
Lotus Grand Las Vegas, Las Vegas (Nevada), US – 02.45 am.
“Kau sedang tidak terburu-buru, bukan?”
Jonathan mendaratkan dirinya di sofe tepat di hadapanku sembari menyesap rokoknya. Dia duduk menyilangkan kakinya dan menatapku dengan puas, membuatku semakin tak menyukai bajingan ini.
“Hmm.” Aku hanya membalas dengan deheman.
Sekarang sudah cukup larut dan sialnya lenganku rasanya sangat sakit karena peluru yang masih bersarang di sana. Semua orang sudah mengosongkan ruang bawah tanah ini, menyisakan beberapa pelayan yang masih sibuk dengan tugasnya dan sang pemilik yang menyebalkan di hadapanku.
Ruangan ini didesain ulang dengan cepat setelah menjadi area pelelangan dan bertarang tadi. Aku duduk dengan mengerjapkan mata sembari juga menyesap rokok yang masih baru kuhidupkan.
“Bisakah aku mendapatkan sesuatu untuk lenganku ini? Aku telah banyak mengeluarkan tenaga dan uang untuk pelelangan sialanmu kali ini.” Aku mengucapkan permintaanku tersebut di sela-sela aktivitas merokokku.
“Hahahaha … Tentu saja, aku akan membalasmu untuk tontonan yang menarik tadi. Ah, aku masih tak percaya Zach memiliki orang sepertimu. Aku sangat iri, aku rela mengganti seluruh pembunuh bayaranku denganmu.”
Seperti biasa, bajingan ini selalu mengoceh di waktu yang tidak tepat. Dan begitulah dia, sosok yang licik dengan segala kuasanya.
Setiap kali bernegosiasi dengan siapa pun yang sejak dari awal semua orang tahu, mau seperti apa pun perjanjiannya, mau ditepati atau tidak, bajingan ini selalu menggunakan cara kotor untuk memenangkannya. Dan tentu saja, kuasanya di underground tak pernah luntur oleh siapa pun.
“Bisakah kau cepat! Aku harus menutup luka ini,” ujarku sembari mengerang agak menahan sakit.
Aku sudah tidak tahan. Rokok bahkan tak mengurangi rasa sakit di lenganku. Darah yang terus merembes dari lenganku tak bisa terbendung. Masa bodoh dengan sofa milik Jonathan yang sudah terkotori oleh darahku.
“Aku akan memanggil orang untuk menutup lukamu, tunggulah sebentar.”
Dia menjentikkan jarinya kepada seorang pelayan yang berlalu-lalang. Seketika aku menginterupsi tindakannya, “Aku tak membutuhkan orang lain. Aku akan mengurus luka ini sendiri. Aku hanya butuh sesuatu untuk mengeluarkan peluru dan menutup luka ini.”
Jonathan mengangkat sebelah alisnya dan memunculkan senyum menjijikkan andalannya. Pelayang yang sejak tadi sudah berdiri di sebelahnya masih menunggu instruksi darinya.
“Siapkan sesuatu untuk menutup lukanya.”
Pelayan itu menganggukkan kepala dan pergi. Tak sampai beberapa menit, pelayan itu telah kembali membawakan benda-benda yang bisa menutup lukaku.
Setelahnya, aku sudah berkutat dengan semua benda yang disediakan. Sialnya, di depan sana Jonathan hanya menatapku dalam diam dengan pandangan yang tak bisa dia alihkan dari gerak-gerikku. Mengapa dia tak meninggalkanku sendiri, membuatku risih saja?
Aku menahan nyeri ketika mengorek lenganku dengan pinset dan menemukan peluru yang bersarang di sana. Aku melempar peluru sialan itu dengan keras ke dalam wadah stainless yang berisi air. Cipratan air tersebut bahkan berhasil mengenaiku.
Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat hanya dengan seorang diri. Aku sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini sendiri.
“Broklyn memang luar biasa. Ah, darah memang lebih kental daripada air.”
Aku menatap sinis Jonathan. Aku tak menyukai jika seseorang telah ikut campur ataupun mengorek kehidupan keluargaku. Aku tahu dia menyukai salah satu dari kami, tak pernah lebih tahu suka seperti apa yang dimaksud dengan saudara perempuanku yang telah menikah dengan temannya sendiri.
Teman? Kurasa. Aku pernah mendengar Lucy dan Kendrick berdebat hebat hanya dengan membicarakan bajingan ini.
“Menjauhlah.” Hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku tak menganggap Jonathan ancaman yang nyata selama dia tak benar-benar menyentuh keluargaku. Dia hanya menanggapi ucapanku dengan seringai menjijikkannya dan meletakkan sebuah handphone di atas meja. Aku masih menatap benda tersebut dan enggan bertanya.
Dia tersenyum sebelum berkata, “Gunakanlah itu untuk berkomunikasi dengan pria tadi. Dia akan bergerak cepat saat kau membutuhkannya dan aku akan memberikan segala fasilitas yang kau butuhkan untuk menunjang kinerjanya.”
Aku mengambil handphone tersebut dan menghidupkannya. Yeah, ini bukan handphone biasa, bisa dilihat dari sistem keamanannya yang hanya bisa dibuka dengan sidik jariku.
Tak ada yang tak berguna di dalamnya, aku bahkan menemukan sistem penyadap yang sangat cepat hanya dengan mendeteksi sinyal handphone. Aku sedikit tersenyum ketika mengotak-atik isinya, hanya teringat dengan bajingan yang mungkin juga kagum dengan benda seperti ini.
“Kuharap aku tak kan kecewa dengan hasil pelelangan kali ini.”
Aku mengatakannya sembari memakai kemeja dan jas-ku agar bisa menutupi tubuhku yang kesakitan.
“Kupastikan kau akan berterima kasih dengan cara terhormat untuk kali ini.”
Aku berdiri dari dudukku setelah mendengarkan jawaban Jonathan yang cukup meyakinkan. Aku tak ingin lebih lama lagi di sini karena ingin mengistirahatkan badanku di penginapan. Aku juga merindukan Elisa.
Aku ingin pulang.
...***...
Three days later …
__ADS_1
On the Road, City of London, UK – 10.07 pm.
‘Aku pulang, jangan katakan apa pun kepada Elisa. Aku harus menyelesaikan sesuatu hal sebelum menemuinya.’
‘OK, dude. Kau ingin tahu apa yang tengah dia lakukan sekarang?’
Tak lama setelahnya, satu kiriman foto dari Dereck masuk di handphone-ku. Sial, aku tak menyukai ada pria lain yang melihat Elisa seperti itu. Di sana aku melihat Elisa berdiri dengan anggunnya, masih menggunakan pakaian kerja sembari memegang gelas berisi wine, kurasa.
Dia sedang menatap ke luar gedung pencakar langit, foto ini diambil dari sisi yang tak bisa dia lihat dan dari sisi sini aku bisa melihat dengan jelas setiap lekuk tubuhnya yang sexy. Ah, sial. Aku akan membuat mata Dereck sakit jika dia terus menatap wanitaku. Lagi pula, kenapa mereka berdua masih berada di gedung semalam ini?
Tanganku sudah sangat gatal untuk menelpon Elisa. Tapi sejenak pikiran itu kuurungkan karena masih banyak yang harus kubereskan. Aku masih harus fokus dengan tugasku.
Aku tak boleh lengah sedikit pun karena musuh mungkin sudah mulai bergerak diam-diam. Apalagi mengingat kejadian di pelelangan beberapa hari lalu. Aku masih ingat dengan raut emosi dari beberapa orang. Aku sudah menandai beberapa musuh yang mungkin akan bersekongkol.
...***...
Two weeks later …
The Bullets Club, Newcastle, UK – 10.25 pm.
Aku duduk sendiri di dalam suatu club untuk menunggu yang lainnya. Aku masih ingat janji minggu kemarin ketika Dereck memberitahu bahwa Clara sudah kembali. Aku sedikit terkejut dan memutuskan untuk ikut bertemu dengannya.
Bagaimana aku harus menyebutnya? Clara adalah sosok wanita yang hadir di masa laluku. Aku merekrutnya bersamaan dengan Dereck. Agak sedikit aneh ketika mengingat kami pernah masuk dalam suatu hubungan yang tak wajar.
Bukan sekedar mentor dan agen, bukan sekedar teman laki-laki dan teman perempuan, tapi lebih dari itu. Sayangnya bukan sesuatu yang spesial seperti yang kalian pikirkan. Tentunya, aku tak berniat ingin masuk dalam dunia romansa yang disukai banyak wanita.
Aku hanya pria yang kadang jenuh dan membutuhkan sosok wanita, dan dia kebetulan ingin menjadi sosok itu. Aku tak memaksa dan dia hanya menginginkannya juga. Begitulah aku yang dulu, berbeda dengan aku yang sekarang.
Mengingat tentang Clara, dia adalah agan wanita yang cerdas dan kuat, namun entah mengapa dia secara tiba-tiba hilang bagaikan di telan bumi. Tak ada clue dan tiba-tiba dia muncul tepat di saat seperti ini. Aku tak mengharapkan apa-apa, aku hanya penasaran dengan kepergiannya dulu.
"Sudah lama menunggu?" Pukiranku teralihkan oleh suara yang familiar, itu Clara.
Aku tersenyum dan mengangkat sedikit alisku ketika dia duduk di depanku.
"Tidak juga ... Tepatnya baru sekitar lima menit. Bagaimana kabarmu?"
Aku tak tahu dia sedang bersandiwara atau tidak. Dia agen yang ahli dalam ber-acting dan aku tak pernah meragukannya. Namun, ucapan tadi malah membuatku tersenyum kecut. Aku tahu dia kembali membicarakan hal yang dulu.
"Well, jika itu menurutmu, maka kau tak perlu repot-repot bertanya banyak hal tentangku dan mungkin lebih banyak bercerita tentang alasan menghilangnya dirimu."
Dia terdiam cukup lama hingga topik pembicaraan ini sudah tidak memungkinkan untuk dibahas karena Dereck sudah datang.
"Clara! Apa ini kau? Oh, ya Tuhan, aku tak percaya kau di sini. Ke mana saja kau?"
Entah sadar atau tidak, dia sangat terlihat sumringah saat memeluk Clara saat ini. Aku bahkan ingin tertawa keras karena tingkahnya. Lihat saja, kurasa dia bekerja keras merubah penampilannya hanya untuk bertemu Clara.
Dia memotong rambutnya sangat rapi dan yang paling aneh, dia mengenakan kemeja yang sebenarnya bukan gayanya.
"Oh, wow. Kau membuatku susah bernapas Dereck. Ayolah, kau berlebihan."
Dereck duduk di tempatnya dan masih terlihat kaget dengan hadirnya Clara. Setelah itu, pembicaraan terus mengalir dengan Dereck yang terus mengoceh. Dia dua kali lebih berisik daripada sebelumnya.
Pembicaraan antara Clara dan Dereck berlangsung cukup lama. Aku hanya beberapa kali menyambung. Setelah melihat Clara kembali datang, membuatku merasa tidak nyaman. Aku tahu wanita ini pernah lama bersamaku.
Maksudku dalam hal lain, bukan menyangkut perasaan. Alasan lain aku tak bisa menolak pertemuan kali ini karena melihat ada binar bahagia dari Dereck ketika bertemu dengan Clara. Dan sayangnya wanita ini tak pernah melihat binar itu, dia hanya melihat satu orang. Aku tak bodoh, orang itu adalah aku.
Sesekali Clara menjalin kontak mata denganku, aku tak terpedaya dengan hal itu karena sudah lama aku tak menginginkan sesuatu terjadi antara kami. Terus terang, kadang masih ada gejolak itu bermain di antara kami.
Tapi percayalah, aku telah mengubah segalanya sejak aku menyatakan tak pernah memiliki apa pun untuknya. Namun, di kemudian hari aku menemukan sosok wanita seperti Elisa yang bahkan berani kuberikan segalanya yang kupunya.
Maafkan aku atas ketidakadilan ini.
Sejenak aku merasa begitu sangat merindukan Elisa. Apa yang sedang dia lakukan? Aku sengaja sangat jarang menghubunginya karena bisa saja aku segera pergi menemuinya sebelum semua yang kurencanakan selesai.
Aku menyesap martiniku dengan sangat perlahan. Aku tak bisa menanyakan tentang Elisa saat ini kepada Dereck. Kurasa dia akan langsung mengejekku jika aku bertanya tentang Elisa. Aku tak ingin hubanganku dibuat lelucon olehnya.
Entah mengapa aku sesaat tak mendengar suara percakapan Dereck dan Clara. Saat aku melihat ke depan sana, terlihat wajah Dereck agak sedikit terkejut. Apa yang sedang dia lihat?
Aku segera menatap ke belakang di mana perhatian mereka berdua tertuju, aku seketika ikut masuk ke dalam keterkejutan mereka berdua. Elisa hadir di depanku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
__ADS_1
“Apa aku mengganggu?”
Suara yang kurindukan.
Aku tak mengira dia akan datang ke sini. Dereck? Aku menatap tajam ke arah Dereck. Tapi dia terlihat sangat terkejut, sepertinya ini juga tak pernah dia kira.
Aku melihat Elisa yang tersenyum ke Dereck dan seketika setelahnya darah di sekujur tubuhku mendidih melihatnya yang mengecup pipi Dereck. Sialan, aku sangat kesal dengan ini semua. Apa dia ingin mengetes kesabaranku?
“Aku merindukan pengawal pribadiku. Dan dari tadi dia tak membalas pesanku, jadi aku memutuskan untuk menyusulnya.”
“Kau berjanji tak kan menggangguku, Elisa.”
Aku tak berpikir mereka sangat dekat hingga harus melakukan ini. Aku melihat dia juga tersenyum manis kepada Clara. Kau pandai sekali menyembunyikannya, Princess.
Aku sungguh tak ingin dia berprasangka buruk terhadap situasi ini. Dan aku tak pernah berniat bertemu dengan siapa pun selain malam ini. Sungguh, apa yang aku rasakan saat ini malah membuatku kesal tanpa sebab ketika wanitamu seperti ini.
“Hey, ayolah, apa aku terlihat mengganggu? Memangnya pertemuan penting apa yang kau hadiri sehingga mengabaikan pesanku. Coba kita lihat, oh tidak! Bukankah ini kekasihku? Bagaimana bisa kau tak mengajakku pergi ke pertemuan kecil kalian."
Seketika Elisa mengelus wajahku dengan wajah terkejutnya yang dibuat-buat. Elisa berbicara seakan semuanya biasa saja. Aku tak bisa langsung menjelaskan ini semua di hadapan mereka. Aku tahu Elisa akan merasa tersakiti kembali akibat prasangkanya sendiri.
Aku berusaha menekan emosiku dengan memegang tangan Elisa. Tepatnya, mencengkeram karena bercampur dengan emosi yang timbul akibat situasi yang menyudutkanku. Aku sedikit pun tak kan melepaskannya saat ini karena kurasa dia juga telah gila dengan situasi ini. Aku membiarkan semua orang melihat ketegangan kami berdua.
Aku ingin sekali cepat pergi dari sini. Aku mengabaikan permainan Elisa dan bangkit dari dudukku sembari mengajaknya dengan nada agak memerintah. Dan entah mengapa jawaban yang sekaligus bantahannya membuatku melihat sisi diriku sendiri.
Dia tak takut, dia tak gentar, dia menampakkan kekuasaannya dengan aura yang tak bisa kukatakan seperti apa. Aku mengalah dengan ini semua.
Beberapa kata yang keluar dari mulutnya yang mulai berani membuatku harus menyerah dengan cengkeraman itu. Tapi percayalah, wanitaku selalu bisa berhasil mendidihkan seluruh darahku dalam sekejap. Aku melihat bekas cengkeramanku di sana. Sial, itu akan menjadi bekas memar sampai besok.
Aku masih melihat permainan Elisa hingga dia puas. Tak ada gunanya terus memaksa, hanya akan membuat situasi payah ini semakin berkembang. Aku melihat sinar kepercayaan diri yang kuat di matanya.
Aku menilik setiap lekuk tubuh yang hanya ditutupi oleh pakaian minim. Sangat berbeda dengan Elisa yang biasa kukenal. Penampilan yang sangat berani, begitu terekspos.
Dia benar, dia bukan jalang, sialnya karena penampilannya seperti ini membuatku ingin dia segera menjadi jalangku secepat mungkin. Kenapa aku berpikir seperti itu? Pikiran campur-aduk yang terus berkecamuk di kepalaku membuatku lupa akan hati wanitaku yang mungkin sangat sakit melihat situasi ini.
Nada perdebatan antar wanita mulai muncul dari pertanyaan yang simpel, aku yakin Clara juga tak kan berhenti dengan satu pertanyaan ketika mendengar pernyataan Elisa yang menyebutku sebagai kekasihnya. Sial, aku tak mengira akan terjebak dalam situasi seperti di opera sabun.
Elisa kembali membuatku kaget, aku tahu dia begitu menyukai wine, tapi aku tak pernah tahu bagian di mana dia bisa meminum minuman keras dan meraciknya sendiri. Ayolah, dia bahkan tak bisa merokok, apa yang telah Dereck perbuat terhadap Elisa. Dereck hanya mengangkat kedua bahunya enggan berkomentar.
Sebelum Elisa meminum minumannya, dia memanggil namaku dengan sangat lirih.
“Leon …”
Aku agak merinding ketika mulai merasakan nada yang berbeda di suaranya.
Lelah?
Dia meminum minumannya setelah meniup api biru dari atraksi pembuatan minumannya. Dia menghempaskan gelas minumannya dengan sangat keras ke meja sebelum berdiri.
Sebelum pergi, dia sempat mencondongkan badannya dan membisikkan satu kalimat yang hampir membuat seluruh saraf di tubuhku nyeri.
“Kalau sudah tidak ada kepercayaan dan kejujuran, buat apa kita mengenal cinta.”
Dia meninggalkan tempat duduknya. Aku menatap punggung wanitaku yang menjauh dan menghilang, masih belum sadar dari keterkejutanku dari apa yang dia katakan. Ambang kehancuran hubungan ini seakan ada di ujung kalimat tersebut.
Aku merasakan sakit yang luar biasa ketika Elisa mengatakan kalimat itu, seakan kepercayaannya telah luntur terhadapku. Aku tak pernah sedikit pun berniat mengkhianatinya dan aku sangat marah karena merutuki setiap langkah bodoh yang selalu membuatnya perlahan menjauh dariku.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...•••...
__ADS_1