The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 05. It Got Me Losing Every...


__ADS_3

Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 10.47 pm.


Aku menatap langit-langit kamar yang bergaya victoria ini. Sudah lebih dari beberapa jam setelah menyelesaikan acara makan malamku bersama Zach yang menyeramkan.


Masih kuingat dengan jelas tadi pagi, ketika sadar dari tidurku disambut dengan teriakan Zach yang sangat kencang dari ruangannya. Ah, ini pertama kalinya aku menerima kemarahan Zach yang sesungguhnya. Aku telah membuatnya khawatir seperti itu.


Aku berusaha menutup mataku, namun aku tak bisa. Aku masih belum mengantuk. Pikiranku masih ingin berkelana ke waktu tadi pagi. Dari luar kamarku tadi pagi, bahkan aku bisa mendengar dengan jelas terjadi baku hantam di ruangan Zach. Yang membuatku semakin terkejut adalah kondisi Leon.


Apa Zach harus menyiksanya hingga babak belur seperti tadi pagi?


Zach tak seharusnya berlebihan, tapi kuakui Leon memang pantas mendapatkanya. Lagi pula, untuk apa aku membelanya saat makan malam tadi. Kemarahan Zach bertambah dua kali lipat karena sikapku ini.


Maksudku bukan membela seperti yang Zach katakan, aku hanya terkejut Zach benar-benar memecat Leon untuk kejadian satu ini. Padahal dia sendiri mengatakan bahwa mereka adalah teman lama.


Aku merasa bersalah. Kau merusak persahabatan mereka, Elisa. Lebih parahnya lagi, kau membuat seseorang kehilangan pekerjaannya. Tidak. Bukan hanya itu, mungkin kau akan dipulangkan ke rumahmu besok pagi. Ah, payah.


Saking pusingnya memikirkan hal itu, tenggorakanku menjadi kering. Yeah, walaupun kondisi tubuhku sudah membaik dan aku sudah bisa berjalan dengan tegak, kuakui untuk menuruni tangga ke bawah sana sangat melelahkan. Haruskah aku memanggil pelayan semalam ini?


Aku menuruni tempat tidurku untuk keluar kamar mencari seseorang yang bisa membawakan air untukku. Namun, baru saja aku membuka pintu kamar, aku melihat di bawah sana ada dua orang yang saling berbicara.


Leon? Itu Leon. Kenapa dia ada di sini? Dia sudah tidak bekerja lagi untuk Zach. Kenapa penjaga di bawah sana masih hormat kepadanya. Ini aneh. Dia juga terlihat sangat berantakan. Aku harus segera melaporkan ini kepada Zach.


Seketika aku berusaha mencapai kenop pintu kamarku dan membukanya dengan perlahan. Aku menutup pintu dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara apa pun. Sial, tanganku kembali bergetar saat mencari kontak Zach di handphone-ku.


Baru saja aku menemukan nama Zach, tapi aku terlambat untuk menelponnya karena pintu kamarku diketuk seseorang. Dengan segera aku berbaring ke kasur dan melempar handphone-ku sembarang ke dalam selimut. Aku belum sempat memosisikan diri di dalam selimut saat orang tersebut sudah masuk.


Aku mencoba untuk berpura-pura tertidur nyenyak dengan posisi badan bagian atas di kasur sedangkan kaki masih menjuntai ke lantai. Posisi ini membuatku pegal seketika. Siapa yang berani masuk ke kamarku saat aku tengah tidur? Apakah itu Leon?


Suara langkah kaki terdengar hingga ke telingaku. Semakin mendekat. Sial, berhenti bergetar, Elisa. Tenanglah. Aku merasakan permukaan kasurku di belakang sana diduduki.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


Apa yang dilakukan orang ini sebenarnya? Dia sangat lama. Tercium sekali aroma alkohol sangat kuat darinya. Tubuhku sedikit tersentak ketika tangan asing itu memegang rambut panjangku. Awalnya hanya usapan ringan, tapi usapan tersebut berubah saat terasa seluruh rambutku seperti ingin disatukan dan perlahan dijalin.


Aku sudah tak tahan lagi untuk mengakhiri ini semua. Seketika aku menghentikan aktivitas orang tersebut dengan memegang tangannya. Baru saja aku ingin berbalik, tapi kejadian mengejutkan terus datang kepadaku di saat seperti ini. Orang tersebut lebih cepat memerangkap tubuhku di bawah tubuhnya.


Gotcha! Lagi. Orang tersebut adalah Leon.


"Damn! Apa yang kau lakukan, Brengsek?" Aku melihat dengan jelas mata Leon menunjukkan keterkejutan yang sama.


"Kau membuatku kaget. Kau bergerak dengan tiba-tiba, padahal kau terlihat tidur sangat nyenyak." Dia tak berpikir tindakannya jauh lebih membuatku kaget bahkan sangat takut.


"Kau jauh lebih membuatku takut, Bodoh. Kau mengendap ke dalam kamarku di malam hari dan kau bau alkohol. Menyingkirlah dari tubuhku!" Responnya agak lama, sekitar beberapa detik baru dia beranjak dari atas tubuhku. Dia terlihat ... tidak karuan.


"Kau mabuk, Leon. Kau tak seharusnya di sini." Dia tak menjawab apa pun dan hanya menatapku. Aku semakin takut ketika dia duduk tak jauh dariku dan hanya terdiam seperti ini.


"Walaupun kau meminta maaf, itu sudah sangat terlambat. Aku tak bisa memaksa Zach untuk memperbaiki ini semua karena kau memang bersalah. Kau menyakitiku."


Dia mengernyitkan dahi. Aku akhirnya membaringkan tubuhku ke kasur kembali. Terlalu jengah dengan sikap yang selalu dia tunjukkan kepadaku.


"Kau tahu aku tak pernah bermaksud menyakitimu." Aku yang awalnya memejamkan mataku kembali membukanya ketika mendengar pembelaan Leon.


"Lantas apa yang kau lakukan kepadaku jika bukan menyakitiku?" Aku hanya kesal. Yeah, mungkin sangat kesal. Kenapa begitu sulit untuknya mengucapkan kata maaf. Aku hanya menginginkan satu kata itu untuk mengakhiri kekesalanku dengannya.


"Kau tak tahu bahaya seperti apa yang bisa menimpamu, Elisa." Kembali dia menceramahiku. Sangat membosankan. Semua orang terlihat tidak waras ketika mengatakan aku dalam bahaya. Selama dua puluh empat tahun hidupku, aku tak bisa mengingat sedikit pun bahaya yang menghampiriku.


Aku mengeluarkan kekehan setelah mendengar apa yang telah Leon katakan. Dia mungkin aneh melihatku seperti ini. Aku sudah muak dengan sikap protektif banyak orang kepadaku termasuk dia.


"Kau pikir aku peduli? Bahaya? Aku muak dengan semua ini. Bisakah kau tidak peduli dengan omong kosong itu?"

__ADS_1


"Aku tak bercanda, Elisa. Kau pikir semua ini lelucon-"


Aku sudah tak tahan lagi. Seketika aku bangkit dari tidurku dan berteriak, "Stop!!! Kukatakan aku tak peduli, Leon. Kau bukan orang yang pantas untuk mengatakan hal itu kepadaku! Cukup pergi dan bermainlah dengan para jalangmu. Jangan pernah mengurusi urusanku."


Aku melihat ekspresi itu lagi dari Leon. Bahkan kali ini dia terlihat sangat kesal berkali-kali lipat. Kuyakin keinginan terdalamnya untuk mencekikku saat ini sangat kuat. Dan jika itu terjadi aku sangat menginginkan kematian menghampiriku.


Tapi itu tak kan terjadi. Setelah melempiaskan emosiku kepadanya, dia hanya diam dan bertahan untuk memperlihatkan kekesalannya. Pandangannya menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam. Dia seketika bangkit dari duduknya dan segera keluar tanpa mengatakan apa pun. Bantingan pintu yang sangat keras membuktikan dia tengah dalam emosi yang memuncak.


Setelah pintu kamarku tertutup, aku kembali membenamkan tubuhku ke dalam selimut. Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan dengannya. Tapi dia lebih payah, dia bahkan tak pernah meminta maaf kepadaku.


Aku mungkin hanya membuatnya sedikit sakit dengan kata-kataku. Aku memang kesal dengan kondisi tubuhku yang tak lemah tetapi selalu dianggap rapuh oleh banyak orang. Aku wanita dewasa dan aku sudah bisa menjaga diriku sendiri.


Satu pikiran terlintas di benakku ketika menyadari bahwa kekesalanku selalu memuncak saat Leon datang. Leon selalu datang dengan aura tidak bersahabat dan menakutkan. Aku sangat merasa tidak dilindungi ketika dia bersamaku. Ditambah lagi dia hari ini sangat berantakan.


Aku bukan wanita bodoh, aku tahu dia tadi sedikit mabuk, tapi masih memegang seluruh kesadarannya. Jangan lupakan, aku melihat dengan jelas kerah kemejanya ada sedikit noda lipstick. Kuyakin dia baru saja pulang dari aktivitas malamnya. Ah, menyebalkan.


Tapi tanpa kusadari, aku terlalu terbawa dengan emosiku dan aku sangat menyesal. Karena apa? Karena semenjak itu aku tak pernah lagi melihat Leon berada di sekitarku.


...***...


Two weeks later...


Eiffel Tower, Champ de Mars (Paris), Prancis - 09.23 pm.


"Zach, kemarilah! Lihatlah langit hari ini bersih. Bintang-bintang bertebaran."


Aku berteriak sembari fokus meneropong langit-langit malam yang indah. Zach yang dari tadi terus berkutat dengan handphone-nya tak terlalu mempedulikanku. Aku akhirnya memutuskan berhenti meneropong dan hanya terdiam dengan tubuh dinginku menatap lurus pemandangan di depan sana.


Aku mengingat dengan jelas tujuan dari ini semua. Hatiku yang masih tersakiti dan sungguh masih terasa hingga saat ini. aku sangat bersyukur memiliki Zach yang selalu menyayangiku. Dia meluangkan waktunya yang padat untukku. Yeah, walaupun mungkin aku saat ini jauh lebih menyebalkan daripada yang dia bayangkan. Dan di sinilah kami, menikmati suasana yang disuguhkan oleh menara luar biasa dari kota paling romantis di dunia.


Ini adalah hari terakhir kami berada di Paris. Selama dua minggu kuhabiskan waktu untuk berlibur mengikuti Zach mengelilingi Eropa dengan tumpukan pekerjaannya. Tentu saja aku sedikit membantunya dengan keahlian yang kupunya.


Tapi yang paling menyebalkan di antara itu semua, Zach terlalu fokus dengan hal lainnya. Dia selalu memeriksa handphone-nya dan meninggalkanku tiba-tiba. Tapi dia meninggalkanku tidak dengan tangan kosong, tentu saja dia meninggalkanku dengan sejumlah pengawal yang jauh berkali-kali lipat membosankan daripada Leon.


Dan karena perasaan itu pula aku selalu bertingkah menjengkelkan terhadap pengawal baru yang selalu diberikan Zach. Setiap hari aku selalu memarahi mereka sekecil apa pun kesalahannya hingga Zach selalu memberikan pengawal yang berbeda setiap harinya.


Kadang saking jengkelnya, dia memutuskan untuk menemaniku daripada harus memberikan pengawal yang akan selalu kumarahi terus. Salah satunya adalah hari ini, kurasa dia mengacuhkanku karena kesal dengan tingkah lakuku yang terus membuatnya pusing.


"Kau kedinginan?" Akhirnya Zach memulai pembicaraan dan berhenti fokus dengan handphone-nya. Aku tidak membalasnya dan hanya memberikan senyuman sumringahku kepadanya.


"Are you okay?" Pertanyaan konyol apa yang dia tanyakan ini.


"Yeah."


Dia perlahan meraih kedua tanganku dan menggosok-gosoknya. Kehangatan perlahan menjalar ke tanganku. Dia kemudian memasukkan salah satu tanganku ke dalam kantung coat-nya.


"Maafkan aku. Kau kesepian?"


Dengan senyuman yang masih terus muncul dari bibirku, aku menjawab, "Tidak. Ini sudah cukup Zach. Terima kasih sudah mengerti-"


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Elisa. Kau tak handal menyembunyikan itu. Kau tahu sepupumu ini juga mengalami hal yang sama denganmu. Cobalah untuk terbuka denganku." Perkataannya seakan menohok ulu hatiku.


Aku memang tak handal menyembunyikan sesuatu jika itu dihadapkan dengannya. Sungguh, aku sedang tak baik-baik saja. Hatiku semakin sakit ketika Zach menyadarkanku tentang kebohongan ini. Sakit hatiku masih belum sembuh sepenuhnya. Aku masih memendam harapan yang lebih tentang Kyle. Aku wanita yang bodoh.


Perlahan air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku. Satu, dua, dan seterusnya tetes itu perlahan membasahi pipiku. Pandanganku mengabur karena air mata yang tak bisa terbendung. Zach dengan segera memelukku, dia mengusap rambutku dengan lembut mencoba menenangkan hatiku yang mulai porak-poranda.


Dengan tersedu-sedu aku berusaha mencurahkan apa yang ada dipikiranku, "Mengapa rasa ini tak hilang, Zach? Ini menyakitkan ... Aku juga tak ingin seperti ini. Sejenak aku berharap ... ketika beberapa hari lalu saat aku tak sadarkan diri ... aku ingin itu terjadi selamanya agar tak merasakan sakit hati ini." Zach tak memberikan respon apapun, dia hanya mendengarkanku dan berusaha terus menenangkanku.


Semua itu berlangsung beberapa menit hingga aku kembali tenang. Usapan tangan dan pelukan hangat Zach berhasil sedikit mengobati perasaanku. Tanpa berlama-lama aku kembali membalas pelukan Zach dengan sangat erat.


Mungkin orang yang berkeliaran di sekitar kami akan membicarakan kami sebagai sepasang kekasih yang baru saja berbaikan dari pertikaian. Tapi aku tak peduli, Zach adalah sepupuku yang paling kusayangi. Kami mengalami hal menyakitkan yang sama, tapi jauh dari itu kuyakin perasaan Zach yang tersakiti lebih parah daripada yang kualami saat ini.


Aku perlahan memberikan kekuatan yang sama dengan usapan di punggungnya. Mataku semakin berkaca-kaca memikirkan tentang Zach. Tanpa sengaja pandanganku yang mengabur tersebut menangkap satu objek yang sedikit familiar. Leon?

__ADS_1


Aku melihat pria yang mirip dengan Leon tersebut tengah merokok bersandar di tepian pembatas menara. Dia memandang ke sekeliling seperti mengamati gerak gerik banyak orang. Seketika pandangan kami bertemu, dia menatapku sangat lama sembari menyesap rokoknya.


Pandanganku teralihkan saat Zach melepaskan pelukan kami. Saat aku melihat kembali ke belakang punggungnya, sudah tak nampak seseorang yang berwajah seperti Leon tadi. Kurasa pikiranku sudah kacau. Bagaimana bisa aku memikirkannya saat ini. Ah ya, aku harus mengatakannya kepada Zach.


"Zach ..."


"Hmmm?" Zach kembali memfokuskan dirinya kepadaku.


"Bisakah kali ini kau mengabulkan keinginanku lagi?"


"Katakanlah, kau tahu aku akan melakukan apa pun untukmu." Aku kembali tersenyum untuk Zach. Dia sepupuku yang luar biasa. Dia bisa mengabulkan apa pun yang tak bisa orang tuaku lakukan.


"Bisakah aku tak diikuti oleh pengawal baru lagi?" Dengan cepat kernyitan menghiasi dahinya.


"Maksudmu?"


"Ya, aku tak membutuhkan pengawal-pengawalmu untuk menjaga-"


"Tidak. Kita sudah sepakat untuk ini. Kau tak bisa-"


"Leon..." Zach berhenti mengoceh ketika aku menyebutkan nama itu.


"Aku hanya membutuhkan Leon untuk kembali menjadi pengawalku. Aku tak butuh tiga atau lima pengawal di sekitarku. Kau mengatakan hanya dengan Leon sendiri bisa menjagaku. Jadi ... bisakah kau kembali mempekerjakannya lagi? Kumohon."


"Apa yang tengah kau katakan?"


"Aku tak bermaksud membuatmu bingung, Zach. Kau tahu ini sepenuhnya bukan salah Leon. Dia hanya bersikap waspada dan mungkin ... sedikit kasar. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah karena dia kehilangan pekerjaan dan-"


"Tidak. Bukan itu maksudku, Elisa. Leon tak pernah kupecat dan aku tak ingin melepaskan agen terhebat yang kumiliki. Dia masih mengawasimu hingga detik ini."


Aku terdiam cukup lama untuk mencerna situasi ini. Jadi dia tak pernah dipecat. Pantas saja malam itu dia masih bisa memasuki mension. Tapi mengapa selama ini aku tak pernah menemuinya lagi di setiap sudut mension. Dia seakan menghilang begitu saja.


"Tapi kau mengatakan tak kan membiarkannya menjagaku lagi."


"Aku mengatakan kepadanya untuk tak menjagamu di lapangan secara langsung, Elisa. Aku memikirkan kenyamananmu, tapi aku tak kan mungkin membiarkanmu di luar pengawasanku. Dia selalu mengawasimu dari jauh."


Apakah panglihatanku tadi benar? Itu Leon. Dia mengawasiku dan dia tak pergi ke mana-mana. Pantas saja aku merasakan sesuatu yang aneh selalu mengikuti. Hingga hal itu membuatku memang agak sedikit takut setiap melangkah seorang diri.


"Bisakah semuanya kembali seperti awal? Aku tak kan berulah kembali." Zach menghembuskan napas kasar seakan lelah menghadapi diriku.


"Kau tak membutuhkannya lagi. Waktumu sudah cukup, Elisa. Kau harus segera pulang. Mungkin orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu. Kau tak bisa seterusnya pergi dari tanggung jawabmu. Kau ingat kau masih memiliki perusahaan yang harus kau urus."


Aku terdiam merenungi apa saja yang Zach ucapkan. Benar. Aku sudah terlalu lama beristirahat. Sungguh, ayahku tak pernah sedikit pun memaksaku untuk melakukan itu semua. Tapi aku sangat sadar akan tanggung jawab yang selalu menghantuiku.


"Kau tahu bukan jawaban itu yang ingin kudengar?" Aku menampakkan wajah murung untuk kesekian kalinya kepada Zach.


"Elisa ..."


Tatapan mata Zach terlihat sangat khawatir saat ini. Perlahan Zach menggenggam tanganku dengan sangat erat. "Maafkan aku yang harus mengatakan ini dengan tiba-tiba ... Baru saja aku mendapat kabar kesehatan ayahmu menurun dan dia sedang dirawat."


Seketika pikiranku tak karuan. Kakiku melemas dan tubuhku ingin ambruk begitu saja jika tak lebih dulu ditahan Zach. Mendengar kabar kesehatan ayahku yang semakin memburuk, membuatku semakin takut dengan apa yang akan kuhadapi. Kumohon takdir masih berpihak kepadaku.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2