
Penthouse Greenwich Avenue, Greenwich (London Raya), UK – 05.21 am.
Betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar yang diketuk dengan suara kecil dan menemukan Edward duduk dengan senyumannya. Bagaimana dia bisa mencapai kamar ini dengan melewati banyak tangga yang berbahaya? Aku segera membawanya masuk dan mengunci kembali pintu tersebut.
Aku kembali mencoba menutup mataku dan memeluk Edward agar tidak menggangu tidur Elisa di sampingku. Namun, dia terus menggangguku dan sepertinya dia ingin bermain. Dia berhasil tak membuatku tidur kembali. Setelah bermain sebentar dengannya, aku akhirnya memutuskan untuk mandi.
Aku di kamar mandi memang agak lama mengingat aku juga harus merawat bekas lukaku. Aku harus menggunakan penutup luka yang lebih tak terlihat. Wanita itu akan terus bertanya jika melihat lukaku kembali.
Saat aku selesai dari mandi, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Di sana, di ujung sana, Elisa yang mengagumkan bagiku berdiri menggendong Edward. Tawa Edward pecah begitu saja dalam gendongan Elisa.
Bukankah mereka berdua sangat menggemaskan? Aku baru menyadari Edward begitu mudah terpikat oleh Elisa. Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Entah apa yang sebelumnya mereka lakukan saat aku tengah mandi tadi.
Edward bahkan terus menempel ingin digendong Elisa. Dia selalu mengerucutkan bibirnya ketika tidak menyukai sesuatu. Tapi kali ini tidak, dia selalu mengembangkan senyumnya.
Motifnya mungkin suka dengan rambut pirang Elisa. Tapi, aku tak menyangka dia akan mencium dahi Elisa seperti yang kulakukan. Dasar, makhluk sekecil ini sudah bisa mengambil kesampatan diam-diam.
Aku tak tahu bahwa Elisa juga menyukai anak kecil. Dia bahkan rela memandikan Edward. Sejauh ini dia sama sekali tidak bertanya tentang Edward dan wanita yang ada di penthouse-ku.
Aku lega dia tak langsung menyimpulkan situasi ini dengan amarah. Tapi aku juga khawatir, dia tak seperti Elisa yang biasanya. Apa dia sudah tak peduli dengan apa pun yang berhubungan denganku?
Elisa bereaksi sangat aneh. Dia seakan tak peduli dengan keberadaan wanita lain di sini. Saat aku mengecup dahinya, dia hanya diam menatapku, setelahnya dia seperti mengalihkan suasana itu dengan cepat fokus ke Edward.
Aku tak menyukai dia yang seakan tak peduli. Dia sekarang bersamaku, dia sangat dekat, dia di genggamanku. Tapi, aku merasa masih ada jarak di antara kami. Aku harus cepat menjelaskan situasi ini. Aku tak ingin dia semakin jauh.
Aku menghilangkan pikiran itu dengan cepat saat Elisa dan Edward sudah masuk ke kamar mandi. Aku harus cepat merapikan diri dan pergi menyiapkan keperluan mereka berdua.
Keperluan Edaward akan kuminta nanti, saat ini yang harus kulakukan adalah mencarikan pakaian untuk Elisa. Tak mungkin aku meminjamkan pakaian wanita itu untuk Elisa, yang benar saja?
Aku akhirnya mengambil kunci mobilku dan diam-diam menuruni tangga. Ah, dia sedang memasak, pas sekali. Aku segera pergi dengan diam-diam. Aku membawa mobilku menuju toko pakaian wanita. Baik, apa yang pertama harus kubeli?
Lama memilih pakaian yang cocok untuk Elisa membuatku pusing. Akhirnya aku membeli beberapa agar dia bisa memilih sendiri. Sial, aku terlalu berlebihan. Aku menghabiskan banyak uang untuk pakaian-pakaian ini.
Kemudian apa? Ah, alas kami? Aku mengingat semalam aku membawa goodie bag berisi bekas pakaian kami dan di sana ada high heels-nya. Tidak, itu akan melukai kakinya.
Aku akhirnya membelikan dua flat shoes agar dia nyaman berjalan. Dia terlalu tinggi untukku jika menggunakan high heels. Untukku? Aku tersenyum dengan sendirinya. Bagaimana bisa aku begitu percaya diri.
Apa lagi? Make up? Tapi aku menyukai dia tanpa warna-warni berlebihan di wajahnya. Bahkan ketika bangun tidur saja dia nampak cantik tanpa riasan wajah, walaupun matanya bengkak akibat menangis.
Bengkak? Hey, dia masih memiliki memar di tangan dan tubuhnya. Aku harus membelikan krim memar untuknya. Tak seharusnya aku terus membeli krim itu setiap melukainya. Cukup ini yang terakhir. Aku tak ingin terus gila karena tempramenku yang berlebihan jika menyangkut Elisa.
Dia wanitaku yang berharga.
Saat aku keluar dari apotek, aku baru menyadari ada barang yang belum kubeli. Ini lebih penting bagi semua wanita. Tentu saja pakaian dalam. Sial, aku tak pernah membayangkan akan masuk ke dalam tempat mengerikan ini.
Toko pakaian dalam.
Saat aku memasuki toko, beberapa pelayan wanita menghampiriku. Kenapa juga harus bertiga? Bukankah satu orang juga cukup. Mereka seperti diberikan santapan yang menggiurkan di pagi hari. Menjijikkan.
"Apa yang Anda butuhkan, Tuan?"
"Bukankah sudah jelas, aku pasti membutuhkan beberapa pasang pakaian dalam wanita."
Wanita-wanita itu terkejut dengan jawabanku. Memangnya ada yang aneh? Tentu saja, mereka tak perlu bertanya lagi. Aku tak membutuhkan bantuan mereka.
"Oh, maaf, Tuan. Maksudnya mungkin kami bisa membantu merk, model, atau ukuran apa yang anda butuhkan?"
Ah, ternyata seperti itu. Ukuran? Semalam sebenarnya aku telah memegang seluruh bagian tubuh Elisa, tapi mana mungkin aku mendeskripsikannya. Itu sangat memalukan. Mana mungkin aku menyebutkan detail bentuk dan ukuran pakaian dalam wanita yang hampir saja kutiduri.
"Bisakah kalian meninggalkanku. Biarkan aku memilih sendiri."
Pelayan-pelayan wanita itu terlihat tak menyukai jawabanku. Mereka langsung pergi meninggalkanku dengan gerutuan yang bisa kudengar.
Aku sangat pusing dan malu saat dihadirkan banyak pakaian dalam wanita. Aku merasakan wajah dan telingaku seperti memerah bahkan akan terbakar. Aku tak bisa lebih lama berada di sini.
Aku akhirnya mengambil semua jenis pakaian dalam yang kupastikan sangat pas dengan Elisa. Saat aku ke meja kasir, sudah banyak tumpukan pakaian dalam yang kuletakkan.
Sembari menghitung hasil belanjaanku, pelayan wanita itu bertanya, "Tuan, bukankah ini sangat banyak?"
Memang apa masalahmu? Aku pelanggan, terserah seberapa banyak yang ingin kubeli.
Aku kembali mendengar bisikan dua pelayan lainnya di belakang sana, "Wanita itu sangat beruntung. Lihatlah semuanya pakaian dalam bermerk."
"Benar, hey apa mungkin dia membelikannya untuk stok jalangnya yang banyak?" Aku tak tahan, akhirnya aku mulai membuka suara.
"Apa masalah kalian? Aku membelinya untuk wanitaku. Dia bukan seorang jalang dan dia wanita terkaya di seluruh daratan Eropa. Kupastikan di antara tumpukan sampah yang kubelikan ini bahkan belum tentu dia ingin memakainya. Sial, kalian membuat mood-ku kacau pagi ini." Semuanya terlihat kaku.
__ADS_1
Penilaian seorang pelanggan sangat berpengaruh dengan kebelangsungan pekerjaan mereka. Aku tak berbohong, sungguh mood-ku berubah saat mereka membicarakan jalang. Bahkan saat pertama menyentuh Elisa aku sudah tak berselera dengan wanita lainnya.
Total biaya yang kukeluarkan hanya untuk pakaian dalam Elisa sudah sangat banyak. Aku akhirnya mengeluarkan kartu debitku. Pelayan tersebut dua kali terlihat kaku. Tentu saja, karena kartu yang kugunakan adalah kartu tanpa limit. Aku bahkan bisa membeli seluruh toko pakaian dalam di Eropa.
Aku bercanda. Bagaimana aku mendapatkannya?
Rahasia.
Aku segera berlari keluar toko tersebut menuju mobilku. Aku melemparkan goodie bag ke dalamya dan melajukannya dengan cepat. Semoga mereka belum selesai mandi.
Saat aku masuk diam-diam ke penthouse, wanita yang masih di dapur tadi sudah tak ada. Aku mencari goodie bag yang kulempar semalam di ruang tamu tapi tak ada.
Kemana?
Aku akhirnya membuka pintu kamar tamu dan, "Ahhhhhh!!! Apa yang kau lakukan, Leon. Tak bisakah kau mengetuk pintu dulu. Edward saja mengerti itu!"
Baru selesai mandi? Dia menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Aku memutar bola mataku.
"Aku membutuhkan pakaian dan perlengkapan Edward."
Dia menghembuskan napas kasar dan beralih menyiapkan pakaian dan perlengkapan bayi. Saat memberikannya kepadaku, dia nampak bingung.
"Lagi pula kenapa kau menggunakan cout di dalam ruangan. Aneh."
"Terserah."
Setelah mengatakannya, aku segera menutup pintunya dan membawa segala yang kuperlukan ke kamarku. Saat aku masuk, bunyi air dan tawa kencang Edward terdengar. Apa mereka belum selesai mandi? Padahal waktu hampir satu jam berlalu.
Aku merapikan segalanya di atas kasur agar mereka mudah menyiapkan diri. Setelah kerja kerasku selesai, aku mendengar bunyi air berhenti. Sepertinya mereka selesai. Aku segera mengganti pakaianku kembali dan keluar kamar untuk ke meja makan.
Huh, ini cukup melelahkan.
Baru saja aku mendudukkan diriku di meja makan, wanita di sampingku sudah menyelesaikan sarapannya. "Kalian sangat lama, jadi aku sarapan dulu."
"Yeah, tak apa. Berikan aku tiga pancake dan sirup maple-nya yang banyak." Wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Kau yakin? Aku sudah menyiapkan yang lain untukmu. Setahuku kau tak menyukai makanan manis."
"Aku berubah pikiran. Sekarang aku menyukai segala yang terasa manis."
Tapi, entah mengapa hari ini aku ingin memulai segalanya dengan yang manis, aku bahkan memulainya dengan tiga tumpuk pancake dan sirup maple yang terus terang bahkan tak pernah lewat dari tiga gigitan saat memakannya.
Hampir saja sarapanku habis, dua orang yang sangat kunanti akhirnya muncul. Wow, bahkan saat ini aku seperti melihat ibu dan anak yang sesungguhnya. Aku melirik ke sampingku, apa benar wanita di samping ini ibunya Edward? Dia hanya mengunyah sisa pancake-ku yang sebenarnya masih bisa kuhabiskan.
"Apa? Ada yang aneh dengan wajahku?" Apa dia tak khawatir sedikit pun dengan kondisi perut anaknya?
"Tidak. Habiskanlah."
Terdengar suara Edward yang mulai merengek. Sepertinya dia ingin bersamaku. Dan benar saja, saat Elisa memberikannya kepadaku, dia duduk nyaman di pangkuanku. Tunggu dulu, saat aku menatap Edward dengan baik, aku seketika menahan tawa.
"Hey, Boy. Kau sudah mandi? Lihatlah kau begitu ..."
Aku melirik ke Elisa, bagaimana aku mengatakannya? Wajahnya sangat putih sekali, banyak bedak yang menutupi wajahnya. Apa dia mengurus Edward dengan benar?
"... wangi, hehehe."
Tapi, saat ini aku tak berbohong menemukan Edward yang sangat wangi. Aroma tubuh kecilnya gabungan dari aroma bayi dan aroma sabunku. Ah, aku lupa menyiapkan perlengkapan mandi untuk mereka.
"Aku tak bisa menemukan apa pun yang bisa membuatnya lebih wangi dari ini. Kami memakai apa pun yang ada di kamar mandi."
Aku menatap Elisa saat ini, dia masih tetap cantik. Apa dia juga beraroma sama sepertiku?
"Yeah, aku juga lupa untuk menyiapkannya."
Setelah mengatakannya aku segera mengalihkan pikiran, aku tak boleh seperti remaja yang menggebu-gebu. Perlahan aku menyuapi Edward dengan sabar, walaupun selalu belepotan. Tapi, dengan cara tersebut dia begitu terlihat menggemaskan membuat kami terus tertawa.
Kami? Aku tak mendengar suara tawa Elisa sejauh ini. Saat aku menatap ke depan, Elisa kudapatkan dalam keadaan murung. Oh, tidak. Apa aku kembali membuatnya tak nyaman?
"Elisa, makanlah. Apa kau tak menyukainya?"
Dia hanya menatapku dan perlahan menggelengkan kepalanya. Setelahnya, dia makan dalam diam dan tak berniat kembali menjalin kontak mata denganku.
Maafkan aku.
"Leon ... bukankah ada sesuatu yang perlu kau jelaskan dengan situasi ini?"
__ADS_1
Sial, mengapa wanita di sampingku menghancurkan suasana sarapan. Bukankah aku sudah mengatakan akan menjelaskannya.
Kembali aku melirik Elisa, dia terlihat kaku. Apa yang ada di pikirannya.
"Aku akan menjelaskannya setelah kita menyelesaikan sarapan. Kita memiliki banyak waktu untuk itu."
Tidak, sebenarnya aku hanya mengulur waktu berpikir akan menjelaskan seperti apa kepada dua wanita ini. Aku berpikir keras hingga sarapan ini selesai. Aku belum memiliki sesuatu yang tepat untuk dikatakan.
Aku akhirnya menawakan diri untuk mencuci piring dan menyuruh mereka bersantai di ruang tamu. Aku mendengar suara tv, sepertinya mereka menonton untuk menghilangkan kecanggungan.
Aku memperlama kegiatan mencuci piringku. Baiklah, sepertinya aku akan memulai memperkenalkan mereka berdua, aku tak ingin Elisa berpikir terlalu jauh tentang situasi ini. Dan selanjutnya apa yang akan aku jelaskan tentang Elisa?
Semua orang tahu dia adalah wanita yang menjadi sorotan dunia semenjak semalam. Dan dia di sini, bersamaku, tidur di kamarku, sarapan dengan tenang di depanku, dan sekarang menonton tv. Ah ...
Aku akhirnya selesai dari berpikir kerasku. Saat aku menuju ke ruang tamu, aku melihat Edward yang berdiri di depan tv dan memukul-mukul layar yang menampilkan film cartoon. Sedangkan dua wanita itu seperti sibuk dengan obrolan mereka. Semakin mendekat, aku semakin tau apa yang mereka bicarakan.
"Tentu saja bukan! Apa kau gila. Aku tak mungkin ..." Ucapan Elisa tak dilanjutkan. Dia hanya menundukkan wajahnya.
"Benarkah? Tapi aku melihatnya berbeda. Yang kutahu kau semalam berciuman dengan pria lain, yeah mungkin tunanganmu. Semua orang tak bodoh ketika melihat cincin di jari manismu." Elisa dengan cepat menutupi cincin itu dengan tangannya.
"Dan lagi pula kenapa Leon membawamu ke sini. Kau bukan kekasihnya, tapi kau semalam tidur di kamarnya, aku tak yakin untuk tak berpikir buruk tentang apa yang kalian lakukan semalam, walaupun baru kali ini dia membawa seorang wanita ke sini. Apa dia tak berpikir bagaimana perasaanku dan Edward."
Sial, wanita itu akan terus mengoceh jika aku tak menghentikannya.
"Apa yang tengah kalian bicarakan?" Aku akhrinya menghentikan acara mengupingku dan duduk di single sofa.
"Tidak ada. Obrolan wanita seperti biasa. Jadi ... aku butuh kau menjelaskan kebingungan ini. Aku tak memiliki clue mengenai ..."
Dia menghentikan ucapannya dan melirik ke Elisa. "... wanita ini." Aku terlalu terbiasa dengan sikap wanita ini yang jarang manyaring ucapannya.
Aku menatap kedua wanita yang kusayangi ini. mereka terlihat sangat antusias mendengar penjelasanku. Elisa yang masih menutupi cincinnya, sedangkan wanita di sampingnya menyedekapkan tangan di dadanya.
"Baiklah, apa kalian sudah berkenalan?" Tak ada yang menjawab satu sama lain. Okay, sepertinya mereka memulai obrolan tanpa memperkenalkan diri masing-masing
"Kurasa kalian melupakannya. Elisa ... perkenalkan dia adalah Luxy dan dia adikku."
"Apaaaaa!"
Semuanya terdiam seketika. Edward bahkan menghentikan aktivitas memukul tv dan menatap Elisa. Aku tak menyangka dia akan sekaget itu.
"Apa? Apanya yang apa? Kenapa kau sepanik itu?" Luxy mengernyitkan dahinya, sepertinya telinganya sakit dengan teriakan Elisa.
"Tapi kalian seperti pasangan suami istri. Leon terlihat begitu menyayangimu, dia memperlakukanmu sangat lembut, dan ... Edward." Luxy yang semakin mengernyitkan dahinya kembali menjawab.
"Yang benar saja, aku? Istrinya? Apa kau bercanda? Dia bahkan tak kan masuk dalam daftar tipe pria idamanku. Lagi pula ini salahmu, Leon. Kau terlalu berlebihan kepadaku. Kau lihat wanita ini bahkan berpikir yang tidak-tidak tentang kita. Dan kau ... Apa kau tak menyadari kami bahkan tidur terpisah. Jika aku istrinya, aku seharusnya sudah menjambak dan menamparmu karena sudah lancang tidur dengan—"
"Aku tidak!" Elisa kembali berteriak. Pagi ini sepertinya dia memiliki tenaga ekstra untuk berteriak.
"Maksudku kami tak melakukan apa yang kau pikirkan. Kami hanya ... tidur ... yeah tidur ... saja."
Dia mengucapkannya dengan terbata-bata. Wajahnya bahkan sangat memerah. Setelahnya, dia kembali melirik ke arah Edward yang kembali beraktivitas memukul tv dan tertawa. Aku akan diam, karena wanita yang suka mengoceh akan terus menjelaskan tanpa henti.
"Edwad memang anakku. Bukankah dia anak yang menggemaskan? aku sangat terkejut menemukan dia begitu menyukaimu. Dia anak yang tangguh, bahkan saat menangis dia tak seperti anak pada umumnya. Dia hanya akan terisak menahan suaranya. Aku bahkan merasa seperti ibu terburuk untuknya saat dia menahan tangis, seakan aku akan memarahinya ketika dia berisik dalam tangisnya."
Suasana hati Luxy sepertinya memburuk ketika menceritakan Edward. Dia selalu seperti ini. Ini harus kuhentikan—
"Di mana ayahnya?"
Elisa lebih dulu mengucapkan pertanyaan itu. Aku melihat ekspresi Luxy yang berubah seketika. Dia kembali mengernyitkan dahinya dan menatap tak suka kepada Elisa. Sial, aku seharusnya sudah menghentikan pembicaraan tentang Edward sejak awal. Ini akan menyakiti hati Luxy.
Aku tak tahu bagaimana masa lalu akan menggerogoti dirinya kembali. Baru saja aku mengingat bagaimana mata Luxy membengkak, kuyakin dia tak baik-baik saja saat ini. Aku sering melihatnya menangis diam-diam. Dan itu sudah lama tak terjadi hingga tadi pagi ...
"Ayahnya? Ayahnya sudah ... mati."
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1
...•••...