
The Bullets Club, Newcastle, UK – 10.55 pm.
Aku meninggalkan Leon yang terduduk kaku di belakang sana. Aku bahkan enggan menatap siapa pun yang kulewati saat ini. Yang hanya ada di pikiranku saat ini adalah menjauh dan menjauh dari bajingan ini.
Bahkan saat keluar dari club ini, aku masih dilingkupi emosi yang begitu besar. Emosi tersebut tak cukup membuatku merutuki kesedihanku, aku tak sanggup untuk sekedar menangis saat ini.
Aku membuka pintu mobil yang telah terparkir tak jauh dari pintu keluar club, kutahu Dereck telah ada di dalamnya. Dia nampak terkejut ketika aku menutup pintu dengan bantingan yang sangat kuat. Aku tak berkata apa-apa selain menutup mataku dan menyandarkan punggung ke kursi.
Hembusan napas Dereck terdengar hingga telingaku sebelum dia berkata, "Elisa ... kutahu kau masih kaget dengan situasi ini dan mungkin marah ... tidak, kau bahkan sangat marah kurasa. Tapi, yang harus kau ketahui bahwa Leon tak membohongimu, dia tak berencana menemui wanita itu. Aku yang-"
"Dereck, diamlah! Aku sudah mengetahuinya! Aku hanya berusaha membenarkan apa yang ada di pikiranku saat ini. Yang aku permasalahkan adalah dia yang tak menghubungiku dan kau tahu itu. Awalnya aku biasa saja, tapi seketika kepalaku ingin pecah memikirkan hal yang sebenarnya tidak dilakukan Leon di belakangku. Kau juga lihat wanita itu? Dia masih memuja Leon, dia masih menginginkannya!"
Aku mengucapkan kalimat panjang lebar tersebut seperti orang kerasukan. Aku butuh mengeluarkan semua yang ada di pikiranku dan Dereck adalah orang yang tepat menjadi sasaran amukanku. Tapi reaksi yang kudapatkan darinya malah terlihat berlebihan.
Dia memukul setir mobil sangat kuat dan berteriak, "Sial! Aku tahu itu, Elisa! Aku sangat mengerti tatapannya itu. Jadi berhentilah bertingkah seperti anak kecil karena Leon tak seperti apa pun yang ada di pikiranmu itu."
Aku sedikit kaget dan marah secara bersamaan. Kenapa juga dia harus membentakku seperti itu? Aku memilih diam setelah bentakan itu kuterima.
Dereck yang dari tadi enggan mengucapkan apa pun, seketika membuka pintu mobil setelah berkata, "Aku meninggalkan sesuatu di dalam, tunggulah sebentar."
Dia tak menunggu jawaban dariku dan hanya berlalu begitu saja. Cukup lama aku menunggunya di dalam mobil hanya untuk meredam emosiku yang tak berkurang sedikit pun. Numun, Dereck tak kunjung kembali.
Aku akhirnya memutuskan untuk menyusulnya, hanya untuk memastikan dia tak kembali duduk bersama dengan Leon dan Clara. Memikirkan dua orang sebelumnya, membuatku kembali kesal. Kenapa Leon masih tak segera mengejarku tadi saat meninggalkan club ini?
Menyebalkan.
Saat melintasi penjaga club, aku melihat punggung Dereck di remang sudut sebelum benar-benar masuk ke club. Apa yang dia lakukan? Baru saja aku ingin memukul punggung itu, namun seketika niat itu hilang saat melihat ke tempat tadi Leon berada.
Leon masih di sana ... dia ... memeluk wanita itu.
Tubuhku limbung seketika dan aku menjatuhkan clutch-ku. Ketika itu Dereck tersadar dari lamunannya dan segera membalikkan tubuhnya. Wajahnya kaku dan tegang saat menatapku, kurasa raut wajahku sama dengan apa yang dikeluarkan Dereck.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku tak sanggup dan segera berlari pergi meninggalkan tempat terkutuk ini. Air mataku muncul seketika, aku tak bisa menahannya. Mataku yang mengabur karena air mata membuatku terjatuh saat berlari keluar club. Kakiku rasanya lemas, orang-orang yang masuk ke dalam club seketika menatap nanar kepadaku.
Aku tak peduli dan memukul dadaku karena rasanya sesak. Tak lama setelahnya aku merasakan diriku melayang, Dereck mengangkatku. Hingga masuk ke dalam mobil, aku masih memukuli dadaku.
"Elisa, berhenti menyakiti dirimu sendiri! Jangan lakukan itu."
Aku menutup telingaku dan berteriak, "Pergi! Pergi dari sini, aku tak ingin di sini!"
Dereck berteriak, "Baiklah! Kita akan pergi dan berhentilah seperti ini!"
Dereck menghidupkan mesin mobil dan berhasil menjalankannya. Sialnya, sewaktu melewati depan club, Leon keluar dan berhasil menangkap tatapanku. Aku melihat keterkejutannya dan menghentikan kontak mata tersebut.
Rasanya hatiku tersayat berkali lipat saat kembali menatapnya. Aku memejamkan mata, mencoba melupakan apa pun dan tentu saja tak bisa. Selama di perjalanan, aku menatap keluar mobil dalam diamku dan masih berderai air mata, namun kian lama kian menghilang. Pikiran dan perasaanku sinkron dan sama-sama mengatakan bahwa ...
Aku membenci Leon dan diriku sendiri.
...***...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 11.47 pm.
Aku menghempaskan sepatu high heels hitam kesayanganku ke kursi penumpang bagian belakang. Aku membuka pintu mobil dan keluar begitu saja. Setelah membanting pintu mobil, aku menghampiri Dereck yang berdiri di sisi mobil yang berlawanan denganku.
Dengan emosiku yang masih sedikit bergejolak, aku berteriak sembari menekan jari telunjukku ke dadanya, "Dengarkan aku, Brengsek! Jangan biarkan bajingan itu menginjak rumahku sedikit pun. Kau akan merasakan akibatnya jika kau tak mendengarkan perintah ini baik-baik. Dari awal sudah kukatakan, jangan merahasiakan apa pun tentangnya dariku-
-menyangkut wanita itu, kau tahu aku sangat tak menyukai pemandangan tadi, aku bahkan ingin sekali menarik rambut jalang tadi jika saja aku tak mempedulikan harga diri daripada sakit hatiku. Teruslah mempertemukan mereka berdua dan kau akan melihat ketika aku bisa dengan mudahnya menginjak harga diri kalian karena kepercayaanku yang sedikit berkurang!"
Aku melesat meninggalkan Dereck setelah menumpahkan sisa-sisa amarahku. Bahkan dari kejauhan aku bisa melihat para bodyguard yang melirik dalam diam ke arahku. Aku berhasil mencapai pintu utama mension dan menutupnya dengan terburu-buru.
Aku mengacuhkan beberapa pelayan yang kaku berdiri melihat kelakuanku, mungkin mereka mengetahui suasana hatiku yang buruk. Aku menaiki tangga menuju lantai dua dan samar-samar mendengar teriakan ibuku yang sepertinya marah terhadap sikapku. Aku mengabaikannya dan terus berlari hingga akhirnya berhasil mencapai kamarku.
Setelah menyandarkan punggungku ke pintu yang baru saja kututup, aku merasakan jantungku masih berdetak dengan kencang. Suara deru napasku seakan mengisi kegelapan kamarku yang tanpa pencahayaan lampu.
Aku benci akan diriku yang seperti ini. Aku benci merasa lemah terhadap Leon. Hatiku sakit melihat dia yang mengkhianatiku, tapi sisi lain malah membuatku merutuki kebodohanku karena menyadari begitu aku mencintainya.
Aku cemburu, enggan berbagi dirinya dengan siapa pun, aku ingin egois jika itu menyangkut dirinya.
Aku memejamkan mataku dan seketika tubuhku luruh ke lantai. Napasku sudah tidak memburu dan detak jantungku sudah tidak menyakitkan. Ketenangan seketika menyelimutiku.
Aku bangkit dari lantai dan berjalan menuju jendela kamarku. Sejenak aku menatap cahaya rembulan yang masuk melewati jendela kaca yang tak tertutup dengan baik oleh gorden. Aku kemudian membuka sedikit lebih lebar gorden agar bagian kamar lainnya tersinari.
Beberapa menit aku hanyut dalam ketermenunganku, tak lama terdengar suara ketukan pintu di belakang sana. Tak ada bunyi siapa pun yang memanggil dan aku pun enggan bertanya. Kurasa hanya ibuku yang memeriksa apakah aku sudah tidur atau belum.
Namun, aku tersadar ketika pintu di belakang sana dibuka. Aku tak pernah ingat kegiatan memeriksa tidur adalah kebiasaan ibuku.
Derap langkah sepatu perlahan terdengar hingga ke telingaku, aku mengurutkan dahiku meski aku tak yakin sama sekali.
__ADS_1
Kuharap jangan dia, jangan dia, jangan-
Aku berhenti dengan pikiranku tersebut ketika tangan kekar tersebut melingkar di perutku. Aku memejamkan mata dan menghembuskan napas kasar saat merasakan dia membenamkan wajahnya di celuk leherku.
Lama kami betahan di posisi seperti ini, hingga akhirnya aku membuka mata untuk memecah kesunyian ini, "Leon, kumohon jangan sekarang."
Aku sendiri agak terkejut karena bisa mengeluarkan suara yang begitu tenang walaupun amarahku masih bertahan.
Leon tak bergerak sama sekali dan dia masih menyembunyikan wajahnya di celuk leherku. Dia bahkan mengeratkan pelukannya di tubuhku, seakan enggan untuk melepaskannya.
Aku kembali bersuara, "Aku lelah, jika ada yang ingin kau sampaikan, maka kita bisa berbicara besok di kantorku. Aku tahu malam ini aku bersikap tidak sopan dengan merusak pertemuan kalian. Jadi ... biarkan aku sendiri untuk sekarang."
Dengan suara yang masih tenang tersebut, aku mengangkat kedua tanganku untuk melepaskan pelukannya yang mulai mengendur. Namun, ketika pelukannya terlepas, tiba-tiba lengan kekar tersebut kembali melingkar di sekitar leherku dan wajah yang tersembunyi tadi akhirnya berada tepat di sisi wajahku.
Aku mendengar deru napasnya, yang awalnya memburu, perlahan semakin tenang. Dia mengatur emosinya dengan sangat baik. Lengan yang memerangkap leherku bahkan tak menyakitiku sama sekali.
"Tidak ... Kau bisa melakukan apa pun. Kau bisa menggangguku kapan pun kau menginginkannya. Kau bisa melakukannya. Tapi kumohon ... jangan menjauh dariku."
"Leon ..."
Aku kembali menghembuskan napas kasar saat perlahan melepaskan pelukan Leon dan membalikkan tubuhku untuk melihatnya.
Leon terlihat berbeda, dia bukan seperti Leon yang selalu menunjukkan aura menyeramkannya. Aku melihat ketakutan yang sangat besar di matanya. Saat mataku bersibobrok dengan matanya, dia dengan cepat mengalihkan pandangannya. Aku bahkan tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas karena tertutupi oleh rambutnya yang sudah tak tertata rapi.
Dia berantakan.
Aku mengabaikan apa pun yang tengah kulihat saat ini. Aku menutup gorden yang sempat kubuka dan terus berjalan menuju tempat tidur untuk menyalakan lampu tidur. Tiba-tiba tangan Leon mencekalku, menghentikanku untuk terus mengabaikannya.
"Elisa. Aku mencintai-"
Sebelum kalimat itu selesai diucapkannya, tanganku refreks bergerak untuk mendarat di pipi pria yang masih sangat kucintai ini. Napasku kembali memburu, aku menatap tanganku sendiri yang bergetar tanpa henti. Aku sendiri tak menyangka akan melakukan hal tersebut.
Aku bergantian menatap tanganku yang bergetar dengan sisi wajah Leon. Dia mungkin sangat terkejut sama denganku.
"Leon ... Aku ... Aku, beri aku waktu. Aku janji kita akan membicarakan ini. Mengertilah."
Aku segera beranjak dari posisiku dan segera masuk ke dalam selimutku yang hangat. Aku mengabaikan Leon yang terdiam di tempatnya, sedangkan diriku menutup mata dengan rapat sembari masih memegang tanganku yang bergetar.
Tanpa sadar getaran itu merambat ke sekujur tubuhku, aku terkejut untuk kesekian kali karena merasakan air mata berhasil membasahi pipiku kembali.
Ada apa denganku?
Mengapa aku selemah ini? Akhirnya aku tetaplah seorang wanita.
"Maafkan aku, menangislah. Aku hanya akan seperti ini, kumohon biarkan aku seperti ini."
Bisikan tersebut berhasil keluar dari Leon yang menempelkan kepalanya ke tengkukku. Aku merasakan dia terus mengecupiku dengan sangat lembut, membuat isakan yang kukeluarkan semakin menjadi-jadi. Dia mencari tanganku yang tersembunyi di dalam selimut dan menjalinkan jari-jarinya membentuk genggaman yang kuat.
Mengapa aku begitu sepayah ini?
Hanya perkara kecil dalam suatu hubungan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah.
Sepertinya begitu.
Tapi masalahnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini, baru kali ini. Bodoh, aku merutuki diriku yang selalu mengejek kebiasaan ibuku menonton drama percintaan yang kukategorikan sebagai tontonan tak masuk akal.
Tentu saja itu masuk akal, aku juga merasakannya, proses suatu hubungan yang baru kurasakan sebagai seorang wanita yang tak pernah menyentuh hal seperti ini. Memangnya sepolos apa lagi diriku yang bahkan lebih parah daripada seorang remaja yang baru tersakiti oleh pacar pertamanya.
Nyatanya ... Leon memang yang pertama bagiku.
Terlalu lama tenggelam dalam pikiranku, membuatku perlahan tanpa sadar merasa tenang dalam rengkuhan Leon, isakanku memudar seiring kantuk datang.
...***...
Amstrong's Mension, Newcastle - 06.37 pm.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, berhasil bangun di jam yang tak seperti biasanya saat merasakan silau matahari tak bisa masuk, kecuali dari celah gorden yang tak tertutupi. Aku mencoba untuk bangun, namun aku merasakan lengan kekar memerangkapku-lengan Leon.
Dia masih di sini. Masih bersamaku.
Aku membalikkan badanku, berharap tak mengganggu tidur nyenyaknya. Jariku berhasil menyingkirkan rambut yang menghalangi mata pria yang kucintai ini. Aku mencoba menyentuh alisnya yang unik, parit kecil pemisah alisnya di sana membuat orang lain yang melihat sosok ini semakin merasa terintimidasi.
Kesan tegas di wajahnya bahkan menutupi manik hijau kelam indah milikinya. Namum percayalah, wajah inilah yang selalu menjadi ketertarikan banyak wanita untuk memilikinya.
Perlahan aku ingin menyentuh kelopak mata yang berhasil menyembunyikan matanya, namun niat tersebut segera aku urungkan saat kembali terbesit kejadian semalam. Aku harus mengalihkan pikiranku. Ayolah, jangan seperti anak kecil, Elisa.
Akhirnya aku memutuskan untuk beringsit keluar dengan perlahan dari pelukan Leon agar tidak mengganggu tidurnya. Melihatnya yang bahkan tidak terganggu sama sekali, menunjukkan dia sangat kelelahan saat ini.
__ADS_1
Aku segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum turun ke dapur untuk mengisi perut. Kutahu saat ini kedua orang tuaku masih belum di meja makan dan aku memang enggan untuk menjawab pertanyaan dari mereka jika sarapan bersama.
Segera setelah selesai membersihkan diri, aku berganti dengan tampilan yang cocok untuk berolahraga dan segera keluar kamar. Tak lupa, aku mencuri satu roti panggang dari dapur karena kutahu akan ada pelayan yang berteriak jika tahu aku menginginkan sarapan lebih awal.
Saat aku sudah keluar dari mension, udara masih terlihat sangat bersahabat. Sejuk dan agak dingin sedikit. Aku mulai berlari keluar dari mension melewati sisi taman dan bertemu dengan para bodyguard yang terkejut melihatku. Mereka menundukkan wajah saat aku melewati mereka satu-persatu.
Aku menyusuri jalanan yang masih termasuk ke dalam area mension. Keluar dari jalan setapak taman yang cukup luas, aku masuk ke jalanan besar yang sebenarnya merupakan jalanan yang sepi dan dilingkupi oleh pohon-pohon rindang di sisinya.
Jalan ini terbentang di sekeliling lapangan golf yang biasa digunakan oleh ayahku saat menyambut sahabatnya, termasuk kolega bisnisnya. Jalanan ini cukup panjang dan cocok untuk menjadi lintasan lari yang lumayan untuk membuatku lelah.
Aku berlari dengan perlahan hingga pertengahan lintasan, keringat sudah mengucur banyak dari tubuhku. Aku berhenti sejenak untuk menenangkan jantungku.
Bagaimana tidak? Selain karena lintasannya yang memang panjang, aku juga menyadari setelah sekian lama aku tak melakukan aktivitas fisik seperti berlari pagi. Entahlah, mungkin terakhir kali aku melakukannya setahun lalu.
Entah berapa lama waktu yang kuperlukan hingga akhirnya bisa mencapai titik awalku memulai. Ternyata memang sangat jauh.
Napasku masih terengah-engah ketika aku mendengar suara hentakan sepatu yang tak jauh berbeda, aku membalikkan tubuhku ke belakang dan melihat Dereck yang menghampiriku. Aku menyipitkan mata saat melihat sosok tersebut tak jauh berbeda denganku.
Dereck menggunakan kaos olahraga hitam yang tipis dan sudah basah akibat keringatnya. Aku bisa melihat cetakan otot-ototnya dari baju tersebut. Dia tepat berhenti di depanku.
"Aku tak pernah melihatmu lari pagi di lintasan ini," ucap Dereck.
Aku memutar bola mataku, "Aku tak perlu melaporkan apa yang harus kulakukan di pagi hari kepadamu. Lagi pula kenapa kau ikut-ikutan lari pagi?"
"Kau juga tak perlu tahu rutinitasku di pagi hari, Princess."
Dia mengatakannya sembari mengorek isi tasnya yang baru kusadari berada di tempat duduk di belakangku. Yeah, kurasa dia tak berbohong mengenai ritinitas lari paginya. Dia penuh persiapan. Dia melemparkan satu botol air kepadaku, sedangkan dia sendiri menyeka keringat di sekitar wajah dan lehernya dengan handuk kecil.
Minuman tadi tentu tak kan kusia-siakan, aku meminumnya tanpa permisi untuk menutupi kekurangan cairan tubuhku karena keringat yang telah banyak keluar. Aku menengguk hampir setengah botol hingga sadar Dereck menyipitkan matanya saat menatapku yang kehausan.
"Jika kutahu kau akan sehaus ini, aku tak kan memberikan minumanku." Aku hampir tersedak karena ucapannya.
Aku mengembalikan minumannya ke tangannya dan segera menyeka air yang mungkin sedikit keluar dari mulutku. "Kau pelit, kukira itu memang untuk-"
Aku terbelalak ketika melihat Dereck meminum sisa minuman yang tadi kuminum, dia tak terlihat jijik ataupun risih dengan apa yang dia lakukan.
Tak sampai di situ, saat dia menenggak air tersebut, aku melihat leher Dereck yang terlihat aneh, seperti bekas cengkeraman. Bukan, itu seperti bekas cekikan. Tanpa sadar aku telah menyentuh leher Dereck karena penasaran. Hal tersebut membuatnya menghentikan kegiatan minumnya.
"Ada apa dengan lehermu?"
Aku mengatakannya seperti cicitan yang bahkan Dereck sendiri mungkin sulit mendengarnya.
Aku membayangkan kengerian yang begitu besar saat menatap bekas cekikkan itu yang masih sangat berbekas. Aku merasakan tangan Dereck menyentuh tanganku, seakan ingin menjauhkan jari-jariku untuk menilik bekas cekikan tersebut. Matanya menyipit saat menatapku, terlihat tak suka dengan apa yang kutanyakan.
Namun belas cekikan tersebut sama sekali tak membuatku tenang.
"Apa yang tengah kau lakukan?!"
Aku tersentak ketika mendengar teriakan Dereck. Bukan, bukan Dereck. Suara itu tepat terdengar di belakangku. Tak sampai mencerna jawaban untuk pertanyaan tadi, tanganku yang masih kaku tiba-tiba ditarik hingga melewati kepalaku. Tubuhku tersentak mengikuti tanganku yang ditarik begitu saja.
"Elisa?!"
Leon? Aku menatap pandangannya yang familiar, begitu mengintimidasi dan sarat akan amarah, emosinya terlihat jelas di matanya.
"Aku ... Aku-"
Aku terbata-bata untuk menjawab pertanyaannya, aku bahkan tak bisa menatap matanya.
"Leon, dia ketakutan. Kami hanya-"
"Diam!"
Leon bahkan menepis tangan Dereck yang mencoba melepaskan cengkeraman tangannya pada tanganku.
"Jangan ikut campur, jangan pernah menyentuhnya lagi sebelum tanganmu itu kupatahkan!"
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1
...•••...