
The Bullets Club, Newcastle, UK – 10.55 pm.
Aku tak bisa berkutik sedikit pun mendengar apa yang Elisa katakan. Tidak, kami tak bisa seperti ini. Aku harus menjelaskan kepada Elisa segalanya. Aku ingin dia masih memiliki kepercayaan itu untukku.
Dengan kepanikan yang tersisa, aku bangkit dari dudukku. Baru saja ingin beranjak, Clara segera mencekal tanganku dan berkata, "Leon, tenangkan dirimu. Kalian hanya terlibat dalam masalah kecil Kenapa kau begitu panik?"
Aku melepaskan tangan Clara, "Tidak, kau tak tahu Elisa seperti apa. Dia akan selalu berpikir buruk tentangku, dan lebih buruknya lagi jika aku tak menjelaskan apa pun kepadanya. Melihatnya yang begitu tenang tadi, aku bisa tahu dia mungkin akan mengakhiri segalanya jika dia ingin. Kau tak tahu itu, kau—"
"Ya, aku tak tahu! Kau kira selama ini aku ke mana hingga aku tak tahu. Kau bahkan tak mencariku!"
Aku terdiam dengan Clara yang begitu emosi. Untungnya karena club sudah begitu berisik, membuat suara kerasnya begitu tak berpengaruh.
Dengan mengernyitkan dahi aku berkata, "Sejak awal kau yang pergi, Clara. Jangan mengungkit apa pun yang seharusnya kau pendam dan aku kehilanganmu tak lebih dari sekedar rekan."
Entah mengapa dia berubah begitu drastis. Baru kali ini aku melihat Clara menangis. Dia menjadi wanita normal pada umumnya yang bisa meneteskan air mata ketika sedih. Ada apa dengannya?
Dia terduduk dan menundukkan wajahnya sambil menangis. Ini membuatku harus sedikit menahan diri untuk mengejar Elisa. Aku masih mematung saat mendengar Clara berkata, "Kau sungguh tak mengetahui apa pun Leon. Kau ..."
Aku segera menarik tangan Clara yang diam-diam mengeluarkan pisau kecil dari balik bajunya. Saat dia hampir meletakkan pisau itu di lehernya, aku berhasil mencengkeram tangannya. Dan yang terjadi, tangannya memegang ujing pisau kecil itu berdarah.
"Clara! Apa kau gila? Jangan bermain dengan rasa simpatiku—"
"Tidak, Leon! Aku tak melakukan apa pun. Aku melakukan apa yang harusnya kulakukan sejak awal. Kau tak tahu hidup seperti apa yang kulalui sejak pergi. Mereka ..."
Dia menggeleng-gelengkan kepala, tanda sudah tak bisa berkata-kata.
"Mereka ... mereka menyiksaku. Mereka bahkan tak membiarkanku mati."
Aku segera memeluk Clara dengan erat. Siapa? Siapa yang dia sebut sebagai 'mereka'? Apa yang terjadi kepada Clara sejak dia pergi? Aku tak memiliki clue apa pun. Sial, seharusnya aku bisa mengetahui ada yang tak beres dengan kepergiannya.
"Clara, tenanglah. Maafkan aku, maafkan aku."
Dia melepaskan pelukanku dan segera menarik lenganku, "Leon, bawa aku pergi. Bawa aku bersamamu. Aku tak ingin seperti ini, tapi kumohon bawa aku pergi hingga tak ada yang mengetahui kita."
Aku memegang tangan Clara yang berdarah tadi dan berkata, "Clara ... Aku sungguh tak tahu harus seperti apa. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi kepadamu. Kau harus menceritakannya terlebih dahulu. Maafkan aku, aku tak bisa pergi ke mana pun. Aku tak bisa meninggalkan Elisa, tapi jika kau membutuhkan waktu, aku akan membawamu ke suatu tempat yang tak bisa diketahui siapa pun agar kau—"
Dia melepaskan genggaman tanganku, "Aku ... aku mengerti."
Nada kekecewaan ada di dalam jawabannya.
"Clara, aku tak kan membiarkanmu berkeliaran di luar, aku berjanji akan membawamu ke suatu tempat, maka bersabarlah."
Dia menganggukkan kepala tanda mengerti. Aku sedikit lega ketika dia sudah tenang. Aku segera membawanya bersamaku.
Aku mencoba fokus kepada masalahku sendiri dengan Elisa. Aku berusaha membuat keadaan lebih tenang, tapi malah aku sendiri yang tak bisa tenang di sini. Aku tahu Elisa tak kan pergi ke mana-mana selain pulang ke mension keluarga Amstrong.
Aku tak kan takut untuk menerobos kediaman itu. Aku bukan kriminal yang harus dijauhi darinya. Beberapa menit berlalu dan aku berhasil mencapai mension kediaman Amstrong. Aku dengan seketika memasuki pelataran mension dan memarkirkan mobilku tepat di belakang mobil Dereck. Dereck terkejut melihat aku yang keluar dan terus berjalan menaiki tangga mension.
"Dude, apa kau gila! Dia sedang kesal karenamu dan aku akan dipecat jika mengizinkanmu masuk ke dalam sana."
Dereck mencengkeram lenganku dengan sangat kuat. Pancaran matanya seakan memperlihatkan keputusasaan karena peristiwa malam ini. Aku ingin berbicara dan memaksa lebih jauh namun sepertinya Dereck memang tak ingin membiarkanku masuk. Aku melihat dia menghubungi para bodyguard dan tak lama setelahnya beberapa orang mulai mendekati kami.
"Aku harus masuk dan menyelesaikan ini. Bukankah kau sendiri ikut andil dalam kemarahan Elisa, Brengsek! Jika bukan karena kau, aku tak kan pernah ingin bertemu dengan wanita itu."
Kerutan muncul di wajah Dereck dan dia berkata, "Aku tak pernah berharap kau mengasihaniku. Kau bisa menolak bertemu."
Dia membuat kekesalanku bertambah dua kali lipat. Setidaknya katakan maaf setelah ini semua terjadi karena aku sadar ketika saat ini aku telah lepas kendali dan mencekiknya tanpa ampun. Yang ada dalam pikiranku hanyalah sakit hati Elisa yang berujung dengan kehancuran hubungan ini.
"Aku tak pernah berniat untuk sedikit pun melepaskan wanitaku. Dan apa pun akan kulakukan untuk membuatnya terus di sisiku. Bahkan jika itu Zach, kau, ataupun Amstrong tak mengizinkanku menyentuhnya, maka aku tak ada cara lain."
Aku mengatakannya dengan banyak bodyguard yang mulai berteriak dengan ancaman untuk segera melepaskan Dereck. Mereka tak kan mendekat karena Dereck masih mengangkat tangannya yang menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Dan harusnya kau melakukan hal yang sama ketika kau mencintai seseorang."
Dereck terbatuk-batuk ketika aku melepaskan cekikanku tersebut. Sebelum masuk aku melihat ke arahnya dan berkata, "Dia di mobilku. Bawa dia ke istana Zack."
Tanpa berlama-lama, aku langsung menerobos masuk ke dalam mension yang di dalamnya cukup sepi dan hanya terdengar suara beberapa langkah kaki pelayan. Aku berjalan lebih dalam lagi dan mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras dari lantai dua. Tentu saja itu Elisa.
Aku melewati ruang tamu hingga sampai ke ujung tangga yang akan membawaku ke lantai dua. Ternyata sisi di balik tangga tersebut terdapat ruang keluarga. Dua orang yang sedang bercengkerama dangan ocehan salah satunya, tentu saja Nyonya Amstrong yang sepertinya kesal dan Tuan Amstrong yang masih asyik dengan bacaannya.
Seketika Nyonya Amstrong terkejut dan berteriak saat melihat aku yang berdiri tegak dan diam tanpa kata tak jauh dari mereka.
"Astaga! Sayang, aku sangat kaget. Siapa itu? Hey, kau yang di sana. Apa yang kau lakukan?"
Aku menghembuskan napas kasar ketika melihat tatapan tajam Tuan Amstrong. Aku perlahan mendekat dan segera menundukkan kepalaku tanda menghormatinya.
Tuan Amstrong menyentuh halus tangan istrinya yang tengah kebingungan dan berkata, "Sayang, sepertinya aku kedatangan tamu malam ini. Kurasa aku akan membutuhkan sedikit privasi di ruang kerjaku. Bisakah kita menunda menonton film malam ini?"
Tatapan tajam diarahkan Nyonya Amstrong kepada suaminya. Tatapan tersebut tak berlangsung lama karena dengan seketika dia menatap tajam ke arahku.
Tak beberapa lama setelahnya dia berdiri dan berkata, "Kau sudah berjanji, James. Apa semua pria selalu seperti ini. Tidurlah di ruang kerjamu dan jangan sekali-kali mengetuk pintu kamar malam ini!"
"Sayang, kumohon—"
"Lepaskan aku!"
Dan Nyonya Amstrong-pun berlalu meninggalkan suaminya. Opera sabun yang sangat mengesankan. Kini kutahu sifat yang selalu Elisa perlihatkan kepadaku muncul dari mana. Dan aku harus banyak meminta maaf karena kehadiranku sepertinya membuat Tuan Amstrong berada di posisi yang sama sepertiku.
Tuan Amstrong berjalan melewatiku sambil berkata, "Ke ruanganku. Kita perlu membicarakan sesuatu." Aku mengikuti Tuan Amstrong dengan menahan sedikit perasaan tak sabarku yang ingin segera menemui Elisa.
Beberapa menit berlalu hingga aku berakhir tepat di depan pintu kamar Elisa setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Tuan Amstrong. Namun, yang kudapati saat masuk adalah Elisa yang rapuh. Wanitaku yang menangis dan aku ingin mendekap tubuh itu. Tubuh wanita yang telah kusakiti untuk kesekian kalinya.
...***...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 06.45 am.
Aku terbangun dengan sangat panik saat tak menemukan Elisa di sisiku. Sial, dia tak harus melarikan diri sepagi ini. Dan konyolnya kenapa aku harus tertidur lelap di kasur ini, kasur yang sepenuhnya menyimpan aroma wanitaku.
__ADS_1
Dengan menggeram kesal, aku segera beranjak menuju kamar kecil di kamar ini hanya untuk membasuh muka sebelum mencari wanitaku. Kuharap dia belum pergi ke kantornya karena ini masih terlalu pagi, lagi pula aku tak ingin membuatnya mengusirku di hadapan banyak orang saat di kantor.
Ketika baru saja keluar dari kamar Elisa, aku sedikit terkejut dengan kehadiran seorang pelayan wanita tepat di depan pintu. Aku mengendalikan ekspresi menyembunyikan keterkejutanku dengan berdehem.
"Ah, maaf, Tuan. Sa—saya hanya ingin memberitahukan bahwa Tuan dan Nyonya telah menunggu Anda untuk bergabung di meja makan."
Ada apa dengannya? Memangnya dia sedang melihat hantu.
Aku hanya menganggukkan kepalaku menyetujui undungan Tuan Rumah untuk sarapan. Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah Elisa.
Namun yang terjadi aku malah menghembuskan napas kasar sembari memejamkan mata beberapa detik karena tak menemukan Elisa di meja yang sama. Aku duduk gelisah di kursiku, ingin rasanya cepat menghabiskan makanan ini dan mencari Elisa.
Aku hanya memberikan salam ringan kepada Tuan dan Nyonya Amstrong sebagai rasa rohmat atas undangan di meja makan. Sedikit lega dan kurang nyaman secara bersamaan karena mereka tak bertanya satu dan lain hal tentang keberadaanku di sini.
Setidaknya itu yang kupikirkan jika melihat gerak-gerik santai Tuan Amstrong. Lain hal dengan Nyonya Amstrong yang menunjukkan ketidaknyamanannya dengan beberapa kali menatapku sinis.
Aku mengabaikan hal tersebut dengan terus memakan makananku. Kegelisahanku ternyata tertangkap oleh Tuan Amstrong hingga membuatku sedikit lega dengan perkataannya.
"Dia sedang lari pagi di area timur."
Aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Tuan Amstrong memang tak bisa berbasa-basi.
Akhirnya beberapa menit menghabiskan waktu di meja ini dengan kesabaran penuh dalam situasi sunyi berakhir. Dengan pengertian yang cukup, Tuan Amstrong segera mengajak istrinya untuk menikmati suasana pagi dengan berjalan-jalan mengitari mension.
Melihat sikapnya yang sedikit keras tentu saja akan sangat bertolak belakang dengan sikapnya saat bersama istrinya. Dia terlihat lembut dan penurut, terlihat sekali begitu memuja dan posesif.
Aku memutuskan untuk segera mencari Elisa, saat keluar dari mension aku berbelok ke kiri menyusuri taman hingga menemukan area jalanan yang cukup sejuk. Angin yang bertiap membuat pohon-pohon hijau di sisi jalanan menari.
Aku memutuskan untuk menunggu Elisa di salah satu kursi di area taman. Biarkan Elisa menyelesaikan aktivitasnya, setidaknya aku tahu dia sedang tak meninggalkanku.
Sambil menunggu, aku mengeluarkan handphone-ku dan mengerjakan apa pun yang bisa kukerjakan di benda canggih yang kudapatkan dari pelelangan dulu.
Mataku menyipit saat membuka email masuk. Dia tak harus mengirimkan pesan lewat email jika ingin menyapaku, dia menamai akunnya anonymous. Aku sungguh tak tertarik dengan identitasnya sebelum-
Yth. Tuan Leonal Aldrich Broklyn,
Selamat pagi, saya senang sekali bisa bekerjasama dengan orang yang tepat. Untuk hadiah perkenalan ini, saya mengirimkan beberapa foto, saya harap Anda sedikit tertarik dengan hadiah ini. Dan semoga Anda tak segan untuk menginstruksikan beberapa hal karena saya terlalu bosan duduk di depan komputer.
Terima kasih.
Aku agak terkejut dia mengetahui nama lengkapku. Niat untuk tak mencari identitasnya sedikit sirna, kuharap dia tak melanggar aturan yang ada. Jonathan harus membayar dengan nyawanya jika dia membuat sedikit ancaman yang konyol tentang keluargaku.
Isi email tersebut agak aneh, dia hanya mengirimkan beberapa foto. Aku terus melihat foto tersebut yang kebanyakan adalah gambar pesawat yang baru lepas landas.
Gambar ini diambil dari jarak yang sangat dekat dan strategis. Bahkan dilengkapi dengan jam dan tanggal yang beragam. Tunggu dulu, apa dia meretas beberapa sistem penerbangan internasional. Sial, ini jauh lebih mudah baginya.
Semakin lama aku mengamati satu per satu gambar itu hingga sampai pada file daftar penerbangan beberapa penguasa dunia. Wow, aku tak menyangka Zach bahkan bisa masuk ke dalam daftar nama ini.
Kurasa dia memang bekerja di depan komputer seharian penuh. Ayahku juga bahkan ada di daftar ini. Tunggu dulu, apa yang dilakukan Tuan Broklyn di Hawaii, itu pulau pribadiku yang telah kulepas untuk pelelangan, apa dia tahu aku memiliki aset itu?
Berlama-lama dengan menelaah segala nama di daftar tersebut-terkecuali nama bosnya, akhirnya aku bisa berhenti karena mendengar suara pembicaraan orang lain. Aku masih menyadari suara lembut itu dan punggung halus yang membelakangiku. Elisa.
Apa yang dilakukannya hingga tak mencamkan hal itu baik-baik. Aku tak bodoh ketika dia terus menatap wajah dan tubuh wanitaku tanpa malu. Dan apa-apaan dengan pemandangan ini. Apa mereka lari pagi bersama-sama.
Aku merutuki segala apa pun yang dikenalan Elisa saat ini. Bagiku dia tak memakai apa pun, lihat saja dengan sport bra yang dia kenakan dan celana ketat itu. Itu tak membantu apa pun selain mempertegas bentuk tubuhnya dan mempertontonkan perut indahnya.
Apa dia ingan membuatku mengamuk di pagi hari. Percayalah, bahkan dalam sekali sentak aku bisa merobek baju kekukarangan bahan itu tanpa pernah dipakainya kembali.
Hanya memikirkannya saja membuatku pusing, ditambah lagi dengan fantasiku tentang tubuh itu membuatku terus mengumpat di dalam hati. Aku sangat tahu kesabaranku akan hilang detik itu juga.
"Apa yang tengah kau lakukan?!"
Itulah yang kuteriakkan ketika berhasil menarik Elisa menjauhi bajingan ini. Aku sangat marah dan aku tak ingin lepas kendali dengan bersikap lebih kasar lagi terhadap Elisa.
Namun Elisa membuatku lebih geram dengan bicara terbata-bata. Aku ingin sekali mengurungnya di ruangan gelap agar dia ketakutan dan jera dengan apa yang dia perbuat. Tentu saja itu hanya dalam pikiranku.
Kekesalanku bertambah ketika Dereck mencekal cengkeramanku, namun secepat itu pula aku menepisnya dan meneriaki ancamanku. Dia bersikap sangat tidak biasa, apa kali ini dia menginginkan apa yang telah menjadi milikku? Jangan bercanda.
Dengan emosi yang bercampur aduk, aku menyeret Elisa menjauh dari situasi ini. Aku juga harus meredakan amarahku. Tak ada yang bisa kulakukan selain memberikan pelajaran kepadanya.
Segalanya akan lebih mudah jika kulakukan dengan caraku seperti yang sering kulakukan sebelumnya. Namun Elisa terlalu berbeda dan istimewa.
Dia berharga bagiku, aku merasa belum cukup dan terus-menerus menginginkannya, dan karena dia terlalu berharga pula aku merasa hanya dia yang membuatku cukup hanya dengan memilikinya.
Hanya dia.
Emosi yang selalu membuatku mengambil langkah bodoh akan menjadi saksi begitu aku serakah terhadap wanitaku. Aku hanya ingin dia sadar bahwa dia hanya milikku.
Dan nyatanya emosi itu selalu menggerogotiku, aku sangat sadar dan bisa membayangkan tubuh wanitaku yang terhempas ke dinding dengan kasar.
Aku sungguh tak berniat memperlakukan Elisa seperti wanita yang pernah kutiduri di luar sana, yang memujaku dengan segala kekasaranku, yang selalu merayuku ketika mereka menginginkan lebih, dan berakhir dengan selalu kutinggalkan ketika mereka tidak terjaga.
Dia wanitaku, sungguh wanitaku yang selalu kupuja. Dia memerangkapku dengan pesonanya sejak pertama kali bertemu.
Dia membuatku gila dengan segala yang dia punya.
Apapun yang kurasakan bersamanya seakan menjadi kali pertama kualami.
Ciuman yang selalu dimulai dengan paksaan bukan sesuatu yang sering kulakukan saat bersama wanita. Tapi, Elisa selalu berhasil membuatku menyerah bersabar karena begitu mendamba bibirnya.
Dan ketika dia sudah menyerah, aku tak segan-segan melakukan lebih hanya untuk mengetahui bahwa dia juga menginginkan diriku lebih.
Itu jelas terlihat ketika aku berhasil membuatnya berhenti memukuli dadaku saat aku mencium bibirnya. Ciuman kasar yang hanya dilakukan sepihak kini berubah menjadi tautan yang saling menginginkan.
Aku merasakan sengatan kepuasan yang luar biasa di dalam diriku ketika melihat Elisa terbuka untukku, menyerah untukku, dan begitu menginginkanku.
Tubrukan euforia yang besar seakan membangunkan adrenalin yang meronta dalam diriku. Gairah yang besar ditimbulkan Elisa membuatku pening, membuatku ingin menguasainya dengan kasar.
__ADS_1
Pikiranku sudah menipis ketika aku menggerakkan kakiku di celah paha Elisa, dan reaksi tubuhnya begitu luar biasa. Dia bergerak bersamaku dan tak menolak sedikit pun apa yang diinginkan tubuhnya.
Oh, dia membuatku terus menginginkan lebih. Tanganku bersemangat menangkup bokongnya ketika terus-menerus mendengar erangannya yang berhasil lolos di sela ciuman kami.
Namun yang terjadi selanjutnya begitu menyebalkan. Aktivitas kami diusik oleh pekerja-pekerja sialan di mension ini. Demi apa pun aku terus menahan berbagai jenis umpatan yang bisa kulakukan.
Hal konyol macam apa lagi yang bisa mengusik dua orang yang tengah bercumbu. Jika hal itu muncul sekali lagi maka aku siap memukuli siapapun yang tertangkap mataku hingga mati.
Aku sekuat tenaga mengatur diriku sendiri menahan segala gairah yang terus menuntut untuk dipuaskan. Tatapan mata Elisa yang sayu dan hembusan napasnya yang tak beraturan membuatku ingin menidurinya saat ini juga.
"Leon, kurasa kita sebaiknya-"
"Tidak, dengarkan aku. Setelah ini segeralah masuk ke dalam dan kita akan bertemu satu jam lagi. Dan berpenampilanlah sewajarnya, aku tak ingin melihat kau menggunakan pakaian seperti ini terutama di depan Dereck. Jangan membantahku, ini masih pagi dan aku tak ingin merusak-"
Suara seraknya sekali lagi membuatku begitu menginginkannya berada di bawahku saat ini.
Namun tentu saja itu bukan pilihan yang tepat, yang harus kami lakukan adalah berbicara. Memperbaiki apapun yang menjadi masalah dari hubungan kami yang terlalu rumit.
Menetapkan batasan yang tidak disukai masing-masing dari kami dan mencoba untuk tidak saling melukai dengan segala kesalahpahaman. Lebih tepatnya itulah hubungan yang ingin kubangun dengan Elisa.
Untuk memulai itu semua aku membutuhkan diri kami yang tenang, aku tak ingin memulai ini dengan salah. Seluruh Elisa harus utuh dan aku menghargai apa pun yang telah dia jaga dan tak ingin merusak segalanya.
Sekali lagi hanya untuk Elisa aku rela melakukannya.
Dia selalu bisa membuatku berada di dua sisi diriku yang bertentangan dan sialnya aku tak mengutuk hal itu.
Amarah yang selalu muncul dengan cepat akan dengan cepat juga reda hanya dengan satu kalimat konyolnya.
Dan yang dia katakan yaitu, "Kau cemburu?"
Aku menutup mataku saat mendengar pertanyaan konyol Elisa yang tentu saja tak pernah kuharapkan untuk ditanyakan.
"Elisa, apa aku harus menjawabnya. Kau yakin menanyakan hal ini?!"
Aku mengatakannya seakan memekik seperti gadis perawan. Ah, sial itu perumpamaan yang bodoh.
Tak terasa mengapa sosok ini begitu mudah membuat diriku porak-poranda. Sesaat kami jatuh dalam suasana yang begitu emisional, sesaat begitu intim, hingga akhirnya dia berhasil membuatku menjadi manusia yang begitu bodoh di bawah kaki seorang wanita yang begitu kupuja.
Aku kembali berusaha mengendalikan diriku.
Aku masih mengatur napasku dan menekan dorongan yang terus meronta untuk menerkam Elisa. Aku membuka mataku dan dengan cepat membalikkan badan melepaskan Elisa yang sebelumnya kuperangkap.
"Sudahlah, kau harus masuk dan bersiap-siap. Aku akan mengantarkan—"
Aku menghentikan ucapanku saat Elisa menangkup wajahku, "Kau sungguh cemburu?"
"Elisa, kumohon—"
"Katakan!"
Aku melihat mata Elisa yang berbinar-binar, senyumannya merekah seakan tak ada yang membuatnya bahagia selain saat ini.
Anak kucing, anak kelinci, anak bebek? Binar ini mengingatkanku pada sesuatu, aku pernah melihatnya sesekali. Semakin lama binar mata Elisa semakin terpancar hingga aku menyadari yang kumaksudkan tadi. Anak anjing Greg. Aku selalu berpikir anak anjing itu selalu menjijikkan ketika menyambutku dengan gigitan di celanaku.
Namun yang kulihat saat ini sebaliknya, aku meneguk liurku saat Elisa terus menilik ke dalam mataku. Kutahu dia bermaksud menunggu jawabanku, tanpa dia ketahui aku setengah mati menahan gejolok di dalam diriku, aku merasakan bukti gairahku di bawah sana mengeras. Celanaku yang sesak dengan seketika membuatku pening kembali.
Tanpa menunggu lebih lama aku kembali mencium bibir menggiurkan itu, aku tak kan memberikannya peluang untuk menarik napas sedikitpun. Aku merasakan tangan Elisa memukul kecil pundakku, tentunya tak kan menggangguku sama sekali.
Senyum kecil muncul di sela-sela lumatanku ketika aku memikirkan hal konyol tentang Elisa. Aku mengambil tangan yang tak berhenti memukuliku tadi dan perlahan membawanya untuk merasakan bukti gairahku yang masih perlu untuk ditenangkan.
Aku menghentikan ciumanku tadi ketika merasakan tubuh Elisa yang kaku. Senyuman masih bertahan di wajahku ketika menatap wajah Elisa memucat dengan tangannya masih sengaja kutahan di bawah sana.
"Sialnya aku sangat cemburu dan tak sabar mengumpati diriku sendiri karena seperti remaja bobrok yang pencemburu. Dan ini sepenuhnya salahmu, karena kau dan baju sialanmu ini juga membuatku mengeras. Tidakkah kau merasakannya, Princess?"
Aku kembali menekankan tangannya ke bagian celanaku yang sangat sesak dan kembali berbisik di samping wajah Elisa yang sepenuhnya sudah memerah, "Ingin bertanggung jawab, hmm?"
Mata Elisa seketika terbelalak dan berusaha melepaskan tangannya dariku, aku sudah tidak tahan untuk tidak terbahak-bahak melihat reaksinya yang konyol. Wajahnya yang memerah tak memudar sama sekali. Kekesalan dan malu bercampur di wajah cemberutnya.
"Ka—Kau, apa yang kau lakukan?! Mesum. Itu salahmu sendiri yang pencemburu. Kau harus menuntaskannya sen—"
Sial, dia sangat menggemaskan dan membuatku untuk terus mengejeknya. Aku kembali menarik tangannya, memaksa untuk membuatnya semakin panik dengan merapatkan tubuhku kepadanya.
"Kenapa harus sendiri ketika aku memiliki kekasih yang bisa melakukannya untukku?"
Ini mengasyikkan, dan tawaku akhirnya pecah ketika ...
"Aaaa, aku tak ingin melakukannya! Menjauh!"
Dia terus meronta dan mendorong wajahku untuk menjauh. Tawa menggelegarku sudah tak terbendung lagi, perutku terasa geli saat Elisa memekik tak tertahan karena ikut tertawa akibat gelitikanku di perutnya.
Kami bahkan baru menyadari para bodyguard Elisa yang mendekat, mungkin karena pekikannya tadi. Elisa terdiam dengan seketika dan berdehem beberapa kali karena malu. Dia menjauhkan tubuhku dan aku menurutinya.
Banyak pengawalnya yang menggaruk tengkuk karena salah tingkah. Elisa ingin pergi sebelum aku kembali mencekalnya dan sedikit menggoda, "Kau yakin tak ingin membantu menenangkannya?"
"Apa kau bercanda, yang benar saja!"
Saat itu juga dia telah berlari meninggalkanku ke dalam mension. Kepanikan pasti masih bersarang di wajahnya dan sialnya ini memang menyakitkan ketika aku begitu menginginkannya.
.......
... ....
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...