The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 09. So I Let My Walls Come Down


__ADS_3

Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK – 06.05 am.


Aku terbangun dengan ketukan pintu dari luar kamar. Ah, sangat menggangu. Aku masih ingin menikmati kasur empuk ini. Aku menutup telingaku dengan bantal. Ini sudah kali ketiga di pagi ini pelayan mengetuk-ngetuk pintu itu.


Aku mendengar pintu kamarku dibuka. Seorang pelayan dengan bodohnya bertanya, "Nona, apa Anda sudah bangun?"


Aku sudah tak tahan lagi. Dengan kesal, aku bangun dan melempar bantal ke arah pelayan tersebut.


Strick!!!


1000 point tepat sasaran ke wajahnya, hahahaha.


"Brengsek! Berhentilah bermain, Elisa. Kau bukan anak kecil lagi—"


"Aaaaaaah, turunkan aku!"


"Kau pikir dunia akan terus berbaik hati kepada tikus kecil sepertimu. Kau membuat para pelayan harus menunggu lama di balik pintu sialan itu. Kau harus memanfaatkan waktumu sebaik mungkin dan tidak bermalas-malas—"


"Akan kuadukan kau pada Zach, tunggu saja aaaaaaaaa!!!"


Ini sungguh terjadi kepada seorang Elizabeth Amstrong. Aku sungguh tak bermimpi. Leon dengan beraninya membopong tubuhku di pundaknya menuju kamar mandi yang disaksikan oleh banyak pelayan. Yeah, dia sangat marah karena lemparan bantal tepat di wajahnya.


Dia membawaku masuk ke dalam kamar kaca dan menyemburkan air shower. Dia sudah gila dan tak memiliki belas kasih. Dia tak repot-repot untuk mengatur suhu air, sehingga tubuhku spontan merasakan bulir air dingin yang serasa menyiksa tubuhku.


Leon menahan lenganku agar menempel ke dinding kaca dan terus menyirami kepalaku. Aku dengan susah payah berpegangan di lengan kemejanya yang juga basah.


Aku berusaha meraih shower dan berkata, "Leon ... Leon, kumohon ... hentikan!!! Aaaaaah, aku akan ... mandi ... sendiri!!!"


Setelah menyelesaikan permohonanku, Leon mematikan shower. Dia melepaskan lenganku dan keluar dari kamar kaca, "Aku dan Zach menunggumu untuk sarapan. Dalam waktu 15 menit kau sudah harus selesai."


Dia meninggalkanku yang masih tertegun. Aku menopang tubuhku dengan menyandarkannya ke dinding kaca. Aku membersihkan permukaan wajahku dari bulir-bulir air yang menetes dari kepalaku. Tubuhku gemetaran karena air dingin itu. Ah, menyebalkan.


...***...


15 minutes later ...


Masih dengan gerutuan kecil aku menuruni tangga menuju ruang makan. Bekas cengkraman tangan Leon di lenganku masih belum hilang. Mengapa dia begitu kasar?


Saat memasuki ruang makan, aku melihat Leon mengobrol dengan Zach. Aku mendengar mereka membicarakan sesuatu yang tak kumengerti. Namun, saat aku telah duduk mereka menghentikan pembicaraan.


"Mengapa kau begitu lama?" Aku memutar bola mataku mendengar pertanyaan Zach.


"Kalian bisa membuka sesi breakfast kalian tanpa menungguku, Zach." Zach terlihat malas menanggapi ucapanku dan sarapan pun dimulai.


Aku melihat sinis ke Leon di sebrang sana yang terlihat tak terganggu dengan kedatanganku. Dia dengan santainya mengunyah makanan. Sikapnya pagi ini sangat membuatku jengkel.


Aku akhirnya memulai makan juga. Namun tiba-tiba Zach menarik tanganku, "Kenapa tanganmu memar?"


"Awww, lepaskan! Ini masih sakit. Tanyakan saja pada orang itu?" Aku hanya mengarahkan pandanganku ke arah Leon agar Zach mengerti.


"Leon?" Leon masih mengunyah makanannya tanpa menatap Zach. Dia malah seperti menantangku.


"Aku hanya membawanya ke kamar mandi dengan sedikit paksaan. Aku anti dengan seorang pemalas di sekitarku."


"Kemalasanku tak mengusikmu, Leon."


"Kau membuat para pelayan bekerja keras dengan kemalasanmu."


"Bukan urusanmu—"


"Apakah sudah selesai?" Pertikaian kami terhenti dengan pertanyaan Zach. Dia sepertinya tak bisa menikmati sarapannya dengan tenang.


"Kalian bisa meneruskan masalah masing-masing selain di meja ini. Dan kau Elisa, kau tahu kau masih berhutang penjelasan kepadaku dan aku malas membahas itu sekarang. Maka bersikap baiklah sedikit sebelum aku kembali membawamu pulang."


Menyebalkan. Kenapa ini salahku?


Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Zach yang pertama menyelesaikan makannya segera berpamitan untuk bekerja. Aku juga hari ini harus bekerja di kantorku. Setelah kepergian Zach, aku mengabaikan Leon dan segera bersiap-siap ke kamarku untuk berganti pakaian.


Baru saja aku ingin memilih blazer yang cocok, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Aku masih mengabaikan ketukan itu hingga terdengar suara, "Elisa, aku boleh masuk?"


Leon? Untuk apa dia ke sini?


Aku menghampiri pintu tersebut dan membukanya, terpampanglah wajah Leon. "Untuk apa kau ke sini?"


Dia tanpa permisi masuk ke dalam dan duduk di kasur. Mengapa ada makhluk seperti ini di muka bumi? Aku kembali memilih blazer dan mengabaikannya.

__ADS_1


"Elisa, kemarilah."


Aku mengabaikan Leon dan melanjutkan kegiatan memilihku. Aku membawa beberapa blazer dan meletakkannya di kasur. Tidak lupa aku juga memilih beberapa sepatu untuk mencocokkan penampilanku. Memang, apa pun yang ada di kamar ini tidak mengecewakan, Zach begitu ahli mengisi barang khusus di kamar ini untukku.


"Elisa, duduklah sebentar."


"Jangan menggangguku, Leon. Keluarlah jika tak ada yang ingin kau katakan." Aku memilih satu sepatu hitam high heels yang kurasa cocok dan memakainya.


"Elisa, kukatakan duduk." Tiba-tiba suara Leon terdengar dingin dan aku terpaksa harus memfokuskan diri dengan keinginannya. Aku duduk di kasurku bersebelahan dengannya.


Dia menarik tanganku. Agak sedikit nyeri karena memar yang masih terasa. Leon mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Krim memar? Dia mengoleskan krim tersebut ke lenganku. Aku agak tertegun dengan apa yang tengah dilakukan Leon. Krim yang dia oleskan terasa dingin di lenganku.


"Leon, kau tak perlu melakukannya."


"Jangan bergerak." Aku masih memperhatikan dia memoles krim itu. Apa ini salah satu pelayanan yang diberikan oleh seorang bodyguard kepada klien-nya?


"Apa kau melakukan hal seperti ini kepada setiap wanitamu?" Pertanyaan konyol apa yang telah kutanyakan ini?


"Aku tak memiliki seorang wanita."


''Kau bercanda? Ah ya, salah pertanyaan. Apa kau memperlakukan setiap wanita yang pernah kau tiduri juga seperti ini?"


"Tidak, Elisa."


"Kau tak perlu menyembunyikannya. Mana ada seorang pria sepertimu tidak memiliki seorang kekasih. Tapi bisa saja, pria tampan sepertimu tentu bisa bergonta-ganti wanita sesukanya. Mulai sekarang berhentilah seperti itu, kau tahu mencari uang itu sangat susah dan kau menghabiskannya untuk seseorang yang tidak penting—


Ah, berapa umurmu sekarang? Tentunya sudah tidak muda, kau juga harus mengingat itu. Percuma setampan apa pun, jika sudah tua akan sangat sulit memikat seorang wanita. Apa lagi dengan pekerjaanmu seperti ini, kau juga akan sulit menemukan seorang wanita yang benar-benar—"


Ocehanku berhenti seketika saat Leon tiba-tiba menarik tengkukku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sangat dekat. Bahkan aku bisa merasakan deru napas kami saling menerpa wajah masing-masing.


"Diamlah. Aku ... tak pernah ... melakukan ini ... kepada ... siapapun ... seumur ... hidupku ... Kau sendiri tahu, karena pekerjaanku, aku memang tak berminat memiliki seorang wanita." Entah kebahagiaan dari mana hingga terasa begitu melegakan mendengar ucapan Leon yang terpotong-potong itu.


"Tapi sepertinya sekarang aku tertarik kepada seorang wanita cantik. Dia sangat cantik hingga rasanya aku ingin menidurinya setiap kali menatapnya." Seketika hatiku sedikit tercubit mendengar pernyataan Leon selanjutnya. Rasanya seperti ...


Kekecewaan.


Aku menjauhkan diriku dari Leon. Aku tak ingin wajah kesalku terlihat olehnya.


"Apa semua otak pria dipenuhi oleh hal-hal seperti itu?! Jangan kau pikir semua wanita menginginkanmu." Kekesalanku meningkat satu tahap. Tahan Elisa. Tanpa sadar suaraku meninggi.


"Kau pria menjijikkan! Kau memang pantas dengan para jalangmu, kuharap kau tak kan menemukan seorang pun wanita di dunia ini yang mencintaimu dengan—"


...


Brengsek ...


Brengsek ...


Brengsek ...


Hanya satu kata itu yang pertama muncul di benakku. Leon adalah penjelmaan pria paling bajingan yang pernah kutemukan dalam hidupku. Aku akan mengingat itu.


Kemarahanku yang semula akan memuncak dapat teredam dalam ciuman Leon. Dia dengan mudahnya kembali menarik tengkukku dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Apa yang harus kulakukan?


Aku tak bisa menutup mataku. Ini begitu cepat dan terasa ... nyata. Hal itu tak berlangsung lama. Leon perlahan menjauhkan wajahnya dan saat itulah aku melihat manik hijau itu begitu dekat. Dia menatapku seakan tak ada yang lebih menarik selain diriku.


Manik itu begitu redup. Begitu memikat. Begitu menyesatkan. Begitu ... mendamba.


Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku hanya terdiam dalam kebingungan. Aku bahkan tak beranjak dari posisiku saat Leon kembali perlahan menghilangkan jarak kami.


Tak ada kata-kata yang terucap ketika dia menatap lebih lama ke dalam mataku. Aku tak bisa bergerak sedikit pun, seakan aku sama terpikatnya dengan Leon. Jantungku seakan tak berhenti berdebar dengan keras.


Hasrat untuk menerima apa pun yang akan Leon berikan saat ini begitu besar. Keinginan itu terus meronta di kepalaku membuatku tak bisa berpikir jernih.


"Elisa ... Can I?"


Bisikan Leon di depan wajahku menggelitik hasratku. Aku tak mampu menjawab apa pun selain menatap intens ke dalam matanya. Dan detik selanjutnya, aku sudah terhanyut dalam ciuman Leon yang memabukkan. Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan itu berkembang menjadi kabut gairah yang tak terbendung.


Tanpa sadar aku membalas ciuman Leon. Masih dengan jelas aku merasakan tangan Leon menekan tengkukku untuk memperdalam ciuman itu. Dan cengkraman tanganku semakin kuat di kemejanya ketika aku membiarkan Leon menikmati apa pun yang ingin dia jelajahi di mulutku.


Shit! Aku tersentak dalam ciuman itu ketika tangan Leon dengan sengaja masuk ke dalam blouse-ku. Samar-samar aku mendengar suara geraman Leon dalam ciuman ini bersamaan dengan tangannya yang menyentuh apa pun yang ingin dia sentuh di balik blouse-ku. Dia pria yang serakah.


Setelah sekian lama, akhirnya Leon melepaskan ciuman ini. Kami berlomba-lomba meraup udara sekitar dengan cepat. Kami masih bertatapan satu sama lain. Kabut gairah itu masih ada. Kami masih saling mendamba hingga ...


"Apakah masih lama?"

__ADS_1


Mataku terbelalak saat mendengar suara yang sangat familiar. Zach, ya Tuhan! Aku tak berani untuk melihat ke belakang punggungku. Aku sangat malu dengan apa yang telah kelakukan. Apa yang akan Zach katakan nanti? Ahhhhhhh.


Sedangkan Leon di depanku tak terlihat panik sama sekali. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke asal suara tadi dengan tatapan yang sangat tak dia sukai. Dia kembali mengalihkan pandangannya kepadaku yang tak kumengerti. Dia perlahan kembali mengelus pipi dan bibirku sebelum meninggalkanku dalam keadaan canggung dengan Zach di kamar ini.


Aku menundukkan kepalaku. Setelah pintu kamar tertutup, saat itulah hidupku berakhir dengan adanya Zach. Waktu seakan berjalan sangat lambat ketika Zach perlahan berjalan dan duduk di sofa tak jauh di depanku.


"Jadi ... Elizabeth Amstrong, aku butuh kau jelaskan tentang apa yang tadi kulihat?"


Kepanikanku tak tertutupi saat aku melihat Zach. Dengan cepat aku mengambil tempat di sisi Zach dan menggenggam tangannya.


"Zach, kau sudah berapa lama melihatnya? Kupastikan apa yang kau lihat tak sesuai dengan apa yang kau pikirkan. Aku ... Aku ... tak sadar dengan apa yang kulakukan." Keringat dingin terasa muncul di setiap permukaan tubuhku. Aku mengeratkan genggaman tanganku di tangan Zach.


Perlahan Zach mengangkat daguku agar wajah kami sejajar. Dia melihat ke dalam mataku. Aku merasakan diriku yang tengah berkaca-kaca saking ketakutan sampai Zach kembali bertanya, "Elisa ... Jangan katakan ... Ini ciuman pertamamu?" Pertanyaannya jauh lebih membuatku berdosa ketika jawabannya adalah iya.


Tapi sungguh aku tak bisa menjawab apa pun itu. Untuk berbohong pun aku tak ingin. Zach tiba-tiba mengusap rambutku dengan tangan lainnya dan senyuman menawan.


"Kau sudah melupakan Bradley."


Aku tertegun. Yeah, aku bahkan tak pernah dalam setiap hembusan napasku pagi ini memikirkan hal itu. Entah dari sejak kapan aku ... telah melupakannya.


"Kau sudah dewasa, Elisa. Aku bersyukur kau telah melupakannya. Tapi kumohon kali ini saja, orang itu jangan Leon. Aku tak bisa mengatakan Leon adalah pria yang buruk, tapi tindakan tanpa berpikir akan membuat kau lebih sakit lagi. Aku hanya—"


"Yeah, itu tak mungkin, Zach. Aku hanya terbawa suasana. Kupastikan hal tersebut tak kan terjadi lagi."


Aku mengatakannya dengan sangat bersungguh-sungguh. Aku memang tak ingin, sungguh tak ingin memulai apa pun yang berbahaya dengan Leon. Aku sangat tahu Leon seorang bajingan dan kuyakin aku bukan wanita pertamanya. Tanamkan itu di pikiranmu, Elisa.


Zach mengecup kepalaku sebelum dia keluar dari kamarku. Sebelumnya dia ke kamarku untuk memberikan berkas perusahaan yang baru dia terima ketika keluar dari gerbang mension. Aku kembali menenangkan diriku sebelum keluar pintu kamar. Ini akan membuatku kembali canggung dengan Leon.


...***...


A few minutes later ...


On the Road to Amstrong Company, City of London, UK – 07.10 am.


Aku merapatkan posisi dudukku ke pintu mobil. Walaupun duduk di kursi penumpang belakang, tapi aku merasakan dengan jelas Leon menatapku dari pantulan kaca di atasnya. Aku mengabaikannya dengan terus menatap keluar mobil.


Kami masih belum memulai percakapan apa pun semenjak kejadian tadi. Tepatnya, aku yang tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Leon.


Tak terasa perjalanan yang seharusnya sangat lama untuk sampai ke London, menjadi cepat karena waktu kugunakan untuk memikirkan apa yang telah terjadi pagi ini.


Saat memasuki gedung, Leon masih mengikutiku dari belakang. Setidaknya, ini kali pertama aku ke kantorku dengan hanya satu bodyguard. Banyak para karyawan yang menyapa dan memberikan hormatnya kepadaku.


Aku memasuki kantorku di lantai teratas gedung ini dan meminta Leon untuk menunggu di ruang tunggu tepat di sebelah kantorku yang hanya terhalang oleh kaca tak tembus pandang. Permintaanku itu adalah hal pertamanya yang kuucapkan setelah sekian lama kecanggungan ini melingkupi kami.


Aku masuk ke dalam kantorku dan mulai bekerja, terutama membaca dokumen yang Zach berikan tadi pagi. Beberapa ketua divisi dan sekretarisku masuk untuk meminta tanda tangan dan persetujuanku. Tak ada masalah berarti selama aku meninggalkan perusahaan ini.


Yang membuatku heran kali ini adalah ruang tunggu yang cukup ramai. Apa yang dilakukan para karyawan di lantai yang biasanya sangat sepi ini. Banyak para wanita yang tersenyum dan berbisik-bisik.


Kemana Leon?


Dari ruanganku yang berdinding kaca, aku bisa melihat dengan jelas apa yang tengah menjadi perhatian di luar sana. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri dinding kaca. Ah dasar, dia pamer pesona atau apa?


Aku melihat Leon di balkon luar ruang tunggu sedang merokok sembari tersenyum memainkan handphone-nya. Dia pikir dia seorang model, mengapa dia membuat wanita-wanita genit itu berdatangan ke lantai ini? Sangat menggangu pekerjaanku ... sedikit.


Dengan wajah kesal aku keluar dari ruangan dan mendatangi para karyawan yang tengah cekikikan. "Apa yang kalian lakukan di sini? Adakah hal penting yang membawa kalian untuk ke lantai ini?" Mereka tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menundukkan kepala.


"Kuharap kalian memanfaatkan waktu kalian dengan baik selain hanya bergosip karena ini adalah jam kerja. Aku membayar kalian untuk bekerja bukan untuk cekikikan, kecuali jika kalian sudah bosan di perusahaan ini. Akan sangat banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi kalian saat ini."


Mereka terlihat ketakutan. Setelah meminta maaf kepadaku, mereka langsung keluar dari lantai ini. Aku hanya agak risih, ruang tamu yang biasanya digunakan untuk para kolega bisnisku menunggu malah digunakan untuk bergosip. Menyebalkan.


Aku memasuki ruanganku kembali dengan pikiran yang masih kesal. Aku memijit-mijit kepalaku dan menatap keluar dinding kaca. Leon masih berada di tempatnya. Dia kembali menyesap rokok barunya. Aku kembali menghampiri dinding kaca tersebut untuk melihat lebih dekat.


Aku menyedekapkan tanganku. Tapi seketika kepanikanku kembali saat tiba-tiba Leon seperti menatap tepat ke posisiku saat ini. Apa kaca ini tembus di pandangannya? Dia hanya menatap dan terus menatap ke arahku sembari menyesap rokoknya.


Tidak mungkin.


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2