The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 15. I'm Too Far Gone in All The Wrong Ways


__ADS_3

Penthouse Greenwich Avanue, Greenwich (London Raya), UK – 07.07 am.


Apa dunia di atas awan memang ada? Dongeng konyol yang kupercaya serasa nyata. Aku percaya ada suatu negeri tak kasat mata, di mana kau bisa menginjakkan kakimu di atas awan yang lembutnya terbuat dari kapas. Kau bahkan bisa melompat dan melayang dengan sangat tinggi di atas gumpalan halus itu.


Dan tanpa sadar, saking tingginya kau melompat kau bisa tenggelam di dalamnya. Tapi tenang saja, kau tak kan pernah jatuh ke dasar. Kau akan diperangkap oleh gumpalan itu yang menawarkan segala kelembutannya. Perlahan kau akan menikmatinya dan terlelap bersama kenyamanan yang kau rasakan.


Duk ... Duk ... Duk ...


Apa yang terjadi? Gumpalan awan ini bergerak. Aku terbangun dari tidur santaiku di antara kapas-kapas. Suara bisikan terdengar. Apakah para kurcaci pencuri kapas datang? 


Oh, tidak! 


Aku tak kan membiarkan kapas-kapasku hilang. Aku hampir mencapai sumber getaran itu dengan terus menyingkirkan gumpalan-gumpalan yang menghalangi.


Saat aku menyingkirkan gumpalan terakhir di depan wajahku, aku menemukan sinar matahari menerpa wajahku. Ini menyilaukan. Saat aku kembali membuka mataku, ternyata benar. Itu kurcaci pencuri. 


Dia tertawa tak berdosa dan terus memukuliku. Hidungku sakit dan basah karena dia melempariku dengan butiran air beku. Lihat saja, aku akan menangkapmu, Kurcaci!


Baru saja aku ingin mendorongnya yang berlarian ke tepian awanku, tanpa sadar aku tersandung dan aku merasa akan terjatuh detik itu juga. Oh, Sang Pencipta Awan, selamatkanlah aku! 


Tunggu dulu, aku tak jatuh. 


Saat aku membuka mataku, aku melihat kakiku melayang di udara bebas dan dasar di bawah sana terlihat sangat menyeramkan. Terima kasih kepada siapa pun yang telah menyelamatkanku.


Aku merasakan seluruh rambutku dicengkram sangat kuat, kepalaku sakit. Saat aku melihat ke atas, ternyata kurcaci itu memegang rambutku. Dia tertawa bodoh dan ... berhasil menyelamatkanku. Aku memberikan senyuman terbaikku untuk kurcaci ini. 


Apa kita akan berteman?


Duk ... Duk ... Duk ...


Tunggu dulu, apa lagi ini? Getaran awan ini semakin keras. Kepalaku semakin sakit. Kurcaci itu berusaha mempertahankan genggamannya di rambutku.


Tapi ... itu tak berhasil, aku akhirnya terlepas dan terjatuh ke dasar yang menyeramkan itu. Aku melihat wajah kurcaci itu begitu sedih. Aku terjatuh dan terus berteriak begitu kencang hingga ...



Aku terhempas ke suatu tempat yang begitu lembut. Perlahan aku membuka mataku kembali. Aku masih sangat takut ini di mana. Aku mengerjapkan mataku dan kembali mengusapnya. Apa ini nyata? 


Kurcaci itu terbaring di sampingku. Wajahnya tepat di depan wajahku. Bibirnya bahkan begitu dekat dengan hidungku. Dia menjalin rambutku yang panjang, tepatnya mengacak-acak rambutku. Dia tertawa dan terlihat senang saat bisa menyembunyikan wajahnya di balik rambutku.


Tunggu dulu ...


Aku masih berpikir keras. Aku memperhatikan tempatku sekarang terbaring.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


"Ahhhhh! Kau kurcaci itu. Kau menculikku!" 


Aku segera bangun dari tidurku. Aku menjauhkan tubuhku ke sudut kasur dan menutupi tubuhku dengan selimut. Apa aku masih waras? Bagaimana bisa kurcaci di mimpiku menjadi nyata? Dia benar-benar menculikku.


Aku memberanikan diri mengintip keluar selimut. Anak kecil yang menjadi kurcaci di mimpiku itu terduduk dengan menyilangkan kakinya tepat di depanku. Dia diam dan terlihat bingung memperhatikanku. Apa yang dia inginkan?


"Apa yang kau inginkan? Kau ini makhluk apa?" Aku bertanya seakan berbisik. Dia terdiam, namun setelahnya dia memukul-mukul kasur dan tertawa.


"Ma ... mah ... ma ... mah ... ma ... mah" 


Mama? Anak kecil ini terlihat nyata. Dia mengenakan baju tidur bercorak bintang-bintang. Perlahan aku menyentuh pipinya. Dia terdiam kembali. 


Dia nyata. Saat aku kembali menyentuh wajahnya, tiba-tiba dia bangun dari duduknya dan segera melingkarkan tangannya di leherku sembari melempot-lompat di pahaku. Ini sakit.


"Hey! Hey! Lepaskan. Apa yang salah denganmu? Lepaskan. Kau menakutiku." 


Aku melepaskan tangannya dengan susah payah karena dia terus melompat memanggil kata 'mama' mungkin. Namun, sepertinya aku begitu keterlaluan.


Dia terdorong dan terbaring begitu saja. Untung saja dia terjatuh masih di atas kasur. Aku sepertinya membuat dia terkejut. Matanya seketika mulai berkaca-kaca dan kuyakin sebentar lagi akan menangis.


Benar saja, dia terisak namun dia tak menangis meraung-raung seperti anak kecil pada umumnya. Oh, aku wanita yang jahat. Lihat, anak ini menangis terisak. Sepertinya dia menahan tangisannya hingga wajahnya memerah.


Dengan seketika aku meraup tubuhnya. Dia ringan dan masih sanggup kugendong. Aku membawanya turun dari kasur dengan mengelus kepalanya dan menyandarkannya dipundakku.


"Hey, tenanglah. Maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu." Dia masih terus terisak. Aku tak memiliki petunjuk untuk membuat anak kecil berhenti bersedih. Bagaimana ini?


"Iyah, iyah, iyah aku wanita yang jahat. Kau bisa memukulku. Pukul aku." Aku menggerakkan tangannya untuk memukul pipiku tapi dia tak berhenti menetaskan air matanya. Aha, rambutku.


"Hey, lihat. Kau menyukai rambut pirangku? Ini, ini pegang. Kau bisa memainkannya. Aku akan mengajarkan bagaimana cara menjalinnya dengan benar." 


Aku mengambil segenggam rambut panjangku dan menunjukkannya di depan anak ini. Aku memainkannya dengan menyentuhkannya ke pipi kemerahannya. Berhasil. Dia berhenti menangis.


Wajahnya begitu berbinar saat memegang rambut pirangku. Detik berikutnya dia melempar-lempar rambutku. Dia kembali berusaha menyembunyikan dirinya di balik rambutku. Okay, sepertinya aku menemukan satu orang yang sangat menyukai rambutku.

__ADS_1


Mengabaikan kesenangan anak di gendonganku, aku melirik ke seluruh ruangan ini. Begitu asing. Tanganku sakit. Saat aku melihat memar di pergelangan tanganku, akhirnya aku sadar.


Leon ...


Semalam ...


Ah, aku tak ingin mengingat kejadian itu. Aku mendengar bunyi air. Apa Leon mandi? Aku memperhatikan anak di gendonganku. Kau anaknya? Kau yang semalam juga datang bersamanya?


Aku membalikkan tubuhku dan melihat jendela kaca yang sudah terbuka. Udara yang juga asing. Berarti di sini juga ada wanita itu. Aku memejamkan mataku. Apa dia ingin menjadikanku selingkuhannya? Ini gila, aku tak seharusnya di sini.


"Ma ... mah ... ma ... mah" Aku kembali membuka mataku. Anak ini begitu menggemaskan. Lihat saja dia begitu antusias menggigiti rambutku. Apa dia begitu menyukai rambutku? Sayang sekali ...


Aku membencimu.


Aku tak menyukai keberadaanmu.


Aku tak menyukai ibumu. Karena ...


Cklek ...


Aku mencari sumber suara itu. Leon. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Rambut dan tubuhnya masih terlihat basah. Dia begitu terekspos. Dia hanya menutupi daerah pinggangnya ke bawah dengan handuk. Aku bisa melihat tato yang ada di tubuh bagian atasnya dengan jelas.


Sejanak waktu terasa berhenti. Kami hanya fokus saling memandang hingga anak di gendonganku bergerak sembari memanggil, "Pa ... pah ... pa ... pah ... pa ... pah"


Papa? Dia meronta dalam gendonganku dan berusaha merentangkan tangannya, berharap Leon menghampirinya.


"Kau membangunkan tuan putri, Son."


Leon menghampiri kami dan mengambil anak di gendonganku. Sepertinya anak itu memang menyukai segala jenis rambut. Dia tertawa begitu terbahak-bahak saat mengacak-acak rambut Leon yang basah.


Namun, saat ini juga aku begitu terpana saat suara tawa itu bercampur dengan tawa Leon. Leon tertawa. Maksudku memang tertawa dengan suaranya. Dia sama bahagianya dengan anak itu. Entah mengapa hatiku sedikit sakit melihatnya.


Tak lama kembali terdengar ketukan pintu yang sangat kencang. Bukan ketukan tapi ini pukulan.


"Leon! Bukalah pintu ini. Edward ... Edward tak ada. Apa dia bersamamu!" 


Leon yang sedang bercanda dengan anak itu segera melirik ke arahku. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa aku harus bersembunyi?


Tapi Leon tak mengatakan apa pun. Dia perlahan hanya mengusap kepalaku dan berlalu ke arah pintu. Aku membalikkan badanku dan kembali menatap pemandangan di luar jendela.


"Leon ... Oh, Edward! Kau menakutiku. Kau tidur dengannya?" Edward. Nama anak itu Edward.


"Tidak. Aku bahkan terkejut dia bisa mencapai kamarku. Kira-kira apa yang dilakukan ibunya hingga tak sadar anaknya menaiki tangga yang sangat tinggi dan mengetuk-ngetuk kamarku di pagi buta." Aku penasaran dengan kebersamaan mereka. Aku membalikkan badanku dan kembali hatiku begitu sakit.


"Ada apa dengan wajahmu?" Aku melihat Leon memeriksa wajah wanita itu dengan teliti. Dia mengusap wajah wanita itu dengan lembut.


"Tidak ... Aku hanya khawatir Edward menghilang."


"Jangan membodohiku. Matamu membengkak, semalam kau—"


"Ma ... mah ... ma ... mah"


Anak kecil yang sekarang kutahu bernama Edward meronta-ronta digendongan Leon. Dia melihatku dan kembali merentangkan tangannya. Dia berhasil menginterupsi dua orang yang sangat sempurna di pandanganku.


"Hey, Boy, tenanglah!" Edward terus meronta ingin diturunkan. Leon pasrah dan menurunkan anak itu. Dengan lincahnya Edward berlari terhuyung-huyung ke arahku.


Dia berhasil mencapai pahaku, dia menarik-narik celana jeans-ku, berharap aku menggendongnya. Aku menggendongnya dan dia bermain-main dengan rambutku.


Saat aku melirik ke arah pintu, terlihat Leon dan wanita itu menatap kami. Wanita itu terlihat kebingungan. Tentu saja, dia pasti banyak menyimpan pertanyaan.


"Leon—"


"Akan kujelaskan nanti." Leon segera memotong ucapan wanita itu. 


"Baiklah ... aku menunggu kalian di meja makan nanti. Mandikan Edward." Setelah mengatakannya, wanita itu berlalu dan Leon kembali menutup pintu. Dia menghampiriku.


"Kemarikan Edward. Dia mungkin berat. Kau ingin membersihkan diri?"


"Tak apa ... dia ringan."


Edward beralih ke gendongan Leon kembali. Tapi dia nampaknya sedikit kecawa. Dia terus menarik rambutku yang digenggamnya dan enggan melepaskannya.


"Edward, lepaskan! Dia tak kan kemana-mana. Kau harus membiarkan dia mandi. Kau juga harus mandi."


Leon terlihat berbeda. Sifatnya melembut dengan Edward. Saat Leon berhasil menyingkirkan tangan Edward di rambutku, tiba-tiba Edward berkaca-kaca. Ini seperti dia yang tadi. Dia akan menangis.


"Leon tak apa. Biarkan dia bersamaku. Aku akan mandi bersamanya." Entah datang dari mana pikiran itu. Aku juga takjub bisa berkata seperti itu.


"Kau yakin?" Alis kiri Leon terangkat. Satu orang juga takjib dengan perkataanku. Aku sendiri tak tahu harus memandikan seorang anak kecil seperti apa.


"Yeah ... aku hanya membuatnya wangi saja saat keluar dari kamar mandi, bukan?"


"Yeah, kurasa seperti itu."

__ADS_1


"Kamarikan." Saat aku kembali menggendong Edward, dia sangat senang. Dia tak jadi menangis.


Aku ikut tertawa saat dia juga tertawa. Seketika aku merasakan kepalaku diusap dengan lembut. Leon melakukannya dan dia tersenyum. Pertama kalinya aku merasakan ketulusannya saat tersenyum. Jantungku terasa kembali berdetak dengan tak karuan. Ini sangat tak pantas kulakukan. 


Aku terdiam tak bisa merespon lebih untuk ini semua. Leon sepertinya menyadari kebingungan yang kurasakan. Dia mengecup dahiku, dan saat itu juga Edward yang menatapku berhenti tertawa.


"Pakailah waktumu sebanyak yang kau inginkan. Edward sangat suka berlama-lama di kamar mandi. Aku tak kan mengganggu. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu dan Edward. Aku menunggumu di meja makan." Aku bingung, Leon. Kau tak harus melakukan ini kepadaku.


Kebingunganku berhenti ketika dahiku terasa basah. Edward meniru apa yang dilakukan Leon. Dia mengecup dahiku dengan bibir basahnya. Dia begitu menggemaskan. Aku tak bisa berpaling dari anak ini.


Leon tersenyum melihat kedekatan kami. Dia segera menyuruh kami ke kamar mandi sebelum dia berlalu keluar kamar.


Saat aku masuk kamar mandi Leon, ini juga begitu asing. Dan anehnya Edward juga seperti kebingungan dengan kamar mandi ini. Aku merasakan aroma maskulin yang sangat kuat di kamar mandi ini. Leon sangat nyata di sini. Dan aku menemukan bathtub yang berada di sudut ruangan ini.


Baiklah, Edward. Kita akan memakai banyak waktu untuk berendam di dalamnya.


Aku menyiapkan air terisi penuh di bathtub dan memikirkan apa yang akan kulakukan dengan Edward yang terdiam. Aku menurunkannya ke lantai.


"Hey, Edward dengarkan aku. Kau beruntung. Kau adalah pria pertama yang mandi bersamaku. Jadi jangan mencuri pandang dengan tubuhku. Aku tahu tubuhku akan membuatmu kagum, tapi kuharap kau tak macam-macam." Edward terdiam memperhatikanku berbicara dengan wajah polosnya.


"Ah, aku sudah gila. Mana bisa dia mengerti dengan apa yang kukatakan." Aku akhirnya mengakhiri monologku dengan melepaskan pakaian kami berdua. Aku sedikit malu saat menyadari mandi dengan seorang anak laki-laki. Dia adalah anak pria yang kucintai. Dunia begitu gila.


Saat aku meletakkan Edward di bathtub, dia begitu bahagia. Dia tak berhenti tertawa dan memercikkan air di sekitarnya. Sedangkan aku menenggelamkan diri dan memejamkan mataku.


Leon bodoh. Dia tak menyediakan sabun yang lebih manis untuk kami berdua. Aku merasakan aroma yang kami gunakan begitu seperti Leon. Aku memeriksa lemari kecil tempat persediaan sabun tapi tak menemukan yang cocok untuk kami.


...***...


15 minutes later ...


Entah mengapa ini selalu terulang ketika aku mandi dengan bathtub. Pasti tertidur. Aku terbangun dengan Edward yang menginjak pahaku dan memukul pundakku.


"Ma ... mah ... ma ... mah"


Mengapa dia selalu mengatakan hal itu. Aku bukan ibumu. Ah, busanya hilang semua. Bathtub ini sudah tak begitu menarik lagi bagi Edward. Aku memeluk tubuh kecil Edward dan menatap ke dalam matanya.


"Kau memiliki mata yang berbeda dengannya, Edward. Sayang sekali kau tak mewarisi mata indah itu. Tunggu dulu, wajah menyebalkan ini mengingatkanku pada seseorang."


Edward kembali tertawa dan semakin membuat pahaku sakit saat dia kembali melompat-lompat. Aku mengangkat tubuhnya untuk beralir ke shower. Kami harus menyelesaikan ini dengan segera. Sudah berapa lama kira-kira kami berendam?


Aku memakai bathrobe untuk menutupi tubuhku dan menutupi tubuh Edward dengan handuk tebal. Dia bahkan seperti tenggelam di dalamnya. Dia selalu menggemaskan.


Saat kami keluar, kamar Leon begitu sunyi. Tempat tidur sudah rapi dan di atasnya terdapat pakaianku dan pakaian Edward beserta pernak-pernik wewangian bayi. Aku memakaikan baby oil dan bedak ke seluruh tubuh Edward. Wajahnya bahkan terlihat sangat putih. Aku tertawa terbahak-bahak. Apa yang telah kulakukan.


Setelahnya, aku membiarkan Edward bermain-main di kasur sementara aku berpakaian dan merapikan diri. Aku sangat malu saat memakai pakaian ini.


Bagaimana bisa pakaian dalam yang kukenalan juga begitu pas. Leon tak memberikan apa pun selain pakaian-pakaian ini. Aku akhirnya menggunakan wewangian bayi yang membuat aromaku juga sama dengan Edward.


Saat aku selesai, Edward sudah terlihat jenuh di ruangan ini. Dia memukul-mukul pintu ingin keluar, namun dia tak bisa mencapai kenop pintu. Aku akhirnya memutuskan untuk membawa Edward keluar. Kami harus mencapai meja makan.


Saat kami berhasil mencapai meja makan, aku melihat Leon dan wanita itu sudah menyelesaikan sarapan mereka. Edward kembali merengek ingin duduk di pangkuan Leon.


"Hey, Boy. Kau sudah mandi? Lihatlah, kau begitu ..." Aku duduk di hadapan Leon dan meliriknya yang masih berpikir ingin mengatakan hal yang belum selesai. "... wangi, hehehe."


Syukurlah kalau Edward wangi. Mandi kami tak sia-sia. Mungkin dia bingung dengan tampilan wajah Edward yang penuh dengan bedak bayi. Aku tak tahu harus merapikannya seperti apa. Yeah, jadi kubiarkan saja.


"Aku tak bisa menemukan apa pun yang bisa membuatnya lebih wangi dari ini. Kami memakai apa pun yang ada di kamar mandimu." Aku hanya bisa mengatakan itu untuk membuat suasana tak canggung.


"Ya, aku juga lupa untuk menyiapkannya."


"Makanlah."


Seketika ada tangan seseorang meletakkan sepiring pancake di hadapanku. Wanita itu. Dia duduk di samping Leon yang tengah menyuapi Edward makan. Kedekatan mereka berdua bersama Edward sangat membuatku iri.


"Elisa, makanlah. Apa kau tak menyukainya?"


Leon bertanya dengan wajah khawatir. Aku menggelengkan kepalaku, enggan bersuara. Aku memotong pancake itu dan memasukkannya ke dalam mulutku. Enak. Sejenak aku melupakan mereka yang ada di depanku.


Saat aku kembali melirik ke depanku, mereka semua terdiam. Ini sedikit canggung. Aku makan disaksikan oleh keluarga bahagia ini. Apa sebaiknya aku menghabiskan makananku di kamar saja.


Tidak, itu tak sopan. Aku menundukkan wajahku dan terus melahap pancake. Ketenanganku sirna ketika suara wanita itu terdengar.


"Leon ... bukankah ada sesuatu yang perlu kau jelaskan dengan situasi ini?"


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2