
Parker’s Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 08.30 am.
Suasana hening dan canggung berada di ruang makan ini yang hanya diisi oleh suara denting peralatan makan. Ya, ini terjadi pada kami semua yang berada di meja makan ini untuk sarapan. Kedatangan Tuan dan Nyonya Amstrong di sini sudah tak membuatku terkejut. Yang membuatku terkejut yaitu dua orang itu yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, entah itu marah, khawatir, atau kesal.
Nampaknya yang paling tidak nyaman di meja makan ini adalah sosok yang duduk di antaraku dan Zach. Elisa terlihat tak tenang dalam sarapannya kali ini. Dia sesekali melirik ke depannya yang terdapat Ayah dan Ibunya, dan sesekali juga menyembunyikan wajahnya dengan merunduk berpura-pura menikmati makanannya.
Kesunyian berakhir ketika suara Elisa terdengar, "Ehem... Ayah aku-"
"Selesaikan dulu sarapan ini, kita bisa membahas apapun itu setelahnya."
Ternyata hanya bertahan sebentar karena sepertinya Tuan Amstrong benci dengan kegiatan berbicara saat di meja makan. Mendengar apa yang dikatakan Tuan Amstrong, tak ada dari kami semua yang membuka pembicaraan hingga akhir sarapan ini.
Ketika sarapan sudah selesai, kami semua duduk di ruang tengah istana Zach. Beberapa pelayan telah menghadirkan sajian penjamuan tamu biasa yang kuyakin tidak akan ada yang akan menyentuhnya. Saat semuanya sudah duduk, orang pertama yang membuka pembicaraan tenyata Nyonya Amstrong.
"Jadi, Anak Nakal, apa yang telah kau lakukan semalam? Ayahmu tak ingin memberitahukan itu kepada Ibu tantang keributan apa yang telah kau buat. Ibu akan mencoba untuk tidak memotong ceritamu jika Ibu tidak kesal."
Elisa sepertinya tambah tertekan ketika Ibunya yang malah bertanya. Sebelum menjelaskan, dia sedikit melirik Ayahnya yang sepertinya sudah malas berkomentar. Dia juga beralih melirik Zach yang sepertinya masih kesal dengan perbuatannya.
"Emm... Jadi sepertinya aku telah membuat kegaduhan yang sulit untuk dimaafkan."
Dia menundukkan wajahnya dan sepertinya masih memikirkan kalimat yang tepat untuk tidak membuat Ibunya marah.
"Ya, teruskan."
Kerutan perlahan muncul di wajah Nyonya Amstrong yang tidak sabar dengan penjelasan Elisa.
"Aku... Aku mencoba pergi ke Istana Zach sendiri tanpa memberitahu seorang pun. Aku-"
"Ok, cukup. Jadi maksudmu kau pergi ke sini seorang diri, tanpa pengawalmu atau siapapun yang kau kenal?"
"Tidak, dia meninggalkan bodyguard-nya sendiri di Pengisian Bahan Bakar dan kabur menaiki taxi tanpa memberitahu tujuannya kemana."
Zach menjawab dengan cepat pertanyaan Nyonya Amstrong. Dan reaksi Nyonya Amstrong sangat terkejut, sontak dia menyandarkan punggungnya ke sofa dan memegangi kepalanya. Tuan Amstrong yang melihat istrinya lemas, seketika merangkul lengannya dan mengusapnya dengan lembut untuk membuat istrinya tenang.
"Ya ampun, Elizabeth Amstrong! Tidakkah kau tahu itu sangat berbahaya. Bagaimana jika kau... kau... Aku tak berani memikirkan kemungkinan buruk apa yang akan terjadi jika kau melakukan hal itu."
Elisa tertunduk lemas dan sama seperti Tuan Amatrong, aku juga menenangkan Elisa yang merasa sangat bersalah atas perbuatannya.
"Maafkan aku, Bu. Aku sungguh menyesal dengan apa yang terjadi. Aku bodoh."
Tuan Amstrong yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara, dia sepertinya sudah menenangkan pikiran dari kepanikannya yang besar semalam.
"Kau mengakui itu perbuatan yang salah, maka jangan diulangi. Setidaknya... pikirkanlah akan berapa banyak orang yang akan khawatir dengan apa yang kau lakukan."
Elisa hanya mengangguk-angguk tak berani melihat kedua orang tuanya. Sementara itu Nyonya Amstrong kembali berkomentar, "Ya ampun James, kepalaku sangat sakit mendengar ini semua. Haruskah kita mengurungnya agar tidak melakukan perbuatan konyol lagi?"
Selama beberapa menit berlalu dan Nyonya Amstrong terus mengulangi ocehannya. Untungnya suaminya masih terus menenangkannya, kurasa dia juga tidak berani untuk memotong setiap ucapan istrinya. Sudah puas dengan Elisa, Nyonya Amstrong kembali melempiaskan kekesalannya kepadaku.
"Lalu kau. Aku tak habis pikir mengapa Elisa mau dengan pria sepertimu. Ya ampun, tidakkah kau tahu posisimu. Kau pria yang aneh dan kasar untuk anak wanitaku, kau bukan pengusaha sukses dan bukan anak bangsawan juga, bahkan aku tak pernah mendengar kau di berita manapun. Bagaimana bisa kau datang di kehidupan anakku? Kau hanya pengawal Zach dan lagi kami sudah menyiapkan seseorang untuk Elisa. Jadi-"
"Bu, cukup! Sudah, kami mengerti jadi berhenti membahas di luar apa yang telah terjadi kepadaku."
Untuk sekian lama akhirnya Elisa bersuara. Dia menggenggam jariku sangat kuat, sepertinya dia menahan kekesalan dengan apa yang Nyonya Amstrong katakan.
Sedangkan aku hanya bisa mengernyitakan dahi mendengar pernyataan Nyonya Amstrong. Aku menatap sinis kepada Tuan Amstrong yang sepertinya malas untuk menjelaskan dan ikut campur.
"Ah ya Ampun James, dengarlah! Elisa memotong ucapanku saat aku sedang kesal dengan tingkahnya. Oh ya Tuhan, anak ini membuatku semakin pusing."
Aku merasakan genggaman Elisa semakin mengencang saat mendengar Ibunya yang mengadu kepada Ayahnya. Dan yang dilakukan Tuan Amstrong hanya mencoba menenangkan istrinya.
"Sudahlah, kau harus beristirahat. Elisa sudah menyesali perbuatannya. Lebih baik kau menenangkan diri, ayo kita ke taman dan berjalan-jalan sebentar."
Ternyata rayuan Tuan Amstrong kepada istrinya berhasil. Istrinya menyerah dan masih mengoceh sembari meninggalkan kami bertiga. Zach yang tak berani ikut campur dengan hal ini, segera beranjak meninggalkan kami juga.
Saat tak ada lagi tiga orang itu di ruangan ini, sontak Elisa menyandarkan tubuhnya ke sofa dan berkata, "Ahh, aku kesal sekali. Baru saja aku menyesali apa yang telah kulakukan tapi Ibu malah membuatku berpikir untuk menarik kata-kata penyesalanku."
__ADS_1
Aku enggan mengomentari itu, kurasa Elisa sudah menahan rasa kesalnya sejak Ibunya mulai membicarakan hubungan kami. Dia melirikku dan kembali menggenggam tanganku.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Ibuku. Itu omong kosong, dia bahkan tak menyadari suaminya juga sangat kasar. Dan..."
Dia menimbang-nimbang untuk melanjutkannya, "Tak ada pria lain yang Ibuku tadi katakan, Ayahku tidak pernah membicarakan apapun itu denganku, tidak sekalipun."
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti, padahal yang kulakukan hanya menikmati Elisa yang kebingungan memberikan penjelasan dari apa yang telah Ibunya katakan tadi. Melihat aku yang tak membuka mulut dari tadi, dia akhirnya berkata, "Ayolah, Leon katakan sesuatu. Kau membuatku khawatir kalau diam, itu malah aneh."
Aku akhirnya tertawa, "Hahahhaha, ya ya ya aku mengerti. Bukankah kata Ibumu tadi aku pria yang aneh?"
Dia menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak, Ibuku yang aneh."
Aku kembali tertawa dengan pembelaan Elisa terhadapku. Suasana yang kembali mencair membuat Elisa kembali seperti semula. Dia sudah bisa tersenyum dan tertawa begitu lepas. Di sela-sela candaan kami, aku akhirnya bertanya kepada Elisa, "Apakah aku bisa menagih hadiah dari kekasihku ini?"
Dia menganggukkan kepala, "Tentu saja, apa yang kau inginkan?"
Aku berpura-pura berpikir. Dia terlihat penasaran menunggu jawabanku.
"Emm, sebenarnya aku ini pergi ke suatu tempat bersamamu, tapi itu bukan di Inggris."
"Benarkah, ayo kita pergi. Aku hanya harus meminta izin kepada Ayah. Kurasa dia akan menyetujuinya jika pergi bersamamu."
"Tidak, biarkan aku yang berbicara. Lagi pula ada yang harus kucari tahu sendiri dari Ayahmu."
Elisa menyipitkan mata, tanda begitu penasaran. Namun dia tak membantah apa yang kuinginkan dan hanya mengiyakan. Setelah itu, aku memberikan ruang untuk Elisa menyiapkan diri, sepertinya dia kembali ingin berdebat dengan Ibunya lagi.
...***...
2 weeks later...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 07.15 pm.
"Ada hal penting yang ingin kau katakan?"
Tuan Amstrong sedikit membenarkan kacamata bacanya yang sebenarnya tidak bermasalah sama sekali.
"Ehemm... Nada bicaramu tidak seperti sedang meminta izin, Nak. Kau hanya ingin memberitahukan itu?"
Aku memberikan jeda karena memikirkan nada bicaraku tadi dan berkata, "Ya, aku tak tahu cara yang lebih baik untuk meminta izin denganmu, Tuan Amstrong. Kudengar Ayahku pernah bertemu denganmu beberapa waktu lalu."
Tuan Amstrong akhirnya melepaskan kacamata bacanya sambil menjawab, "Aku bahkan terkejut beliau mau mengunjungiku sejak lama. Jadi... kau seorang Broklyn?"
"Hmm."
Tuan Amstrong ternyata mengetahui keluargaku. Aku tak yakin dia tahu dari Zach, kurasa dia memang sudah mengenal Ayahku sebelumnya.
Lama termenung, suara Tuan Amstrong kembali terdengar, "Kau... persis seperti keturanan Broklyn yang ada digambaranku. Begitu arogan dan berani, tidak tahu diri, pemaksa, keras kepala, bertingkah semaunya."
Darahku rasanya mendidih dengan apa yang kudengar, aku berusaha untuk tidak mengumpati Pak Tua.
"Kalian tak memiliki belas kasih sama sekali. Tapi... anehnya selalu takluk hanya karena wanita. Eleanor-"
Mataku terbelalak dan segera bangkit dari dudukku, "Kau! Dari mana kau tahu nama itu?!" Aku berhasil menodongkan pistol ke arah Tuan Amstrong.
"Matamu, kau memiliki mata yang sama Eleanor miliki. Wanita... yang dibeli oleh seorang Broklyn Bodoh, yang memiliki keberanian meninggalkan dan mengkhianiti nama keluarganya sendiri hanya untuk seorang-"
Dooorrr....
Peluru keluar dari pistol yang kugenggam dengan tangan bergetar. Kata-kata itu menyiksaku, aku sangat benci ketika seseorang mengetahui kehidupan kelam keluargaku.
"Jangan melanjutkan ucapanmu, aku tak berbelas kasih Tuan Amstrong. Jangan berani-beraninya kau mengorek masa lalu keluargaku. Aku tak mengasihani nyawa siapapun dan kau tahu itu."
Suara tembakanku yang tadi terdengar berhasil merusak salah satu lukisan Tuan Amstrong. Dan suara itu juga yang telah membuat gaduh orang di luar sana. Seketika pintu terbuka dan beberapa agen yang ada di kumpulan bodyguard terkejut menyadari ternyata tembakan itu berasal dariku.
Keributan mulai terdengar, beberapa meneriakiku untuk menurunkan senjata tapi tentu itu tak kulakukan. Seketika suara gaduh itu diam saat Tuan Amstrong mengangkat tangannya untuk membuat orang-orang itu diam.
__ADS_1
"Bawalah Elisa bersamamu, aku ingin anakku kembali dengan kondisi yang sama. Dan berhenti menodongkan senjata kepadaku, Ayahmu akan marah jika mengetahui kau merusak lukisan yang dia berikan kepadaku."
Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, aku menurunkan pintolku. Aku menatap lukisan yang ada di belakang punggung Tuan Amstrong. Mencoba menerawang dalam ruangan yang sudah sesak ramai orang menatapku dan lampu yang cukup remang.
Aku terkejut dua kali, apa-apaan ini. Apa Ayah gila!
Itu lukisan Luxy, lukisan yang menggambarkan potret masa kecilku. Aku masih ingat lukisan itu ada di galeri bawah tanah milik Luxy, sudah usang bahkan berdebu.
Saat aku masih dengan keterkejutanku, sontak teralihkan dengan suara Elisa dan Nyonya Amstrong yang masuk akibat kegaduhan ini. Baru saja aku ingin menjelaskan, Tuan Amstrong langsung menyela dan mengatakan jika dia meminjamkanku senjata dan tidak masuk akalnya senjata itu berisi peluru sehingga merusak lukisannya.
Nyonya Amstrong yang terlihat marah namun tak ingin berkomentar menatap sinis kepadaku. Sedangkan Elisa masih berdiri di sampingku. Dia memegang lenganku dan menarikku keluar dari kerumunan.
Dia tak bertanya dan hanya menarikku menuju kamarnya. Saat dia berhasil menutup pintu kamarnya aku segera memeluknya dari belakang. Aku hanya berbisik, "Maafkan aku, seharusnya aku tak seperti tadi, aku terbawa emosi."
Aku merasakan Elisa menghembuskan napas kasar dan berkata, "Apa yang Ayahku katakan? Kuyakin kau tak kan berani seperti itu jika Ayahku tak mengatakan hal yang menyakiti hatimu."
Perasaan lega mengisi relung hatiku. Entah apa ini, untuk pertama kalinya aku merasa dilindungi. Seorang wanita yang bahkan sabar bertanya kebenarannya yang padahal dia sangat jelas melihat apa yang telah kulakukan. Sial mengapa aku begitu cepat terharu hanya dengan kata-kata Elisa.
Apakah pertahananku sudah mulai rapuh hanya dengan kata-kata Elisa? Aku bahkan tak bisa menyembunyikan kalau aku sendiri bisa meneteskan air mata. Ya, ternyata apa yang Tuan Amstrong katakan benar, kami mudah luluh karena wanita. Tapi kata-katanya sungguh membuatku sakit, bagaimana cara dia menyebut tentang masa lalu Ibuku itu sungguh kejam.
Saat aku masih mengatur emosi, tiba-tiba Elisa berbalik dan melihat apa yang terjadi kepadaku. Seketika dia memelukku dan mengusap punggungku dengan lembut.
"Oh Leon, ada apa yang terjadi kepadamu? Apa itu menyakitimu?"
Dia melepaskan pelukannya dan beralih memegang sisi wajahku. Dia menghapus air mataku yang masih tersisa dan terus bertanya kepadaku apa yang terjadi. Aku tak ingin membahas hal tersebut kepada Elisa, mungkin suatu saat nanti.
"Aku tak apa Elisa, aku hanya terlalu..."
Aku tak melanjutkan apa yang kukatakan, aku hanya menatap kekhawatiran Elisa di depanku. Semakin menatapnya aku merasa semakin rapuh. Oh ya Tuhan, aku begitu mencintai wanita ini.
Elisa mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti, dia tak menuntutku dengan pertanyaan lagi. Semenjak kejadian hari itu, Elisa terlihat begitu berbeda. Dia menjelma menjadi seorang cenayang yang bisa memahami perasaanku begitu cepat. Sedangkan aku mulai tidak fokus dengan segala hal setelah kejadian hari itu.
Namun Elisa selalu membawa diriku kembali kepada diriku yang sesungguhnya. Dia membuatku lebih nyaman setiap kali bertemu, hal pertama yang dia tanyakan selalu, 'apa semuanya baik-baik saja?' nada suaranya bahkan masih kuingat. Dan entah mengapa dia terus memanjakanku dan tidak bertingkah dengan menyulut emosiku.
-
Begitu juga dengan hari ini, yang dia katanya adalah, "Aku sudah menyiapkan semuanya, Ayah dan Ibu juga sudah menyetujuinya. Aku akan berlibur bersamamu selama satu minggu. Apa kita bisa memulainya hari ini? Bukankah kau sudah merencanakan ingin kita ke suatu tempat?"
Aku mengernyitkan dahi, "Kau serius, hari ini juga? Sekarang?"
"Ya, kenapa tidak. Aku sudah menyuruh Dereck memasukkan semua yang kubutuhkan ke mobil. Hanya tinggal menunggumu."
"Oh waw, jadi kau sengaja menyuruhku ke sini untuk mengatakan hal itu? Aku bahkan belum menyiapkan-"
Elisa langsung memotongku, "Tidak, tidak, tidak. Kita tidak membutuhkan persiapan yang penting untuk liburan singkat kita."
"Itu tidak singkat Elisa, satu minggu sudah cukup untuk waktu liburan kita bersama."
"Jadi maksudnya kita harus duduk berdiskusi dulu untuk satu minggu kita yang sebenarnya bisa kita mulai saat ini juga tanpa berpikir panjang?"
Dasar wanita ini. Aku ingin sekali menerkamnya.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...•••...
__ADS_1