
Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK – 01.21 am.
Kebahagiaan itu seakan sirna. Hanya sekejap dan tak kan pernah menetap. Cukup tiga hari waktu yang dibutuhkan untuk meyakinkan perasaanku. Aku tak menyangka ciuman pertamaku akan membawaku terombang-ambing di dunia yang lebih menyeramkan.
Hanya aku. Ya, hanya aku yang merasakannya. Betapa arogannya aku ketika menerima sedikit harapan dari seorang pria.
Awalnya aku yakin dan sangat yakin ini akan berhasil. Perasaanku tak mungkin salah ketika untuk pertama kalinya pikiran dan tubuhku merasakan ketidakberdayaan setiap menatap matanya.
Kukira dia merasakan hal yang sama, tapi aku salah. Aku hanya wanita bodoh yang mengulangi kesalahan yang sama, bahkan ini lebih parah.
Aku menutup telingaku, enggan mendengar apa yang selama ini selalu kukatakan. Dia pria bajingan. Dia pria kasar. Dan dia pria yang membuatku memberikan hatiku untuknya. Dia adalah Leonal Aldrich.
Penolakan adalah hal yang paling kubenci di hidupku. Tidak dan jangan adalah kata permohonan sekaligus perintah yang selalu dilontarkan ibu atau ayahku. Kalian bisa memikirkan porselen? Aku kadang berpikir, apakah ayah dan ibuku menganggap aku ini adalah benda rapuh yang mudah pecah seperti porselen?
Namun, nyatanya hatiku memang seperti porselen. Dan penolakan terbesar dalam hidupku yang menghancurkan hatiku adalah saat ini. Jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Sungguh, aku siap membuka diriku kepada pria itu. Aku merasa kotor ketika menyadari betapa mudahnya aku seperti ini. Dan yang menyadarkanku adalah penolakannya.
—
Aku berjalan di tengah kegelapan dengan berderai air mata. Aku tak ingin melihat ke belakang, di sana masih terlihat puing-puing kehancuranku. Aku menaiki tangga menuju kamarku.
Aku menaikinya dengan berlari dan lupa saat ini kakiku masih basah, hingga akhirnya kakiku tergelincir dan tubuhku sepenuhnya hampir membentur sudut anak tangga jika aku tidak memegang pegangan tangga.
Dalam keadaan menyedihkan pun aku masih tertimpa kesialan. Sejenak aku tak bisa bangkit karena kakiku yang terbentur sudut anak tangga sangat sakit. Aku masih menangis dan terus menangis dalam diam. Aku memaksakan diriku untuk berdiri dan mencoba menyelesaikan perjalananku untuk mencapai kamar.
Saat di kamar aku menjatuhkan tubuhku ke lantai dan menyandarkan kepalaku ke tepian kasur. Aku meremas kuat selimutku dan terus menangisi penyesalanku. Hatiku sangat sakit hingga rasanya ingin berdarah.
Jika ingin mengulang waktu, maka aku tak ingin ke istana ini. Tapi terlambat. Aku sudah jatuh terlalu dalam, sama seperti tubuhku yang basah sepenuhnya saat ini, dan tak ada gunanya untuk mengeringkan diri karena semuanya sudah tak berarti.
...***...
Nine hours later ...
Tok ... Tok ... Tok ...
Itu adalah ketukan yang entah udah ke berapa kali. Kenapa mereka memilih terus mengetuk pintu padahal pintu itu tidak terkunci. Ah ya, hanya dia yang berani menerobos pintu itu tanpa seizinku.
"Elisa! Aku boleh masuk?" Aku mengangkat wajahku sebentar.
Itu Zach?
Masa bodoh.
Aku kembali menenggelamkan kepalaku ke dalam dekapanku sendiri. Tak lama terdengar bunyi pintu terbuka dan kuyakin itu Zach. Aku terus menutup mataku dan enggan membukanya. Aku merasakan Zach berada di depanku, dan benar saja tangannya mengusap kepalaku dengan lembut.
"Elisa ... ada apa denganmu?"
Aku mengangkat wajahku dan dia terlihat sangat terkejut. Apakah aku begitu berantakan saat ini? Aku sudah tak peduli. Dia dengan cepat memelukku. Perhatiannya membuatku kembali lemah. Aku merasakan kembali kehancuranku dan menangis dalam dekapannya.
Perasaanku kembali tak karuan dan ini sangat menyakitkan. Zach terus mengusap punggungku. Kuyakin dia kebingungan dengan kondisiku yang menggunakan bikini di pagi hari dan wajahku yang tak karuan karena mata yang membengkak. Aku tak tidur. Aku tak bisa.
Zach terus menanyakan hal yang tak kan kujawab. Saat ini yang kubutuhkan hanya dekapannya untuk membuatku lebih baik. Entah berapa lama aku menangisi diriku sendiri, namun Zach masih setia menenangkanku hingga aku berhenti melakukan hal ini.
Aku menyudahi ini semua dengan merendam diriku di bathtub. Zach bahkan membantuku yang tak bisa berjalan dengan kaki cidera. Dia tak beranjak dari kamarku karena ingin memastikan aku keluar dengan selamat dari kamar mandi.
Zach juga menemaniku sarapan di kamar dan dia terus menatapku tanpa henti. Sedangkan aku hanya mengaduk-aduk makananku karena tidak berselera.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menghabiskan makananmu, Elisa. Setidaknya kau bisa menggunakan mulutmu untuk makan jika tidak ingin menceritakan apa pun kepadaku." Dia mengatakannya sembari memegang tanganku. Seperti biasa, aku hanya menghadiahkannya senyuman.
Aku mulai memakan makananku untuk mengurangi kekhawatiran Zach. Sejenak aku berpikir dan berkata, "Zach, aku sudah selesai di sini. Bisakah kau mengantarkanku pulang saat kau tak sibuk?"
"Elisa ... kenapa begitu cepat? Kau sudah tak nyaman dengan istana ini?"
"Tidak. Aku hanya ingin kembali ke rumahku. Aku ingin bertemu ayah." Zach berhenti khawatir saat aku mengatakan alasannya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu nanti malam." Kukira awalnya Zach ada pekerjaan sehingga akan mengantarku nanti malam. Tapi ternyata tidak, dia seharian menemaniku. Dia tak bertanya, tak mengajakku mengobrol, dan hanya terus berada di sisiku.
Dan semenjak hari di mana aku meninggalkan istana Zach, saat itu juga aku tak pernah lagi melihat Leon.
It's over. I give up.
...***...
One month later ...
__ADS_1
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyne and Wear), UK – 09.45 am.
"Elisa, jelaskan ini kepada ibu!"
Ibuku melempar tablet ke atas sofa tempatku bersantai. Yeah, kuyakin mereka akan terus menggempurku dengan pertanyaan ini.
Aku yang bermalas-malasan di ruang keluarga sembari memakan snack dan menonton tv tidak akan heren. Ayahku yang dari tadi duduk dalam diam membaca majalah, enggan untuk menanyakannya.
"Jangan percaya dengan media, Bu. Mereka semua pembohong." Aku menjawab dengan santai.
"Jawaban bodyguard-mu berbeda, Elisa. Mereka mengatakan kau kabur setelah pulang dari rapatmu. Dan apa ini?! Kau bersama Kyle di pantai. Tolonglah jangan menciptakan skandal di luar sana. Kau sekarang menjadi sorotan media dan kita sepakat pertunangan kalian dibatalkan, tapi mengapa kalian berulah?!"
Aku mengambil tablet itu dan melihat berita di mana diriku yang tengah mengenakan bikini di pantai sembari merangkul lengan Kyle. Dasar para paparazi menjijikkan. Mengapa mereka terus mengikuti?
Aku dan Kyle memang sudah keluar dari masalah pertunangan itu. Tapi kami kembali memupuk persahabatan kami seperti semula. Aku bahkan tak merasakan beban apa pun saat dekat kembali dengan Kyle. Kami banyak menghabiskan waktu bersama.
Dari beberapa ceritanya, aku mengetahui dia masih terus memikirkan seorang wanita yang sangat ingin sekali ia temui. Dia sudah menjatuhkan hatinya pada wanita itu. Dan lebih parahnya lagi, dia tak pernah menyatakan perasaannya.
Perasaannya tumbuh karena kesalahan yang mereka perbuat. Itu sangat dramatis sekali. Saat aku bertanya mengapa dia tak mencari wanita itu, dia hanya menjawab keadaan yang tak mengizinkannya. Dia memilih melepaskan keinginannya itu untuk masuk ke dunia bisnis menggantikan ayahnya.
Dan itulah perbedaannya denganku. Aku dari kecil memang sudah menyukai dunia bisnis. Sedangkan Kyle sangat jauh, dia sangat suka dunia musik, aku bahkan sangat terpesona ketika dia memainkan gitarnya. Tapi aku tak pernah mendengarnya lagi saat Kyle masuk ke dunia bisnis.
Dari kedekatan kami ini, Kyle juga selalu membantuku kabur dari penjagaan bodyguard. Aku sangat berterima kasih atas pertolongannya itu. Tapi saat ini keluargaku sangat protektif karena posisiku akan sama seperti Kyle. Aku akan menggantikan posisi ayahku di dunia bisnis yang membuat namaku semakin dikenal.
Zach dan kedua orang tuaku belakangan ini menutupi segala media yang memberitakan kabar buruk tentangku. Aku akan menjadi wanita yang berkali lipat lebih sibuk dari ayahku dan lebih tenar dari seorang artis.
Kembali dengan kemarahan ibuku.
"Okay, aku mengaku salah. Aku hanya ingin menikmati waktu luangku sebelum pengangkatanku, Bu. Aku akan lebih sibuk lagi setelahnya. Satu lagi, aku dan Kyle tidak berkencan dan kami tidak akan bertunangan. Aku hanya menghabiskan waktu luangku bersamanya, tidak lebih."
Aku mengatakannya sembari meletakkan kepalaku di paha ibuku. Dia terlihat lega.
"Baiklah, ibu mohon dua hari ini kau tak kemana-mana. Dua hari lagi kau akan menjadi sorotan dunia, Elisa. Kau harus mempersiapkan itu. Apa ibu harus memberikan hadiah untuk itu?" Ibuku perlahan memberikan kotak kecil kepadaku.
Mataku terbelalak. Aku membuka kotak itu dan nampaklah cincin yang sudah dari lama kuinginkan. Cincin ini adalah cincin keturunan Amstrong yang selalu diberikan kepada orang yang sangat mereka cintai. Cincin platinum bermatakan emerald.
"Ibu, apa ini sungguhan? Ayah?"
Aku memeluk ayahku yang dari tadi berpura-pura membaca majalah. Aku mengecup wajah kedua orang tuaku dengan sangat gembira. Aku bahkan berteriak dan menari di depan mereka yang juga sangat bahagia.
Kebahagiaan bertambah saat melihat cincin ini begitu indah di jariku.
Sangat indah.
...***...
Two days later ...
On the Road to Parker Grand Hotel, City of London, UK – 08.23 pm.
Tanganku berkeringat karena gugup. Aku membuka clutch dan mengambil kaca kecil untuk melihat riasan wajahku. Kembali aku merapikan gaun scarlet-ku yang sebenarnya tidak kusut sama sekali.
"Sayang, tenanglah. Kau luar biasa malam ini. Tak perlu gugup." Okay, ibuku malah membuatku semakin gugup.
"Kau hanya memberikan kata sambutan. Kau tak kan mati hanya karena itu." Aku mendengus mendengar pernyataan ayahku. Bagaimana bisa aku tenang saat sebentar lagi keluar dari limosin akan banyak media yang menyorotku secara langsung.
Malam ini adalah peresmian penyerahan jabatan tertinggi Amstrong Company kepadaku. Acara ini diliput hampir seluruh tv nasional dan dihadiri oleh kolega bisnis ayahku. Zach ikut andil dalam acara ini karena kami memakai seluruh fasilitas hotelnya. Bahkan ballroom megah hotel ini bisa menampung begitu banyak orang di dalamnya.
"Bu, apa malam ini aku terlalu berlebihan?"
"Tidak, Sayang. Ayolah, kau cantik dan mengagumkan. Kau sudah sering berpenampilan sempurna seperti ini. Kurasa banyak pria yang ingin menjadi suamimu saat ini. Tunjukkan kepercayaan dirimu."
"Amstrong tak kan memilih sembarang orang."
Ayahku kembali berkomentar. Kekesalan ayahku berawal dari kegiatanku dan ibuku yang terlalu lama untuk menyiapkan penampilan ini. Ditambah lagi gaun yang kukenakan sangat tak disukai ayahku.
Gaun ini memang terlihat sangat sexy dan dengan elegannya akan menunjukkan lekuk tubuhku dengan jelas. Bahkan punggungku sepenuhnya terekspos dan belahan yang sangat tinggi di paha kiriku menambah kesan sensual pada gaun ini.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Yang pertama keluar adalah ayahku, dan disusul oleh ibuku dan aku. Kami disambut banyak cahaya kamera yang membuat mataku sakit. Kami dilindungi oleh bodyguard berlapis-lapis.
Aku begitu lega ketika mencapai ballroom yang ternyata sudah begitu banyak orang. Aku melihat Kyle dengan senyum memesona menyambutku dan menawarkan lengannya. Tanpa segan aku menerimanya dan berjalan dengan percaya diri membelah lautan orang di dalam sini.
Dia berbisik di telingaku, "Kau sangat luar biasa malam ini. Kupastikan akan banyak pria yang meneteskan liurnya saat ini."
Aku mencubit lengan Kyle yang sebenarnya tidak memberikan efek apa pun kepadanya. Benar, aku harus percaya diri. Aku bintangnya malam ini. Amstrong tidak lemah, kami disegani. Arogan sudah menjadi kata lumrah bagi kami.
__ADS_1
Aku dibawa Kyle menuju meja utama. Di sana kami disambut oleh kolega terdekat ayahku, siapa lagi kalau bukan keluarga Bradley. Tak lupa, aku juga memeluk Zach yang juga ada di meja itu. Aku merindukannya. Sudah lama aku tak bertemu dengannya.
Acara dimulai dengan pembukaan tentang video sejarah perusahaan Amstrong. Waktunya sebentar lagi hingga namaku dan ayah dipanggil ke atas podium. Dengan langkah percaya diri aku merangkul lengan ayahku menuju podium.
Aku berdiri di samping ayahku yang masih memberikan sambutan. Sorot cahaya kamera masih terus mendokumentasikan kami. Akhirnya giliranku tiba. Aku memberikan beberapa kata sambutan yang sudah kupikirkan.
Kesan pertamaku harus memukau sebelum aku memasuki dunia ini. Kuyakin banyak binatang liar di sana yang bersusah payah menjatuhkanku. Tapi itu tak kan berarti apa pun. Lihatlah ini, semua orang terpukau dengan pidatoku dan tepuk tangan dimana-mana. Dunia inilah yang akan membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat.
Setelah sambutan itu, kami menyantap makanan dengan sedikit berbincang bersama keluarga Bradley. Setelahnya, aku bersama ayah dan Zach berkeliling untuk menyapa kolega bisnis kami.
Setelah sekian lama, akhirnya aku merasa lelah karena terus berdiri, berbicara, dan memegang gelas wine-ku. Aku memutuskan untuk ke toilet agar bisa terhindar dari keramaian ini.
Saat aku tengah mencuci tanganku di wastafel, ada seorang wanita cantik yang keluar dari salah satu toilet. Dia terus memandangi dirinya lewat kaca, melihat penampilannya yang masih lumayan.
Dia mengorek isi clutch-nya. "Ah, sial. Aku lupa membawa lipstick."
"Kau ingin mencoba punyaku." Aku menawarkan lipstick-ku yang baru saja kukeluarkan.
Dia tersenyum kepadaku dan mengatakan, "Ah, terima kasih, Nona cantik." Tanpa segan dia langsung memoles lipstick itu ke bibirnya yang menyempurnakan penampilannya. Setelahnya, dia berpamitan untuk keluar terlebih dahulu.
Saat aku keluar, tak jauh dari tempatku keluar dari toilet, tepatnya di sudut ballroom aku melihat Kyle sedang berbicara dengan seseorang. Tapi postur badannya terlihat berbeda. Aku tak pernah melihatnya menunjukkan kearoganan saat berbicara. Dan saat aku mendekatinya aku sangat terkejut.
Dia kembali.
Leon.
Itu dia.
Tubuhku lemas saat ini juga. Namun yang lebih membuatku tak bisa bergerak sedikit pun dari posisiku adalah seorang anak laki-laki yang tertidur dalam gendongannya. Dan wanita itu, dia wanita yang di toilet tadi. Dia merangkul lengan Leon dengan sangat erat dan menundukkan wajahnya.
Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka. "Sangat mengejutkan. Aku tak menyangka kau ternyata seorang ayah. Keprotektifanmu terhadap Elisa seakan menunjukkan sesuatu yang menjanjikan. Namun tiba-tiba kau hilang dan kembali dengan wanita dan seorang anak. Apa dia jalangmu? Yeah, setidaknya aku bersyukur. Tak ada alasan lagi untukku dan Elisa menunda pernikahan kami. Elisa yang sekarang membuatku sangat ingin memilikinya—"
"Mengapa aku harus mendengarkan ini semua darimu?" Leon mengeluarkan aura ketidaksukaannya yang sangat besar.
Kyle sejenak memandang bergantian dari Leon ke wanita itu. "Karena ... kehadiran kalian berdua di sini ... sangat mengganggu." Kyle sudah keterlaluan.
"Kyle!" Aku menghentikan itu semua. Aku tahu, sangat menyakitkan melihat Leon kembali seperti ini, tapi Kyle sudah bertindak terlalu jauh. Aku tak tahu mengapa dia melakukan itu untukku.
Aku menghampiri mereka dan memandang wajah Kyle dalam diam. Dia kemudian menghembuskan napas kasar dan merangkul pinggangku dengan posesif. Aku melihat ke Leon dan wanita itu bergantian. Aku menatap sinis ke wanita itu dan melihat ketidaksukaan Leon terhadap tatapanku. Ternyata kau sudah memiliki keluarga, Bajingan.
Dengan perlahan aku tersenyum kepada mereka berdua dan sedikit menundukkan kepalaku sembari berkata, "Maafkan ketidaksopanan kekasihku. Kuharap kalian menikmati acara ini."
"Ya, kami sangat menikmatinya." Jawaban sinis Leon mengalihkan pandanganku. Aku menatap lama ke dalam mata itu dan dia hanya mengalihkan tatapannya ke arah cincinku. Ah ya, aku memiliki cincin itu di jari manisku.
"Sayang, ayo kita berdansa." Tiba-tiba bisikan yang sebenarnya cukup keras dilontarkan oleh Kyle. Dia sengaja menempelkan bibirnya di telingaku. Bahkan bulu di tengkukku serasa berdiri saat dia berbisik.
Selama acara, musik pengiring dansa memang selalu ada. Tapi aku tak pernah sedikit pun berpikir untuk berdansa karena saat ini tak ada seorang pun yang melakukannya. Tapi Kyle manarik pinggangku dan memaksaku untuk ke tengah ballroom.
Semua orang menatap kami. Dan saat itulah kami berdansa seakan menjadi sang putri dan pangeran yang tengah kasmaran. Aku tak tahu kenapa Kyle sangat berlebihan. Keintiman kami terus terjaga hingga akhirnya aku berhenti bergerak karena terkejut dengan apa yang dilakukan Kyle.
Pikiranku kosong.
Kyle menciumku.
Dia menciumku.
Cahaya kamera terus menghujami kami yang masih berada di tengah ruangan. Aku mendengar suara riuh tepuk tangan.
"Maafkan aku, ini tontonan menarik untuk bajingan tadi. Kau menyukainya?" Aku tak bisa berkata-kata. Tak lama setelahnya aku tersenyum menyembunyikan segala apa yang kupikirkan karena sekarang aku harus menjadi seorang ...
Pemain peran yang profesional.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...•••...
__ADS_1