
Amstrong Company, City of London, UK – 08.32 am.
Yeah, kau masih di sana. Aku tahu itu. Mataku kembali menatap layar handphone yang menampilkan wajah kebingungan Elisa di balik dinding kaca di sana. Aku masih mengingat dengan jelas betapa jengkelnya dia dengan para karyawan wanita yang entah kenapa begitu tertarik dengan kehadiranku.
Aku bukan pria bodoh yang tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Dan aku membiarkan itu karena aku ingin melihat wajah jengkel Elisa yang bagiku begitu ... cantik.
Aku memasukkan handphone-ku ke dalam saku. Aku tak bisa membuat otakku terus gila karena memandangi wajah Elisa. Sembari menyesap rokokku, aku terus memandang ke dinding kaca itu. Sejenak aku memejamkan mataku untuk memikirkan kejadian tadi pagi.
You driving me crazy, Elisa. Perlahan aku mengingat apa pun yang telah kami lakukan. Bibir itu. Ciuman itu. Tubuh itu. Semuanya. Aku ingin menyentuhnya terus dan terus.
Fantasiku terhenti ketika handphone-ku bergetar. Zach? Aku mengangkat panggilan Zach dan membuang rokokku. Aku masuk ke dalam ruang tunggu kembali. Aku tak ingin pembicaraan kami bisa diamati oleh beberapa orang, bahkan Elisa. Aku memilih sudut yang agak jauh.
"Zach?" Itu kata pertama yang muncul dari bibirku. Hembusan napas kasar Zach terdengar hingga ke telingaku.
"Leon ... aku menghubungi di waktu yang tidak tepat, tapi percayalah ini sangat menggangguku."
"Katakanlah, Zach." Aku tahu arah pembicaraan ini. Kuyakin.
"Kumohon jangan Elisa, Leon." Sudah pasti.
"Dia bukan wanita yang bisa kau tiduri kapan pun dan bisa kau tinggalkan jika tak menginginkannya lagi. Kumohon siapa pun itu selain Elisa."
"Zach, aku—"
"Kita sudah berteman lama, Leon. Aku tahu bagaimana kau memperlakukan seorang wanita. Dia memiliki hati yang rapuh. Dia wanita terhormat dan tak tersentuh, jadi kuharap kau mengerti."
Sial, aku paham, sangat paham apa yang tengah ditegaskan oleh Zach. Bukan kedudukan dan uang, tapi apa pun itu yang menyangkut tentang kehidupan pribadiku.
"Berikan aku sedikit waktu." Aku hanya bisa mengatakan itu.
"Baiklah ... Maafkan aku. Sungguh, aku tak bermaksud menyalahkanmu. Tapi aku sangat sadar, aku tidak bodoh melihat ketertarikan antara kalian berdua. Kau bisa berpikir ini hanya sekedar ketertarikan fisik, tapi aku tak bisa membayangkan akan begitu hancurnya Elisa ketika dia membawa perasaannya. Aku akan merasa bersalah jika itu terjadi—"
"Aku mengerti, Zach." Hembusan napas kasar Zach kembali terdengar.
"Setelah tiga hari ke depan, aku menginginkan kau di Greece bersama Dereck selama seminggu. Kuharap kau bisa menuntaskan apa pun itu yang bersangkutan dengan Elisa." Setelah permintaan itu, Zach segera mematikan sambungan karena harus bekerja kembali.
Aku yang memikirkan permintaan Zach, terus terang merasa sangat kecewa. Kecewa akan diriku yang seperti ini. Entah mengapa aku tak ingin semua ini cepat berakhir. Permintaan Zach itu memiliki arti bahwa aku akan berhenti bertanggungjawab untuk Elisa.
...***...
Three days later ...
Aku tak menyangka akan seperti ini. Kedekatan yang seharusnya kuhindari malah sebaliknya. Elisa seakan mempersempit jarak antara kami. Berapa kali pun aku mengelek, tapi dia kembali menarikku. Seberapa keras pun aku menghindari tatapan matanya, dia masih terus menjadi perhatianku.
Selama tiga hari ini dia terus menginginkanku menemaninya. Baik berbelanja, bekerja, bahkan makan bersama. Aku merasakan diriku semakin melunak dengan sikapnya. Aku tak pernah membentaknya, lebih dari itu, aku hanya mengabaikannya dan menjawab seadanya agar tak ada pertikaian antara kami.
Tanpa sadar dia juga melakukan hal konyol yang dengan mudahnya membuatku tersenyum bahkan tertawa.
Dia pernah marah kepadaku dan mengabaikan setiap pertanyaanku hanya karena aku kelaparan saat menunggunya bekerja, sehingga aku memutuskan untuk mencari makanan. Saat aku menghampirinya dan menceritakan makanan yang kuperoleh dari para karyawan, dia malah mengoceh tanda tak suka.
"Itu makanan yang tidak sehat. Mengapa kau dengan mudahnya menerima makanan murahan ini. Bisa saja mereka meracunimu. Apa kau bodoh?" Dia mengambil semua makanan yang kubawa dan membuangnya ke tempat sampah.
Pernah juga suatu ketika dia mengakhiri makan malamnya di suatu restoran hanya karena seorang pelayan wanita mengerlingkan matanya kepadaku. Aku masih ingat dengan jelas ocehannya saat itu.
"Kau wanita yang tidak sopan. Mengapa kau seperti itu kepada temanku. Dia sudah memiliki seorang wanita yang jauh lebih cantik dan seksi dibandingkan denganmu. Ah, aku sudah tidak berselera makan di sini."
Pelayan wanita itu sangat panik ketika Elisa seperti itu. Dia memohon untuk Elisa agar tak meninggalkan mejanya. Elisa akhirnya mengalah dengan permintaan dia ingin yang setiap melayani kami adalah pelayan laki-laki.
Sikapnya yang kekanak-kanakan dan pencemburu seperti itu membuatku semakin menginginkannya. Semenjak ciuman pertama kami, aku bahkan selalu memimpikan hal yang tidak-tidak tentangnya. Keinginan untuk menyentuhnya semakin besar. Tapi, aku tak bisa melewati batas itu. Aku tak bisa menodai kepercayaan Zach.
Tiga hari ini aku ingin menghilangkan setiap pikiranku tentang Elisa. Setiap malam aku selalu membuat diriku dalam perjalanan jauh ke club, tapi percayalah semuanya selalu berakhir percuma. Aku bahkan tak bisa menyentuh wanita mana pun.
Aku selalu berakhir dengan mabuk dan meminta Dereck untuk menjemputku kembali. Aku selalu terbangun dengan tubuh berkeringat tidak karuan. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan dengan wanita itu. Tak pernah sekali pun.
Lihat saja yang tengah Elisa lakukan saat ini. Dia tahu Zach tidak akan pulang malam ini ke mension, sehingga dia dengan sengaja memaksaku menemaninya berenang. Apa dia tak kedinginan? Awalnya aku menolak, tapi ini adalah malam terakhir aku bisa melihat wajah cantiknya.
Aku juga masih mengingat saat pertama kali menemukannya dengan tubuh yang basah. Dia wanita bodoh yang berjalan menguntitku di tengah malam itu. Aku baru tahu ternyata dia memiliki hobi aneh, yaitu berenang di tengah malam.
"Kau tak ingin bergabung, Leon. Aku bosan hanya berenang sendirian." Ingatanku terhenti saat suara itu menginterupsiku. Dia mengatakan itu dengan santai sembari berenang gaya punggung.
__ADS_1
Tubuhnya sangat menggiurkan dengan setiap air yang bercahaya menyentuh setiap lekuk tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, aku melepas kemejaku untuk menyusulnya. Aku segera menerjunkan diriku ke dalam kolom itu untuk mencapai Elisa yang berada di sisi kolam sana.
Saat aku telah tiba di sisi kolam yang tak jauh darinya, dia malah terlihat kaget dengan keberadaanku. Aku menyugar rambutku untuk memperjelas penglihatanku. Apa dia tak menyangka aku akan menuruti keinginannya?
Namun selanjutnya dia tersenyum, sangat menawan. Itu membuatku semakin tertarik untuk menghampirinya. Jarak antara kami semakin menipis. Suasana malam yang temaram semakin mendorong kami untuk saling memandang.
Tak ada yang bisa menyangkal kenyataan bahwa kami sangat tertarik satu sama lain. Katakanlah aku tertarik secara fisik, tapi itu memang benar adanya. Aku tak bisa hanya memandangnya. Aku juga ingin menyentuhnya.
Ketertarikan itu semakin kuat saja ketika Elisa juga ikut mempersempit jarak kami. Dan entah dari mana sinyal itu semakin kuat ketika Elisa tiba-tiba menciumku. Kerinduan akan menyentuhnya itu semakin kuat. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri saat aku begitu menginginkannya.
Kami saling membutuhkan.
Tanpa sadar aku meraih tubuh Elisa dan memaksanya untuk berpegangan dipundakku karena aku menggendongnya. Tak ada yang menghentikan kami. Aku merasakan Elisa menarik rambutku yang basah.
Aku tak ingin kalah dengan menekan tengkuknya. Kami bahkan tak merasakan di dalam air yang dingin karena yang kami rasakan saat ini adalah gairah yang memanas karena ciuman ini.
Aku terus dan terus kehausan akan Elisa. Suara Elisa teredam di bibirku saat perlahan aku mulai menyentuh tubuhnya. Dia sama sekali tak memberikan penolakan akan tindakanku, membuatku semakin percaya diri. Ciuman itu terlepas dan aku mengambil kesempatan itu untuk menjelajahi leher Elisa.
Suara indah itu terus keluar dari bibir ranumnya. Aku tak bisa menahannya, sungguh. Aku menyandarkan punggung Elisa di tepian kolam saat mataku ingin melihat wajah itu. Perlahan aku menurunkan bra bikini yang dia kenalan dan memegang apa yang ada di baliknya. Aku kembali mencium leher Elisa dan memberikan tanda kepemilikanku di sana.
Kabut gairah itu terasa semakin pekat hingga aku menghancurkannya. Akal sehatku kembali ketika bibir itu memanggil namaku dengan keras. Aku menjauhkan pundak Elisa dariku.
"Leon ... kau ..."
Elisa tak bisa melanjutkan kata-katanya. Mataku terbelalak dengan tiba-tiba. Elisa terlihat kebingungan, dia dengan cepat menutupi dadanya yang terekspos. Aku tak bisa, aku tak bisa melanjutkannya.
Pikiranku berkelana kemana pun saat ini. Aku tak bisa memfokuskan pikiran dengan apa pun yang baru saja kulakukan. Aku hanya terdiam saat melepaskan peganganku di pundak Elisa.
Perlahan Elisa berbalik berjalan menjauhiku. Dia berhasil mencapai tangga menuju keluar kolam. Dia hanya berjalan dan terus berjalan. Aku memperhatikan punggungnya pergi.
Hatiku perih. Aku seperti ... ditinggalkan. Pikiranku tersadar dan aku berusaha keluar dari kolam untuk mengejar Elisa. Aku berhasil melihat punggung itu dalam kegelapan. Dengan cepat aku meraih tangan Elisa.
"Elisa ..."
Dia berhenti berjalan, tapi dia tak menjawab dan menghadap ke arahku. Aku merasakan tangannya bergetar.
"Leon, aku tak apa-apa. Aku butuh istirahat." Suaranya agak kecil dan tak seperti biasanya. Ada apa dengannya?
"Leon ... Kumohon biarkan aku." Pundak Elisa bergetar. Aku segera membalikkan tubuhnya dan saat itulah aku tahu. Tanpa sadar aku telah menyakiti hati Elisa. Menyakiti perasaannya sebagai seorang wanita.
Elisa meneteskan air matanya, aku tertegun tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku melemas seketika. Elisa meraih pergelangan tanganku dan melepaskan genggamanku.
Dia berjalan meninggalkanku begitu saja. Dia tak melihat kepadaku, tidak sama sekali. Kakiku tak bisa bergerak. Aku bahkan tak bisa mengejarnya. Satu kalimat yang terus terngiang di kepalaku adalah ...
Leon, selamat tinggal.
Wajah Elisa menghilang dari pikiranku. Aku berusaha keras mengingat wajah cantik itu. Tak bisa. Aku ... lupa. Apa yang terjadi kepadaku? Aku meneteskan air mataku—
"Leon! Leon! Hey, Leon ..." Aku membuka mataku. Keringat dingin terasa mengalir di dahiku. Dereck terlihat keheranan saat ini.
"Ada apa denganmu? Tak biasanya kau tertidur di perjalanan. Kau seperti mengalami mimpi buruk, jadi aku membangunkanmu. Kita sebentar lagi sampai. Bersiap-siaplah."
Aku masih terdiam dan menyeka keringat di dahiku. Tidak. Itu bukan sekedar mimpi buruk. Aku masih mengingat bagaimana penolakanku terhadap Elisa semalam. Dan di sinilah aku meninggalkannya yang tengah terluka.
—
On the Road to Tesalonika, Greece – 05.47 am.
Setelah kejadian semalam, aku bahkan tak berpamitan dengannya. Aku tak ingin terus memikirkannya yang akan semakin membuatku berat meninggalkannya. Tapi sungguh, aku tak pernah membayangkan perpisahan seperti ini. Aku hanya ...
"Zach ada apa?" Suara Dereck kembali menyita perhatianku.
"Leon? Yeah, dia bersamaku." Dereck memberikan handphone-nya kepadaku.
"Zach—"
"Sial, apa yang telah kau lakukan, Brengsek! Aku tak kan memaafkanmu jika terjadi sesuatu kepada Elisa!"
Aku mulai panik. Apa yang terjadi kepada Elisa?
__ADS_1
"Zach apa maksudmu? Apa yang terjadi kepada—"
"Jangan kembali ke mension sebelum aku mengizinkanmu dan jangan sekali-kali menampakkan wajahmu di depan Elisa. Itu sebuah perintah, Leon." Setelah mengatakannya Zach mengakhiri panggilannya.
Aku memeriksa handphone-ku dan di sana telah banyak panggilan dari Zach. Tanganku tak sabar untuk menghubungi Elisa dan mencari tahu apa yang tengah terjadi. Tak bisa. Tak tersambung. Aku memeriksa cctv yang sebenarnya masih tersambung dengan kamar Elisa. Sial, kurasa Zach telah mengambilnya.
Pikiranku masih berkelana tentang Elisa hingga kami sudah sampai tempat tujuan. Aku tak bisa fokus sama sekali dengan apa yang akan kukerjakan saat ini. Semuanya masih berputar pada Elisa.
...***...
One week later ...
Port of Thessalonki (Tesalonika), Greece – 02.21 am.
"Leon! Leon! Ada apa denganmu? Fokuslah kali ini. Sudah berapa kali kita melakukan kesalahan." Dereck berbisik dengan sedikit menyindir tepatnya kesalahanku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menempatkan Barret-ku dengan baik mengarahkannya pada sasaran. Kami sekarang tengah berada di salah satu bangunan tua di pelabuhan, di mana markas rahasia milik mafia Rusia yang sudah lama menjadi target misi.
Bangunan ini dikelilingi ketat oleh banyak penjaga tentunya. Terus terang sindikat inilah yang terus memborbardir pihak Britania Raya yang sekarang diam-diam memakai jasa kami.
Beberapa hari lalu yang melakukan penyerangan di salah satu club di London yang berhasil menembuskan peluru ke perut Dereck adalah para peliharaan cecunguk ini. Satu ... dua ... lima ... enam. Sial harusnya ada tujuh.
Aku mendapatkan informasi bahwa sindikat ini dibangun oleh tujuh pemimpin dan salah satunya adalah yang paling berbahaya. Orang itulah yang menjadi dalang penculikan berbagai petinggi Negara.
"Dereck, katakan berapa waktu yang kita butuhkan untuk keluar dari jalan yang paling cepat."
"Dua menit."
"Berapa orang yang akan menghambat perjalanan keluar?"
"Kurang lebih 40." Aku kembali memfokuskan diri memilih target yang paling mudah dibidik.
"Baiklah, aku tak bisa menembak semuanya." Aku tak bisa memfokuskan bidikan jarak jauh. Fokus pikiranku sangat susah dikendalikan saat ini.
"Kau bercanda! Kita hanya ber-10 di sini, Leon. Jika kau tak menembak semuanya, aku tak menjamin kita semua keluar hidup-hidup dari sini."
"Hanya tiga, Dereck. Setelah tembakan ketiga semuanya akan segera bergerak dengan lebih cepat. Kita berdua beserta tiga agen akan menyelesaikan secara langsung. Sisanya bersihkan jalan keluar. Siapkan bom skala sedang. Kau lihat di dalam sana memang sedikit, tapi berisi orang yang ahli bela diri dan orang-orang penting."
"Leluconmu tak lucu. Aku tak bisa menyiapkan bom dengan banyak orang yang akan menjadikanku sasaran. Aku akan di sini menunggu instruksi—"
"Aku akan melindungimu. Kau harus melempar bom tepat sasaran Dereck. Mereka akan lebih cepat bergerak ketika telah menyadarinya. Kita tak bisa membiarkan mereka lolos. Berapa bom yang kau miliki?"
"Dua kekuatan besar, enam sedang, dan sepuluh kecil."
"Bagus, bawa semuanya turun. Kau yang pegang Barret-ku. Aku butuh shotgun kekuatan tinggi yang lebih ringan. Mungkin AA-12 dengan amunisi penuh."
Aku merapikan Barret-ku dan menentengnya. Dereck yang kelihatan panik, segera membawa tas punggungnya yang tentu saja semua isinya bom dan segala pernak-pernik senjata. Aku dan Dereck menyusuri sudut-sudut gelap bangunan ini ke tempat tujuan utama kami.
Menembak dengan jarak dekat akan lebih baik jika targetnya cukup banyak. Namun, jika aku menembak dengan jarak jauh, akan susah mendeteksi pergerakan target karena saat ini fokusku yang sangat payah.
"Leon. Hey, kau gila! Yang bisa menggunakan Barret hanya kau. Aku tak bisa membidik target dengan mesin pembunuh itu. Aku tidak bodoh menggunakan ini untuk jarak dekat."
"Berhentilah mengoceh. Aku membutuhkan AA-12. Katakan siapa pun agen yang membawa itu saat ini berikan kepadaku. Dan satu lagi, aku hanya menyuruhmu membawa Barret-ku bukan menggunakannya." Dereck terlihat begitu lega saat aku menjelaskannya.
Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, kami bersembunyi di sudut yang tidak terlihat, menunggu senjataku datang. Sedangkan Dereck mengeluarkan jenis bom yang akan dia butuhkan saat kami masuk ke dalam. Dia sangat ahli dalam memilih bom-bom yang cocok untuk situasi yang mendesak.
Lihat saja apa yang tengah dia lakukan, dia menyelipkan segala jenis bom itu di baju-bajunya. Dia seperti ingin melakukan bunuh diri saja. Dia juga menyelipkan dua bom skala kecil di tubuhku. Aku tak tahu bagaimana Zach bisa mendapatkan senjata dan bom dengan teknologi canggih ini. Ini sangat membantu pekerjaan kami.
Tak beberapa lama, agen yang memiliki senjata yang kuinginkan menghampiri kami dengan diam-diam. Dia memberikan senjata itu dan sedikit berdiskusi dengan Dereck. Saat semuanya telah siap, aku dengan senjataku dan Dereck dengan bom di tangannya akan membuka pintu ini.
Let's start the game ...
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
...TO BE CONTINUED...