The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 14. I Don't Do to Well With Apologies


__ADS_3

Parker Grand Hotel, City of London, UK – 11.47 pm.


“Kau dengar itu?—“ Sekilah aku menatap wajah tak karuan di ujung kasur sana. Dia masih berderai air mata.


Dia masih di sana.


Aku memegang lengan kiriku yang berdarah. Aku bisa merasakan darah tersebut keluar dari sela-sela jariku akibat tembakan Zach. Tangisan Elisa semakin kencang memenuhi ruangan ini. Menangis karena merasa lega aku masih bisa berdiri?


“—Dia memanggil namaku, Zach.” Zach yang sekilas menatap kecewa Elisa segera membalikkan badannya.


“Aku tak kan menarik kata-kataku sebelumnya.”


Setelah Zach mengatakan itu, aku segera merebut pistol di genggamannya dan menempelkannya ke bagian belakang kepala Zach.


“Leon!!!” Teriakan Dereck membuat adegan ini terlihat semakin dramatis. Hening. Zach tak bergerak sama sekali. Kau licik sekali, Teman.


“Haruskah aku memberikan hadiah perpisahan untuk ini semua, Dude?” Kita lihat apakah Elisa akan melakukan hal yang sama jika kau berada dalam posisiku tadi?


“Terserah, aku harap tak kan melihat wajahmu kembali.”


“Aku juga mengharapkan yang sama.” Detik itu juga aku menekan pelatuk pistol ini. Bukan ke kepala Zach. Tapi ke kepalaku sendiri.


Bingo …


Tak ada yang terjadi dengan kepalaku sendiri. Aku melirik ke arah Elisa yang tengah membelalakkan matanya. Kurasa hari ini aku telah membuat jantungnya bekerja keras. Dia di sana dengan keterkejutannya. Maafkan aku.


“Sayang sekali kau hanya menyiapkan satu peluru untuk membunuh temanmu sendiri, Zach. Tanpa menarik pelatuknya pun aku sudah tahu ini kosong.”


Zach tak mengucapkan apa pun. Dia berlalu begitu saja keluar kamar ini. Aku menatap ambang pintu yang telah kosong.


Kesunyian masih merambat di ruangan ini. Aku menyadari bahwa Elisa sudah berhenti menangis. Aku membalikkan badanku dan melihat keadaan Elisa yang menatap nanar ke arahku. Aku bahkan tak peduli dengan lenganku yang terus berdarah.


Dereck terduduk kembali di sofanya terlihat lega. Tak ada satu pun dari kami yang ingin membuka suara. Aku ingin segera menghampiri wanitaku.


Wanitaku?


Apa dia akan tetap menolakku setelah semua ini terjadi?


“Aku akan pergi. Kau selesaikan ini semua. Kembalikan wanita itu kepada Zach. Dan—“


Sejenak Dereck menghembuskan napas kasarnya dan kembali melanjutkan kalimatnya, “—Aku berharap suatu saat kau akan menelponku jika kau membutuhkan seorang teman untuk minum. Lenganmu … Kau bisa mengatasinya?” Aku hanya menghadiahkannya senyuman. Kurasa aku akan merindukannya.


Dereck beranjak dari sofanya. Dia menatapku sangat lama sebelum dia menepuk pundakku dan meninggalkan kami berdua di kamar yang tertutup. Aku sudah tak mampu lagi untuk melakukan apa pun dengan sisa tenagaku. Emosi yang menguras segalanya membuat luka di lenganku terasa menyakitkan.


Aku meminta pelayan hotel ini untuk menyediakan beberapa kebutuhan medis. Elisa tak lagi menatapku. Dia hanya terdiam di kasur dan aku masih menjaga jarak dengannya. Aku kembali duduk menyesap rokokku.


Untuk sementara aku menutupi lukaku hanya dengan memakai kemejaku kembali. Setidaknya darah tersebut tidak akan menetes ke lantai, walaupun aku terlihat sangat menjijikkan dengan kemeja putih yang berlumur darah.


Setelah sekian lama, akhirnya pelayan hotel mengantarkan kebutuhan medis yang aku inginkan. Aku kembali membuka kemejaku dan membersihkan lukaku sendiri.


Luka ini tidak terlalu dalam hanya tergores peluru. Namun seperti biasa, ketika luka itu bersentuhan dengan cairan antiseptik, aku sedikit menahan geraman. Aku menggunakan perban yang cukup tebal untuk menutupinya agar darah ini tidak menakuti Elisa.


“Apa itu sakit?”


Terdengar suara seperti cicitan kecil. Elisa melihat apa yang kulakukan. Aku tak menjawab apa pun. Aku tahu kalimat yang kukeluarkan akan selalu berbeda dengan apa yang orang lain pahami.


Aku tak ingin kembali membuat ini lebih sulit lagi baginya. Aku hanya perlu menyelesaikan ini dengan cepat. Setelahnya aku membersihkan sisa-sisa darah yang ada di tanganku.


Aku membuka goodie bag yang telah dibawakan oleh Dereck. Berisi baju kaos biasa dan celana jeans beserta pakaian dalam wanita. Setidaknya Dereck mengerti kebutuhan wanita karena terlalu sering meniduri mereka.


Aku membawa diriku ke Elisa beserta handuk kecil yang telah direndam dengan air dingin. Saat aku menghampiri Elisa, dia sangat terlihat begitu defensif terhadapku. Dia mengeratkan selimut ke dadanya dan tangannya bergetar. Aku mendudukkan diriku di kasur.


Aku mengangkat tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dia semakin bergetar dan memejamkan matanya. Apa dia berpikir aku akan memukulnya?


Tidak, Elisa. Maafkan aku.


Aku selalu benci jika mengucapkan itu di dalam hati. Tapi, kuyakin seorang wanita akan lebih membenci seorang pria jika selalu mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


Aku mengelus sisi wajah Elisa. “Tenanglah, aku tak kan menyakitimu. Bukalah matamu.” Perlahan Elisa membuka matanya. Mata itu menyiratkan kerapuhan yang sangat dalam. Mata yang sudah sering mengeluarkan air mata karena emosiku yang berlebih.


Aku mengecup bibir yang juga membengkak dan terluka karena ulahku. Aku memang bajingan yang tak bisa dimaafkan. Aku membuatnya kacau. Elisa tak menolak sama sekali. Dia menundukkan wajahnya dan kembali aku mendengar isakannya. Bahunya bergetar naik turun.


Aku meraup tubuh itu dalam dekapanku. Sial, kapan aku bisa bersikap lebih baik terhadap wanita ini? Kenapa emosiku selalu membawa kami dalam posisi yang sulit? Aku hampir saja benar-benar menghancurkannya sebagai seorang wanita.


Entah datang dari mana pikiranku melakukan hal kasar untuk menghukum wanita ini. Sejujurnya, aku tak pernah memaksa seorang wanita untuk melakukan hal itu. Tapi mendengar Elisa yang terlalu mencintai pria lain, membuatku ingin menguasainya.


Aku mengecup kepala Elisa dalam diam dan mengusap punggungnya terus-menerus hingga dia tenang. Hal tersebut terus berlanjut hingga dia dengan sendirinya berhenti menangis. Aku memaksa mata itu menatapku.


Tanganku mengusap sisa air mata yang masih ada dan beralih pada bibirnya yang terluka. Aku mengusapnya dan dengan perlahan Elisa menutup matanya. Kuyakin dia masih memiliki tenaga untuk menangisi ini semua.


Aku kembali mengecup bibirnya dengan perlahan.  Kecupan itu bertahan lama hingga berubah menjadi ciuman yang sangat lembut kuberikan untuknya. Aku akan membalas ini semua, Elisa.


Aku akan memperlakukanmu lebih baik, maka bertahanlah sedikit lagi. Kita akan memulai ini dengan cara yang benar. Aku merasakan dia perlahan membalas ciumanku, sehingga aku mengeratkan dekapanku kepadanya.


Saat aku berhasil melepasnya, mata itu telah berubah. Aku tahu pikirannya akan terus mencari jawaban atas segala apa yang tengah kulakukan kepadanya kali ini. Mata itu menyimpan banyak pertanyaan dan kebingungan. Detik ini kami belum bisa mengeluarkan apa pun untuk diungkapkan.


Aku menempelkan dahiku ke dahinya dan menutup mataku. Ini berlangsung lama hingga akhirnya aku bisa mengatakan apa yang kuinginkan, “Bisakah kali ini kau tak menolakku.” 


Kumohon.


Aku menjauhkan wajahku dan menatap Elisa yang masih terdiam. Namun kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sangat lambat. Aku segera melepaskan dekapanku dan mengambil handuk kecil yang kembali kubasahkan ke dalam wadah berair. Aku meminta persetujuan Elisa untuk kedua kalinya. Aku meminta tangannya  untuk menggenggam tanganku.


Cukup lama untuk dia bisa melepaskan cengkraman selimutnya. Namun, dia berhasil memberikan kepercayaan itu kepadaku. Aku menerima tangannya dan seketika aku miris memandang pergelangan tangannya yang sangat merah akibat ikatan yang terlalu kencang. Dia sedikit meringis saat aku mengusapkan handuk di memarnya.


Tak hanya sampai di situ. Saat aku menyingkap seluruh selimut dan menyaksikan tubuh Elisa yang penuh dengan memar dimana-mana, membuatku merutuki diri sendiri. Dia kembali bergetar saat aku membersihkan seluruh tubuhnya dengan handuk basah.


Entah merasa takut, malu, atau perasaan apa pun itu yang sangat membuatnya sulit untuk menghadapiku. Memar itu tak kan hilang dengan mudah. Ini kali pertamanya aku memperlakukan wanita dengan baik setelah aku memperlakukan mereka dengan tidak layak.


Hanya Elisa.


Setelah itu, aku memakaikan apa pun yang telah dibawakan Dereck tadi pada Elisa. Benar saja, pakaian itu cocok di tubuh Elisa, walaupun kuyakin ini sangat jauh dari apa yang sering dia kenakan setiap harinya.


Aku kembali mendekati tubuh itu. Aku sangat takut dengan diriku sendiri yang di luar kendali. Aku bisa menyakitinya terus-menerus. Saat aku kembali memeluknya, dia hanya terdiam dan tak membalas pelukan itu. Kuyakin ini masih sangat sulit untuknya.


“Ini sakit?”


Dia mengkhawatirkanku?


Apa itu mungkin?


“Tidak terlalu.”


Hanya itu jawaban yang bisa kupikirkan saat ini. Kesunyian masih merayapi kami. Aku masih terus memandang ke wajah wanita ini yang entah sedang memikirkan apa. Dia mengamati tubuhku.


“Kau memiliki banyak luka—“


" … "


“—Kau menutupinya dengan banyak tato.”


Aku tersenyum untuk sesaat. Setidaknya kami memiliki topik pembicaraan, walaupun sebenarnya aku enggan berbicara tentang luka-luka ini.


“Yeah … Kurasa kau akan takut jika luka ini tak ditutupi dengan tato. Mereka kudapatkan di waktu dan momen yang berbeda-beda. Kurasa aku akan menutupi luka di lenganku ini dengan tato juga.”


Tubuhku memang memiliki beberapa tato di tempat-tempat tertentu. Itulah yang membuatku selalu memilih menggunakan pakaian tertutup. Tato yang kumiliki beragam dan  persis di atas luka yang selalu kudapatkan. Mereka berukuran kecil karena aku hanya akan menutupi bekas luka tembak atau sayatan pisau. Ah, aku benci ketika luka itu berbekas dan tak tertutupi.


Mataku fokus dengan cincin yang tersemat di jari manis Elisa. Itu sangat menggagguku. Tapi aku tak perlu terburu-buru untuk menanyakan hal ini, walaupun mulutku sangat gatal untuk menanyakannya.


“Apakah semengerikan itu? Luka mana yang paling parah?”


Aku berpikir sejenak dan dengan seketika membalikkan tubuhku sehingga menampakkan punggungku yang lebar.


“Kurasa bagian punggung.”


Tak ada respon apa pun. Saat aku melihat ke belakang, Elisa terlihat sangat terkejut. Matanya tak bisa berhenti menatap punggungku. Aku merasakan jari-jarinya menyentuh punggungku. Aku kembali membalikkan punggungku dan memegang jari-jarinya.

__ADS_1


“Mereka ... banyak sekali.”


Yang Elisa maksud mungkin tato burung-burung kecil di punggungku yang sangat banyak. Mereka seakan ingin bermigrasi saja.


“Sebanyak itukah menurutmu? Bekas luka itu kudapatkan saat di Timur Tengah. Aku juga tak percaya detik ini masih bernapas jika mengingat luka tambak itu.” Dia kembali terdiam.


“Siapa yang kau lindungi sehingga mendapatkan luka sebanyak itu?”


“Tidak, aku tak menjaga siapa pun. Aku … ”


Sejenak aku berpikir bagaimana cara menjelaskan kepada Elisa tentang pekerjaanku ini. Aku tak pernah mengungkap ini semua termasuk ke keluargaku.


“Tak apa jika sulit untuk kau jelaskan.” Aku tak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut untuk ini semua. Sekali lagi, maaf.


“Emmm, baiklah. Kau masih memiliki kekuatan untuk terjaga? Maksudku … kita tak harus berdiam diri di sini. Kuyakin ini akan sangat sulit mengingat tadi …”


Entah mengapa malam ini aku banyak berpikir sebelum berbicara dan jarang sekali untuk melanjutkannya.


Elisa menundukkan wajahnya. Aku tahu dia kembali mengingat kejadian tadi. Aku segera beranjak dari dudukku dan memakai kaos yang juga telah dibawakan oleh Dereck dan meletakkan pakaianku dan Elisa yang tidak karuan ke goodie bag.


Untung saja Dereck membelikan satu topi.


Aku memakaikan topi itu ke kepala Elisa. Dia menatap bingung ke arahku. Aku segera membereskan apa pun kekacuan di sini agar tak meninggalkan jejak apa pun.


Aku menggendong Elisa di hadapanku. Awalnya dia hanya sedikit kaget, namun tak menolak sama sekali. Dia tak bertanya apa pun kepadaku dan hanya mengalungkan tangannya ke leherku.


Saat aku membuka pintu kamar ini, banyak para pengawal Zach yang berada di sepanjang perjalanan kami. Selama di perjalanan menuju pintu keluar, Elisa selalu menundukkan wajahnya seakan menyembunyikan dirinya di balik tubuhku yang besar. Tak ada di antara kami yang membuka pembicaraan kembali.


Aku memilih lebih berhati-hati saat keluar hotel untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Kami berjalan menuju parkiran dan mencari mustang-ku. Aku meletakkan Elisa di bangku penumpang. Dia tak banyak berbicara selama di perjalanan bahkan dia tak bertanya aku ingin membawanya ke mana.


Setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai di penthouse-ku. Aku kembali menggendongnya dengan perlahan dan memperhatikan lingkungan sekitar. Tak ada yang mencurigakan dan tak ada pengawal Zach yang berkeliaran di sekitar sini.


Aku membuka pintu penthouse dengan perlahan. Saat masuk, aku melihat sepatu high heels dan sepatu mungil yang digunakan oleh Edward berserakan di lantai. Syukurlah, mereka sudah tidur. Kuyakin Elisa juga melihat apa yang tengah kulihat tadi, tapi dia tak sedikit pun ingin bertanya.


Aku meletakkan goodie bag yang berisi bajuku dan Elisa di sofa ruang tamu dan membawa Elisa ke kamarku di lantai dua. Aku  meletakkannya di kasurku. Dia tak keberatan sama sekali dengan apa yang kulakukan. Masih dalam posisi duduk di kasurku dan aku jongkok dihadapannya dengan melingkarkan lenganku di pinggangnya, “Kau lapar?”


Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku … sedikit mengantuk.”


Aku membawa beberapa helai rambut di wajah Elisa ke belakang telinganya. Aku mengusap sisi wajahnya dan mengecup dahinya. “Tidurlah di sini.  Aku tak siap membawamu kembali kepada Zach.” Dia mengganggukkan kepalanya. Aku tahu ini adalah kali terakhir Zach memberikan keramahannya kepadaku.


Aku membantu Elisa memosisikan diri untuk nyaman berbaring di kasurku dan kembali mengecup dahinya sebelum aku berlalu ke kamar mandi. Aku akan membersihkan diriku sebelum tidur. Pikiranku masih bekerja dan tak berniat untuk beristrahat. Aku harus menjernihkan pikiranku ini.


Beberapa menit setelahnya, aku keluar dari kamar mandi. Elisa sudah terlelap. Dia sangat tenang dalam tidurnya. Aku membenarkan selimutnya agar tidak kedinginan. Aku membaringkan diriku di sofa yang tak jauh dari kasur. Aku menatap tubuh Elisa yang tengah terlelap. Dia masih begitu cantik. Aku sangat tak rela melepaskannya.


Beberapa menit berlalu, namun aku belum mengantuk sedikit pun. Aku terus mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu ketika nama Elisa disebut jelas oleh Jose. Mereka mengincar Elisa.


Keamanannya akan sangat dipertaruhkan dan sialnya aku malah membuatku semakin jauh dengannya. Zach tak lagi memberikan hak apa pun terhadapnya. Pikiran itu terus berkelana di kepalaku hingga aku kesal sendiri tak bisa tidur.


Ini sudah menginjak jam dua pagi. Aku akhirnya tak bisa menahan diriku untuk mendekap wanita ini. Aku ingin merasakan tubuh itu di pelukanku. Saat aku merengkuh tubuh itu, Elisa agak sedikit terganggu, mungkin karena suhu badanku yang dingin. Aku selalu melepas bajuku saat tidur.


Aku mengeratkan kembali pelukanku. Dia sangat hangat. Hangat tubuhnya bahkan terasa merambat ke tubuhku, menimbulkan suasana yang menenangkan. Secara perlahan suasana menenangkan itu mengantarkanku untuk tidur.


Aku ingin waktu berhenti untuk sesaat.


Aku ingin wanita ini terus berada di sisiku.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2