The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 29. Who Are You?


__ADS_3

Amstrong Company, City of London, UK – 11.10 am.


Setelah pembicaraan yang panjang dengan Kyle, aku memutuskan untuk lebih bersabar dalam hubunganku dengan Leon. Kami baru saja saling mengenal satu sama lain dan tidak ada alasan untuk menuntutnya terlalu jauh, apa lagi hubungan ini masih seumur jagung. Tidak hanya Leon, ternyata Kyle juga mencap-ku terlalu bersikap kekanak-kanakan.


"Baiklah, kurasa aku harus pergi. Kau mengambil banyak waktuku, Princess. Dan kuharap kau bisa menggantinya dengan beberapa kerjasama yang luar biasa ke depannya denganku."


"Cih, memangnya sesibuk apa hingga aku harus mengganti untuk ocehanmu." Aku mengatakannya dengan perasaan yang menyebalkan terhadap Kyle.


"Tentu saja aku sibuk. Dan karena kesibukanku ini, kurasa kau akan mendapatkan kabar gembira dalam beberapa bulan ke depan." Aku mengerutkan dahi, apa maksud dari ucapan Kyle? Apa-


"Apa kau telah menemukannya? Kau menemuinya? Wanita itu-" Tanpa sadar aku begitu antusias dengan kehidupan Kyle.


"Well, itu akan menjadi rahasia kita. Jangan katakan kepada siapa pun termasuk kepada kekasihmu yang menyebalkan. Dan tentunya jangan sekalipun membuka hal ini kepada Ayah dan Ibuku."


"Yang benar saja! Aku bukan pengadu seperti-"


Cklek ...


Ucapanku terputus ketika pintu ruang rapat dibuka dan tentu saja yang berani membukanya sebelum mendapatkan izinku adalah Leon. Dan yang diucapkannya setelah itu membuatku tercengang.


"Apa kalian sudah selesai dengan omong kosong di dalam sini?"


"See, Elisa. Tebakanku benar kalau dia begitu menyebalkan."


Aku memijit dahiku melihat sikap Leon yang terlalu berlebihan, untung saja ini hanya Kyle. Akan tak habis pikir jika dia melakukan hal tersebut saat aku benar-benar rapat dengan kolega bisnisku.


"Leon, kami sedang berdiskusi dan kau mengatakan kami hanya melakukan omong kosong. Oh God, tak bisakah kau menunggu saja?"


"Diskusi seperti apa? Kalian hanya mengoceh tentang hal yang menggelikan dan itu membuatku kesal."


Kurasa dia mengatakannya tanpa sadar. Dan aku mendengar nada kecemburuan di dalam ucapannya.


"Benarkah, apa dengan kata lain kau mengakui telah menguping pembicaraan kami?"


Mendengar apa yang dikatakan Kyle, seketika aku memelototi Leon. Dia seketika mendengus dan pergi begitu saja. Kyle yang melihat reaksi Leon segera tertawa terbahak-bahak sambil berlalu meninggalkanku. Bahkan saat keluar meninggalkan ruanganku, dia masih tertawa.


Aku melupakan kebingunganku terhadap Kyle dan beralih kepada Leon. Aku menghampiri Leon yang tengah menggerutu di sofa ruanganku, tanpa dia sadari, aku telah berdiri di depannya. Dengan menyedekapkan tangan aku mulai menginterupsi gerutuannya, "Jadi Tuan Yang Tahu Segalanya, apa kau menguping pembicaraan kami di dalam sana?"


Dia kembali mendengus dan enggan menatap mataku. Aku memilih duduk di sampingnya agar dia tak bisa mengelak.


"Baru beberapa menit tadi kau mengatakan aku kekanak-kanakan, dan apa ini? Kau menjelma menjadi seperti apa yang kau katakan tadi kepadaku."


"Lantas apa aku harus selalu bersabar jika kau bertemu dengan lelaki yang pernah kau sukai?"


Tanpa sadar aku memutar bola mataku saat mendengar apa yang Leon katakan. Baru saja ingin menjelaskan lebih jauh, tiba-tiba handphone Leon berbunyi. Dia seketika mengambilnya untuk melihat siapa itu. Sebelum mengangkat panggilan tersebut, dia melirik kepadaku dan mengisyaratkan diriku untuk diam.


Aku mencoba tak mendengar apa yang sedang dia bicarakan, namun tentu saja aku tak bisa menutup telingaku begitu saja.


'Katakan!'


Ya, persis sama seperti pertama kali aku menghubunginya dulu.


'Ya, dia di penthouse-ku, ada apa?'


'Aku sedang dalam pekerjaan. Katakan saja aku tak ikut, mungkin Luxy dan Edward akan segera pulang beberapa hari lagi. Mereka tak lama di sini.'


Tiba-tiba wajah Leon menegang dan seketika beralih menatapku. Aku hanya menampakkan wajah bertanya-tanya dengan reaksinya.


'Aku tak menjamin akan membawanya apa tidak. Tapi aku akan pulang bersama Luxy, katakan saja kepadanya jangan sekali-kali mengirim orang tak berguna untuk menembaki anaknya sendiri!'


Leon seketika menutup panggilannya. Wajahnya memerah dan aku tahu dia tengah emosi, lebih dari sebelumnya kukira. Untuk mencairkan suasana, aku memutuskan untuk mengusap lengannya dan dia menjadikan itu perhatiannya sekarang. Saat menatap mataku, seketika emosi di wajahnya sirna.


"Kau baik-baik saja?"


Tatapannya melembut dan dia dengan cepat mengecup bibirku sebelum mengatakan, "Aku baik-baik saja, Princess."


Aku tahu dia enggan membuatku bertanya lebih dan aku pun tak ingin mengungkitnya juga.


"Jadi... Apa Tuan Putri kita sudah kelaparan karena melakukan rapat omong kosong hampir dua jam lamanya?"


Aku juga menaggapinya dengan tersenyum. Ya kami melupakan kejadian yang sebelumnya. Aku hanya cekikikan.


"Okay, kurasa aku sedikit lapar, tapi aku tak ingin beranjak dari sini, aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaanku agar bisa pulang lebih awal. Bisakah kau menyuruh seseorang memesankan makanan untuk kita?"


Leon seketika mengusap rambutku dan mengatakan, "Tentu saja bisa, apa yang kau inginkan untuk makan siangmu?"


Awalnya aku sangat senang dia ingin memanjakanku, tapi makin ke sini dia malah mencari kesempatan. Dia malah menciumi wajahku. Dan karena jujur aku memang lapar, aku menjauhkan diri darinya.

__ADS_1


"Apapun itu ... dan Leon, aku benar-benar lapar."


"Tidakkah kau lihat aku juga tengah kelaparan?"


Matanya menyiratkan hal yang berbeda dengan apa yang dia katakan dan tentu saja aku tahu. Namun yang dia lakukan adalah mencoba meraihku dan mengecupi wajahku, aku yang hanya mencoba menjauhkannya dari wajahku seketika berhenti karena mendengar bunyi keroncongan perutku sendiri. Leon seketika tertawa terbahak-bahak. Ini membuat wajahku memerah.


"See, aku tidak bohong ketika mengatakan aku kelaparan."


Dia yang tengah memegang perutnya menahan tawa malah mengejekku.


"Hahahaha... Baiklah, kau akan mendapatkan makananmu segera, Princess."


Aku yang masih merasa malu segera beranjak ke meja kerjaku dan berpura-pura fokus dengan layar komputer yang nyatanya aku hanya mencoba menenggelamkan wajahku di sana karena malu. Hal tersebut tak lama kulakukan karena beberapa saat kemudian makanan kami datang bersama dengan sekretarisku masuk membawa beberapa dokumen yang harus kubaca.


Makan siangku di kantor untuk pertama kalinya begitu berbeda. Ada Leon yang menemani dan gelak tawanya memenuhi ruanganku karena terlalu bersemangat mengejekku. Akan begitu bahagianya jika hal ini sudah kulakukan sejak dulu.


Setelah menyelesaikan makan siang bersama, Leon memutuskan untuk membiarkanku berkutat dalam pekerjaan. Sedangkan dia memilih menungguku di ruang tunggu yang masih bisa kulihat dari dalam ruanganku.


Dia sesekali berbicara dengan Dereck dan bodyguard yang ada di sana. Namun kegiatannya lebih banyak dia lakukan bersama handphone di tangannya. Sepertinya dia memiliki urusan yang lain dengan seseorang, sangat terlihat dari raut wajahnya yang terus berkerut setiap melihat apa yang ada di handphone-nya.


...***...


**Fo***ur* hours leter ...


Aku keluar dari pintu ruanganku dan disambut oleh Dereck yang menguap, tanda dia begitu mengantuk. Hal pertama yang kutanyakan adalah, "Dimana Leon?"


Dengan malas-malasan Dereck menjawab, "Dia sedang menemui seseorang, dia tak memberitahumu karena tak ingin mengganggu fokusmu."


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala, tanda tak mempermasalahkan hal tersebut. Aku berlalu menuju lift untuk pulang. Dua bodyguard dan Dereck mengikutiku.


Saat di lift, tanganku tak bisa menahan diri untuk mengambil handphone dan menulis pesan untuk Leon.


'Aku pulang tanpamu, apa kita akan bertemu nanti malam?'


Lama aku melihat pesan tersebut, namun belum ada tanda balasan dari Leon. Hingga lift berhenti di lantai dasar, bahkan saat mobil telah berhenti di depanku, Leon masih belum membalas.


Saat di perjalanan pulang, aku melirik Dereck yang masih mengantuk di bangku penumpang depan. Aku akhirnya bertanya, "Apa Leon mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?"


Mendengar apa yang kutanyakan, Dereck melirik melalui kaca spion atas dan menjawab, "Tidak ada, apa kau begitu khawatir?"


"Hmm... dia tak membalas pesanku."


Tanpa menanyakan lebih lanjut, aku memutuskun untuk diam saja dan menikmati perjalanan pulangku.


Begitupun saat jam sudah menunjukkan angka 11 malam, pikiranku masih dipenuhi Leon. Aku sudah mengirimkan beberapa pesan tambahan untuk Leon, hanya untuk menanyakan keadaannya. Tak seperti biasanya, kali ini pesanku belum sama sekali dibuka olehnya.


Kantukku mulai datang ketika aku hanya memandangi wallpaper handphone-ku yang berisi foto kami berdua. Namun baru saja menutup mata, tiba-tiba jendela kamarku seperti diketuk. Aku terbangun dari tidurku dan perasaan merinding memenuhi diriku.


Aku menghampiri jendela dan mengintip di balik tirai untuk mengetahui apa yang sebenarnya menggangguku. Aku terkejut saat menemukan seseorang di balkon kamarku.


Siapa itu? Bukankan penjagaan di bawah sana ketat? Bagaimana orang ini bisa mencapai kamarku?


Saking terkejutnya, kakiku tak bisa bergerak sama sekali. Bahkan aku tak mampu berteriak meminta seseorang untuk melakukan sesuatu. Suasana balkon yang gelap membuatku tak bisa memastikan siapa sosok tersebut.


Apa itu Leon?


Tidak mungkin.


Entah bagaimana jendela kamarku begitu mudah dibuka oleh orang itu. Aku yang masih berdiri di ujung tirai menyaksikan sosok itu menyelinap masuk. Bahkan bunyi jendela kamarku yang dibuka tak terdengar sama sekali.


Walaupun kamarku gelap, tapi orang itu tahu tak ada diriku di kasur dan yang membuatku seketika terjatuh dari berdiriku saat dia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Itukah kau?"


Suara orang itu terdengar asing. Aku tak sanggup untuk menjawab apapun, keringat dingin muncul di wajahku saat orang itu bertanya lagi dan menghampiriku.


"Kaukah kekasih Leon?"


Dia tahu, siapa dia? Apa yang dia inginkan?


Dia jongkok di depanku dan aku sedikit bisa melihat sisi wajahnya yang terkena cahaya bulan. Aku tak tahu dia siapa. Dan pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutku seperti cicitan.


"Siapa kau?"


"Hey, mengapa kau begitu ketakutan? Aku tak kan menyakitimu. Aku hanya ingin melihat wanita seperti apa yang diinginkan Leon."


Dia juga mengatakan hal itu seperti cicitan. Tiba-tiba aku tersentak saat dia mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya. Aku memundurkan tubuhku hingga menyentuh dinding.

__ADS_1


Itu pisau. Walaupun gelap, aku masih bisa memastikan kalau yang dia keluarkan adalah pisau.


Aku yang merasa terancam, tanpa berpikir panjang langsung menendang dada pria ini. Dan mencoba berlari, namun yang kudapati kakiku berhasil ditangkap. Tak sempat berlari dan berteriak, aku merasakan mulutku ditutup olehnya dengan kain kecil dan kalimat terakhir yang kudengar dari orang itu adalah, "Selamat datang di-"



Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 02.08 am.


Mataku terbelalak refleks saat merasa ada yang memegang tanganku. Kesadaranku muncul saat suara itu masuk ke telingaku.


"Elisa... tenanglah ini aku."


Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan mengatur napasku yang tidak karuan. Seketika aku menatap sosok gelap yang berada di depanku.


"Leon... itu kau?"


Sosok tersebut benar-benar Leon, aku mengetahuinya dari cara dia memelukku dengan lembut. Aku kembali merasakan hal yang janggal telah menghantui tidurku sejak seminggu lalu.


"Apa kau mimpi buruk?"


Aku masih mengatur napasku dan belum menjawab pertanyaan Leon. Aku tak menjawab pertanyaan Leon dan lebih memilih melihat jendela kamarku yang sedikit terbuka, gordennya bergerak menandakan angin masuk ke dalam sini.


"Apa kau masuk lewat jendela?"


"Ya, maafkan aku. Ini sudah sangat malam dan kurasa keluargamu akan marah jika aku memaksa masuk hanya untuk menemuimu. Maafkan aku karena mengejutkanmu."


"Tak apa, kurasa aku mimpi buruk lagi."


Ya, sosok dalam mimpi itu terus menghantui tidurku hingga setiap kali bangun di pagi hari, aku selalu merasakan kepanikan yang berlebih.


Aku terdiam cukup lama mengingat mimpi buruk tersebut hingga akhirnya tersadar saat Leon kembali memanggil namaku, "Elisa?"


Aku beralih memandang Leon. Dia akhirnya muncul lagi sejak sekian lama meninggalkanku dan hanya selalu membalas pesanku saat larut malam.


Aku menepis tangannya yang tengah mengusap rambutku. Dengan perasaan yang bercampur aduk aku berkata, "Ke mana saja kau, Bajingan?!"


Aku memukuli dadanya yang mungkin tak berefek apapun. Dia menghentikan tanganku, dan berkata, "Elisa, diamlah jangan berisik. Nanti ada yang tahu aku menyelinap ke kamarmu."


Masih tidak terima dengan ini semua, aku melanjutkan pukulanku, "Sialan, kau membuatku khawatir. Bagaimana bisa kau hanya mengirimkan satu pesan dalam sehari untukku?"


"Hey, paling tidak aku berusaha mengabarimu setiap hari, Elisa."


Aku menghembuskan napas kasar sebelum berhenti memukulinya. Ya, setidaknya apa yang dia katakan benar.


"Dereck berkata kau pulang karena ada urusan keluarga. Apa ada masalah?"


"Ya, seperti itulah, tapi bukan masalah berarti dan sudah terselesaikan. Well, apa kau merindukanku?"


Aku seketika membaringkan diri ke bantalku tanda lega mendengar tidak terjadi apapun kepada Leon. Aku masih malas berbicara kepada Leon karena dia masih terlalu menyebalkan bagiku. Dia akhirnya membaringkan diri juga di kasurku.


Leon mengusap wajahku yang masih berkeringat akibat mimpi burukku. Samar-samar dia berkata, "Maafkan aku yang datang dan pergi begitu saja."


"Hmm... setidaknya kau masih mengabariku dan aku tahu kau sedang tidak tidur dengan wanita lain di luar sana."


Aku mendengar kekehannya yang terdengar sangat menyebalkan di telingaku. Aku menyampingkan badan agar bisa melihat wajahnya. Mata kami bertemu dalam remang kamarku. Aku melihat manik yang kutahu warnanya. Leon tetaplah dirinya yang memesona.


"Tak ada yang lain, Elisa dan kau tahu itu. Aku sangat merindukanmu. " Aku tersenyum mendengar apa yang dia katakan.


"Apa kau sedang merayuku?"


Dia kembali terkekeh, "Apakah kedengarannya seperti itu di telingamu?"


"Tidak juga, aku tak tahu pasti."


Dia kembali mengusap sisi wajahku dengan lembut. Dan saat itu juga aku merasakan dia mencium bibirku dengan lembut. Aku kembali merasakan kehangatan Leon yang kurindukan. Aku menyambut ciumannya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Namun tak lama setelahnya, dia mengakhiri ciuman tersebut. Dengan


napas yang berat dia berkata, "Bisakah kau mengizinkanku tidur bersamamu malam ini?"


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2