The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 33. It's Like De Javu


__ADS_3

Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 11.15 pm.


"Apa kau baik-baik saja? Aku tidak memaksamu untuk minum. Kau terlalu bersemangat, Princess."


"Tidak... tidak... tidak. Kau meremehkanku, Leon. Pikiranku masih jernih. Kau ingin masuk sebentar?"


Walaupun kepalaku sebenarnya agak nyeri, tapi ini sudah sering terjadi kalau aku meminum wine terlalu sering.


"Kurasa tidak. Kau butuh istirahat setelah makan malam kita yang menyenangkan ini, dan jangan lupa kau minum terlalu banyak."


"Baiklah, aku akan masuk. Berjanjilah jangan kemana-mana lagi setelah ini. Aku tidak ingin mendapatimu berkeliaran bersama wanita lain."


"Hahahaha! Tentu saja aku tak kan melakukan itu, Princess." Leon mengecup bibirku sebelum mengakhiri pertemuan kami.


Saat masuk ke dalam mension, aku masih merasakan kebahagiaan karena acara makan malam yang romantis bersama Leon. Beberapa malam ini aku selalu melalui makan malam bersama Leon yang malah membuat Ibu dan Ayahku mulai jengkel. Tapi aku sangat menikmati hari-hariku bersama Leon.


Saat aku masuk ke dalam kamarku, aku langsung membaringkan diri dengan malas ke kasur. Kantuk perlahan menghampiriku karena lama menatap langit-langit kamar. Namun entah datang dari mana kesiagaanku terbangun dan begitu pun tubuhku.


"Tunggu dulu, tanggal berapa ini?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Segera aku mengambil handphone-ku dan mengecek tanggal hari ini. Mataku terbelalak saat melihat dengan jelas angka-angka itu.


June, 15th.


"Apa aku gila?! Aku melupakannya." Lagi, aku bertanya pada diri sendiri.


Jam menunjukkan akan masuk pertengahan malam dan ini sudah sangat terlambat. Aku akhirnya menyelinap keluar kamar, beberapa kali berpapasan dengan pelayan dan bodyguard-ku. Aku hanya berdalih ingin menghirup udara segar karena terlalu banyak minum.


Aku menghampiri mobil yang terparkir di bagian samping mension. Baru saja aku masuk ke dalamnya, tiba-tiba seorang bodyguard masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Aku berbisik kepadanya yang sepertinya belum sadar aku di bangku penumpang.


"Hey, kau ingin kemana?"


Dia yang baru tersadar akhirnya terkejut dan sontak memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu.


"Nona! Apa yang Anda lakukan di sini?"


"Shuuuuut! Diamlah, jangan berisik."


Dia yang masih terkejut mengusap dadanya, sepertinya dia tak percaya aku di sampingnya.


"Nona, saya sangat kaget. Anda tiba-tiba... ehem maafkan saya, Nona. Jadi apa yang Anda butuhkan?" Dia mencoba bersikap normal dan melupakan keterkejutannya tadi.


"Kau akan keluar? Aku butuh kau mengantarkanku ke suatu tempat tapi kumohon jangan mengatakannya kepada siapa pun. Aku tak ingin ketahuan Ayah dan Ibu."


"Nona, tapi-"


"Aku tak kan lama, aku hanya tak ingin membuat kegaduhan karena ini sudah larut. Kumohon."


Aku sedikit memelas, yang seharusnya tak perlu kulakukan. Aku cukup memerintahnya dan sedikit memaksa saja, mungkin dia akan menuruti kemauanku.


"Baiklah, Nona. Maaf sebelumnya, apa Anda bisa pindah ke kursi penumpang belakang agar tak ada yang curiga."


Aku tak menjawab dan langsung pindah ke belakang tanpa ingin keluar dari mobil. Aku melihat bodyguard itu terlihat sedikit khawatir dari raut wajahnya. Saat mobil berjalan di pekarangan mension, aku menundukkan tubuhku agar tak ada yang melihat.


Sebelum keluar mension, kami berhenti beberapa kali karena biasanya memang seperti itu, untuk kepentingan keamanan mension jadi harus tahu siapa yang masuk dan keluar. Untungnya, karena yang keluar adalah mobil bodyguard biasa sehingga yang mereka lakukan adalah bertegur sapa tanpa adanya pemeriksaan.


Saat kami keluar dari pekarangan mension, aku akhirnya bisa tenang. Untuk mengurangi kecanggungan, aku sedikit memberikan pertanyaan kepada bodyguard ini, "Jadi dengan siapa aku berbicara?"


Dia yang terkejut karena pertanyaanku akhirnya berdehem dan menjawab, "Ehem, nama saya Logan."


Aku hanya mengangguk-angguk yang sebenarnya tidak mungkin dia lihat, "Kalian berganti shift semalam ini?"

__ADS_1


"Aa, ya Nona. Kami melakukannya setiap 12 jam sekali. Dan... Ehem, saya harus membawa Anda kemana, Nona?"


"Jalan saja hingga ke Pengisian Bahan Bakar, setelah keluar dari kawasan ini aku akan memberitahumu." Aku hanya malas memberitahunya, mungkin nanti aku akan pergi sendiri. Aku ingin memberikan kejutan sendiri kepada Leon tanpa diketahui siapa pun. Maafkan aku Logan harus meninggalkanmu.


Beberapa menit berlalu hingga kami akhirnya sampai ke Pengisian Bahan Bakar dan itu bertepatan dengan Logan ingin mengisi bahan bakar mobil. Hal itu mempermudahku untuk pergi sendiri dengan taxi sembari dia menunggu bahan bakar mobilnya penuh.


Ya ini pertama kali kulakukan, cukup menegangkan. Hal ini malah membuatku tersenyum sendiri karena begitu konyol. Apa Leon akan terkejut? Aku terkekeh sendiri di bangku penumpang sehingga membuat sopir taxi ini agak heran.


Aku juga tak lupa mematikan handphone-ku agar Leon semakin penasaran. Aku sempat mengiriminya foto saat tadi keluar dari kawasan mension. Aku akan memberikan kejutan untuknya, sayangnya aku tak cukup waktu untuk menyiapkan hadiah untuknya.


Dasar Elisa bodoh! Bagaimana kau tak mengingat hari ini? Lagi pula Leon sudah mengajakku makan malam beberapa malam ini sehingga aku tak ingat sama sekali kalau malam ini sangatlah penting baginya.


Kekecewaanku selesai saat mobil taxi berhasil mencapai gerbang kediaman Zach. Kami ditanyai oleh tim keamanan istana Zach yang sangat menyeramkan. Awalnya dia membentak sopir taxi ini, namun hal itu berhenti ketika melihatku yang memotong perdebatan mereka dengan menyapa.


Tim keamanan Zach cukup terkejut. Dia ingin berbicara kepada temannya yang di dalam kantor kecilnya melalui HT, namun aku segera mencegahnya.


"Bisakah kau tak menghubungi siapa pun. Aku akan memberikan kejutan kepada Leon."


"Tapi Nona, Tuan Zachary harus mengetahui jika Anda mengunjunginya."


"Tidak... tidak... tidak... Aku hanya akan bertemu Leon sebentar, aku tidak akan mengganggu Zach, maka izinkan aku masuk segera."


Dia berpikir sebentar, portal di depan kami belum berniat dibukanya sama sekali. Sesaat kemudian dia berkata, "Aku masih belum bisa memastikan tuan sopir ini tidak akan mengganggu keamanan istana ini, Nona. Aku akan masuk bersama kalian, mohon tunggu sebentar."


Aku hanya menghela napas tanda lega, sepertinya dia sedang memberitahu temannya di dalam sana untuk tutup mulut dengan kedatanganku. Saat dia datang kembali ke mobil ini, dia menyuruh sopir taxi itu pindah ke bangku penumpang. Tadinya kukira hanya dia, ternyata temannya juga ikut dan duduk di sampingku.


Wow ini jauh lebih ketat dari pada di mension-ku.


Aku hanya diam tak bergerak, aku tak ingin membuat orang-orang Zach marah. Mobil ini melaju perlahan dan beberapa kali melewati beberapa pos penjagaan. Terlihat normal dan lancar.


Akhirnya kami sampai tepat di depan tangga mension utama istana ini. Pintu utamanya yang besar dan tinggi di atas sana masih tertutup rapat. Tim keamanan Zach yang mengantarku turun dan mempersilahkanku juga untuk turun dan masuk. Setelah selesai membayar lebih jasa taxi tadi, aku meminta maaf kepada dua orang Zach yang telah membantuku masuk dengan aman ke dalam sini.


Aku kemudian masuk ke dalam mension ini. Baru saja aku membuka pintu yang seharusnya biasanya ada bodyguard Zach yang menyeramkan menghadang. Namun kali ini tak ada siapa pun, saat aku menutup pintu, suara yang kukenal menggelegar hingga telingaku. Jantungku rasanya ingin copot saking kagetnya.


Suara Leon.


Suasana yang suram muncul dari ruang ini dimana aku melihat ada Leon dan Zach yang terlihat sangat marah dengan kehadiranku. Aku bahkan tak berani melangkah mendekati mereka. Namun diamku malah membuat Leon kesal, hal yang serupa pernah terjadi dulu saat Leon marah adalah menyeret dan meneriakiku. Tapi kali ini bedanya aku sangat sadar apa yang kulakukan, namun aku tak menyangka akan membuat mereka marah.


Aku tak berpikir panjang dengan kegaduhan yang kubuat. Hanya satu yang terpikir di otakku sebelum melakukan ini, aku melupakan hari ini harusnya menjadi hari yang indah untuk Leon. Namun aku mengecewakannya dan malah membuat kegaduhan. Aku bahkan tak berani untuk membela diri, yang bisa kulakukan hanya menangis dan meratapi kebodohanku.


...***...


Parker’s Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 08.17 am.


"Elisa... Elisa... Hey, kau baik-baik saja?"


Samar-samar aku mendengar suara ringan seperti bisikan, tubuhku bahkan serasa dipaksa untuk sadar dari tidurku dengan sedikit merasakan lenganku yang digoyangkan.


Perlahan aku mencoba membuka mata dan menjawab dengan malas, "Hmm, ya."


Saat aku membuka mata, di hadapanku sudah terpampang wajah Leon yang sedikit panik, kurasa. Saat pandangan kami bertemu, dia langsung memelukku.


"Ah, syukurlah. Kukira kau tak kan bangun." Dia berhenti memelukku dan kembali mengangkat wajahnya, "Kau tak bangun-bangun, kukira kau pingsan."


Aku tersenyum mendengar alasannya hingga kembali berucap, "Ya, maafkan aku. Kukira aku tidur nyenyak."


Leon mengernyitkan dahinya, "Elisa, kau tak harus meminta maaf untuk itu."


Aku tak menjawab apa pun setelahnya. Namun kami masuk dalam kecanggungan suasana. Saat otakku kembali berkelana ke memori semalam, rasanya aku tak pantas untuk merasa bahagia di pagi hari ini dengan adanya Leon di sampingku.

__ADS_1


"Elisa, mengapa kau murung?"


Mendengar pertanyaan Leon, aku memutuskan untuk bangkit dari tidurku dan mendudukkan diri. Aku memeluk Leon dengan erat dan berkata, "Leon, maafkan aku atas keributan semalam. Sungguh aku tak bermasuksud membuat semua orang panik, aku hanya ingin-"


"Sudahlah, itu sudah tidak penting, Elisa." Dia mengusap punggungku dengan lembut dan melanjutkan, "Aku tak pernah merayakannya, Elisa. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali bisa merayakannya. Setiap menghabis waktu bersamamu saja itu sudah sangat istimewa, Elisa."


Mendengar apa yang dikatakan Leon, malah membuatku merutuki diri sendiri. Perlahan isakanku tak tertahan, perasaanku bercampur aduk. Aku melihat sisi itu dari Leon. Di balik sikapnya yang temperamen dan kasar, dia tetaplah seorang pria yang mencintaiku apa adanya. Pria yang bahkan lebih mementingkan diriku dari pada dirinya.


Mendengar isakanku, Leon segera berhenti memelukku dan segera menatap wajahku yang sudah berlinang air mata. "Elisa, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis, ya ampun maafkan aku?" Leon mengusap air mataku dengan lembut.


Aku sangat malu mengakui perasaanku yang tak tahu diri ini. Setiap kejadian yang terjadi dengan Leon yang menguras emosiku malah membuatku semakin mencintainya. Perasaan itu malah semakin bertambah besar hingga aku tak ingin mempertanyakannya.


Lihatlah ini, apa yang dia lakukan. Dia meminta maaf dengan apa yang terjadi padaku, dengan tangisan ini yang bahkan dia sendiri tak tahu apa penyebabnya.


Dengan tersedu-sedu aku berkata, "Kau... tak tahu... apa salahmu... Kenapa kau... minta maaf?"


Leon masih terus mengusap air mataku yang bahkan tak mau berhenti. "Aku tak ingin kau menangis lagi, Elisa. Cukup sepanjang malam kemarin saja kau menangis dan itu juga membuatku sedih."


Leon mengecup bibirku cepat dan menempelkan dahiku ke dahinya. Lengannya yang lebar merangkul tubuhku yang perlahan tenang. Kata-kata Leon pagi ini sangat membuatku tersentuh dan sekaligus membuatku sangat takut. Aku takut kehilangan Leon suatu hari nanti.


Apakah ini yang Leon rasakan terhadapku?


Apa ini yang membuatnya begitu frustasi jika tidak mengetahui keadaanku?


Apa ini yang membuat Leon hilang kendali jika berkaitan denganku?


Ya, dan aku juga merasakan ketakutan yang sama.


Saat ketenangan menguasai tubuhku, aku memberanikan diri menatap wajah Leon. Aku mengusap sisi wajahnya. Kekhawatiran masih menyelimutinya, kutahu itu dari raut wajahnya.


Aku mengecup bibir Leon sebelum berkata, "Leon, aku begitu mencintaimu."


Setelahnya aku mencium bibir Leon kembali dan itu kulakukan dengan sangat sadar. Aku sangat tidak ingin membuang momen indah bersamanya. Dan kurasa dia pun juga tak ingin kehilangan momen yang sama.


Leon menyambut ciumanku, dia merangkul dan merapatkan tubuhnya. Aku merasakan tangan Leon meraih tengkukku dan dia memperdalam ciuman kami. Ciuman mesra yang tak mungkin bisa kulupakan.


Ciuman yang sudah kudapatkan sejak pertama kali dia melakukannya dengan paksaan. Ciuman yang sudah menjadi candu walaupun berawal dari penyesalanku. Ciuman yang akan terus kuingat walaupun umpatan yang kupikirkan saat dia pertama melakukannya. Dan ciuman yang mengairahkan saat kami saling membutuhkan.


Aku merasakan Leon yang semakin serakah, dan aku tak masalah dengan itu. Kami saling menikmati ciuman ini hingga rasanya kepalaku pening. Lidah Leon menjelajahi apa yang bisa dia lakukan saat kami masih bertautan. Aku bahkan tak bisa menahan erangan yang tidak tahu malu tergoda karena keahlian Leon.


Namun hal itu tak berlangsung lama saat kami sama-sama mendengar ketukan pintu yang sangat kencang. Kurasa itu bukan lagi ketukan, tapi pukulan.


Saat kami menghentikan ciuman ini, kami masih saling menatap hingga akhirnya Leon memutuskan kontak mata kami. Dia beralih ke sumber suara dan hal yang sama juga kulakukan. Kami melihat di ujung sana ada Zach. Ya dia sepertinya memukul pintu ini dengan tangannya, wajahnya yang kesal tak bisa dia sembunyikan.


"Apa kalian tahu ini seperti de javu? Jangan membuatku kesal di pagi ini dengan melihat apa yang kalian lakukan. Cepatlah turun untuk sarapan, ada Ayah dan Ibumu menunggu di bawah."


Setelah mengatakan apa yang dia inginkan, Zach segera berlalu tanpa menutup pintu. Kami begitu terhanyut dalam suasana bahkan tak sadar pintu itu telah dibuka. Dan kuyakin Zach sengaja memukul pintu itu dengan kencang begitu dia telah melihat apa yang kami lakukan.


Oh, ya ampun. Benar kata Zach, ini seperti de javu. Pertama kali Leon menciumku juga tepat saat Zach memergoki kami di kamar ini.


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2