
Port of Thessalonki (Tesalonika), Greece – 02.47 am.
Aku menutup mataku dan menghembuskan napas dengan perlahan. Samar-samar aku melihat sosok cantik itu. Dia tersenyum kepadaku dan merentangkan kedua tangannya, seakan bersiap menerimaku.
"Kau akan kembali kepadaku. Jangan menjauh." Sejenak aku tersenyum.
"Haruskah aku?"
"Ya."
"Mari kita bertaruh untuk permintaanmu? Bisakah aku juga menentukan keinginanku untuk taruhan ini?"
"Kau tahu apa jawabanku—"
"Tujuh ... Aku akan memikirkan tujuh keinginanku di setiap momen nyawa seseorang melayang." Kali ini dia yang tersenyum.
"Aku tak yakin keinginanmu adalah keinginan biasa, mengingat kau mempertaruhkan nyawamu juga."
"Dan seharusnya kau langsung menyertujuinya tanpa berpikir."
"Aku tahu ini akan menjadi permainan yang menyenangkan, Leon."
"Aku akan menyelesaikannya dengan segera. Kali ini beri aku jawabanmu. Barret M82 atau AA-12?"
"Aku menyukai dua benda tersebut digenggamanmu. Emmm ... Aku lebih menyukai Barret M82."
Sesi berkhayal dengan sosok Elisa di kepalaku berakhir. Aku membuka mataku dengan perlahan.
"Dereck, berikan Barret-ku."
"Kau gila! Kau akan menenteng dua senjata ini bersamaan. Ini akan menyusahkanmu."
"Mereka tak seberat itu."
Aku menyandang Barret-ku di balik punggung agar memudahkanku saat membutuhkannya dengan cepat. Aku akan memutuskan keinginanku satu per satu saat menggunakan Barret ini. Aku membenarkan posisi senapan AA-12 yang tengah kutenteng.
"Kau siap?" Aku mengamati raut wajah Dereck yang sedikit tegang.
"Yeah, agen lainnya juga sudah siap." Aku tersenyum kepadanya, senyum yang selalu kukeluarkan saat permainan menyenangkan ini dimulai.
"Kau yang menghitung, Sweatheart." Dereck mendengus saat aku mengejeknya. Dia mengeluarkan bom skala sedangnya.
"Satu ... Dua—" Aku akan meminta maaf kepadanya setelah semua ini selesai. Baru dihitungan keduanya, aku segera merebut bom itu dan melemparnya ke pintu yang dijaga ketat oleh banyak penjaga.
Semuanya hancur, pintu baja itu memiliki bolongan yang tidak wajar. Aku tak pernah ingin membuka pintu yang tak berpengaman sekali pun dengan bom skala kecil. Itu tak menyenangkan.
Aku masuk dengan mendengar sumpah-serapah yang Dereck keluarkan untukku. Selalu seperti itu, aku menyukai kicauannya.
"Dereck, ikuti aku!"
Kabut asap bom tersebut masih menghalangi pandangan. Kami masuk melewati pintu yang sudah hancur dan terbakar tersebut. Para agen lainnya juga sudah berhasil masuk. Kami disambut oleh banyak tembakan yang bunyinya sangat indah menurutku.
Aku juga tak ingin kalah dalam menyumbangkan nada-nada indah tersebut. Kami menyerang dari segala sisi, membuat musuh kewalahan.
Tak terasa amunisiku hampir habis, aku akan mengisi ulang dengan menghampiri agen yang membawa cadangan. Dereck melindungiku dengan revolver-nya. Dia mengalami kemajuan yang baik dengan peliharaannya itu.
Dooorrr ...
Namun, itu tak kan melindungiku sepenuhnya dengan tubuh menenteng dua senjata berat.
Aku mengumpat di dalam hati ketika lengan kananku tergores peluru. Saat itu aku belum menggunakan Barret-ku untuk orang-orang ini. Terima kasih kepada mereka yang membuatku harus mulai mengucapkan satu persatu keinginanku.
Dereck cukup terkejut ketika aku berhasil tertembak. Itu tak berarti, ayolah jangan terlalu cemas dengan ini, Dereck. Aku tak kan mati meninggalkanmu dalam permainanku.
Aku melihat dengan jelas orang yang menjadikanku sasaran adalah salah satu dari target kami, Jose Aleksey. Kena kau! Aku akan menjadikan kau sasaran pertamaku dari tujuh orang yang hurus kubunuh.
Dia adalah penerus termuda mafia keluarganya. Aku tak tahu mengapa dia ikut masuk dalam aksi ini. Apa dia ingin membalas kaki ayahnya yang lumpuh? Ayolah, Barret-ku tak sekejam itu untuk melumpuhkan ayahnya. Itu karena faktor usia, bukan karena peliharaanku. Kau berurusan dengan orang yang salah, Jose. Ayahmu sangat pengecut memakaimu sebagai tameng.
Ketika Dereck berhasil mencapaiku, dia segera memberikan amunisi tambahan. "Leon, kau tak apa?" Dia mengatakannya sembari terus menembaki musuh. Aku tersenyum kepadanya.
"Kau bercanda? Aku bahkan memiliki banyak nyawa daripada dewa kematianmu." Aku mengisi amunisi ke AA-12 dan melemparkannya kepada Dereck.
"Aku ingin kau menggunakannya. Aku akan mengetes Barret-ku." Dereck yang telah berkeringat akhirnya meneguk ludahnya.
"Lindungi aku ke meja itu."
Aku menunjuk meja sudut ruangan yang gelap dan untungnya masih berbentuk. Aku berlari menenteng senjataku dengan Dereck yang melindungiku. Dua agen kami sudah terkapar tak bernyawa. Sial, aku harus menyelesaikannya dengan cepat.
Aku berhasil mengatur posisi senjataku dengan baik untuk membidik. Tak ada orang yang fokus dengan sudut gelap ini. "Dereck, keluarkan bom skala kecil. Buat ruangan ini penuh dengan asap dan aku akan menyelesaikan semua ini."
Dereck segera melakukan apa yang kuperintahkan, sementara beberapa agen yang tersisa masih asyik melontarkan peluru mereka dengan posisi siap mundur.
Kesempatan ini kugunakan untuk memfokuskan sasaranku. Enam dari orang dalam petinggi mafia ini bisa kulihat. Dimana kau Jose? Kau tak kan bisa kabur.
Aku bersiap membidik dan memikirkan keinginanku. Mungkin dibuka dengan keinginan yang aneh. Aku kembali menutup mataku.
Satu ... Aku ingin mengepang rambutmu, Elisa.
Saat aku membuka mata, satu peluru Barret dimuntahkan dan tubuhku sedikit tersentak ke belakang. Kepanikan di sebrang sana mulai terlihat. Lengan salah satu orang terhebat di sana hancur. Karya yang mengagumkan.
Dereck di sampingku malah menatapku dengan ngeri. Why?
"Santai saja. Bukankah kita masih memiliki enam sisa lainnya. Kau pilih anggota badan yang kau sukai."
"Kau mengerikan. Ini kali pertama aku melihatmu menembak jarak dekat dengan Barret. Menjijikkan. Aku bahkan bisa melihat bercak darahnya di dinding. Untung saja aku tak pernah menggunakannya. Aku tak ingin membunuh dengan senjata mengerikan itu."
"Diamlah, kau terlalu memujiku. Ah yeah, harusnya aku sudah mengetahui jawaban dari anggota tubuh yang paling kau sukai." Sebelum kembali fokus ke Barret-ku, aku menatap ke arah celana Dereck.
"Brengsek! Jangan lakukan itu. Kau kejam dengan sesama kaummu, Leon." Aku tersenyum licik.
__ADS_1
Aku memutuskan keinginan keduaku dan seterusnya.
Dua ... Aku ingin memelukmu, Elisa.
Peluru kedua Barret-ku jatuh ke paha musuh. Masih presisi, tapi belum akurat. Sial, ini menyenangkan.
Tiga ... Aku ingin menciummu, Elisa.
Peluru ketiga jatuh ke perut kanan musuh. Bolehkah kali ini keinginanku sedikit kotor?
Empat ... Aku ingin melucuti segala yang menghalangiku setiap memandangmu.
Peluru keempat jatuh ke dada musuh. Papu-paru?
Lima ... Aku ingin tidur denganmu, Elisa.
Peluru kelima bersarang tepat di jantung musuh. Sayangnya, fokusku semakin tajam ketika pikiran kotorku semakin membludak.
Enam ... Aku ingin kau terus dan terus menyebut namaku ketika mencapai puncak.
Peluru selanjutnya paling terpuaskan. Aku memuji diriku setelah melontarkannya. Peluru itu menembus kepala orang keenam. Aku bisa melihat dengan jelas percikan darah di tembok tempat para cecunguk melindungi orang tersebut. tersebut
Kupastikan kalian akan menyimpan trauma yang berlebih dengan Barret-ku. Sisanya bisa diselesaikan oleh para agen lainnya. Aku kembali menenteng Barret-ku keluar dengan Dereck mengikutiku.
"Dereck, katakan dimana Jose berapa? Aku tak kan membiarkan dia pulang dengan cuma-cuma karena dia telah memberikan hadiah di lenganku. Kita akan sedikit bermain dengannya."
"Para agen dengarkan aku, di mana posisi Jose sekarang?" Dereck berbicara melalui aerpiece. Aku menunggu informasi yang akan Dereck sampaikan ketika berbicara dengan agen lainnya.
"Mereka ingin melarikan diri dari port bagian selatan."
Setelah mengetahuinya, aku dan Dereck segera meninggalkan tempat ini dan berlari mengelilinginya hingga tembus ke area selatan port. Tenagaku sedikit terkuras dengan berlari menenteng Barret.
Tak jauh dari sana, aku melihat bout yang sudah disiapkan. Aku tak bisa membidik dalam keadaan gelap di ujung sana. Ini tak kan mengasyikkan jika mereka melarikan diri.
Sangat tak adil.
Dereck terus mengumpat dan menjambak rambutnya karena bout itu sudah siap dan kami tak sempat mengejarnya.
"Dereck berikan bomnya!"
"Apa? Kita sudah tak memilikinya."
"Aku menginginkan yang skala besar."
"Ini tak bisa, Leon. Jika kau melemparnya pun tak kan sampai. Bom ini berbobot lumayan."
"Kau mengejekku? Aku tak peduli. Berikan!"
Dia mengeluarkan bom berskala besar yang berukuran seperti bola martil. Dan percaya atau tidak, beratnya hampir setengah martil kejuaraan dunia. Ini hanya bisa diaktifkan oleh sidik jari Dereck. Dan butuh waktu sepuluh detik untuk bom ini menghancurkan segalanya.
Setelah Dereck mengaktifkannya, aku membawa bola tersebut berlari ke tepian pelabuhan dari jarak terdekat bout yang sudah berjalan. Yeah, ini memang gila. Pasti tak ada yang percaya bom ini akan sampai.
Tapi bukankah kalian begitu meremehkanku? Aku melempar dengan sekuat tenaga bom tersebut dan kalian tahu apa yang terjadi?
Bom tersebut tak bisa mencapai bout.
Tapi—
Bom tersebut meledak di atas bout dan efek yang diakibatkannya luar biasa. Bout tersebut hancur seketika. Aku menghembuskan napas lega dan menutup mata. Aku masih belum memikirkan apa keinginan ketujuhku.
...***...
Three weeks later ...
Official Agency Building (Athena), Greece – 02.45 pm.
"Dia tetap tak ingin membuka suara. Ini sudah sangat lama, Leon. Dia bahkan seperti orang yang sekarat dengan luka itu. Setiap kali menghadapinya, aku merasa mual. Kita tak mungkin selama ini di Greece tanpa mendapatkan apa pun."
Dereck mengganggu aktivitasku yang tengah melihat berita di handphone. Berita harian di seluruh Inggris menampilkan wajah yang sudah lama kurindukan. Elisa, dia terekspos ke dunia karena namanya digadang-gadang sebagai pewaris selanjutnya perusahaan keuangan terbesar se-Eropa. se-Eropa
Identitasnya terungkap dibarengi oleh berita percintaannya dengan pebisnis serupa, Kyle Alfred Bradley. Apa mereka berkencan? Tanganku menggenggam erat handphone-ku yang menampakkan foto Elisa yang sedang bermesraan dengan pria itu di pantai.
Sial, aku benci tubuh itu disentuh orang lain.
"Leon, kau tak mendengarkanku!" Aku menyudahi aktivitas menguntitku. Kekesalanku dua kali lipat setelah mendapatkan foto-foto sexy Elisa tadi.
"Berikan revolver-mu." Dereck nampak kebingungan.
"Leon, jangan katakan kau akan mengakhirinya? Kita tak kan mendapatkan apa pun."
"Bukankah siksaan yang kalian lakukan kepadanya juga akan membuatnya mati. Kenapa tak kita sudahi saja agar kita cepat kembali ke Inggris."
Setelah mengatakannya, aku masuk ke dalam ruangan temaran, tempat para agen menyekap Jose. Dia ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan tak ada di antara kami semua yang berniat membersihkan luka bakar menjijikkan di wajahnya.
"Aldrich! Oh, Sahabatku. Akhirnya kau datang. Kau tahu aku menunggumu sangat lama. Mereka tidak mengasyikkan dan aku tak mengenal mereka."
"Jangan banyak mengoceh. Aku hanya membutuhkan informasi yang penting dari mulut sialanmu itu. Jadi, siapa target kalian sebenarnya? Kau tahu, pertemuan kalian sebelumnya sangat membuatku penasaran. Kalian menyekap petinggi negara tapi tak pernah melukai bahkan masih memperlakukan mereka seperti manusia. Kalian terus menangkap dan seolah membiarkan kami menyelamatkan mereka tanpa perlawanan apa pun. Apa yang kalian inginkan?"
"Mungkin informasi penting itu akan kuberikan jika kau mengatakan siapa nama aslimu, Aldrich. Atau nama keluargamu? Mungkin suatu saat aku akan mengunjungi keluargamu."
"Aku tak berbohong, namaku memang Aldrich." Kekehan Jose terdengar ke telingaku.
"Baiklah. Mungkin kau tak akan memberikan rahasia kecilmu kepadaku. Tapi kau tahu, ayahku juga begitu menginginkanmu. Setelah kau melumpuhkan kakinya, dia sangat terobsesi untuk memajang kepalamu di ruang tamunya, hahahahaha!!!"
"Atau sebaliknya. Aku juga memiliki ide yang sama ketika kau mengatakannya."
"Ayolah, aku sudah muak berada di sini. Bisakah kau menyudahinya." Dia memelas dengan nada mengejek.
"Aldrich ... Kau malah akan membuat keseimbangan negara semakin buruk jika terus menyekapku seperti ini. Kau tahu, ayahku akan sangat menjengkelkan jika anaknya pulang telat." Kurasa lelucon yang dia buat cukup lucu.
__ADS_1
"Aku tak peduli. Aku akan mengirimmu pulang ketika wajahmu seluruhnya terbakar."
"Hahahahahaha!!! kau sangat luar biasa, Aldrich. Aku semakin menyukaimu. Sayang sekali kau terlahir bukan menjadi kakakku. Seandainya kau memiliki saudara perempuan, aku tak segan-segan ingin tidur dengannya. Ah yeah, berbicara tentang wanita, aku sangat menyukai wanita ini. Dia sangat sexy dan sepertinya dia sangat pas untuk pria sepertiku. Aku tak bisa berhenti berkhayal untuk tidur dengannya. Tapi ketika sindikat sepakat bahwa dia adalah target kami, aku tak berminat lagi bahkan memikirkannya."
"Ah, sayang sekali. Itu kisah cinta yang menyedihkan—"
"Dan ... namanya adalah Elizabeth Amstrong." Dia memotong ucapanku dengan kata-kata yang tak pernah ingin kudengar. Dia tertawa terbahak-bahak. Sangat kencang mengisi seluruh ruangan ini.
Aku tak bisa menahan diriku. Aku mengeluarkan revolver Dereck dan menembak kepala Jose. Pelurunya berhasil bersarang di kepala itu. Tak hanya di situ, aku bahkan sangat marah hingga berhasil mematahkan leher tak bernyawa itu.
Jose seketika menjadi mayat tanpa melewati masa sekaratnya. Aku meludahi tubuh tak bernyawa tersebut sebelum keluar ruangan. Informasi yang diberikan Jose juga sudah kudapatkan dan tak ada lagi yang akan menghalangiku membunuh bajingan itu.
Aku keluar ruangan dengan perasaan yang tidak karuan. Saat aku melempar revolver ke Dereck, para agen lainnya terlihat sangat terkejut. Mereka berbondong-bondong menyerbu ruangan penyekapan tersebut.
Dari jauh Dereck memanggilku tanpa henti. Aku sudah tak peduli. Kepalaku berdenyut sakit mendengar nama Elisa keluar dari mulut Jose.
"Bersiaplah, kita akan pulang hari ini!"
Aku tak ingin keputusanku dibantah siapa pun. Wajah Elisa terus terngiang di kepalaku. Aku tak kan tenang sebelum melihat wajah itu secara langsung.
...***...
Heathrow Airport (City of London), UK – 11.21 am.
"Kau sudah lama menunggu? Wow, lihatlah! Edward, bahkan mukanmu memerah." Itu pertanyaan pertama yang kutanyakan saat berhasil menemukan dua orang yang menunggu kedatanganku.
"Tidak, kami tak menunggu lama."
Wanita ini hal itu tanpa melihat anak laki-laki yang digendongannya mengericutkan bibir. Aku segera mengambil alih untuk menggendong bocoh menggemaskan itu dan menciumi wajahnya.
"Kau tahu, Edward sudah bisa mengucapkan dua kata sekarang. Dia juga sudah bisa menyebutkan kata 'mama' dan 'papa' dengan lancar." Wanita ini sudah memulai ocehannya.
"Tunggu dulu, sudah berapa umurnya sekarang?"
Dia mengericutkan bibirnya, sama seperti yang dilakukan bocoh digendonganku.
"Kau sangat tak cocok untuk menjadi seorang ayah. Kau bahkan lupa Edward sudah menginjak dua tahun lebih. Sudahlah, ayo! Kami sangat bosan di penthouse-mu. Aku susah kemana-mana karena Edward. Dia menginjak usia aktifnya saat ini."
Edward digendonganku hanya tersenyum dan terus mengeluarkan kata 'papa' dari mulutnya. Dia sangat mengenali wajahku.
"Apa dia jarang menangis?"
"Ya, aku juga heran dia jarang menangis. Kurasa dia sangat menyukai Inggris."
Setelah pembicaraan itu, kami segera kembali ke penthouse-ku sebelum memulai kesibukanku membawa dua orang yang kucintai ini berkeliling. Aku tak bisa mengunjungi Eisa saat ini. Aku sudah memberikan informasi penting itu kepada Zach.
Maafkan aku, Elisa. Bisakah kau menunggu?
...***...
One week later ...
Parker Grand Hotel, City of London, UK – 09.52 pm.
Elisa sekilas melihatku. Tapi dia menggenggam tangan pria lain. Dia berdansa dengan pria lain. Pria tersebut menciumnya dan dia tak keberatan. Aku benci melihat hal itu. Genggaman tangan wanita di sampingku juga begitu kencang.
Apa dari tadi dia sangat terintimidasi dengan keberadaan Elisa?
Mengapa Elisa terlihat sangat berbeda? Dia begitu tenang saat ini. Kesempurnaannya membuatku semakin kesal. Apa lagi dengan pria itu, bukankah terakhir kali Elisa hanya sebatas 'berteman' dengannya?
"Bisakah kau dan Edward pulang dulu? Aku masih memiliki urusan. Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengantarkanmu. Edward juga sepertinya mengantuk." Aku memberikan Edward yang sudah terlelap kepadanya.
"Baiklah. Jangan pulang terlalu malam." Tak seperti biasanya, wanita ini juga sepertinya menyadari situasiku saat ini.
"Aku tak tahu akan pulang atau tidak." Aku hanya mengatakan itu sebelum mengecup kepala wanita ini dan bocah yang ada di gendongannya.
Beberapa menit setelahnya kuhabiskan untuk menunggu Elisa keluar dari lingkungan koleganya. Aku terus mengamatinya. Dia terlihat biasa saja. Tak berekspresi berlebihan. Dia menutupi perasaannya dengan sangat baik.
Apa dunia bisnis bisa membuat seseorang berubah begitu cepat?
"Bu, pulanglah dulu. Aku akan menunggu Kyle. Dia berjanji akan mengantarkanku pulang." Aku berhasil mendengar suaranya karena saat ini para tamu dan koleganya sudah banyak yang meninggalkan tempat ini.
"Baiklah, kau bisa beristirahat jika terlalu lelah. Ketika pulang, kau tahu harus menjelaskan banyak hal."
"Baiklah."
Aku melihat Elisa memasuki lift. Mungkin dia ingin beristirahat dulu. Pintu lift akan tertutup dengan cepat dan menyembunyikan sosok itu di dalamnya.
Tapi aku tak kan membiarkannya ...
Karena detik itu juga aku ingin menatap wajah cantik itu. Aku dengan cepat menyalipkan tangan di antara pintu lift tersebut, membuat pintu kembali terbuka.
Aku melihat ekspresi yang biasa kusaksikan. Dia terkejut. Aku tahu dia tak kan mungkin menyembunyikan apa pun jika berhadapan denganku. Tapi apa yang kemudian terjadi?
Dia mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa kembali. Dia menatap lurus, bukan kepadaku. Kau masih ingin memainkan peran ini, Elisa? Baiklah, mari kita saling bermain peran. Bukankah kita ahli dalam hal ini. Siapa yang akan menyerah lebih dulu?
Kali ini aku akan menunjukkan sisiku yang tak pernah kau lihat. Aku tak tahu apa yang telah kau lakukan kepadaku, tapi sungguh aku merasakan sakit yang tak nampak. Kau harus membayar ini semua. Aku sangat tak suka merasakan ini, jika aku sakit maka kau juga harus merasakannya. Bukankah ini permainan yang imbang?
"Jika kau ingin masuk, maka cepatlah. Jika tidak, maka biarkan pintu lift ini tertutup." Aku menyukai suara indahnya.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...