The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 32. I Don't Want to Lose Again


__ADS_3

Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 08.13 am.


Aku membasuh mukaku beberapa kali sebelum menatap cermin. Aku tak pernah menatap diriku selama ini di depan cermin. Aku membalikkan tubuhku dan mengecek punggung. Senyum sumringah terkembang di bibirku. Memang tak terlihat membekas apapun, aku hanya melihat tato-ku, namun aku sangat tahu bagaimana rasanya ketika kuku Elisa mencengkram kulit punggungku.


Tak pernah terbayangkan olehku akan melalukannya dengan Elisa, rasanya kembali seperti pertama kali melakukannya. Dan benar saja kami telah melaluinya, aku bahkan berhasil mengendalikan diriku saat melakukannya. Ya walaupun nyatanya pagi ini aku menyaksikan Elisa yang tak bisa bangkit dari kasur.


Sungguh aku memang tak berbohong ketika mengatakan aku tak pernah menemukan seorang wanita tidak bisa bangkit setelah tidur bersamaku. Mengingat kalimat yang kulontorkan itu untuk Elisa membuatku terkekeh sendiri.


Setelah lama di dalam kamar mandi Elisa, aku akhirnya memutuskan keluar. Saat keluar, aku melihat Elisa sudah seperti sedia kala. Dia sudah bisa duduk di kasurnya dan menyantap dessert-nya. Dia pun sudah mengenakan pakaiannya, kurasa dia berusaha melakukannya sendiri saat aku lama di dalam kamar mandi. Pelayannya pun sudah bisa berlalu-lalang ke dalam sini.


"Nona, apakah masih ada yang Anda butuhkan?"


"Tidak ada, kau bisa meninggalkanku."


Pelayan yang dari tadi berlalu-lalang akhirnya pergi meninggalkan kamar saat aku menghampiri Elisa dan mengecup bibirnya sekilas.


"Apa kau merasa lebih baik?"


"Ya, aku sudah seperti biasa dan masih belum kenyang. Kau ingin pergi?"


Dia melirik penampilanku yang sudah lengkap dengan bajuku dan wajahku sudah sangat segar untuk beraktivitas.


"Ya, aku harus melakukan pekerjaan lainnya. Apa tak masalah kau kutinggalkan kembali, Pricess?"


"Ya tak apa, setidaknya aku tahu tau sudah pulang."


Tatapan sinisnya tak membuatku terintimidasi, malah terkekeh dengan apa yang dia katakan. Setelah bercanda menghabiskan waktu dengan Elisa, aku memutuskan untuk pergi.


...***...


A few hours later...


Parker’s Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 10.17 pm.


Aku menghabiskan waktu seharian bersama Zach dan di sinilah aku di mension Zach.


"Jadi kau sudah tahu siapa yang diprediksi akan melakukan hal yang besar dalam beberapa hari ke depan?" Zach bertanya tanpa menatapku.


"Masih pada targetku, Aleksey."


Zach yang sejak tadi berkutat di meja kerjanya akhirnya mengalihkan perhatiannya kepadaku. "Sepertinya masih belum, dari beberapa agen yang masih mengawasi pergerakan dari Aleksey masih aman dan tak ada yang mencurigakan. Hanya saja beberapa hari lalu ada agen yang menyelinap ke beberapa jaringan yang masih berhubungan dengannya. Aku belum tahu pasti, sepertinya dia merekrut pembunuh bayaran."


Aku mendengus mendengar informasi dari Zach, "Apa dia tidak ingin mengotori tangannya?"


Zach mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen di tangannya saat menjawab, "Ya kurasa setelah pelelangan itu dia memilih untuk lebih berhati-hati. Bahkan keamanan di kediamannya diperketat, agen kita tak ada yang bisa menjangkaunya selain hanya meretas sistem komunikasinya yang sesekali bercelah."


Aku memejamkan mata saat memikirkan pelelangan itu. "Ya kau benar, setelah pelelangan itu kurasa dia akan masuk ke dalam daftar orang yang harus kubunuh jika dia juga berusaha mengorek keluargaku."


Zach menyipitkan mata sebelum berkomentar, "Kurasa kalau dia tahu pun tak kan mungkin berani mengusik keluargamu, Leon."


"Well, tak ada yang tahu tentang itu mengingat Jose sudah lenyap, lagi pula banyak yang tak menyukai Ayahku. Tapi yang sedang membuatku penasaran, apa Jonathan tahu dengan seluk-beluk keluargaku?"


"Kau bercanda masih menanyakan itu? Ayolah, dia tak mungkin tidak tahu. Aku bahkan berapa kali mendapati dia berhubungan dengan Ayahmu."


Perasaan heran menghampiriku, "Ayahku?"


"Ya, kurasa Ayahmu selalu mengorek segala hal yang berhubungan dengan keluarganya. Aku bahkan mendapati para suruhannya berkeliaran di pelelangan itu. Tidakkah kau tahu setelah pengincaran Elisa beberapa bulan lalu, saat kau memutuskan menghilang setelahnya dan besoknya Ayahmu secara aneh datang ke James?"


Kebingunganku bertambah dua kali lipat, "Untuk apa?"


"Kudengar hanya meminta maaf atasmu."


Aku akhirnya berdiri dari dudukku, "Yang benar saja! Ayahku bahkan tak pernah meminta maaf atas apa yang dia lakukan, apa lagi yang berkaitan denganku."


"Kau tidak percaya? Tanyakan saja pada James."


Aku terdiam cukup lama. Apa sebenarnya yang Ayah rencanakan?


Dengan beberapa hal yang baru saja kudengar bagaikan teka-teki yang konyol, aku memutuskan akan mencari tahu itu semua nanti. Yang kubutuhkan adalah menenangkan diri.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk tidur di mension timur. Aku tak ingin mengambil resiko dengan menyelinap kembali ke kamar Elisa hanya untuk melihatnya baik-baik saja. Namun sebelum aku tidur, aku akan melihat apa yang dilakukan Elisa tanpaku.


Ya, aku kembali melanggar privasi Elisa. Tadi pagi sebelum pergi aku meletakkan cctv di beberapa bagian kamar Elisa. Bukan tanpa sebab semalam aku menyelinap masuk ke mension keluarga Amatrong. Tentu saja aku meletakkan beberapa cctv yang sangat kecil di beberapa sudut mension tersebut hanya untuk berjaga-jaga.


...***...


A few days later...


Dua hari ini aku mengunjungi Elisa di kantornya dan hanya menemaninya untuk makan siang. Cukup menyenangkan sebenarnya di sela-sela kekhawatiranku yang semakin besar. Bagaimana tidak? Dereck mengabarkan bahwa ada orang yang tertangkap menyelinap dan hampir masuk ke kawasan sekitar mension Amstrong.


Saat kukonfirmasi kepada Zach ternyata itu benar. Dan orang yang hanya mengetahui hal itu adalah James dan para agen Zach. Syukurnya hal itu tidak menyebabkan kepanikan di kalangan penghuni mension itu yang tidak tahu-menahu. Hingga seminggu berlalu semenjak kejadian itu, anehnya tak ada lagi hal yang mencurigakan lainnya.


Kebingunganku saat memikirkan itu terhenti saat handphone-ku berbunyi dan ternyata itu Elisa. Tumben sekali di jam 11 malam dia belum tidur, padahal selepas kami makan malam tadi aku berhasil mengantarkannya pulang dan dia terlihat mengantuk.


Tak ada pesan teks, dia hanya mengirimkan foto jalanan yang sangat kukenal adalah jalanan keluar kawasan mension Amatrong. Aku mengirim balasan, 'Kau keluar lagi, bersama Dereck?'


Tak ada balasan sama sekali, karena khawatir aku memutuskan menelpon ke nomor Elisa, namun tak dijawab sama sekali, kurasa handphone-nya mati. Aku menghubungi Dereck dan sambil menunggu jawabannya aku mengecek cctv yang ada di kamar Elisa beberapa menit yang lalu.


Akhirnya suara Dereck terdengar hingga telingaku, "Well, Dude apa yang kau inginkan?"


"Aku tak bisa menelpon Elisa." Saat itu juga rekaman cctv terputar, dan di sana Elisa, dia masuk ke dalam kamarnya dan berbaring.


"Mungkin dia tidur."


"Bisakah kau mengeceknya."


Kembali aku mempercepat cctv dan baru saja Dereck ingin menjawab, umpatanku sudah lebih dulu keluar, "Sial, Elisa keluar sendiri dari kamarnya dan aku tak menemukannya kembali ke dalam kamar!"


"Leon, ada apa?"


"Cepat cari Elisa ke seluruh penjuru mension!"


Aku segera mematikan panggilan ke Dereck, sambil berlari keluar kamar, aku menelpon Zach.


"Zach, bisakah kau membuka akses cctv mension kediaman Amstrong, aku tak bisa menghubungi Elisa."


Aku tak mendengar jawaban darinya, namun sesaat aku mendengar percakapannya di saluran yang lain, "Segera hubungi agen yang ada di mension Amstrong, lihat cctv seluruhnya, dan ... apa ada yang terdeteksi mendekati mension?"


Sebelum mendengar umpatan Zach, aku segera mematikan handphone. Aku menghubungi nomor eksekutor-ku dengan menulis pesan, 'Temukan Elisa!'


Tak lupa aku mengirim foto yang sebelumnya dikirimkan Elisa kepadaku. Aku juga mengirimkan kontak Elisa dengan tangan bergetar. Setelahnya aku dengan tergesa-gesa berlari untuk mencapai ke mension utama dimana Zach berada. Saat tiba, aku menghampiri Zach yang duduk di ruang tamu tepat menghadap pintu utama mension-nya. Aku melihat kepanikan yang sama pada wajah Zach.


"Elisa menyelinap ke dalam mobil salah satu bodyguard, saat mobil itu berhenti di pengisian bahan bakar sepertinya dia menaiki taxi. Mereka sedang mencari kemana arah taxi itu."


Mendengar penjelasan Zach, tanpa sadar aku mengumpat keras. Hal tersebut kuhentikan saat satu pesan masuk ke handphone-ku. Aku segera membuka pesan tersebut dan dari informasi eksekutor-ku, dia memberikan titik koordinat dimana Elisa berada. Saat aku membukanya ternyata dia tepat berada di mension Zach.


Mengetahui hal tersebut, refleks aku berdiri dari dudukku. Zach yang melihatku segera bertanya, "Ada apa? Kau menemukannya?"


Aku menatap Zach dan itu membuatnya tambah kebingungan. Tak lama terdengar deru mobil masuk pekarangan mension, dimana kami di dalam sini sangat tahu mobil itu berhenti tepat di depan mension ini. Kami sama-sama melihat pintu besar itu terbuka dan di baliknya muncul Elisa.


Dia sepertinya kaget dengan keberadaan kami tepat di ruang tamu ini. Aku yang seketika melihat Elisa tanpa sadar berteriak sangat kencang, "Elizabeth Amstrong!"


Nampak dia tersentak dengan teriakanku hingga menegang tak berani menghampiri kami. Zach tak dapat berkata-kata, dia hanya terduduk lemas di sofa dan mengurut dahinya. Sedangkan aku? Jangan ditanya lagi, karena yang kulakukan adalah mengahampiri Elisa dan menyeretnya tepat ke hadapan Zach.


Keluhan Elisa terdengar saat aku melakukan hal itu, "Leon ini sakit! Lepaskan!"


Dia memukuli tanganku, namun aku tak gentar hingga tanpa sadar aku menghempaskannya begitu saja di sofa.


"Auhh, kau kasar, Sialan!"


"Jaga ucapanmu!"


Sejujurnya aku tak pernah semarah ini ketika seseorang mengumpatiku. Tapi sungguh kali ini Elisa membuatku takut setengah mati dengan apa yang dia lakukan.


Aku melihat air mata Elisa sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun yang kulakukan yaitu tetap memarahinya.


"Jangan menangis! Jangan membuat semua orang lebih khawatir lagi. Kau tak melihat kami sedang frustasi mencarimu. Bagaimana bisa kau menyelinap keluar mension tanpa memikirkan keselamatanmu, Elisa!"


Dengan nada sumbang dia menjawabku, "Apa yang kalian pikirkan? Aku hanya mencoba ke sini. Tidakkah kalian lihat aku baik-baik saja?"

__ADS_1


Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan apa yang dia lontarkan.


"Elisa, mengapa kau tak mengerti juga. Mengapa harus diam-diam dan tak memberitahu orang lain? Kau lihat Zach, apa dia nampak lebih baik dariku? apa kau pikir Ayahmu akan lebih baik dari kami? Cobalah jangan memikirkan semuanya akan baik-baik saja jika kau melakukan semuanya sendiri. Pakai otakmu untuk-"


"Leon, cukup jangan berlebihan!" Zach berhasil menginterupsi amarahku.


"Elisa, kumohon jangan seperti ini lagi. Jangan keluar tanpa sepengetahuan keluargamu."


Air mata Elisa sudah jatuh dan dengan tersedu-sedu dia berkata, "Zach, aku pergi dengan bodyguard-ku!"


"Ya dan kau meninggalkannya di pengisian bahan bakar untuk pergi ke sini! Tidakkah kau sadar apa yang kau lakukan? Kau membuatku harus memecatnya hanya karena ulahmu!"


Baru kali ini aku melihat kemarahan Zach pada Elisa. Kurasa semua orang cukup emosi untuk urusan ini.


Tiba-tiba tangisan Elisa semakin menjadi-jadi. "Kenapa kalian selalu seperti ini? Kenapa aku tak bisa seperti wanita pada umumnya? Aku hanya ingin bebas kemana pun pergi tanpa ada yang mengikuti."


Aku mulai menenangkan Elisa. "Elisa tidak bisa seperti itu, cobalah jangan keras kepala untuk keselamatanmu sendiri. Kami semuanya mengkhawatirkanmu."


Elisa yang sudah berlinang air mata akhirnya berdiri dari duduknya dan menghampiriku. Dia memukul dadaku berulang kali dan aku hanya membiarkannya.


"Apa kau juga akan sama seperti mereka Leon? Kau bodoh, kau tak mengerti apa yang kurasakan."


Aku sudah tak tega dengan tangisan Elisa. Dia terus merapalkan betapa bodohnya aku, "Kau bodoh, kau bodoh Leon. Aku kesini untukmu, tidakkah kau ingat hari ini ulang tahunmu."


Aku akhirnya menghentikan tangan Elisa yang sejak tadi memukuli dadaku. Hatiku rasanya remuk saat mendengar apa yang dia katakan. Dia melakukan ini untukku? Aku yang tertegun akhirnya memeluk Elisa, aku mengusap kepalanya dan dia menangis dalam pelukanku.


"Maafkah, maafkan aku Elisa. Aku bahkan tak ingat itu, kau tak harus bersusah payah untuk itu. Kau tahu itu tidak penting bagiku, kau lebih penting dari itu semua, Elisa."


Dengan Elisa yang masih sesenggukkan, aku membawa Elisa duduk di sofa dan dia kembali tenang seperti semula.


"Aku baru mengingatnya dan aku mencoba memberikan kejutan, dan yang terjadi malah seperti ini." Dia kembali menangisi apa yang telah dia lakukan sebelumnya.


Zach yang tak tega akhirnya mendekat dan mengusap punggung Elisa sambil berkata, "Sudahlah, ini sudah terlanjur, selanjutnya jangan pernah melakukan hal yang ceroboh seperti ini lagi, Elisa. Menginaplah di sini, aku akan menghubungi Ayahmu."


Zach melirikku tanda memberikan isyarat menyerahkan Elisa kepadaku agar lebih tenang. Dia berlalu ke ruang kerjanya, kurasa dia akan menerima amukan James lagi setelah Elisa berinisiatif pergi ke mension-nya tanpa memberitahu siapa pun.


Elisa masih sesenggukan saat aku mengecupi kepalanya. "Sudahlah Elisa, ini sudah terjadi. Ayo kau harus beristirahat, kau ingin ke kamarmu?"


Dalam pelukanku dia mengangguk-anggukan kepala. Dengan berjalan pelan aku mengawalnya hingga mencapai lantai dua di mana kamar yang selalu dia pakai untuk menginap di istana Zach.


Saat kami mendudukkan diri di kasur, aku masih mengusap punggung Elisa sembari bersabar menunggu tubuhnya tenang. Aku tak berkomentar apa pun agar dia memenangkan pikirannya sendiri. Berangsur beberapa menit berlalu dan dia sudah tak terisak.


Aku akhirnya membuka suara, "Beristirahatlah Elisa, maafkan aku dan Zach yang telah membentakmu tadi."


Aku mengecup tangannya yang kugenggam, dan melanjutkan, "Kumohon, sangat memohon untuk kedepannya urusan keselamatanmu kami sangat protektif, aku tak kan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa kepadamu. Aku tak sanggup untuk kehilangan orang yang kucintai lagi, Elisa, aku tak sanggup."


Rasanya kepalaku dihantam oleh pikiran kelam saat mengatakan hal itu. Jauh di lubuk hatiku, rasanya sangat sakit, nyeri hingga rasanya air mataku akan menetes. Aku berusaha menutupi itu semua di depan Elisa. Aku tak ingin terlihat lemah di depannya.


Aku kembali mengecup tangannya sebelum memeluk erat tubuhnya. Dalam hati aku merapal 'Aku mencintaimu Elisa, jangan membiarkan dirimu celaka, aku tak ingin kehilangan orang yang kucintai, lagi.'


Aku melepaskan pelukanku sebelum membaringkan Elisa, aku masih memegang tangannya saat mengecup keningnya.


"Tidurlah." Dia hanya mengangguk tanpa menjawab.


Aku tak ingin lebih lama berada di dalam sini karena rasanya aku akan meneteskan air mata. Namun aku mengurungkan niat menginggalkan Elisa saat mendengar cicitan Elisa, "Leon, temani aku."


Aku menatap Elisa sebentar sebelum kembali menghampirinya dan membaringkan diri di sampingnya. Aku memeluknya dan terus mengusap punggungnya. Elisa tenang dalam dekapanku hingga tak bergerak menandakan dia telah tertidur. Sedangkan aku? Masih berkelana dalam pikiranku sendiri karena memikirkan ketakutan terbesarku untuk kehilangan Elisa.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2