The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 17. I'd Love to Hold You Close


__ADS_3

Penthouse Greenwich Avenue, Greenwich (London Raya), UK – 08.48 am.


"Ayahnya? Ayahnya sudah ...  mati."


Oh, tidak. 


Aku membuat banyak kesalahan dengan segala pemikiran konyolku. Pertama, tentang status wanita di sampingku dan Edward yang telah membuatku jengkel dari semalam, dan sekarang aku menanyakan tentang luka lama mereka.


Aku memandang ke arah Edward yang terus bermain dengan layar tv. Pantas saja Edward begitu mudah untuk dicintai banyak orang. Dia anak yang luar biasa.


"Tapi, itu bukanlah masalah." 


Aku kembali memandang wanita di sampingku. Dia berkata dengan sangat tenang sembari menatap Edward yang masih asyik dengan dunianya sendiri.


"Kami bahagia tanpanya. Edward tak kan kekurangan kasih sayang sedikit pun."


Ada nada kepahitan dalam ucapannya. Dia menyembunyikannya dengan sangat baik. Di ujung sana aku melihat Leon mengerutkan dahinya. Dia juga menyadari apa yang tengah dirasakan oleh wanita yang bernama Luxy ini.


"Jadi, Nona ... ada lagi yang ingin kau tanyakan? Aku tahu kau begitu sangat menyukai anakku. Tidak ... dia bahkan lebih menyukaimu daripada ibunya sendiri." 


Dia berhasil mengalih topik menyedihkan itu. Okay, sebaiknya aku tak membahas hal itu lagi.


"Well, sepertinya itu memang benar. Emmm, kalian tinggal di sini hanya berdua? Maksudku bukankah sebelumnya Leon memiliki pekerjaan yang membuatnya tak bisa berlama-lama dengan kalian?"


Aku sedikit melirik Leon, dia kembali memandangiku, tapi kali ini dia memberikan senyuman mengejeknya. Apa aku nampak begitu jelas penasaran dengan kehidupannya? Ah, terserahlah. Kuyakin aku tak kan menemukan jawabannya dari Leon.


"Tidak. Kami tak tinggal di sini. Aku dan Edward hanya berlibur saja, dan sialnya kami hanya bisa bertemu dengan Leon seminggu ini. Sebentar lagi kami akan pulang ke Jerman. Aku memiliki pekerjaan di sana."


"Aaa, seperti itu. Aku sepertinya akan merindukan Edward meski kami hanya baru dekat tadi pagi."


"Kau bisa mengunjungi kami jika kau ingin."


"Benarkah?" 


Kali ini Luxy yang melirik ke arah Leon dan aku mengikuti arah pandangannya. Leon terlihat malas mengeluarkan pendapatnya.


"Kau dari tadi berbicara tentang kami. Bisakah aku bertanya tentangmu? Jadi sampai berapa lama wanita yang telah bertunangan ini akan berada di sini?"


"Luxy!"


Akhirnya Leon bersuara. Kurasa wanita ini memang selalu mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. Aku juga terkejut dia menanyakan hal itu. Aku melirik ke Leon dan tak ada di antara kami yang bisa menjawab itu.


"Aku hanya bercanda. Ayolah, kalian sangat serius menanggapinya. Aku tak masalah dengan apa yang tengah kalian jalani. Tapi percayalah, kau harus berhati-hati. Aku tak yakin bajingan ini akan baik-baik saja mendengar jika kau hamil anaknya."


"Astaga, Luxy! Apa yang ada di pikiranmu saat ini!" 


Kembali Leon berteriak. Sedangkan aku? Aku terdiam setelah mendengarkan apa yang dikatakan Luxy. Aku tak yakin wajahku masih baik-baik saja saat ini. Hamil? Leon?


"Apa? Memangnya aku salah? Itu bisa saja terjadi mengingat bagaimana tidak pedulinya kau ketika merobek gaun mahalnya. Ah, ya ampun membayangkannya saja aku sudah kesal."


"Gaun?" 


Aaa, benar. Dimana gaunku? Aku melirik ke arah Leon yang terlihat masa bodoh. Sial, membayangkan gaun itu membuatku teringat bagaimana Leon menyentuhku semalam. Wajahku seketika memanas dan kuyakin sangat merah saat ini.


"See, aku benar. Ada yang terjadi antara kalian berdua. Lihat wajahmu, Elisa. Kau merona."


Aku menyembunyikan wajahku dari Leon. Aku tak ingin  dia menemukanku seperti ini. Sial, wanita ini memang terlalu banyak mengoceh.


"Lagi pula apa yang kalian lakukan? Apa kalian melakukannya seperti orang gila sepanjang malam. Aku tak yakin dengan apa yang kutemukan tadi begitu mengerikan. Apa kau memberikan keperawananmu kepada Leon. Dia—"


"Tidak!!!" Dengan wajah yang memerah aku berteriak kembali. Aku membuat semua orang kembali terkejut.


"Wow, it's okay. Kau tak perlu berteriak. Kau lihat Edward akan menangis."


Aku melirik ke arah Edward dan benar saja dia menahan tangisannya. Luxy beranjak dari duduknya dan menggendong Edward. Sepertinya dia sangat terkejut dengan teriakanku.


"Maksudku ... mana mungkin kau berpikir seperti itu. Aku tak mungkin melakukan itu dengan ..."


Aku kembali mengalihkan pandangan ke Leon dan lupa melanjutkan kalimatku saat menyadari raut wajahnya berubah. Dia tak menyukai jawabanku. Dia beranjak dari duduknya dan berkata, "Dimana kau menyimpan goodie bag itu?"


"Di atas mesin cuci baju. Dan di sana juga ada handphone kalian kurasa."


Leon terlihat kembali menaiki tangga ke kamarnya dengan menenteng goodie bag yang dia temukan. Dia meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Aku menatap kepergiannya dalam diam.


"Hey, apa yang kukatakan salah? Aku tak berencana menghancurkan mood-nya sepagi ini. Dia biasanya tak seperti itu." Luxy berbisik sembari menenangkan Edward yang terisak.


"Entahlah, aku juga tak yakin."


"Pergilah, tenangkan dia."


Aku segera beranjak menuju kamar Leon. Saat aku membuka pintu, kamar terlihat sepi. Tak ada tanda-tanda Leon. Namun, aku menemukan satu pintu di dalam kamar ini yang terbuka. Saat aku mengintip ke dalamnya, ternyata seperti ruangan kerja. Sebelum melebarkan pintu tersebut, aku mengetuknya.

__ADS_1


"Leon, kau di dalam?"


Tak ada jawaban sama sekali. Tapi aku tahu dia pasti di dalam sana dan mendengar apa yang kukatakan. Aku akhirnya memutuskan masuk ke ruangan tersebut. Di sini lumayan gelap dan banyak rak penuh buku.


Dan yang membuatku lebih kaget adalah pajangan di belakang meja kerjanya. Di sana terdapat berbagai senjata mengerikan. Berbagai jenis senjata api dan pisau-pisau. Wow, terlihat menakutkan.


Dan Leon? Dia berada di balik meja kerjanya. Dia hanya memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit. Dia seperti tidur. Tapi aku tahu dia tidak sedang tidur. Dia mengabaikanku. Aku belum melepaskan peganganku di kenop pintu.


"Tutuplah pintu itu." Hanya itu jawabanya.


Saat aku menutup pintu tersebut, seketika ruangan ini menjadi terang-benderang. Dan aku baru menyadari, tampilan pintu tadi bagian dalamnya sangat berbeda. Dia dilengkapi dengan sistem keamanan. Aku baru menemukan ada penthouse yang seperti ini. Ruangan ini bahkan lebih luas dari pada kamarnya.


Leon membuka matanya dan menemukanku yang berdiri kaku di depan pintu yang tertutup. Wajahnya semakin jelas menampakkan suasana hatinya yang tak bagus.


"Kemarilah, Elisa." 


Aku mendekati tempatnya berada. Ini gawat. Dia seakan menggodaku, dia terus melakukan kontak mata denganku. Entah permainan apa yang ingin kami lakukan.


"Duduk di pangkuanku."


"Leon, aku ... tak apa berdiri seperti ini."


"Jangan membuatku mengulanginya, Elisa. Mood-ku sedang tak baik pagi ini."


Aku menyadirinya, Leon. Aku akhirnya menyerah dan duduk menyamping di pangkuannya. Ini memalukan. Dia pernah menggendongku, menciumku, bahkan menyentuhku. Tapi tetap saja, ini begitu memalukan. Aku menundukkan wajahku, mencoba berpikir keras tentang situasi ini.


Perlahan tangan itu membawaku untuk memusatkan perhatian pada wajahnya. Kerutan di dahi Leon tak berkurang sedikit pun. Terlihat sekali begitu banyak yang tengah dia pikirkan.


Aku menghentikan tangannya yang tengah mengelus wajahku. Aku mengambil tangan itu dan memegangnya. Kami masih terdiam. Sejenak aku merasakan ada yang aneh dengannya.


Tiba-tiba Leon memelukku dengan sangat erat. Dia seperti anak kecil yang membutuhkan kasih sayang. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku dan memejamkan matanya kembali.


"Leon ... ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Hem ..." Hanya itu yang bisa dia jawab.


"Kau bisa menceritakannya kepadaku. Mungkin akan sedikit membantu."


Entah mengapa hanya kalimat tersebut yang berhasil kukatakan. Aku hanya ingin menjadi salah satu orang yang bisa mengurangi apa pun yang menjadi bebannya. Dia melonggarkan pelukannya dan membuka matanya sembari menatap ke dalam mataku.


"Bisakah kau menungguku, Elisa?" Kenapa dia menanyakan hal itu? Aku masih mengingat semalam juga dia mengatakan hal yang sama.


"Aku tak mengerti, Leon." Mengapa dia tak membuat semua ini lebih jelas?


Sejenak aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Aku membawa jari tanganku untuk mengusap kerutan dahinya. Apa begitu sulit mengatakan hal itu, Leon? Kau tak pernah membuka dirimu kepadaku.


Kau selalu membuatku salah paham dengan semua ini. Semuanya selalu terungkap dari mulut orang lain. Mengapa kau seperti ini?


Jariku perlahan menelusuri alis Leon yang terbelah. Parit kecil pemisah alisnya selalu membuatku terpukau. Dan mata hijau kelam itu juga selalu membuatku tersihir. Aku selalu berhasil terpikat olehnya.


Seberapa banyak wanita yang telah mengaguminya sejauh ini? Aku sangat cemburu mengingat baru menemukanmu setelah mereka.


Aku akhirnya memejamkan mataku dan menempelkan kepalaku dengannya. Mencoba meresapi perasaan yang membuatku semakin jatuh kepadamu. Aku tak tahu akan semanis dan semenyakitkan ini jika terus menyimpanmu di dalam hatiku.


Kau akan terus menjadi Leon yang seperti ini? Leon yang tak banyak bicara dan Leon yang tertutup.


Bukankah kedua mata kita bisa menembus ini semua, Leon? Sangat jelas, aku bukan orang bodoh yang tak menyadari apa yang tengah kita jalani berdua.


Ini sangat berbahaya. Aku tak tahu harus menyerah menahan perasaan sakit seperti apa lagi. Aku tahu kau akan begitu mudah mencampakkanku dengan segala ego-mu.


Kau juga tahu itu? Aku tahu dari tatapanmu, Leon. Tidak samar, tapi sangat jelas. Hanya saja kau yang tak ingin membuat segalanya menjadi jelas. Dan kau tak membiarkanku mengetahui alasannya.


Di saat aku menyerah dan berhasil mengakui aku begitu terpikat, begitu bergantung, begitu membutuhkan, dan begitu mencintaimu.


Aku hanya ingin mendengar kalimat , 'Aku mencintaimu' keluar dari mulutmu. Mengapa kau begitu takut mengakuinya Leon? Kau hanya membuatku terus menunggu ...


"Jangan membuatku terus menunggu seperti ini lagi. Aku tak tahu akan bertahan berapa lama lagi."


Aku akan menunggu kau mengakuinya, Leon. Aku berharap itu terjadi. Hanya kali ini saja. Kumohon.


Aku merasakan tangan besar Leon menyentuh ke dua sisi wajahku. Ini begitu sangat emosional. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiranku. Aku tak ingin membuat ini berakhir. Aku akan terus berharap dan berharap.


Leon perlahan menghapus jarak kami. Kami berhasil terjun kembali ke dalam perasaan yang bercampur aduk. Kami jatuh ke dalam ciuman yang bahkan tak direncanakan sama sekali.


Aku mencoba meresapi apa yang ingin disampaikan Leon. Aku sangat tahu dia mencoba membuat semua ini lebih baik untukku. Mulai dari sikapnya yang semakin melembut dan bisa menjadi lebih jujur dengan dirinya sendiri.


Aku tak berniat menolak apa yang ingin dia berikan. Aku tak harus membuat ini semua lebih sulit lagi bagi kami. Aku cukup menerima, entah itu kebahagiaan, kepedihan, kasih sayang. Aku tak tahu. Kali  ini saja aku ingin percaya dengan akhir yang kau janjikan.


Ciuman itu terus dan terus berlanjut hingga rasanya aku ingin menghilangkan segala pikiran ini. Berikan kami ruang yang cukup untuk menampung segalanya.


Cklek, ceklek, ceklek ...

__ADS_1


Terdengar suara kenop pintu. Aku berusaha menarik akal sehatku. Leon menyerah, dia menjauhkan wajahnya dariku. Kami masih terengah-engah seakan berlari begitu jauh dari alam bawah sadar.


"Leon! Elisa! Apa kalian di dalam sana?" Luxy?


Aku mulai panik, "Leon ... Itu Luxy."


Aku berbisik di depan wajahnya. Leon tak mengatakan apa pun. Dia hanya menyuruhku diam dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Aneh, kemana mereka? Kuyakin mereka tadi ke kamar. Apa mereka keluar?" Masih terdengar suara Luxy yang sedikit kecil namun bisa kudengar.


Masih dalam posisi duduk di pangkuan Leon aku berkata, "Leon, sepertinya kita harus kelu—" Kata-kataku terpotong ketika Leon mengangkat tubuhku ke meja kerja berlapis kaca dan membungkam bibirku dengan ciumannya. Aku mencengkram pundaknya dengan sangat keras.


Maafkan aku, Luxy. Kali ini saja berikan kami waktu untuk menikmati suasana ini. Seperti pikiranku pertama tadi. Aku tak kan menolak apa yang akan diberikannya kepadaku. Aku akan melihat sejauh mana kau akan membawaku, Leon. Mari kita mencari akhir itu.


Ciuman itu tak pernah berhenti sedikit pun. Tak ada yang ingin melepaskan ini. aku tak ingin, aku tak ingin kembali mengambil kesadaranku untuk menolak momen ini. Cengkraman tangan Leon di tengkukku semakin kuat. Bahkan aku merasakan dia seakan mencekikku.


Dan ciuman itu berakhir ketika pekikanku keluar karena Leon berhasil kembali merobek apa yang kukenakan. Aku hanya terkejut dengan apa yang dia lakukan.


Dia menyandarkan dahinya kembali di depan wajahku dengan deru napas yang berlomba-lomba menerpa wajahku. Dia menahan kabut gairahnya, terlihat jelas di matanya.


Sangat jelas.


"Yakinkan aku kali ini untuk berhenti, Elisa."


Dia menjauhkan wajahnya dariku dan meletakkan kedua telapak tangannya di sisi tubuhku. Dia terlihat mengepalkan tangannya sangat keras, seakan menahan untuk menghancurkan apa pun saat ini. Aku tahu dia tak ingin menyakitiku dengan apa yang dia lakukan.


Apa sebenarnya yang aku inginkan?


Apa yang aku inginkan untuk Leon lakukan?


Aku ... tak tahu jawabannya.


"Aku ... sungguh tak tahu."


"Sial, jawabanmu tak membantu. Kau tak tahu apa akibat dari jawabanmu itu."


Aku memilih untuk tak menolakmu, aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Aku mengangkat tanganku menyentuh sisi wajahnya yang mulai khawatir. Dia memejamkan matanya, mencoba tenang dengan elusan yang kuberikan.


"Maka ... cukup tunjukkan."


Aku merasakan tubuh Leon semakin menegang. Kepalan kedua tangannya terlihat semakin tak terkendali. Dia kembali membuka matanya. Kabut itu semakin memenuhi pandangannya. Dia berusaha untuk mengendalikan ini semua.


"Kita tahu kau memiliki batasnya. Kau tak harus melewatinya, Elisa."


"Bagaimana ... jika aku sendiri menghapus batas tersebut?"


Setelah mengatakannya, aku membiarkan diriku masuk ke dalam kabut itu bersamanya. Aku mencium bibir Leon, aku tak ingin membuatnya bertahan dengan situasi ini.


Aku merasakan geramannya hingga akhirnya aku berhasil merasakan tangannya kembali untuk meraih tengkukku. Dia seakan lepas kendali. Dia mencengkram dengan sangat keras dan kembali mencium bibirku. Dia seakan kehausan.


Tangannya yang bebas berhasil membuat ruangan ini porak-poranda. Dia menyingkirkan segala benda yang ada di atas meja kaca ini. Bahkan aku mendengar ada suara benda yang pecah.


Dia tak sedikit pun berniat melepaskan ciuman ini. Dia membaringkanku di atas meja kaca yang sekarang terasa lebih dingin ketika bersentuhan dengan kulit punggungku. Dia melepaskan ciuman itu untuk membuka baju yang dia kenakan. Dia sama sekali tak memutuskan pandangannya dari mataku.


Ruangan yang seharusnya sejuk karena ac, kini tak terasa karena kami merasa gairah ini membua kami kepanasan. Dia kembali mencium bibirku dan tangannya tak berhenti untuk membuka celanaku dengan kasar. Desahanku teredam oleh ciumannya.


Leon menurunkan ciumannya ke daerah leherku. Aku merasakannya. Dia mengecup setiap inci leherku seakan tak ingin meninggalkan ruang kosong.


Akhirnya desahanku keluar ketika dia berhasil menggigit kecil daun telingaku. Ini begitu aneh. Aku tak pernah merasakan sensasi seperti ini. seakan ada yang meledak-ledak di kepalaku.


Kembali dia membuatku gila ketika berhasil menggigit kecil daerah leherku. Ini tak kan mudah bagiku. Dia beralih ke pundakku dan terus mengecupinya. Sejenak mata kami bertemu dan aku pertama kali melihat Leon yang seperti ini. Matanya menyiratkan segala gairah yang tak terbendung.


Dia begitu menginginkannya.


Dia kembali membuatku menekan kesadaranku ketika dia memberikanku rasa sakit di tubuhku. Dia mencengkram rambutku dengan sangat keras sehingga aku harus menengadahkan kepalaku, membuat tubuhku melengkung seketika. Saat itu juga aku merasakan sakit di pundakku. Dia menggigit pundakku dengan keras.


Ini gila.


Dia membuatku gila dengan bagaimana dia menyentuhku.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2