
Newcastle General Hospital, Newcastle (Tyne and Wear), UK - 08.28 pm.
"Bagaimana keadaannya?"
"Keadaannya sudah stabil. Dokter Robinson mengatakan seharusnya beliau tak membutuhkan waktu lama untuk sadar kembali."
"Bagaimana dengan Elisa?" Aku berpikir sejenak untuk mengatakan keadaan Elisa saat ini. Semenjak kemarin kami sampai di UK, Elisa sama sekali belum menyentuh makanannya.
Bagaimana tidak, ini begitu mengejutkan baginya. Bahkan aku sendiri belum pernah mendengar kabar buruk kesehatan James Amstrong pernah terekspor di majalah bisnis mana pun. Kenyataan yang baru kuketahui ternyata James Amstrong sudah lama mengidap penyakit jantung. Tentu saja, Zach ikut andil dalam membungkam semua media tentang kabar ini.
"Dia belum memakan makanannya. Dia bersikeras terus menunggu ayahnya sadar."
Hembusan napas kasar Zach terdengar dari sebrang panggilan ini. Setelah kedatangan kami tadi pagi, dia harus segera pergi kembali untuk urusan pekerjaan. Sedangkan aku diinstruksikan untuk terus bersama keluarga Amstrong. Tentu saja aku sama sekali belum pernah menampakkan wajahku di depan Elisa, kecuali untuk malam kemarin di Paris.
"Bujuklah dia untuk mengisi perutnya. Jika dia juga sakit, akan membuat banyak orang khawatir." Aku hanya diam, bingung ingin menjawab jika aku tak berniat untuk menampakkan diri di depan Elisa.
" ... "
Lama tak terdengar suara dari Zach lagi. Apa dia tengah berbincang dengan seseorang?
"Leon ... Kupercayakan mereka kepadamu. Kabarkan perkembangan apa pun tentang mereka. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang tersisa." Panggilan tersebut diputuskan oleh Zach. Meskipun Zach memiliki banyak pekerjaan, tapi dia masih mengutamakan keluarga Amstrong.
Penjagaan yang ketat telah direncanakan untuk seluruh area rumah sakit. Ini adalah antisipasi yang selalu dilakukan untuk keamanan beberapa orang penting.
Selain itu, banyak dampak yang akan ditimbulkan jika kabar penting ini terekspos keluar. Bukan hanya memberikan kesempatan bagi kompetitor bisnis untuk menyerang, tapi bisa juga status keamanan dari keluarga Amstrong akan terancam.
Keadaan Elisa juga sangat mengkhawatirkan. Dari kepulangan mendadak kemarin, dia bahkan tak pernah mengisi perutnya. Makanan yang sudah kutitipkan pada perawat tak pernah dia sentuh.
Aku hanya menghela napas saat lagi-lagi dia seperti itu. Saat ini aku hanya cukup mengawasi keluarga ini, aku tak bisa muncul secara tiba-tiba mengingat terakhir kali keinginan yang Elisa katakan.
Pikiranku teralihkan ketika Dokter Robinson dan para perawat berbondong-bondong masuk ke dalam kamar Tuan Amstrong. Dari kaca pintu, aku bisa melihat Elisa dan Nyonya Amstrong yang saling berpelukan sembari menangis. Sepertinya Tuan Amstrong sudah sadar. Setelahnya, aku mengirim pesan singkat untuk Zach.
Melihat keadaan yang sudah membaik, aku memutuskan untuk pergi menuju halaman luar rumah sakit. Aku mengambil sedikit waktuku untuk merokok dan menyandarkan tubuh di dinding pada bagian sudut yang temaram.
Udara malam yang dingin menggelitik tengkukku. Rumah sakit ini menyimpan banyak kekhawatiran banyak orang di dalamnya. Kehisterisan orang yang kusaksikan salah satunya adalah tangis Elisa saat melihat kondisi Tuan Amstrong yang tidak baik.
Itu adalah kali ketiga aku melihat wanita angkuh itu menangis. Bagaimana bisa dia menyembunyikan kerapuhannya dengan sangat baik? Raut wajahnya yang selalu menampakkan keangkuhan dan bibirnya yang selalu melontarkan kata-kata kasar tidak menjamin ketegarannya.
Dia masih tetap seorang wanita yang butuh sandaran saat dalam keterpurukannya. Aku tak bisa membayangkan wanita itu akan memikul beban yang sangat besar jika Tuan Amstrong memang benar-benar sudah tidak berdaya. Segala kekayaan dan harta yang dimiliki oleh ayahnya akan membawanya menjadi sasaran empuk banyak orang. Keamanannya benar-benar akan dipertaruhkan saat itu terjadi.
Keadaan ini membuatku sangat bersyukur terlahir dengan memiliki banyak saudara. Yeah, walaupun mereka semua sangat menyebalkan dan berisik, setidaknya keadaanku tak kan kesepian seperti Elisa.
Dia terlahir sebagai anak tunggal yang selalu menjadi kebanggaan dan dituntut untuk sempurna dalam segala hal. Pantas saja sikapnya membuatku agak kebingungan menghadapinya. Kadang dia terlihat begitu manja dengan Zach tapi di depan orang lain dia terlihat begitu angkuh dan tegar.
Air matanya membuatku sangat tak bisa berkata-kata. Terus terang, saat pertama kali dia menangis karena ulahku, aku juga sadar untuk pertama kalinya merasa bersalah. Aku sangat paham dengan sikapku yang terlewat kasar bahkan kepada seorang wanita.
Kadang aku hanya melontarkan kata-kata kasarku kepada seorang wanita, tapi setiap bertemu dengan Elisa aku merasa seakan ingin meledak. Tanpa sadar aku juga telah berlaku kasar secara fisik kepadanya. Mungkin itu salah satu yang membuatnya sangat ketakutan dan membenciku. Mungkin juga selama hidupnya, aku adalah orang penyumbang luka fisik terparah. Payah.
Pikiranku terus berkelana memikirkan Elisa. Semenjak pertama bertemu dengannya aku sudah sangat tertarik, maksudku tertarik secara fisik. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri.
Tidak ada pria yang menolak akan pesona Elisa, contohnya saja diriku yang bahkan tak bisa menuntaskan gairahku hanya karna terus memikirkannya. Aku bahkan tak bisa tidur dengan wanita lain setelah bertemu dengannya. Tentu saja, aku tak ingin menjadi bajingan sejati yang memaksanya untuk tidur denganku.
Sial, apa yang kupikirkan. Di saat seperti ini kau masih bisa memikirkan hal tersebut, Leon. Dengan kesal aku membuang rokokku yang sudah hampir habis dan menginjaknya. Aku kembali menghidupkan rokokku yang baru. Baru saja aku bersusah payah menghidupkan pemantik rokokku dengan angin kencang di sekitarnya, aku melihat wanita yang ada di pikiranku selama ini.
Dia sepertinya tak sadar sedang berjalan ke sudut temaram tempatku ini. Dengan sepatu high heels-nya, dia berjalan gontai hingga akhirnya dia menatap lurus dan menemukan diriku yang sedang menatapnya.
Entah apa yang membuatku dengan cepat menyembunyikan rokok yang sebelumnya di bibirku tadi ke belakang punggung. Tentu saja, dia sudah melihatnya. Perlahan aku melonggarkan jemariku dan sebatang rokok itu jatuh ke permukaan lantai.
Elisa mendekatiku dan hal selanjutnya yang dia lakukan membuat pikiranku tak karuan. Dia menopangkan tubuhnya dengan kedua tangannya menyentuh dinding. Dia menangis tersedu-sedu sembari menundukkan wajahnya.
Dia seketika luruh ke lantai, dan dengan cepat aku menangkap tubuhnya. Aku memosisikan diriku untuk duduk di sampingnya dan memegang kedua bahunya yang bergetar. Dia memukul dadanya dengan sangat kencang. Kuyakin dia merasakan sesak di dalam sana.
__ADS_1
Aku menahan tangannya agar tak menyakiti dirinya terlalu jauh. Dalam kondisi ini dia sangat tak bisa mengontrol dirinya sendiri, hingga akhirnya aku memutuskan memeluknya. Dia menumpahkan segala kesedihannya di bahuku.
Aku pernah melihat Zach melakukannya, semoga cara ini berhasil. Perlahan tanganku yang bebas mengusap punggung dan kepalanya. Aku melantunkan kata-kata yang bisa menenangkannya. Sungguh ini baru pertama kali kulakukan, aku tak bisa memikirkan cara yang lebih baik lagi selain ini.
Ternyata yang kulakukan berhasil. Elisa kembali tenang dan tubuhnya sudah tak bergetar. Hanya terdengar isakan kecil yang perlahan menghilang. Aku membiarkan posisi ini terus berlangsung hingga dia benar-benar tenang.
Elisa akhirnya yang pertama melepaskan pelukan ini. Dia menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding. Suasana ini sangat canggung. Aku akhirnya ikut menyandarkan punggungku ke dinding. Beberapa menit kami tidak saling berbicara.
Elisa tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arahku. Aku bingung apa yang tengah dia lakukan hingga akhirnya dia mulai mengeluarkan suara.
"Berikan."
"Apa?" Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
"Berikan rokokmu." Sembari mengeluarkan kotak rokokku dari saku, aku pun bertanya kembali, "Untuk apa?"
Dia belum menjawabku saat dia mengeluarkan satu batang rokok dan menyelipkannya di antara bibirnya. Dia mengembalikan kotak rokok itu ke tanganku.
"Mana pemantiknya? Hidupkan rokok ini."
"Kau tak seharusnya merokok, Elisa." Dia melihat ke dalam mataku. Sejenak aku tersihir dengan tatapannya. Hal tersebut berlangsung lama hingga aku menyerah dan mengalihkan tatapanku ke arah lain.
"Baiklah ..." Aku merogoh pemantik dan menghidupkannya untuk rokok yang terselip di bibir Elisa. Dia yang fokus dengan api yang menyala dan aku yang fokus dengan wajahnya yang sedikit sendu.
Awalnya aku menganggap dia wanita yang kadang menenangkan pikirannya dengan merokok. Aku sedikit terkejut dengan permintaannya ini. Tapi ternyata aku salah. Tentu saja, karena selama ini aku memang tak pernah melihatnya merokok.
Setelah menyesap rokoknya, tiba-tiba dia terbatuk-batuk tak karuan. Dia membuang rokok itu sembarang. Aku membantunya dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Uhuuuk ... Uhuuuk ... Uhuuuk. Sial, paru-paruku seperti teracuni. Bagaimana bisa kau baik-baik saja saat menyesap ini?"
Aku memperhatikannya dalam diam. Yeah, Elisa kita sudah kembali seperti sedia kala. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya ini. Dia tidak bisa merokok, sedangkan tadi dia dengan percaya diri meminta rokok kepadaku.
"Mengapa kau tertawa! Ini tidak lucu."
"Kau lapar?" Aku memecahkan keheningan dengan pertanyaan. Dia akhirnya berhenti melihat ke arahku dan melihat sekitar.
"Yeah, aku sedikit lapar. Menangis menguras banyak tenagaku." Aku tersenyum dalam diam mendengar jawabannya.
"Kau tak memakan makananmu dari kemarin. Kau tahu aku membelinya menggunakan uangku yang berharga. Haruskah aku meminta Zach menggantinya?" Seketika dia kembali menatap ke arahku. Wajahnya yang cemberut membuatku semakin gemas dengannya.
"Kau sangat pelit! Aku bahkan bisa mengganti uang itu sebesar gajimu. Maka bawakanlah makanan murahanmu itu sekarang. Aku sangat lapar saat ini!" Gerutuannya membuatku terkekeh. Dia berubah dengan cepat dari kondisinya yang tadi.
"BaiklahBaiklah ... Kau yakin ingin memakannya di sini?"
"Mengapa tidak?"
Aku memperhatikan kondisinya saat ini. Ini adalah ruang terbuka dan sangat dingin. Sedangkan dia tidak mempedulikan pakaiannya yang cukup minim. Dia menggunakan blouse dan rok pendeknya. Bagaimana aku tahu dia tidak membeku setelah kutinggalkan beberapa menit?
Aku akhirnya melepaskan cout-ku dan kukenakan kepundaknya. Setidaknya dia tak menolak untuk menyelubungi tubuhnya dengan cout tersebut. Kuanggap itu keramahan pertama yang kuterima darinya.
"Tunggulah sebentar."
Aku langsung beranjak dari dudukku dan pergi ke dalam rumah sakit. Aku tak tahu mengapa aku harus melakukannya, seharusnya aku bisa menghubungi pengawal lain untuk membawakan makanan dan aku tak perlu repot-repot mengambilnya sendiri.
Aku menuju ruang rawat Tuan Amstrong di mana banyak makanan yang telah Elisa lupakan. Saat aku memasuki ruangan, Dokter Robinson sedang berbincang ringan dengan Tuan dan Nyonya Amstrong. Aku menundukkan kepalaku tanda menghormati mereka. Dokter Robinson yang melihatku seketika bertanya, "Leon, kau bersama Zach?"
"Tidak, Zach masih belum selesai dengan pekerjaannya. Tapi aku sudah menghubunginya jadi tak usah khawatir. Aku masih di sini hingga semuanya aman."
"Ah, syukurlah. Aku tak tahu lagi mengatasi ini jika media mengetahuinya."
Setelah mengatakannya Dokter Robinson melanjutkan pembicaraan dengan pasangan ini. Dari pembicaraannya, Dokter Robinson berusaha memberikan saran untuk kesehatan Tuan Amstrong. Aku membiarkan mereka fokus dalam ombrolan itu dan mengambil kantung yang berisi beberapa roti dan air mineral untuk Elisa.
__ADS_1
Saat aku ingin keluar tiba-tiba Dokter Robinson kembali bertanya, "Untak apa makanan itu kau bawa?" Aku menatap kantung di genggamanku.
"Elisa membutuhkan ini."
Tanpa sadar aku menyebutkan nama Elisa di depan mereka semua. Bukankah seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan Nona Amstrong? Sontak Dokter Robinson dan pasangan Amstrong menatap ke arahku. Kuyakin mereka akan banyak melontarkan pertanyaan kepadaku jika aku tak pergi saat ini juga.
"Aku harus cepat, dia menungguku." Dengan alasan itu aku segera keluar tanpa permisi. Aku tak ingin Tuan dan Nyonya Amstrong memarahiku yang lancing terhadap anaknya.
Dengan segera aku kembali ke tempat Elisa berada. Dia masih dalam posisi yang sama. Dia menatap lurus ke depan memperhatikan pasien-pasien lain yang tengah menikmati udara malam.
"Makanlah."
Aku meletakkan kantung makanan itu di hadapannya. Dia membuka kantung tersebut dan membuka kemasan roti. Dia makan sangat lahap, sepertinya dia sangat kelaparan. Dua roti telah dia habiskan. Baru saja dia memakan roti ketiganya dalam satu gigitan besar, tapi dia kemudian menghentikannya. Apa dia kekenyangan?
"Ini selai kacang ... Aku tak menyukainya."
Dia perlahan memasukkan kembali roti tersebut ke dalam kantong dan mencari roti lainnya yang tidak berisi selai kacang. Melihat roti tersebut tak disukainya, aku memutuskan untuk menghabiskannya. Lagi pula, aku juga sangat lapar. Elisa yang tengah memakan roti barunya, memperhatikanku yang tengah mengunyah roti selai kacang bekasnya.
"Apa?" Kami saling berpandangan sembari mengunyah roti masing-masing.
"Apa selain pelit, kau juga sangat tak ingin membuang makanan sampai sisaku saja kau makan."
Aku tekekeh dalam kegiatan mengunyahku. Bagaimana bisa dia menganggap candaanku itu dengan serius. Aku hanya bercanda untuk masalah uang tadi.
"Iyah. Kau tahu aku sangat membutuhkan uang dan kau dengan mudahnya membuang makanan ini."
Dia terdiam sejenak dan kembali mengunyah rotinya dengan perlahan. Sepertinya dia sangat merasa malu dengan perkataannya terhadap orang-orang yang membutuhkan uang sepertiku.
Setelah kejadian itu, kami tak melakukan pembicaraan lebih lanjut dan hanya makan dalam diam. Aku tak kan mengajaknya mengobrol tentang banyak hal yang malah nanti semakin membuatnya kembali bersedih. Saat semua roti sudah habis, aku mengajaknya untuk masuk kembali ke dalam karena udara semakin dingin.
"Kita harus masuk. Kau akan membeku jika di sini terus."
"Baiklah."
Dia sangat penurut untuk sekarang. Saat aku membantunya bangkit dari duduk, aku sangat risih dengan sepatu high heels-nya. Pandanganku bahkan sakit melihatnya berjalan dengan sepatu itu. Aku akhirnya berhenti berjalan dan memintanya melepaskan sepatu itu.
"Tidak, apa kau gila? Aku tak kan berjalan dengan kaki telanjang yanh disaksikan banyak orang."
"Kau pikir aku bodoh? Kau lihat sendiri kakimu lecet."
Aku memaksanya melepaskan sepatu itu dan memberikannya kembali untuk dia tenteng. Setelahnya, aku membalikkan punggungku dan jongkok di depannya.
"Cepatlah. Kau akan membiarkanku seperti ini dalam waktu lama? Kau akan sangat menjengkelkan jika tak segera naik ke punggungku karena semua orang sedang memperhatikan kita." Dia memperhatikan ke sekeliling yang memang ada beberapa orang yang memperhatikan kami.
Dia akhirnya naik kepunggungku dan aku menggendongnya menuju ruang rawat Tuan Amstrong. Dia menyembunyikan wajahnya di celuk leherku. Mungkin dia malu diperhatikan oleh banyak orang.
Ketika sudah berada di depan pintu kamar Tuan Amstrong, aku mencoba membukanya dengan satu tanganku. Aku begitu kaget karena Tuan dan Nyonya Amstrong masih belum tidur dan terdapat satu sosok pria yang tidak kukenal. Tuan dan Nyonya Amstrong yang asyik berbincang dengan pria tersebut mengalihkan pandangannya ke arah kami.
"Elisa?"
Pria tersebut berdiri dari duduknya dan nampak kaget dengan kedatangan kami. Aku perlahan menurunkan Elisa dari gendonganku. Namun, kejadian selanjutnya membuatku terkejut. Pria tersebut seketika memeluk Elisa yang ada di sampingku.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...