
Amstrong Company, City of London, UK - 10.31 pm.
"Kenapa tak pulang saja?" Zach seakan memelas saat bertanya kepadaku.
"Terlalu jauh, lagi pula aku memiliki segalanya di sini. Berhentilah seperti mereka, kau sudah terlalu banyak menaruh orangmu di dalam gedung ini untuk menemaniku."
"Kau melakukannya bukan karena sedang kesal dengan mereka, bukan?"
"Tidak. Kau lihat tumpukan dokumen di sana? Aku sibuk bekerja."
Aku melirik ke arah meja kerjaku yang sudah berantakan.
"Tapi ini terlalu berlebihan ... Mereka khawatir denganmu, Elisa."
Aku terdiam sesaat memikirkan kekhawatiran orang tuaku dan sesaat juga terlintas rencana perjodohan yang diinginkan ayahku.
"Kau mengetahui pria yang diinginkan ayahku?"
"Sudah kukatakan aku tak tahu. Aku tak kan ikut campur menyangkut itu semua. Mengapa kau tak bertanya sendiri?"
Aku memutar bola mataku mendengar saran yang diberikan Zach.
"Kau tahu aku tak kan pernah menolak keinginan ayahku. Kali ini saja, bisakah kau mencari tahunya diam-diam?"
Zach menghembuskan napas kasar sebelum menjawab, "Tak bisa, Elisa. Kau tahu itu sangat melanggar privasi. Ayahmu akan sangat kecewa dan tak kan percaya lagi kepadaku jika aku melakukannya."
Aku mengerutkan dahi mendengar penolakan Zach sebelum beranjak dari sofa.
"Sudahlah, aku ingin beristirahat. Katakan kepadanya aku baik-baik saja dan akhir pekan ini akan pulang untuk ikut makan malam dengan keluarga Bradley."
Zach juga sepertinya malas untuk belama-lama di gedung ini. Dia bangkit dari duduknya dan berkata, "Baiklah, kunci ruang istirahatmu. Jangan sekali-kali membawa Dereck masuk."
"Ya ... ya ... ya."
Sesaat setelah Zach meninggalkan gedung ini, aku mengirim pesan ke Dereck.
'Kau di mana? Zach sudah pergi. Cepatlah bawa bahan-bahannya jika kau ingin aku meraciknya. Aku sudah mengantuk.'
Tak ada balasan dari Dereck. Apa dia sedang menikmati tidur indahnya dengan para jalang? Aku memutuskan menelponnya dan sesaat aku menyadari dering handphone Dereck terdengar. Aku mencari sumber tersebut dan benar saja, ternyata Dereck melupakan handphone-nya.
Bodoh.
Aku mengambil handphone tersebut yang ternyata terselip di tepian sofa. Bajingan tersebut bahkan tak memberikan password pada handphone-nya. Baru saja aku ingin meletakkan handphone tersebut di atas meja, tiba-tiba ada pesan masuk.
Leon?
Hanya tulisan, 'Ya.'
Aku membuka obrolan apa yang sebelumnya mereka lakukan.
Dereck, 'Clara. Dia kembali, dia ingin bertemu denganmu juga di tempat biasa akhir pekan ini. Kau ikut?'
"Clara?"
Aku membuka pesan lain yang berisi percakapan Dereck dan wanita itu.
Clara, 'Mari akhir pekan nanti bertemu di club biasa. Hanya reuni biasa merayakan pertemuan kita kembali. Kuharap Leon juga hadir.'
Dereck, 'Aku akan menanyakannya.'
Aku masih terdiam kaku setelah membaca pesan tersebut. Clara. Aku telah mengatahui wanita seperti apa yang sebelumnya pernah menjadi masa lalu Leon.
Mereka bukan sepasang kekasih, aku tak tahu pasti karena Dereck mengatakan Leon tak pernah merasa mencintai sosok wanita melebihi apa yang dijalani saat ini bersamaku.
Dereck bercerita bahwa Clara adalah mantan agen yang pernah bekerja dengan Zach. Namun, untuk alasan yang tak diketahui banyak orang, dia memilih berhenti. Dereck berkata, hanya satu alasannya, dia sudah lelah karena perasaannya tak pernah terbalaskan oleh Leon.
Lalu apa yang mereka jalani selama itu hingga membuatku sangat marah? Kalian pasti mengingat suatu waktu ketika Leon menyeretku dengan kasar saat di hotel Zach. Saat itu dia seakan memperlakukanku seperti jalang dan aku sangat benci dia yang sangat kasar.
Dan itulah yang selama ini mereka jalani. Leon merasa tak pernah terikat dengan wanita itu, tapi wanita itu malah sebaliknya. Aku tak bisa membayangkan sejauh mana mereka melakukannya, tapi itu sungguh sangat menyesakkan.
Aku selalu berpikir, bagaimana sikap Dereck yang selalu mengatakan Leon seorang bajingan yang kasar. Nyatanya, dia memang seperti itu. Sosoknya yang bahkan terlihat sangat kasar membuat banyak orang ketakutan. Dia juga melakukan hal yang sama ketika dia memperlakukan seorang wanita di tempat tidurnya.
Aku menggenggam erat handphone Dereck sebelum meletakkannya dengan kasar ke atas meja. Entah mengapa saat ini hatiku sangat sakit.
Baru saja tadi pagi aku kembali menanyakan kepada Leon tentang kepulangannya. Dia hanya menjawab belum tahu pasti dan hingga sekarang belum mengirimkan pesan apa pun kepadaku.
Aku mencoba untuk menahan rasa sakit ini. aku percaya apa yang dikatakan Dereck adalah benar. Leon menganggapku berbeda, Leon selalu menahan dirinya untukku.
Dia memberikanku kenyamanan sebagai seorang wanita, walaupun dia pernah berlaku kasar bahkan hampir membuatku hancur. Dia berusaha untuk tak mengulanginya dan aku juga berusaha untuk melupakan hal itu.
Tapi sampai kapan? Kepercayaanku menciut hingga nama wanita itu kembali terbayangkan. Apa Leon masih menginginkannya?
Berhubungan intim tentu saja bukan kata yang jarang untuknya, tapi aku sangat sadar bahkan kami tak pernah benar-benar melakukannya. Membayangkan hal tersebut di kepalaku, membuatku merutuki begitu banyak wanita yang sudah pernah tidur bersamanya.
Cklek ...
Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka. Senyum sumringah Dereck muncul begitu saja. Dia berjalan cepat ke arahku sembari mengangkat kantong yang dia bawa.
"Hey, kau akan kaget dengan apa yang kubawa."
Aku mencoba menutupi suasana hatiku yang hancur.
"Yeah, terserahlah. Apa pun asal jangan membawa obat-obatan terlarang ke sini."
"Tentu saja tidak. Aku mendapatkan barang baru dari club Zach. Ini sangat mahal, untuk mendapatkannya aku harus menyogok pegawai wanita Zach dengan sedikit peregangan otot."
"Ah, sudah kukira kau pasti akan pulang dengan mood yang sangat baik."
Aku dan Dereck berkutat di meja pembuat minuman di belakang ruang kerjaku. Di sini memang khusus untuk membuat minuman dan tempat bersantai. Di seberangnya terdapat ruang kamar berukuran sedang yang sering kugunakan tidur jika aku enggan untuk pulang.
__ADS_1
Aku membuka kantong yang dibawa Dereck. Ah, Dereck membawa barang yang cukup aneh. Bubuk apa ini?
"Kau yakin ini bukan obat terlarang?"
"Bukan. Zach tak mungkin menjual ini di club-nya. Aku tak bertanya lebih lanjut, tapi kudengar ini bubuk minuman termodifikasi yang rasanya akan seperti vodka jika diracik dengan beer ."
"Kau bercanda?! Tenggorokanmu akan hancur jika ini tidak berhasil."
"Makanya aku membawa ini kepadamu."
Dia kembali memunculkan senyum sumringahnya yang menjijikkan. Aku menghembuskan napas kasar sebelum menyimpan kembali barang yang Dereck bawa.
"Baiklah, aku akan meraciknya nanti. Aku harus mencoba untuk mengencerkannya dulu. Mungkin kali ini kau bisa mencicipi wine-ku. Kau tak masalah dengan ini?"
Aku memberikan satu botol wine mahalku kepada Dereck dan meninggalkannya begitu saja. Aku sungguh sedang tak berselera untuk minum wine bersamanya. Yang kuinginkan adalah membaringkan diri di kasurku bersamaan dengan rasa kecewa yang masih menggerayangiku.
...***...
Weekend ...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 09.12 pm.
Makan malam sebenarnya sudah selesai, tapi seperti biasa, para orang tua selalu mengobrol tentang hal yang tak penting. Lihat saja, Kyle bahkan sangat bosan sembari menggerak-gerakkan gelas yang berisi wine.
'Hey, Zach bertanya kepadaku kau di mana.' Aku mengirim pesan pendek kepada Dereck.
Tak lama balasan dari Dereck muncul, 'Memangnya kenapa? Bukankah aku bebas malam ini? Ayolah, aku sudah membuat janji dengan orang lain. Katakan saja padanya aku di The Bullets Club. Aku akan mematikan handphone-ku, jadi jangan ganggu aku.'
Aku tersenyum karena beruntung memiliki Dereck yang luar biasa bodohnya. Apa dia tak curiga? Aku mengisi kembali gelas wine-ku sembari mengetik pesan untuk seseorang yang tengah bosan di depan sana.
'Hey, Apa kau bosan? Aku muak, kau ingin keluar?'
Kyle melirik ke arahku dan mengangguk.
"Bu, apa aku dan Kyle bisa meninggalkan meja makan ini? Ada sesuatu yang harus kami bicarakan."
"Tentu saja, Sayang."
Bagus, berjalan mulus. Aku segera mengambil gelas wine-ku dan sedikit memberikan isyarat kepada Kyle. Dia mengikutiku ke bagian dalam mension menuju area kolam renang. Aku segera menarik tangan Kyle menuju sisi gelap.
"Hey, ada apa ini?!"
"Diamlah, Kyle. Aku ingin meminta tolong kepadamu. Bantu aku keluar mension diam-diam. Aku ingin menangkap basah bajingan yang berbohong kepadaku. Dia di The Bullets Club, apa kau mengetahui tempat itu?"
Kyle mengamatiku dari bawah hingga atas.
"Yeah, aku tahu ... Aku baru menyadari kau kali ini sangat berbeda."
"Benarkah, apa aku malam ini terlalu sexy?"
"Hmm, kurasa."
Sepatu yang kugunakan juga adalah high heels berwarna emas. Rambut panjangku sengaja kuikat ekor kuda dan make up yang kugunakan juga terlihat mencolok. Aku mengerahkan banyak tenaga untuk menjadi seperti ini.
"Jadi apa kau akan membantuku?"
"Maksudmu?"
"Ayolah, kau hanya akan mengantarkanku ke sana. Aku pulang dengan Dereck karena dia juga ada di sana. Aku janji tak kan lama. Katakan kepada orang tuaku nanti saat keluar kalau aku lelah dan ingin tidur. Aku nanti akan menyelinap ke dalam mobilmu."
"Aku tak yakin kau akan baik-baik saja jika kutinggalkan di sana."
"Ayolah, Dereck ada di sana, jadi tak masalah."
Dia menatapku lama sebelum akhirnya menyerah dan membalikkan badannya meninggalkanku. Dia berjalan sembari mengatakan, "Pergilah ke mobilku."
Aku tersenyum puas dan segera pergi keluar mension melalui jalan keluar lainnya. Aku diam-diam masuk ke dalam mobil Kyle tanpa diketahui semua orang. Saat keluar dari mension saja, penjaga gerbang mension tak tahu aku bersembunyi di bangku belakang.
...***...
A few minutes later ...
The Bullets Club, Newcastle - 10.07 pm.
"Kau mengetahui club ini?"
"Tentu saja. Club ini biasanya didatangi kaum elit karena jarang sekali terdapat masalah."
Aku melirik lama ke arah Kyle, sepertinya dia juga sering ke sana.
Aku mengecek riasanku melalui kaca spion mobil. Sudah sempurna. Baru saja ingin keluar, namun aku kembali melirik Kyle.
"Hey, mana parfum-mu?"
Dia menatap jengah kepadaku dan memberikan parfum-nya setelah sibuk mengobrak-abrik box penyimpanan kecil di mobilnya. Aku menyompratkan parfum tersebut ke daerah bagian leher dan tengkukku sebelum beranjak keluar mobil.
Aku akan melihat seberapa bisa Leon menahan amarahnya dengan apa yang kulakukan malam ini. Balasan untuk kebohonganmu, Leon.
Aku memasuki club yang sebenarnya tidak terlalu besar. Sedikit terkejut karena sebelum masuk ke dalam sini saja aku sudah harus membayar. Untung saja aku tak meninggalkan clutch-ku.
Aku memandang ke segala penjuru dan menemukan orang-orang yang kucari tersebut tepat di sudut ruangan mendekati meja bar. Dari sini aku bisa melihat punggung Leon.
Wanita itu persis seperti yang Dereck gambarkan. Dia memiliki wajah dingin yang hampir sama dengan Leon, terlihat sama-sama angkuh.
Awalnya, aku mencoba bersabar duduk dalam diam mengamati mereka. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama ketika aku menemukan pemandangan yang tak kusuka. Wanita itu beberapa kali menjalin kontak mata dengan Leon.
Kesabaranku telah habis, Leon.
Aku perlahan berjalan mendekati mereka. Dereck terbelalak melihatku tepat di belakang Leon. Tindakannya ternyata diikuti oleh dua orang tersebut yang mengikuti arah pandangnya.
__ADS_1
Sepertinya tak ada yang suka dengan kehadiranku. Sebelum duduk dan menyapa mereka, aku terlebih dahulu mengecup pipi Dereck.
"Apa aku menggangu?"
Tak ada yang menjawab. Aku melihat Leon yang mengepalkan tangannya di atas meja menatap Dereck. Dan kemudian beralih menatap tajam ke arahku.
Ada apa? Di sini aku yang terkhianati. Kenapa juga dia yang malah terlihat emosi. Sejenak aku tersenyum kepada wanita di depanku yang juga terlihat tidak senang.
"Aku merindukan pengawal pribadiku. Dan dari tadi dia tak membalas pesanku, jadi aku memutuskan untuk menyusulnya."
Oh, Dereck yang malang. Tenang saja, aku akan menghadiahkanmu sesuatu nanti.
"Kau berjanji tak kan menggangguku, Elisa." Akhirnya Dereck membuka suaranya.
"Hey, ayolah, apa aku terlihat mengganggu? Memangnya pertemuan penting apa yang kau hadiri sehingga mengabaikan pesanku. Coba kita lihat, oh tidak! Bukankah ini kekasihku? Bagaimana bisa kau tak mengajakku pergi ke pertemuan kecil kalian."
Aku mengelus wajah Leon yang sebenarnya agak sedikit menyeramkan. Dia mengeluarkan aura tidak menyenangkan. Namun, aku sedikit terhibur ketika melihat keterkejutan wanita itu. Dua orang mengeluarkan aura ingin membunuh di sini.
Leon dan Clara.
Perlahan Leon memegang tanganku dan menurunkannya ke atas meja. Dia mencengkramnya sangat kuat sehingga aku harus menahan sakit karenanya. Dereck dan wanita yang bernama Clara menatap cengkraman tangan Leon di tanganku tanpa berkedip.
Aku mengabaikannya, "Kenapa kalian diam saja? Aku tak kan mengganggu, aku hanya akan mencoba minuman di sini. Jangan tegang seperti itu."
"Elisa, ayo pergi."
Cengkeraman tangan Leon mengencang. Dia berdiri dari duduknya, namun aku tak ingin beranjak.
"Sudah kukatakan aku tak kan mengganggu."
"Aku sudah selesai dengan urusanku."
"Dan aku sedang tidak berurusan denganmu."
Aku membalas tatapan tajam Leon. Aku tak berniat menjadi penurut saat ini, aku masih sangat marah dan kecewa. Dia kembali duduk, namun tak melepaskan cengkeraman tangannya.
"Tidakkah kau merasa harus melepaskan cengkramanmu. Aku bukan jalang yang harus kau perlakukan kasar. Aku ke sini untuk bertemu dengan Dereck, bukan denganmu."
Dereck dan Clara memilih diam tak ingin ikut campur.
Perlahan Leon melepaskan cengkeramannya dan benar saja, bekas cengkeramannya sangat terlihat di pergelangan tanganku. Aku merasakan Dereck meneguk liurnya sendiri menatap tanganku. Yeah, ini sakit.
Tapi, hatiku jauh lebih sakit saat melihat wanita di depanku masih terus memandang Leon. Leon tentu tak menyadari hal tersebut. Bagaimana bisa dia bertemu dengan wanita ini di belakangku.
"Aku tak ingat pernah mengundangmu?"
Well, akhirnya wanita ini berbicara. Aku tersenyum kepadanya sebelum mengatakan, "Sudah kukatakan aku ke sini untuk menjemput pengawalku. Apa itu sangat menggangu kalian?"
Aku melirik ke arah Dereck yang mengangkat ke dua bahunya, sedangkan Leon tak pernah ingin menjawabku.
"Baiklah, aku akan pergi setelah memesan minuman."
Aku mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Aku akan meracik minumanku sendiri. Aku menyebutkan pesananku dan pelayan tersebut tak masalah.
"Jadi mengapa kalian hanya diam? Apa aku juga harus menghabiskan minumanku di kursi lain agar kalian tenang?"
"Tidak." Leon menjawabnya dengan cepat.
"Apa hubunganmu dengan wanita ini?"
Pertanyaan wanita itu yang ditujukan untuk Leon. Mengapa wanita ini begitu penasaran. Leon tak menjawab pertanyaannya, dia masih terus menatapku tanpa berpaling dan itu jauh membuatku sakit. Aku mencengkram gaunku dengan sangat keras. Aku sudah tak peduli.
"Bukanlah kau harus menjelaskan sesuatu kepadanya, Leon?" Aku mencoba memancingnya.
"Tidak, aku tak perlu menjelaskan apa pun."
Pesananku datang dengan cepat. Dereck dari tadi sudah berkeringat dingin. Aku mengamatinya yang sedang kaku sejak aku bergabung di meja ini. Terus terang, dari tadi aku selalu membawa badanku untuk menghadap Dereck. Aku tak ingin menatap dua orang lainnya yang sangat menggangguku.
"Baiklah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat agar kau bisa menyelesaikan rapat kecilmu. Namun, kau harus puas karena aku tak ingin Dereck ikut. Aku membutuhkannya untuk pulang."
Aku memenuhi ¾ shot glass dengan Amaretto dan sisanya dengan Bacardi 151. Aku menaruh gelas kecil itu ke dalam rocks glass dan mengisinya dengan beer hingga mencapai ujung shot glass. Aku menghidupkan api dengan pemantik kecil milik Leon dan permukaan minuman tersebut terbakar. Warna apinya sangat biru.
Aku tahu mereka sedang memperhatikanku, tapi saat ini pikiranku sedang berkelana dengan rasa sakit. Aku tak tahu apakah ini cara Leon memperlakukanku sebagai wanitanya.
Dia tak tahu, sedikit saja melukai kepercayaanku, maka itu akan sangat menyakitiku. Aku ingin sekali menangis meraung-raung di depannya saat ini. Tapi aku tak bisa. Itu terlihat sangat rendahan bagi wanita sepertiku.
"Leon ..." Aku menyebut namanya sesaat.
Aku meniup api biru itu hingga padam. Aku menggerakkan jari telunjukku memutari tepian rocks glass. Aku melakukannya berulang kali hingga akhirnya aku meminum isinya. Aku menghabiskan minuman tersebut hingga tak tersisa dan menghempaskan gelas itu ke meja dengan sangat kasar.
Aku berdiri dari dudukku dan menatap Dereck. Dia mengerti dan segera beranjak dari duduknya untuk keluar club.
Sedangkan aku menatap Leon yang tengah menatapku balik, aku menyondongkan badanku dan membisikkan sesuatu kepadanya yang membuatnya terbelalak dan terdiam kaku.
Setelahnya, aku segera berjalan meninggalkannya keluar club ini dengan rasa sakit hatiku.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...•••...
__ADS_1