harus menghadapi kemarahan Zach. Kau hampir membunuh sepupunya, Leon. Bagaimana dia tak marah kepadamu?
Cklek ...
Perlahan aku membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan yang sangat minim pencahayaan. Aku melihat Zach duduk terdiam di sofa yang tak jauh dariku. Dia menatap tajam ke arahku. Terlihat sekali rasa tak sukanya denganku.
Aku mencoba untuk memulai pembelaanku, "Zach ... Aku sungguh tak bermaksud untuk menyakitinya. Aku hanya panik saat kembali memeriksanya dia sudah tak ada di kam—" Kalimatku terpotong saat Zach tiba-tiba menghadiahkan pukulan keras di rahangku. Aku yang tak siap dengan hal itu seketika terhuyung hingga membentur pintu.
"Bagaimana kau tak memeriksa cctv dulu, Bodoh! Dan kau hampir saja membunuhnya, kau ingin menikamnya, Leon! Bagaimana jika saat itu kau memegang pistolmu? Kuyakin dia sudah tak bisa bangun sekarang!" Zach terlihat sangat frustasi. Dia membalikkan badannya sembari memijit kepala.
Aku memikirkan baik-baik apa yang baru saja diteriakkan oleh Zach. Dia benar, kurasa kalau aku memegang pistol saat itu mungkin Elisa sudah tak bisa membuka matanya.
"Aku panik, Zach. Kukira ada penyusup. Aku berusaha mencarinya ke mension Barat karena kau mengizinkannya untuk ke sana. Tapi setelah kuingat dia memiliki cidera di kakinya dan kurasa dia tak bisa untuk berjalan jauh." Seketika Zach membalikkan badannya kembali ke arahku.
"Cidera? Ada apa dengannya?"
"Ya, dia terjatuh saat berjalan menggunakan sepatu high heels-nya. Saat ingin kubantu dia menolakku, itu membuat—" Kembali terjadi. Kali ini Zach menghadiahkan pukulan keras di bagian perutku. Seketika tubuhku yang telah terbanting ke pintu ambruk ke lantai. Sial, ini menyakitkan.
"Kau bisa memaksanya, Brengsek! Apa yang tak bisa kau lakukan, dia hanya seorang wanita. Kau bahkan bisa mengebom markas ******* di Timur Tengah, tapi kenapa kau tak bisa mengatasi satu wanita!"
Kurasa kekesalan Zach akan terus meledak jika tak ada ketukan tiba-tiba di belakang punggungku. Zach tak beranjak dari posisinya dan enggan untuk memberikan izin orang di luar sana untuk masuk.
"Tuan ... Nona Elizabeth sudah bangun. Dia mencarimu." Ternyata seorang pelayan. Aku sangat bersyukur mendengar kabar itu. Hatiku lega, setidaknya aku tahu dia memang benar-benar masih hidup.
"Katakan kepadanya tunggulah sebentar. Aku akan menemuinya setelah dia sarapan. Antarkan sarapan ke kamarnya dan jangan biarkan dia bergerak dari tempat tidurnya jika tak ingin kukembalikan ke rumahnya!" Kemarahan Zach masih belum mereda. Dia masih berkata dengan nada tingginya. Kuyakin suaranya bahkan akan terdengar hingga ke telinga Elisa.
Beberapa menit kami masih membicarakan masalah ini dengan sedikit kekerasan di dalamnya. Ya, mungkin wajahku sudah tak karuan dengan banyak lebam. Aku bersikeras untuk menolak menjadi pengawal Elisa. Aku tak ingin setelah kejadian ini membuat Elisa semakin tak nyaman denganku. Bodohnya Zach masih ingin memberikan pekerjaan itu kepadaku dengan syarat aku mengawasinya dari jarak jauh. Itu akan menjadi keputusan Zach yang tak bisa kubantah.
Setelah pembicaraan selesai, akhirnya aku dan Zach keluar dari ruangan. Aku sudah tak memiliki kewajiban apa pun untuk terus mengawal Elisa saat ini. Aku memutuskan untuk kembali ke mension Timur dan mengawasinya lewat cctv.
Saat aku ingin menuju pintu aula terbuka, tanpa sengaja aku melihat pintu kamar Elisa di lantai dua terbuka. Aku melihat dia berjalan dengan tertatih dibantu oleh pelayan. Seketika pandangan kami bertemu, namun dengan cepat pula aku mengalihkan pandanganku dan segera berjalan ke tempat tujuanku. Aku tak ingin mengusik ketenangan wanita itu.
...***...
A few minutes later...
East Mension, Parker's Palace - 08.51 am.
Aku memakan roti yang baru kutemukan di dapur sebelum masuk ke dalam kamarku. Kelaparan melanda perutku karena tak pernah memakan apa pun semenjak semalam. Aku menatap monitor di depanku yang menampilkan beberapa sudut ruangan di mension utama. Dari sini aku bisa mengamati aktivitas banyak orang. Tentu saja kecuali daerah privasi Zach dan semua kamar mandi. Dan satu lagi, aku sudah memasang cctv tambahan di kamar Elisa. Aku tak kan lalai lagi untuk wanita satu ini.
Sudah lama aku duduk di depan monitor, tapi tak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan. Elisa hanya beristirahat dan sesekali mengobrol dengan para pelayan. Dia melakukan hal normal lainnya sebagai seorang yang baru saja sadar dari pingsan panjangnya.
Aku memutuskan untuk keluar menuju balkon. Aku menyesap rokokku yang baru saja kutemukan di meja tadi. Setelah kuingat, sudah lama aku tak merokok. Rokok mengingatkanku kepada wanita yang sangat kusayangi. Terakhir aku pergi tak berpamitan dengannya. Mungkin jika dia mengetahui aku merokok lagi kurasa dia akan marah besar.
__ADS_1
Baru saja aku memikirkannya, entah datang dari mana keajaiban orang tersebut menelponku. Saat menerima panggilannya, aku masih belum berbicara karena menunggunya terlebih dahulu.
"Leon ... Itu kau?" Aku masih terdiam belum berniat untuk menjawab.
"Sial, katakan sesuatu, Brengsek. Aku tahu kau di sana." Seketika kekehanku berubah menjadi tawa keras. Dia memang luar biasa.
"Hahahaha. Maafkan aku, berhentilah berkata kasar. Kau ingin anak kita yang manis itu mendengar ibunya mengumpat?" Di ujung sana aku mendengar dengan jelas suara benda tumpul seperti dibanting. Kuyakin bayi tampan itu sedang membuat ibunya kerepotan.
"Dia anak yang pintar. Dia tahu mana yang baik untuk dia dengar. Ah ya, apa aku bisa mengunjungimu di Inggris?" Senyuman di bibirku luntur saat mendengar pertanyaan itu.
"Apa maksudmu? Kau tahu aku sedang sibuk bekerja, jangan menggangguku. Aku tak memiliki banyak waktu denganmu." Kali ini aku mendengar hembusan napas kasar darinya.
"Aku tahu kau memiliki penthouse di sana, Leon. Biarkan aku dan Tuan Broklyn junior ke sana. Kami butuh liburan dan melihat negara yang sangat kau sukai itu. Benarkan Tuan— astaga, jangan memakan mobilmu. Ah, lihat kau menumpahkan jus ibu!"
Aku kembali terkekah mendengar celotehannya. Aku juga sangat merindukan mereka, tapi aku tak bisa meluangkan banyak waktu jika mereka benar ingin berlibur ke Inggris.
"Leon, kau masih di sana? Jadi apakah kami bisa menginap di penthouse-mu nanti? Kau tak bisa mencegah kami. Aku sudah membeli tiket penerbangan untuk dua minggu ke depan." Aku terkejut saat dia mengatakannya. Bagaimana dia tak meminta persetujuanku terlebih dahulu.
"Apa?! Kau bercanda. Kau harus bertanya terlebih dahulu kepadaku. Lagi pula, dari mana kau tahu aku memiliki penthouse di sini?"
"Adikmu tercinta mengatakannya kepadaku. Greg mengatakan kau sangat jarang menempati penthouse-mu. Ayolah, aku hanya membutuhkan penthouse-mu untuk tidur. Kau tak perlu menemani kami." Terkutuklah mulut besar Greg memang tak bisa dikontrol. Bagaimana dia tahu? Sial, apa dia menguntitku dengan barang-barang anehnya. Ah, masa bodoh.
"Yeah, terserahlah. Aku tak bisa melarangmu. Katakan saja saat kau sudah siap. Aku akan mengurusnya, dan jangan membuatku panik dengan tindakan tiba-tibamu. Aku tak suka." Aku mendengar kekehan di ujung sana.
"Yes, aku tahu kau yang terbaik, Leon. Aku akan mengabarimu nanti saat kami bersiap pergi. Bye, Honey." Panggilan tersebut dimatikan sepihak. Dia selalu seperti itu, aku tak menyukai ketika dia selalu berbuat semaunya. Aku tak ingin kami mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak ingin karena kelalaianku, dia kembali menyesal.
Aku kembali masuk ke dalam kamarku setelah satu rokok berhasil kuhabiskan. Aku duduk kembali di depan monitor dan mengamati seluruh sudut mension Zach. Elisa terlihat masih asyik menonton film di kamarnya dengan banyak cemilan di kasurnya.
Ya, kuyakin itu. Aku baru ingat ketika hari pernikahan megah mereka berdua, Zach juga hadir. Mungkin Ken dan Zach memiliki hubungan pekerjaan. Aku sangat merindukan Lucy. Dia masih terlihat sangat cantik. Tapi aku tak ingin merusak suasana bahagia mereka. Bagaimanapun, aku masih belum menyukai suaminya yang angkuh.
...***...
A few hours later...
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Sembari menggosok-gosokkan handuk ke rambut, aku berjalan menuju meja monitor kembali. Ini sudah menginjak jam makan malam, seharusnya Elisa sudah ada di meja makan.
Sembari mengunyah makananku, aku fokus untuk melihat aktivitas di kamar Elisa. Tak ada. Apa dia tengah mandi?
15 menit.
20 menit.
30 menit.
1 jam.
Sial, ke mana lagi wanita itu? Aku telah mengecek cctv di seluruh sudut mension tapi dia tak ada. Aku akhirnya menghubungi salah satu pelayan di mension utama. Baru saja aku ingin mengumpati pelayan itu, tapi itu tak terjadi. Dari cctv aku melihat Elisa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
Aku yang tengah berdiri dan hampir saja meluapkan emosiku seketika ambruk ke kursi. Wanita ini sedikit pun tak bisa membuat jantungku tenang.
"Ah, Brengsek—" Aku seketika bangkit kembali dari dudukku dan membanting handphone-ku ke kasur. Untung saja benda tersebut tak jadi hancur ke lantai. Elisa tiba-tiba membuka handuknya. Dia tak mengenakan apapun di balik itu, apa yang tengah kulakukan. Sial. Aku mematikan layar monitor dengan sangat kesal. Aku sudah tak bernafsu untuk menghabiskan makananku.
Aku memutuskan untuk membaringkan diri ke kasur. Lama-lama aku bisa gila jika bekerja hanya di depan monitor. Zach sebenarnya telah memberikan Elisa pengawal baru dan aku hanya ditugaskan untuk mengawasinya. Kurasa aku bisa menghirup udara bebas untuk malam ini saja dan jangan terlalu khawatir.
__ADS_1
...***...
Zach's Club, City of London, UK – 10.01 pm.
Aku mencoba menenangkan kepalaku sendiri sembari memejamkan mata. Ini tak membuat kepalaku lebih baik. Aku telah meneguk tiga sloki vodka.
"Kau ingin menambah vodka-mu?" Aku melihat Dereck duduk di sofa tak jauh dariku. Pekerjaan yang sering kami lakukan bersama membuatnya tahu keadaanku sekarang yang sedang berantakan.
Aku menggelengkan kepala. Aku harus tetap sadar karena mungkin dia tak lama lagi akan membawa wanita di pangkuannya itu ke salah satu kamar. Dan kuyakin mereka akan memulai sesi gila mereka dengan mabuk-mabukan.
"Kudengar kau hampir membuat tuan putri kesayangan Zach menjadi putri tidur selamanya?" Aku terkekeh mendengar lelucon Dereck tentang tuan putri itu. Yeah, berarti aku adalah penyihir di ceritanya.
"Dari awal aku memang tak cocok untuk tawarannya kali ini. Kau tahu, wanita itu tidak dalam status bahaya dan Zach terlalu khawatir dengan itu. Dan kau juga tahu aku terlalu sering berada dalam keadaan waspada. Itu membuatku agak sensitif dengan satu tindakan yang mencurigakan. Sedikit banyak Zach sadar bahwa aku orang yang terlalu kasar untuk tuan putrinya."
Aku menyesal telah mengeluarkan beberapa kalimat untuk beberapa detik yang lalu. Aku mengumpati Dereck dan jalangnya dengan sangat keras hingga bartender yang ada di ujung sana bisa mendengarnya. Bajingan ini tak mendengarkanku dari tadi. Dia terlalu asyik bercumbu dengan jalangnya bahkan hampir menelanjanginya jika saja aku tak mengumpat saat ini.
Dia hanya tertawa karena mendengar umpatan itu. Yang selanjutnya dia lakukan adalah menggendong jalangnya, mungkin dia sudah tak tahan ingin menidurinya. Sesaat dia berhenti dan mengatakan, "Ah ya, apa Zach tak mengatakannya kepadamu? Yeah, mungkin dia juga berpikir aku telah memberitahumu, tapi kurasa kulupa. Tuan putri yang kau jaga itu adalah anak satu-satunya James Amstrong jika kau ingin tahu." Aku terbelalak saat mengetahui kenyataan itu.
Sial, tak bisakah mereka mengatakan itu lebih cepat. Aku hampir saja membunuh anak orang penting di negara ini. Aku baru saja akan membuat seluruh daratan Eropa gempar dengan kematian anak dari pengusaha paling berpengaruh di perekonomian Eropa.
Kepalaku jauh tambah pusing setelah mengetahui hal ini. Tentu saja Zach sangat khawatir. Keselamatan wanita itu akan sangat berarti. Pantas saja dia tak memiliki kebebasan untuk berpergian seorang diri. Bisa saja dia masuk ke dalam hal yang tak diinginkan terutama dari orang yang tidak menyukai kesuksesan ayahnya.
Setelah sekian lama berpusing ria, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jejak Dereck, mungkin itu akan sedikit membantu. Aku memasuki salah satu kamar vip. Di sana telah menunggu seorang wanita yang belum pernah kulihat, apa dia orang baru? Aku bisa melihat dengan jelas dia sangat gugup.
Kenapa hari ini aku begitu sial. Kegugupan wanita ini semakin membuatku mengutuknya. Ayolah, aku bukan meniduri seorang perawan. Lebih baik menerima wanita jalang yang liar daripada wanita jalang yang bertingkah seperti perawan.
Aku enggan memulai ini semua, aku akan melihat seberani apa wanita ini. Melihatku yang terus diam, dia akhirnya berinisiatif memulai dengan membuka kancing kemejaku. Entah apa yang membuatnya semakin gugup, lihatlah tangannya bahkan bergetar.
Karena sudah tak tahan dengan sikapnya yang menjijikkan, akhirnya aku memutuskan menarik tubuhnya dan membaringkannya. Aku segera ******* bibirnya. Benar, dia membalas ******* itu.
Dasar jalang.
Sekelebat pikiranku terasa sudah tak waras. Aku memikirkan wanita yang di bawahku ini adalah Elisa. Aku mencoba fokus untuk menyelesaikan ini dengan segera. Aku memejamkan mataku mencoba untuk menikmati apa yang telah kumulai.
'Kau menjijikkan, Brengsek. Jangan menyentuhku.'
Seketika aku membuka mataku dan menghentikan ini semua. Aku duduk di sisi wanita ini. Sial, bayangan wajah Elisa yang jijik terus terngiang. Aku sudah tak berselera dengan wanita di sampingku. Padahal dia memiliki penampilan yang cukup menggoda.
Aku dengan segera mengancingkan kembali kemejaku yang untungnya tidak terbuka semua. Aku membawa tubuhku keluar club. Aku memutuskan meninggalkan Dereck dengan mengendarai mobil seorang diri pulang ke mension. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Yang kubutuhkan sekarang adalah melihat wajah Elisa sebelum membanjur tubuhku dengan air dingin.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...•••...
__ADS_1