The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 28. I'm Not Entirely Me


__ADS_3

Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 08.28 am.


"Sejak kapan?"


"Kau serius menanyakan hal itu kepadaku?! Aku bahkan tak menyentuhnya, aku hanya menjaganya sesuai dengan tugasku. Tak ada yang terjadi selama ini sebelum kau datang dengan segala kecurigaanmu menanyakan hal konyol ini!"


Dereck menyugar rambutnya dengan sangat frustasi di hadapanku. Dua kemungkinan yang membenarkan segala sikap frustasinya, berbohong dengan berpura-pura tidak tahu atau dia tak menyadarinya.


"Tidak ada yang berbeda dari Elisa, dia masih sama. Tapi aku tak yakin kau menganggap ini masih sama atau tidak. Aku tak menyalahkanmu jika kau memiliki sesuatu untuknya, tapi kau harus mengingat batasan yang ada. Aku tak pernah semarah ini jika menyangkut sesuatu, bahkan hanya untuk seorang wanita. Kau sendiri yang mengetahui seberapa bajingannya diriku, aku tak pernah menganggap siapapun lebih berarti tak terkecuali Cla-"


"Tidak! Cukup, aku akan memukulmu jika kau meneruskannya!"


"Buatlah sesuatu lebih jelas jika kau menginginkannya, tak ada yang tersisa antara kami dan aku memang tak memiliki apapun untuk-"


Dereck berhasil memukulku di wajah. Aku merasakan darah segar keluar dari luka sobekan di sudut bibirku.


"Kau memang tak ingin memilikinya, Brengsek! Aku tahu itu, aku sangat tahu."


Aku yang masih terduduk karena pukulannya tadi kembali dipaksa berdiri dengan cengkeraman kuatnya di kerah bajuku. Wajahnya memerah dengan dada yang naik turun karena menahan amarah.


"Aku tak bisa memberikan yang dia inginkan Dereck. Dan... Dia tak cukup untukku. Segala yang dia punya tak cukup untuk-"


"Dereck! Sial, apa yang kau lakukan."


Ucapanku terpotong oleh pekikan Elisa yang baru saja keluar dari mension dan menemukanku di cengkeraman Dereck.


Elisa mendorong tubuh Dereck menjauhiku. Dia memegang sisi wajahku dan mengusap darah yang berada di sudut bibirku. Aku mengecup tangan itu sembari menatap matanya yang khawatir.


Dia selalu memesona dalam keadaan apapun.


"Aku tak apa-apa, Princess."


Elisa masih dengan ocehannya seakan memarahi kami yang bersikap kekanak-kanakan. Tanpa mengurangi kekesalannya, dia berjalan menuju mobil dan enggan lagi mempedulikan kami.


Sementara itu, dengan senyum yang masih mengembang aku berjalan menghampiri Dereck dan tak segan menghadiahkan dia satu pukulan yang sama.


"Cukup impas bukan? Aku harus sedikit mengingatkanmu kalau sudah berapa kali aku menyelamatkan nyawamu dan tak ada alasan yang tepat untuk pukulan tadi. Setidaknya kau berhasil melempiaskannya dengan tepat."


Aku menyeringai kepadanya dan berbalik menyusul Elisa masuk ke mobil. Tak lupa aku melirik ke belakang punggungku sebelum berkata, "Berdirilah, Dude. Apa aku harus mengendongmu di hadapan kekasihku? Kau harus membawa kami pergi."


...***...


One hour later...


"Ehemm ..."


Entah mengapa menunggu dalam diam di sini begitu membosankan. Elisa begitu serius dengan pekerjaannya dan deheman yang kulakukan untuk kesekian kali masih diabaikannya. Aku tak tahu bahwa pekerjaan bisa membawa Elisa begitu jauh dari dunia nyata. Dia begitu fokus dan tak terganggu dengan apa yang kulakukan dari tadi.


Deheman yang kulakukan semakin terdengar keras dan membuatnya harus berhenti mengabaikanku.


"Maaf, aku terlalu fokus dengan pekerjaanku sehingga melupakanmu."


Entah mengapa nada berbicara Elisa seketika kaku. Dan dia mungkin berbohong jika melupakan keberadaanku di sini. Di lain sisi, aku memang sedang mengamatinya mengatur ekspresi yang aneh dan mungkin sedikit melupakan apa yang baru saja kukhawatitkan tentangnya. Dia mungkin terlihat agak ... kurang nyaman. Aku sangat menyadari itu.


"Ya, kurasa aku terlupakan ... Kau begitu berbeda saat benar-benar bekerja. Dan sepertinya keberadaanku akan sedikit mengganggu di sini."


Ya, aku seharusnya tak mengatakan itu di saat dia tengah fokus dengan pekerjaannya. Itu mungkin akan membuatnya tak merasa nyaman. Namun aku terlanjut mengatakannya dan sepertinya aku memang membuatnya tak merasa nyaman.


"Tidak ... Sungguh, aku hanya ... Ya seperti inilah saat sudah serius."


Entah mengapa dia begitu sulit menjelaskan sesuatu, aku merasakan suasana hatinya yang mungkin sedang tak baik-baik saja. Apa dia masih memikirkan apa yang sebelumnya terjadi di lift? 


Aku akhirnya bangkit dari dudukku dan menghampirinya. Namun Elisa terlihat begitu aneh, dia seperti terburu-buru mematikan komputernya.


"Elisa ... Apa aku membuatmu tidak nyaman?"


Ya aku menangkap ketidaknyamanannya. Sejak awal aku memang tidak ingin membicarakan sesuatu yang begitu mendalam dengannya. Namun pertanyaanku tersebut malah mengarah pada pembicaraan yang tak kusukai.


Elisa tak menjawab pertanyaanku tersebut. Saat aku menghampiri mejanya, dia segera berpaling dan mengambil langkah cepat menuju tempat dudukku sebelumnya. Apa aku kembali membuat kesalahan? Aku tahu ada yang tak beres dengan Elisa.


Dengan keadaan canggung, aku kembali duduk dan menempatkan diri di dekatnya. Baru saja aku duduk di sampingnya, dia segera menodongku dengan pertanyaan yang frontal.


"Leon, hubungan seperti apa yang ingin kau miliki denganku?"


Aku agak sedikit bingung dengan dia yang begitu tiba-tiba menanyakan hal tersebut. Sontak hal tersebut membuatku kembali bertanya, "Apa hal ini yang benar-benar ingin kau tanyakan?" Dia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Aku tak mempunyai clue apa yang bisa kita bicarakan sebenarnya. Dari semalam aku hanya-tidak bahkan sejak awal aku ingin menanyakan apa kita memang dalam hubungan yang sama-sama kita pikirkan?"


Aku mendengus. Ya, aku benar-benar melakukannya. Aku tak tahu dia akan terlalu memikirkan hal tersebut. Tidak bisakah kita menjalani hubungan ini begitu saja tanpa mempertanyakan hal yang menjengkelkan.


"Apa ketika aku mengatakan aku mencintaimu tak cukup untuk menjelaskan segalanya?"


Tentu saja pernyataan itu terdengar tak meragukan bagiku dan aku bukan mempertanyakan bagian itu.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya menganggap ada sesuatu yang hilang dalan hubungan ini. Sesuatu yang seharusnya diisi jika kita saling terbuka."


Kurasa kernyitan di dahiku mulai muncul dan tanpa sadar nada bicaraku mulai ketus.


"Apa maksudmu?"


Aku tak bermaksud seperti itu, namun aku begitu tak nyaman dengan kata 'terbuka' yang dia maksud. Bagiku ini terlalu berat, terlalu banyak hal yang kusimpan dan tak pernah kuungkapkan. Dan aku masih nyaman dengan menyimpan semuanya sendiri. 


"Leon ..."


Dia mendekatkan diri mencoba mencapaiku. Namun sikapnya tersebut membuatku reflek menjauh, aku tak bermaksud menolaknya, namun itulah yang selalu kulakukan ketika merasa kurang nyaman.


"Jangan mendorongku menjauh." Dia nampak sangat terkejut dengan apa yang kukatakan, terus terang akupun merasakan hal yang sama.


"Apa aku melakukannya?"


Aku tak berani menjawab pertanyaanya. Aku hanya merasa kebingungan dengan Elisa dan diriku sendiri. Kuakui awalnya aku tak ingin membawa hubunganku dengan Elisa menjadi hubungan yang begitu emosional, bukan tak ingin tapi kurasa belum waktunya. Aku masih harus memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskan satu persatu kepada Elisa dan aku tak suka jika dia sudah menuntutku terlalu jauh.


Pikiranku terhenti ketika Elisa berkata dengan menggebu-gebu.


"Sadar atau tidak kaulah yang mendorongku menjauh dengan sikap menarik diri dariku! Kau tak menceritakan apapun tentangmu, aku bahkan tak pernah mendapat jawaban mengapa kau selalu meninggalkanku secara tiba-tiba. Tidakkah kau pikir aku membutuhkan penjelasanmu?!"


Aku menyugar rambutku yang bahkan tak berantakan, menadakan aku sedang frustasi.


"Aku selalu berusaha untuk hubungan ini tanpa kau ketahui Elisa. Kumohon jangan menanyakan hal yang lebih rumit lagi karena mengetahui kau baik-baik saja itu sudah cukup bagiku. Tidakkah aku terlalu berlebihan jika menginginkan hal yang sama. Kau terlalu kekanak-kanakan untuk sekedar menjalani ini."


Kembali. aku mengatakan hal yang seharusnya bisa kupikirkan terlebih dahulu. Kuyakin Elisa akan marah dengan seketika, namun yang kudapatkan adalah dirinya yang terdiam dengan menatap wajahku. Dia bahkan mengatur ekspresi wajahnya dan tak menampakkan apa pun.


Semuanya terselamatkan ketika ketukan di pintu kantornya terdengar dan muncul Kyle di baliknya.


"Apa aku mengganggu?"


Saat Kyle muncul, dengan segera Elisa berdiri dan menjawab, "Tidak. Sama sekali tidak. Bisakah kau menungguku di ruang rapat Kyle? Aku akan menyusul beberapa saat sebelum menyelesaikan urusanku."


"Ya, kita akan membahas segalanya setelah ini. Bisakah kau menunggu?"


Elisa memotong apapun yang ingin Kyle katakan. Kecanggungan masih melingkupi ruangan ini dan kurasa Kyle juga merasakannya. Dia terdiam sebelum keluar kembali dan tidak mengatakan apapun.


Seketika aku melihat raut wajah Elisa yang sudah tak tertarik untuk berbicara denganku. Dia segera kembali ke meja kerjaku dan membawa apa saja yang kira-kira bisa dia bawa ke ruang rapat.


"Aku sepertinya akan lama. Kau bisa pulang terlebih dahulu. Dereck akan menungguku hingga selesai seperti biasa."


Aku tak suka dengan apa yang dia katakan. Apa dia pikir aku akan meninggalkannya? Lagi pula, mengapa dia memilih orang lain yang menunggunya dibandingkan aku. Kurasa dia benar-benar kesal denganku.


Dia tak pernah menatap wajahku sejak Kyle datang. Aku akhirnya berinisiatif untuk mencegahnya keluar ruangan ini dan berkata, "Elisa, aku tahu kau sedang tak baik-baik saja. Katakanlah!"


"Leon, aku akan rapat. Kita bisa membicarakan ini di lain waktu. Kau lihat, Kyle sudah datang dan menungguku."


Aku tak beranjak sedikitpun dari hadapannya. Dia memutuskan untuk melewatiku begitu saja namun aku mencekal tangannya dan membuat berkas-berkasnya hampir saja jatuh.


"Leon! Kumohon berikan aku waktu untuk urusan lain. Tak semuanya harus tentang kau dan duniamu. Aku sudah cukup mengerti dengan apa yang kau inginkan."


"Elisa, aku tak ingin pergi. Aku juga sedang tidak baik-baik saja saat ini."


Dia memejamkan mata sejenak dan berkata, "Leon, apa kau lihat aku baik-baik saja setelah berbicara denganmu? Kau tak memberikan ruang untukku, Leon. Kau menutup dirimu dan hanya membiarkan sedikit untukku. Jika kau ingin semuanya berjalan baik, maka camkan kata itu juga di dalam hati dan pikiranmu."


Elisa segera pergi meninggalkanku setelah itu. Kurasa aku memang harus memberikan Elisa sedikit waktu dan memikirkan apa yang dia inginkan. Yang ada dipikiranku saat ini hanya, 'Bagaimana caraku membuka diri untuk Elisa?'


'Apa aku bisa?'


'Apa Elisa akan menerimaku?'


'Apa dia akan baik-baik saja denganku dan masa laluku?'


'Apa dia akan menjauh?'


Namun semua yang kupikirkan tak berhasil membuatku menarik diri dari kenyataan bahwa aku terlalu egois terhadap Elisa. Mungkin ini akan masuk ke dalam daftar pernyataan yang akan kuungkapkan nanti kepadanya.

__ADS_1


Terlepas dari beban pikiran tersebut, aku memutuskan untuk fokus kembali pada saat ini. Ya, tadi aku telah menempelkan chip ke baju Elisa hanya untuk mengetahui bahwa dia baik-baik saja tanpaku.


Melalui chip yang terhubung dengan handphone-ku, aku bisa mendengar suara Elisa dan Kyle di ruangan sana.


'Jadi ... ada apa? Kenapa kau memanggilku? Aku melihat tak ada sesuatu apapun yang kita jadwalkan bersama dalam waktu dekat.'


Ya, dari apa yang Kyle katakan kutahu Elisa sedang berbohong mengenai pekerjaannya itu. Kurasa dia hanya ingin menjauh dariku.


'Ya ... Kukira aku membutuhkan seseorang untuk membuatku berpikir jernih.'


Aku memijit dahiku sembari mendengarkan pembicaraan mereka.


'Yang benar saja, Elisa! Kau memanggilku hanya untuk itu? Ayolah, aku masih memiliki banyak perkerjaan di tempatku Elisa.'


'Baiklah, baiklah, maaf. Aku ... aku hanya membutuhkan teman untuk berbicara. Aku kebingungan dengan diriku sendiri, dan aku bingung untuk menghadapi ... kau tahu aku agak ... bagaimana aku mengatakannya.'


Apa yang sebenarnya ingin Elisa katakan. Kurasa Kyle di sana juga kebingungan dengan apa yang ingin Elisa sampaikan.


'Elisa, katakan saja. Apa kau ingin membahas tentang kekasihmu?'


Entah mengapa aku seketika terlihat seperti orang bodoh dengan menggaruk tengkukku yang tak gatal sama sekali. Bagaimana dengan Elisa di ujung sana? Apa dia masih terlihat canggung juga ketika orang lain melihat kami sebagai sepasang kekasih? Kurasa ya.


'Well, bagaimana lagi. Aku tak tahu bagaimana menjalani ini semua...'


Ada jeda cukup lama sebelum Elisa melanjutkan ucapannya, 'Kau tahu siapa orangnya?'


'Serius kau menanyakan hal itu?! Tentu saja aku tahu, sejak awal kau mengenalkanku dengan Leon, aku tahu kau akan menyerah dengannya. Belum lagi dari semalam kau menggebu-gebu untuk menemui bajingan itu. Dan apa lagi ini, kau memanggilku hanya untuk bertanya bagaimana cara menjalani hubungan kalian yang menyebalkan ini. Ya ampun, Tuan Putri, bahkan kau sangat ketinggalan zaman untuk anak muda seusiamu.'


Kurasa Kyle mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepala, dan tentu saja ocahannya tersebut membuatku sedikit geram.


'Apa salahnya, kau sendiri yang membuatku terpuruk seperti wanita bodoh yang malah bertingkah tak mengetahui apapun. Ah, bagaimana bisa sebelumnya aku menyukai pria yang tak peka.'


Kurasa Elisa sungguh mengatakan hal yang jujur dari pikirannya tentang Kyle dan dia menjawab, 'Hey, siapa suruh kau menyukaiku. Kau saja yang hanya terpesona dengan paras pria sepertiku. Coba saja kau keluar dari goa-mu, pasti kau akan tahu bagaimana cara merayu pria dan tak mengurung diri dengan pelajaran bisnismu.'


Pembicaraan yang mereka lakukan malah membuatku agak cemburu dengan kedekatan mereka.


'Kau pikir aku wanita seperti apa?! Aku wanita terhormat, mana mungkin aku melakukan hal rendahan seperti itu.'


 'Stop ... Kenapa kita berdebat, kau membuang waktuku dengan omong kosongmu. Kalau begitu aku akan pergi'


'Baiklah, maafkan aku. Kau yang menyebalkan membuatku kesal.'


'Kau sama menyebalkannya denganku, Elisa.'


Kekesalanku rasanya sudah ada di atas kepalaku. Sabar Leon, kau harus menahan amarahmu. Elisa dan Kyle hanya berteman dan tak mungkin lebih. Elisa hanya mencintaimu. Ya, aku harus yakin itu.


Kembali aku mendengarkan pembicaraan mereka, 'Kurasa Leon menarik diri dariku, Kyle. Dia selalu menghindar ketika aku mulai berbicara tentang keseriusannya dalam hubungan ini.'


'Benarkah seperti itu?! Elisa, apa dia telah menyakitimu dengan bertingkah brengsek?'


Dasar, bajingan ini. Apa dia menganggapku pria sampah?


'Tidak ... bukan menyangkut itu semua Kyle, aku hanya merasa Leon kurang terhubung secara emosional denganku.'


Oh, Dear. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?


'Elisa, mengapa kau mengatakan hal itu. Aku jelas melihat bahwa dia sangat protektif denganmu. Mata tak mungkin berbohong Elisa. Aku melihat dia begitu mencintaimu.'


'Ya, kurasa dia juga begitu. Namun, maksudku dia tak terlalu terbuka denganku. Kami hanya berkutat dengan pembicaraan tentangku, sedangkan dia tak pernah menceritakan tentangnya kepadaku. Aku tahu dia memiliki masa lalu, itu bahkan kuketahui dari orang lain. Dan saat aku mengetahuinya aku sedikit tak masalah. Aku... aku hanya tak ingin jika mengetahui segala hal dari orang lain yang berujung dengan pertikaian kembali.'


Aku terdiam dengan apa yang Elisa katakan. Aku menutup diri begitu rapat, bahkan dengan wanitaku. Kepalaku terasa dihantam sangat keras mendengar apa yang Elisa katakan. Dan yang dikatakan Kyle setelahnya kembali menyadarkanku.


'Elisa, kurasa dia membutuhkan waktu untuk membuka dirinya. Kau tahu jika sekian lama seseorang memendam hal yang sangat tidak ingin bahkan tidak pernah diutarakan, maka jangan terlalu berharap orang tersebut akan memceritakannya dengan cepat.'


Ya, yang kubutuhkan adalah waktu untuk berdamai dengan diri sendiri.


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2