The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 22. And You're Not Here


__ADS_3

Lotus Grand Las Vegas, Las Vegas (Nevada), US - 12.27 am.


Aku memasuki gedung mewah yang merupakan tempat kasino terbesar di Las Vegas. Fasilitas yang ditawarkan tempat ini membuat semua penikmatnya malas beranjak keluar. Mulai dari berbagai gaming machine, meja poker, kamar hotel, restoran, bar, dan lainnya.


Ini adalah ketiga kalinya aku mengunjungi tempat ini. Tujuanku ke sini bukanlah untuk menikmati segala fasilitas tempat ini. Aku bahkan tak pernah sekali pun mencobanya. Tujuanku adalah tempat yang mungkin tak semua orang di dalam sini tahu.


Aku sedang di dalam lift yang akan membawaku ke tujuanku. Sudah sekitar lima menit aku di dalam sini menunggu hingga tak ada yang memakainya selain diriku. Tepat di lantai 18 terakhir kali seseorang menggunakannya, akhirnya aku bisa mengeluarkan silver card-ku.


Aku menempelkan silver card pada scanner yang sekaligus adalah tombol lift yang tanpa sadar sering digunakan banyak orang. Lift seketika dalam mode diam karena telah diaktifkan untuk akses pribadi.


Setelah scanning selesai, muncul sensor cahaya hijau yang bergerak dari bagian atas hingga bawah lift. Sensor tersebut berhasil membaca pengguna lift. Akses menuju area bawah tanah diterima.


Lift perlahan bergerak kembali menuju area bawah tanah yang luasnya terbilang setara tiga lantai gedung ini. Tak ada fasilitas mewah seperti yang terdapat pada bagian dalam gedung. Namun, tanpa diketahui oleh banyak orang, tempat ini jauh lebih canggih dan berkelas daripada di atas sana.


Saat pintu lift sudah terbuka, aku langsung disambut oleh para pria berbadan besar dan bersenjata.


"Tunjukkan silver card-mu."


Aku kembali melakukan pemeriksaan ulang. Hanya kunci mobil yang bisa mereka sita, aku memang tak membawa apa pun.


"Clear. Silahkan, Tuan."


Aku diperbolehan masuk ke dalam tempat tersebut. Hal pertama yang akan menjadi pusat perhatian ketika masuk adalah deretan kursi dan meja yang renggang dari berbagai sudut.


Saat ini orang yang hadir sudah lumayan banyak, namun masih ada beberapa kursi kosong. Kursi tersebut tak boleh diduduki selain pemiliknya. Contohnya sepertiku yang menjadi pemilik 14th silver card yang berarti pemilik nomor kursi dan meja ke-14.


Meja ini akan selalu menjadi milikku selama aku masih memiliki akses ke sini dengan silver card. Ketika aku menempelkan kartu tersebut ke name plate meja, muncul satu suku kata namaku, 'ALDRICH.' Dan kalian tahu, untuk satu kali akses memunculkan nama di meja ini bisa menghabiskan banyak uang.


Aku duduk menunggu acara ini dimulai. Acara ini hanya dihadiri tak lebih dari lima puluh pemilik kursi yang kebanyakan adalah orang yang berpengaruh di underground.


Acara ini adalah sebuah pelelangan yang diadakan setiap setahun sekali. Bukan pelelangan biasa. Apa pun yang dilelang pasti akan mencuri banyak perhatian.


Entah itu berupa benda langkah, kekuasaan, manusia, ataupun penemuan baru. Dan orang yang akan melelang hal menarik itu adalah pemilik kasino ini. Dia yang menciptakan pelelangan gila ini, yang sayangnya aku juga tertarik untuk mengikutinya.


Dia adalah orang yang sangat berpengaruh di underground dan sekaligus menjadi pusat perhatian hampir seluruh dunia karena keberhasilannya dalam mengembangkan kasino terbesar di dunia. Dia tak tersentuh, bahkan sekali pun oleh Negara.


Bagaimana jika dengan kekuasaan Zach? Bukan tak bisa, tapi sebaliknya. Zach malah melindungi bajingan ini. Aku tak tahu hubungan apa yang mereka bangun sehingga Zach bahkan beberapa kali berhasil menurunkanku hanya untuk membantu bajingan ini membunuh musuhnya.


Sejenak aku mengalihkan pikiranku dengan memesan whisky pada seorang pelayan yang berlalu-lalang. Sembari menunggu, aku mengamati setiap kursi yang sudah terisi dengan pemilik yang semuanya ber-jas. Masing-masing saling bertegur sapa untuk saling menyombongkan diri.


"Selamat menikmati, Tuan."


Whisky-ku akhirnya datang. Aku menuangkan whisky dari botol ke gelas sloki dan langsung meneguknya. Setelah meneguknya, sejenak aku mengingat Elisa. Aku ingat dia suka mengonsumsi wine. Bahkan terlalu sering untuk ukuran gadis sepertinya.


Aku pernah memergokinya melalui cctv sedang minum wine sendirian hingga dia tertidur. Tapi aku tak pernah sekali pun menemukannya mabuk.


Pikiranku teralihkan kembali saat pelayan tadi meletakkan satu botol gin.


"Aku tak memesannya."


"Ini hadiah dari pemilik kursi 18."


Aku mencari di mana tepatnya kursi tersebut. Ah, aku lupa kalau tak mungkin bajingan itu tak datang hari ini. Tentu saja, dia akan melihat apa yang bisa dia dapatkan hari ini jika mendengar tema pelelangan kali ini adalah 'Buy The Soul.'


Name plate mejanya bertuliskan 'ALEKSEY.' Benedict Aleksey. Ayah yang telah kehilangan penerusnya karena terlalu meremehkanku. Si Tua itu memunculkan seringai mengejek ke arahku.


Aku baru mengingat ketika masuk ke dalam gedung ini sebelumnya melihat beberapa bawahannya yang turun untuk berjudi. Kita lihat hari ini, apakah reuni kita akan berjalan lancar atau berakhir seperti terakhir kali?


Tiba-tiba bunyi jam berdenting keras seperti bunyi dentingan Big Bang. Tepat pukul satu pelelangan akan dimulai. Lampu putih menyorot seseorang yang berdiri di atas mimbar panggung. Dialah sang pemilik pelelangan.


Jonathan Wenzel.


"Ladies and gentlemen, selamat datang di pelalangan terbesar di dunia pada hari ini yang bertemakan 'Buy the Soul.' Ucapan terima kasih sebesar-besarnya bagi Anda yang telah bersedia menerima undangan kali ini."


Dia mengatakannya dengan terus mengembangkan senyuman yang menjijikkan.


"Seperti tahun sebelumnya, pelelangan kali ini juga tidak semua kursi terisi. Namun, itu tak kan mengurangi segala perhatian Anda semua terhadap apa yang ada di dalam tirai sana. Aku tak kan banyak bicara karena Anda semua pasti sudah menantikannya."


Sorot lampu kembali bergerak menuju tirai yang sudah terbuka dengan perlahan. Seorang pria dengan topeng yang menutupi area sekitar matanya? Mulai terdengar bunyi gerutuan dan bisikan dari para pemilik kursi. Pertanyaan bermunculan di mana-mana.


"Aku yakin semuanya pasti bingung dengan pria yang duduk di sana. Dengan tema 'Buy The Soul' bukan berarti aku akan melelang pria tersebut. Membeli jiwa merupakan tema yang kupikirkan ketika menemukan apa yang dimiliki oleh pria ini. Dia adalah pria yang baru saja kurekrut satu tahun lalu sebagai salah satu pembunuh bayaran."


Jonathan kembali mengamati setiap pemilik kursi dan aku merasakan dia berhenti tepat di mejaku.


"Aku akan membawa kalian pada berita yang menggemparkan underground tiga hari lalu di mana tiga petinggi mafia di Makau terbunuh di kediaman mereka yang memiliki sistem keamanan yang ketat. Dari clue tersebut kalian sudah mengetahui bahwa eksekutornya adalah pria ini."


Tiba-tiba muncul di layar besar di belakang pria bertopeng yang menampakkan halaman berita tentang kematian tiga orang tersebut.


"Dengan tema ini aku akan melelang keahlian yang dimiliki oleh pria ini. Kalian juga pasti bertanya, kenapa aku harus melelangnya, padahal suatu saat mungkin juga kalian bisa memakai jasanya tanpa melalui pelelangan ini."


Sejenak dia melirik ke arah pria bertopeng.

__ADS_1


"Jawabannya adalah tidak akan pernah. Pria ini dari awal tidak terikat denganku, bahkan dia selalu menolak instruksiku. Dan ini adalah kali pertama dia benar-benar menerima instruksi, tepatnya instruksi terakhir. Dia menawarkan jasanya melalui tema yang muncul kali ini. Dia akan menerima instruksi dari Sang Pemenang untuk membeli nyawa tiga orang yang kalian inginkan dengan masa berlaku seumur hidup. Kalian bisa memberikan instruksi tersebut kapanku kalian menginginkannya. Cukup mudah, bukan?"


Suara bisikan para pemilik kursi kembali terdengar. Mereka mulai tertarik.


"Karena hari ini adalah hari yang spesial baginya. Dia akan memilih siapa pemenang dari apa yang bisa kalian tawarkan untuknya. Tak peduli jika yang kalian tawarkan adalah sesuatu yang besar ataupun kecil, asalkan itu menarik baginya."


Jonathan menjeda kalimatnya sebelum kembali melanjutkan, "Seperti biasa, satu-satunya peraturan yang kita semua sepakati adalah setiap pemilik kursi wajib mengikuti pelelangan jika masih ingin keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup."


Tak ada satu pun di ruangan ini yang takut akan gertakan tersebut karena semua orang tahu konsekuensi dari masuknya ke pelelangan ini.


"Baiklah, mari kita mulai. Mungkin aku akan membuka harga terkecil mulai dari USD 2.3 juta. Bukankah ini angka yang tidak berarti untuk tiga nama?"


Pelelangan dimulai dengan sangat memukau, semua orang sudah mulai menyebutkan harga yang melebihi harga sebelumnya. Kudengar pelelangan tahun kemarin memakan waktu kira-kira sekitar dua jam. Apakah hari ini akan sama?


Perdebatan di mana-mana tak pernah terelakkan. Mereka tidak hanya menyebutkan harga, tapi juga menyebutkan kata pengantar yang panjang untuk saling mengejek musuh mereka dalam satu ruangan ini. Satu jam berlalu, namun hingga saat ini aku belum ingin mengangkat tanganku.


Selama satu jam ini juga aku terus memandangi sosok pria bertopeng yang duduk dengan tenang mengamati sekeliling. Pria tersebut hanya tersenyum tanpa berbicara sedikit pun. Sejurus aku merasakan dia tepat memandang ke arahku. Aku tidak mungkin salah. Dia sudah melakukannya sejak pelelangan ini dimulai.


Mencapai dua jam lamanya pelelangan masih berlangsung. Selama itu juga, tanpa sadar sudah berapa gelas sloki whisky yang kuminum. Tentu saja aku masih belum mabuk.


Aku merasakan dari seberang sana, Aleksey menatapku dengan seringainya yang tak pernah luntur. Aku tahu dia akan menunggu akhir di mana aku harus menyebutkan harga melebihi penawan semua orang.


"Wow, tidak disangka pelelangan tembus hingga mencapai USD 300 juta. Namun, sekali lagi ini tak kan berakhir sampai di sini. Aku menyadari dua kursi yang hingga sekarang masih belum masuk dalam pelelangan ini. Tuan Aleksey dan Tuan Aldrich, sejauh ini pelelangan masih diisi dengan sejumlah harga uang. Mungkin pria tersebut akan tertarik jika kalian menawarkan hal lain. Hanya saran saja."


Ucapan Jonathan lebih diperuntukkan untuk kami berdua. Aleksey bahkan tak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan Jonathan. Dia hanya terus mengejekku dengan seringainya. Tak berapa lama, akhirnya dia mengangkat tangannya.


"Akhirnya Tuan Aleksey masuk. Mari kita dengarkan tawarannya."


"USD 350 juta."


"Yeah! Kembali ini membuatku terkejut. Angka yang melebihi harga lelang tahun kemarin. Terima kasih atas partisipasinya, Tuan Aleksey. Sekarang yang terakhir adalah Tuan Aldrich. Mungkin sebelum beralih ke penawar terakhir, mungkin kita bisa mengetahui tiga nama yang diinginkan Tuan Aleksey karena di sini sudah pasti yang akan memenangkan pelelangan ada di antara dua orang ini."


Aleksey menatapku dan mulai mengeluarkan nama-nama yang sebenarnya sudah kuperkirakan.


"Aku melelang untuk nyawa ... James Amstrong ... Elizabeth Amstrong ... dan ... Sang Pemilik Kursi 14 dengan nama Aldrich."


Semua orang di dalam sini mulai tertawa sekeras yang mereka bisa. Akhirnya rasa bosan mereka berangsur-angsur menghilang karena hiburan ini. Semua orang di sini akan lebih terhibur lagi jika aku langsung dieksekusi kalau Aleksey memenangkan pelelangan.


"Wow, ini benar-benar di luar dugaan. Baiklah, Tuan Aldrich, sepertinya aku baru saja mendengar seseorang ingin melenyapkanmu. Aku tak yakin kau akan baik-baik saja jika tak memenangkannya. Sebutkan penawaranmu."


Aku meneguk whisky terakhirku. Sudah habis satu botol. Perlahan aku membalas tatapan Aleksey sebelum berkata, "Apa pun, bukan? Kurasa sejauh ini hanya berkutat dengan uang. Bagaimana jika dua pulau pribadi ... di Hawaii."


"Baiklah. Kita dengarkan keputusan apa yang akan dipilih pria di atas sana."


Akhirnya aku akan mendengar suara pria misterius tersebut.


"Pulau pribadi terdengar sangat menggiurkan. Aku tak bisa membayangkan akan ada penawaran seperti ini. Kita semua tahu, satu pulau di sana memiliki harga yang sangat fantastis tapi ... bukankah ini terlihat begitu mudah untuk tiga nyawa yang harus kueksekusi. Aku akan memikirkan lebih lanjut jika kau menyebutkan tiga nama yang kau inginkan."


Suara berat itu ... Benar saja, terdengar familiar, siapa? Aku menghilangkan pikiran tersebut ketika semua orang mulai terlihat penasaran.


Aku pun tersenyum sembari menjawab, "Nama pertama ... Aleksey. Kedua ... Aleksey dan ketiga Aleksey."


Semua orang kembali tertawa dan bertepuk tangan. Sedangkan di seberang sana aku melihat Aleksey menyipitkan matanya, tanda tak suka dengan apa yang kukatakan. Kita lihat, siapa yang akan menjadi pemenang.


"Hahahaha ... ya ampun, Tuan Aldrich, kau selalu membuat kami terkejut. Jika kau berhasil, maka ini adalah kemenangan pertamamu. Aku masih mengingat lima tahun lalu kau sama seperti ini hanya untuk dua senjata. Tapi kupastikan kali ini tidak akan ada hasil seri yang membuat kalian saling berbagi."


Tentu saja aku tak ingin. Aku masih mengingat bagaimana cara mendapatkan Barret-ku. Sialnya, Zach yang hadir tak ingin mengalah, padahal dia tahu aku begitu menginginkannya.


Saat itu kami akhirnya harus puas dengan masing-masing dari kami mendapatkan satu Barret. Tipe yang sama, namun yang dimiliki Zach jauh lebih keren. Karena itu, aku lebih ingin menggunakannya untuk misi-misi yang selalu diberikan Zach.


"Bagaimana?" Jonathan bertanya dengan pria bertopeng.


"Emm ... Bukankah di sini aku wajib menentukan peraturannya?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, aku akan menentukan pemenangnya adalah mereka yang terkuat. Aku mendengar bahwa Tuan Aleksey adalah pimpinan sindikat mafia terbesar di Rusia, dan ... Tuan Aldrich, aku sangat terkejut juga ternyata kau pernah menjadi pembunuh bayaran dan rekam militer yang dimiliki membuatmu terkenal sebagai snipper terbaik yang pernah ada."


Pujiannya terlalu berlebihan.


"Tapi ... tentu saja ini tak seimbang melihat kondisi Tuan Aleksey. Aku akan memberikan kewenangan untuk Tuan Aleksey memilih salah satu orang yang bisa mewakilinya dalam pertarungan ini."


Setelah penjelasan panjang lebar, pria bertopeng itu kembali melirik ke arahku. Dia tersenyum kembali. Entah mengapa aku sangat tak suka dengan wajah tersebut, membuatku seketika ingin melenyapkannya.


Semua orang semakin tertarik dengan pelelengan kali ini. Mereka semakin bergairah untuk melihat pertarungan ini.


"Munculkan cage-nya."


Setelah pria bertopeng tersebut mengatakan hal itu, tiba-tiba aku merasakan lantai tempat kami berpijak bergerak ke setiap sisi. Teknologi tempat ini memang tak pernah diragukan.


Bersamaan dengan itu, sebuah sangkar muncul tepat di tengah tempat ini. Bukan sangkar biasa, tapi sangkar raksasa. Sial, ini begitu luar bisa. Aku sangat menyukai adrenalin yang tengah kurasakan.

__ADS_1


Tak lama setelahnya aku dan lawanku sudah masuk ke arena bertarung. Semua orang yang menyaksikan kami di dalam sangkar sudah mulai bersorak-sorak.


Terdengar kembali suara pria bertopeng tersebut berbicara, "Sebagai hadiah kasediaan kalian dalam menerima tantangan ini, aku akan memberikan masing-masing senjata yang mungkin akan membantu."


Aku mendekati seseorang yang membawa nampan bertutupkan kain merah dan saat aku membukanya ternyata adalah sebuah pisau. Dan saat aku membalikkan badanku, ternyata lawanku dihadiahkan sebuah revolver.


Kembali aku melihat sosok bertopeng tersebut tersenyum kepadaku. Yang benar saja, ini tidak seimbang.


Bunyi jam berdenting keras kembali terdengar menandakan pertarungan ini dimulai. Baiklah, kali ini aku akan berhati-hati karena dia memiliki senjata yang lebih menguntungkan.


Doooor!!!


Sial, cecunguk tersebut bahkan tak tahu sopan santun dalam bertarung. Bagaimana bisa dia menembakkan satu peluru ketika baru saja aku melepaskan jas dan kemejaku?


Sayangnya, dia meleset.


Tak lama setelahnya dia melontarkan peluru berikutnya. Itu terus terjadi dan aku dengan mulus menghindar, hingga kuperkirakan sisa peluru yang dia miliki hanya tiga.


Aku bahkan tak membutuhkan tenaga besar untuk menghindari peluru tersebut. Dia menyeringai, dia sengaja melakukan itu semua. Apa dia meremehkanku?


"Ah, sayang sekali, sepertinya peluruku akan habis. Tapi tenang saja, sisanya pasti tak kan meleset." Ejekannya membuatku sedikit geram.


Tiba-tiba suara pria bertopeng kembali terdengar, "Hey aku tak menyukai pertarungan seperti ini. Aku ingin kalian lebih berambisi dalam memenangkannya. Tuan Aldrich bergeraklah! Kau tentu tak ingin mengecewakan penontonmu."


Aku menggeretakkan leherku. Baiklah, aku akan memberikan kalian tontonan yang menarik. Seketika aku berlari cepat dengan lintasan mengikuti sisi sangkar ini.


Satu tembakan kembali terdengar, namun aku berhasil menghindarinya dengan merundukkan tubuhku dan berguling hingga kembali berdiri di hadapan pria tersebut. Dia seketika menembakkan satu peluru ke lenganku. Aku tersentak, namun masih memiliki cukup tenaga untuk menikam pria tersebut dibagian perutnya.


Pisau tersebut masih tertancap di perutnya ketika aku membuat jarak agar pria tersebut tak menembakku lagi. Sialnya, satu peluru kembali bersarang di lenganku hampir di tempat yang sama dari sebelumnya. Pria tersebut masih memiliki sisa satu peluru dan kurasa dia tak kan menyia-nyiakannya.


Aku membuat jarakku semakin jauh darinya dengan terus memegangi lenganku. Sial, akan sulit mengeluarkan dua peluru dari sini. Tetesan darah terlihat jelas di sepanjang jalan yang kulalui tadi. Sedangkan pria tersebut mengerang melepaskan pisau dari perutnya.


Suara gaduh orang berteriak dan tepuk tangan masih bergema. Tentu saja aku tak kan sekarat karena ini. Namun, sialnya aku harus memperkirakan sisa tenagaku untuk melawan pria tersebut yang sekarang memiliki dua senjata. Revolver dan pisau-ku.


Dia tertawa terbahak-bahak melihat seakan kemenangan akan diraihnya.


"Apa hanya segini, hmm?"


Inilah akibat aku jarang berlatih dengan pisau, aku hanya selalu mengandalkan keahlian bertarung jarak jauhku. Seandainya aku dihadiahkan revolver, pasti aku tak harus menerima dua peluru ini.


Pria itu seketika melemparkan pisau berdarah tadi ke tengah-tengah sangkar.


"Hadiah untukmu yang sebentar lagi akan mati." Dia tersenyum sangat puas sekali.


Cukup, darah di tubuhku rasanya mendidih. Otakku harus bekerja memikirkan kemungkinan yang masih bisa kumanfaatkan. Tenang .... tenang ... tenang ...


Baiklah, aku hanya harus berlari ke tengah untuk meraih pisau tersebut agar bisa menikam jantungnya. Kuyakin dia tak kan mampu bergerak lebih leluasa dari sebelumnya. Sedangkan aku masih bisa mengandalkan lengan kananku untuk perlawanan terakhir.


Sekilas wajah Elisa muncul di dalam pikiranku. Aku membayangkan wajahnya yang murung karena menunggu kapan aku akan kembali kepadanya. Mungkin dia akan terus bergumam, 'Kau tak di sini, Leon' hingga berkali-kali. Aku menggelengkan kepalaku dan memfokuskan diriku untuk menyelesaikan ini secepatnya.


Pria itu kembali menodongkan senjatanya, namun kuyakin dia tak kan menembak sembarangan mengingat ini peluru terakhirnya.


Berapa detik?


50?


Tidak. Terlalu lama, aku bisa menyelesaikannya mungkin kurang dari 30 detik?


Seketika aku berlari cepat dengan tidak beraturan hingga mencapai pisau tersebut. Aku memperkirakan pria tersebut tidak akan mengikuti arah lariku karena dia tahu akan menembakku tepat di atas pisau itu berada. Namun, tanpa diduganya, aku tak mengambil pisau tersebut, melainkan menendang pisau itu ke arahnya.


Kebingungannya kugunakan untuk mencapai pria tersebut dengan masih berlari cepat tidak beraturan. Hingga dia tak menyadari aku telah sampai di depannya dan mengambil pisau tersebut untuk menikamnya tepat di area jantung.


Tak hanya di situ, aku juga memberikan satu pukulan dibawah dagu dan langsung menendang kakinya hingga dia terjatuh. Tak ingin membuang waktu, aku segera merebut revolver di tangannya dan berhasil menembakkan peluru terakhir di dahinya.


Suara di sekitarku senyap. Adegen tersebut sangat cepat, membuat semua orang bahkan sulit untuk melihat siapa yang berhasil tertembak.


Aku membalikkan badanku ke arah mereka yang terdiam di luar sangkar sana. Hanya satu suara yang bisa kudengar ...


Tepuk tangan dari pria bertopeng.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2