
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyne and Wear), UK – 08.37 am.
Samar-samar suara orang berbicara terdengar hingga ke telingaku. Aku berusaha membuka mata dengan susah payah, hingga akhirnya mampu bersentuhan dengan sinar matahari.
Aku merasakan sesuatu seakan menahan perutku. Ah, tangan ibuku. Aku membangunkannya dengan mengusap tangannya.
Ayah dan Zach yang sedang berbincang akhirnya menyadari aku telah terbangun ketika Ibu memelukku. Sudah berapa lama aku tertidur? Kenapa semua orang panik dan lega secara bersamaan.
Samar-samar aku mengingat kejadian semalam. Sungguh, ingatan kejadian itu sangat mengerikan dan masih membuatku tidak percaya. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Dan Leon, bagaimana bisa semudah itu dia melenyapkan orang-orang?
Lamunanku yang sebenarnya cukup lama, seketika terhenti. Aku mengamati seluruh sisi kamar ini dan tak menemukan Leon. Apa dia telah pergi?
"Di mana Leon?"
Itulah kalimat pertama yang bisa kukatakan di pagi ini. Aku baru menyadari ternyata aku telah di mension keluargaku, bukan di istana Zach lagi.
"Dia sudah pergi setelah mengantarkanmu ke sini."
Zach menjawab pertanyaanku dengan cepat. Aku agak kecewa dengan Leon yang pergi tanpa mengatakan apa pun. Aku masih memiliki banyak pertanyaan untuknya. Sangat banyak.
"Honey, kau baik-baik saja?"
"Yeah. I'm fine, Bu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Aku mengamati ibuku dan semua orang di ruangan ini. Semuanya menatapku dengan tatapan yang sedikit tidak aku mengerti.
"Kau lapar? Apa yang kau inginkan untuk sarapanmu?"
"Ayolah, Bu. Mengapa kalian begitu aneh pagi ini? Aku baik-baik saja. See, aku bisa bangkit dari tidurku."
Aku turun dari kasurku dan berdiri dengan tegap agar mereka percaya.
"Kau yakin?" Aku memutar bola mataku.
"Baiklah, kami akan menunggumu di meja makan untuk sarapan, Honey."
"Kurasa kalian bisa sarapan dulu. Aku ingin berlama-lama di kamar mandi. Aku merasa badanku agak ..."
Lengket?
"Kau ingin ibu temani?"
"No! Ayolah, kalian semua keluar. Aku bukan lagi anak kecil."
Aku mendorong ibuku dan semua orang keluar dari kamar. Setelahnya, aku segera mengambil handphone-ku yang ada di meja. Aku berencana ingin menelpon Leon, tapi ternyata sudah ada pesan masuk darinya sejak tadi malam.
'Maafkan aku tak bisa menemanimu hingga pagi besok kau terbangun. Aku akan cepat kembali.'
Aku menghembuskan napas kasar sebelum membalas pesannya, 'Yeah, tak apa. Apa yang tengah kau kerjakan hingga harus terburu-buru meninggalkanku?'
Tak ada balasan sama sekali, bahkan belum terbaca. Aku menunggu hingga sekitar lima menit, namun masih belum dibalas juga. Akhirnya aku memutuskan masuk ke kamar mandi dan terus membawa handphone-ku.
Hingga aku menyiapkan bathtub saja, pesanku belum terbalas. Menyebalkan. Aku memasukkan diriku ke dalam air yang beraroma lavender. Ini sangat menenangkan. Namun, perhatianku masih belum teralihkan karena pesanku masih diabaikan Leon.
Kurasa aku akan mencoba tidur sebentar dalam bathtub ini. Baru saja aku memejamkan mataku, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Aku segera mengambilnya dan senyum sumringahku muncul saat melihat itu adalah Leon. Aku segera mengangkatnya, "Leon!"
'Wow, kau selalu memiliki tenaga untuk berteriak di pagi hari, Princess.'
Suara tawanya memenuhi gendang telingaku.
"Aku merindukanmu."
Cekikikannya masih terdengar di ujung sana, bahkan lebih jelas. Mungkin karena ucapanku yang frontal.
'Belum satu hari kita berpisah, Elisa. Begitu menggelikan saat mendengar kau mengatakan hal itu.'
"Kau mengejekku?! Kau sepertinya tak merasakan hal yang sama. Aku kecewa."
'Apa kita akan kembali mendebatkan hal yang tidak penting lagi?'
Aku terdiam cukup lama. Menyebalkan, siapa juga yang ingin berdebat dengannya. Tunggu dulu, aku mendengar suara klakson, apa dia tengah di perjalanan?
"Apa yang sedang kau lakukan?"
'Well, aku di jalanan mengendarai mobil menuju suatu tempat. Dan apa yang tengah kau lakukan?'
"Tebak saja sendiri."
Aku cekikian menahan tawa seperti orang bodoh.
'Emm ... mandi?'
Aku menjauhkan handphone-ku dari telinga dan menutup layarnya. Bagaimana dia tahu?
"Ti ... tidak. Kau salah! Aku sedang sarapan di kamar."
'Oh ya? Aku mendengar suara air, kukira kau sedang mandi.'
"Tidak! Telingamu bermasalah. Bagaimana bisa bunyi air masuk ke dalam telingamu di ujung sana. Kau bodoh!"
Aku segera mematikan sambungan telpon tersebut karena malu. Sial! Bagaimana bisa aku gugup hanya ketika dia menelponku. Bahkan, aku sendiri bisa merasakan wajahku memanas, mungkin saat ini sudah menjadi merah. Dasar bodoh.
Setelahnya, aku menyelesaikan acara berendamku dengan cepat karena perutku sudah kelaparan. Hingga aku menyelesaikan penampilanku setelah mandi, aku masih berkirim pesan dengan Leon.
Hal itu masih terus kulakukan saat aku masuk ruang makan dan menemukan kedua orang tuaku tanpa Zach. Kurasa dia sudah pergi bekerja. Ayah dan ibuku sudah menyelesaikan sarapannya dan sepertinya melakukan perbincangan serius sembari menungguku.
Aku disuguhkan pancake oleh para pelayan. Aku masih asyik membalas pesan Leon selama sarapan dan enggan bergabung dalam pembicaraan orang tuaku. Aku cekikian sendiri membalas pesan Leon.
Kami memutuskan untuk saling berhubungan lewat handphone jika memiliki waktu luang. Leon mengatakan jika pesanku tak dibalas, berarti dia sedang sibuk. Aku akan mengerti itu karena kurasa mulai besok aku juga akan sibuk bekerja.
"Elisa!"
Aku tersentak mendengar suara tinggi ayahku.
"Kau tak mendengarkan apa yang kami katakan dari tadi. Berhentilah memegang handphone di meja makan. Itu sangat tidak sopan ketika dari tadi kami berbicara denganmu."
Aku menatap sinis ke kedua orang tuaku. Mereka terlihat sangat tak suka dengan apa yang kulakukan.
Aku meletakkan handphone-ku di atas meja dan melanjutkan makan pancake-ku tanpa ingin berdebat dengan mereka. Ini pertama kalinya kulakukan, lagi pula kurasa mereka hanya asyik mengobrol berdua. Apa salahnya dengan sopan santun saat di ruang makan ini hanya kami bertiga. Aku tak menyukai saat seperti ini.
"Apa kau yakin sudah bisa bekerja besok?"
Ibuku memecah kesunyian dengan mengajakku berbicara.
__ADS_1
"Yeah, tak ada alasan untukku terus di sini."
Ayahku terlihat kembali tak suka dengan jawabanku. Aku masih sangat jengkel dengan perkataan ayahku tadi.
"Syukurlah ... Emm, apa akhir pekan nanti kau bisa menemani ibu?"
"Aku tak ada rencana apa pun. Memangnya ada apa?"
Aku masih mengunyah pancake tersebut dengan perlahan dan menatap ibuku, seolah peduli dengan apa yang dikatakannya. Padahal aku hanya fokus dengan handphone-ku yang bergetar sesekali, karena kuyakin itu adalah pesan dari Leon.
Tanganku sangat gatal ingin mengambil handphone-ku. Aku buru-buru memakan pancake agar segera meninggalkan obrolan membosankan ini.
"Ibu ingin kau bertemu dengan teman lama ibu. Dia juga akan membawa anaknya yang seumuran denganmu. Emm ... sesekali juga kau harus bersosialisasi dengan orang lain."
"Aku mudah bersosialisasi dengan kolega bisnisku, Bu. Aku bukan seorang penyendiri. Lagi pula, aku hanya akan menemanimu, jangan membuatku masuk dalam obrolan sosialita. Itu membuatku tak nyaman."
"Bukan itu maksud ibu."
Tiba-tiba ibu menggenggam tanganku dan aku menghentikan acara makan cepatku.
"Cobalah membuka diri untuk seseorang. Mungkin kau bisa memulainya dengan kencan bersama anak teman ibu. Kuyakin dia sangat cocok denganmu, dia memiliki sifat yang sama seperti Kyle."
Aku meletakkan pisau dan garpu dengan keras di atas piringku. Aku tak mengatakan apa pun dan berdiri dari dudukku. Baru saja aku akan meninggalkan meja makan, tapi suara geraman ayahku membatalkan rencana itu.
"Elisa, habiskan makananmu sebelum meninggalkan meja ini!"
Aku mencoba bertahan di meja ini. aku mengambil handphone-ku dan mengabaikan apa pun yang ayahku katakan tadi tentang sopan santun. Aku hanya membutuhkan Leon untuk meredakan amarahku.
'Aku harus segera pergi. Nanti malam aku akan menghubungimu lagi.'
Pesan dari Leon mulai kubaca.
'Aku menyayangimu.'
'Kau yakin tak kan membalasnya?'
Aku kembali melahap potongan terakhir pancake-ku dan berusaha mengetik balasan untuk Leon, 'Aku juga menyayangimu :)'
Kegiatanku terhenti ketika ibu kembali menyentuh sudut jari-jariku.
"Elisa ... ibu hanya—"
"Berhentilah memaksanya."
Kali ini ayah yang menginterupsi perkataan ibu. Saat itu aku merasa senang sejenak dengan pembelaan ayah sebelum—
"Aku tak memaksanya! Bagaimana dengan kau sendiri? Kau bahkan menjodohkannya dengan seseorang yang tak tahu dari kalangan mana."
Aku seketika tersedak dengan pancake-ku sendiri.
"Ada apa dengan ini semua?! Kalian bahkan tak membicarakan apa pun denganku terlebih dahulu. Kalian kira aku ini apa?"
Ibu terlihat enggan menjawab, sedangkan ayahku menatap intens ke dalam mataku.
"Ini demi kebaikanmu, Elisa."
"Ayah ... kau bahkan tak tahu apa yang terbaik untukku. Berhentilah membuatku menjadi apa yang kau inginkan. Apakah aku yang sekarang masih tak cukup untukmu?"
Persis sama dengan apa yang Kyle katakan ketika mendengar kata perjodohan. Mungkin inilah yang dulu Kyle rasakan. Dan yang kulakukan juga sama, aku tak membutuhkan jawaban dari siapa pun dan segera meninggalkan meja makan.
Aku baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan, tapi kenapa mereka malah menekanku sejauh ini? Terutama ayahku. Aku tak pernah sekali pun ingin mengecewakannya dalam segala hal.
Karakter kerasku saat bekerja terbentuk dari sosok tangguh James Amstrong. Aku tak pernah menyerah dengan apa yang kuinginkan karena memilikinya sebagai panutanku.
Aku bahkan tak pernah keluar dari garis yang telah digambarnya karena kutahu dia akan menjadi ayah terbaik yang akan membawaku pada jalan yang benar-benar terbaik untukku.
Dia jarang berbicara kepadaku, tapi kutahu dia selalu mengamati apa pun yang tengah kulakukan. Aku tak percaya dia membuat keputusan sendiri tanpa ingin bertanya kepadaku. Untuk pertama kalinya aku sangat kecewa dengan keputusan ayahku.
Saat ini aku sangat ingin mendengar suara Leon. Tapi itu tak bisa terjadi karena dia bahkan belum membaca pesan terakhirku. Aku merindukannya. Aku tak bisa berterus terang dengan kondisiku sekarang. Dia pasti akan khawatir nanti.
Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan pakaian kerja. Aku tak ingin berlama-lama di sini, lebih baik aku masuk lebih awal untuk bekerja. Kurasa saat aku sampai ke kantor, pasti banyak orang yang heboh karena belum menyiapkan apa pun untuk penyambutanku.
Ah, masa bodoh.
Aku segera menghubungi Kyle untuk bertemu di kantoku. Dan benar saja, dia kaget karena aku dengan tiba-tiba ingin mulai bekerja hari ini. Tak lupa juga aku menghubungi sekretarisku untuk menyiapkan segalanya yang bisa kukerjakan hari ini.
Saat bersiap-siap, tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamarku diketuk, "Nona, Tuan ingin berbicara sebentar dengan Anda. Beliau telah menunggu di ruang kerjanya."
Aku sejenak berpikir, apa lagi yang ingin dia katakan?
"Katakan kepadanya aku akan segera datang."
Aku segera mengambil tas kerjaku sebelum keluar dari kamar menuju ruang kerja ayahku di lantai satu.
Aku mengetuk pintu sebelum masuk. Mata kami bertemu. Aku masih berdiri tak ingin mencoba mendekat saat dia perlahan melepaskan kaca matanya. Dia duduk di meja kerjanya dan sepertinya sedang membaca beberapa dokumen.
Dia masih bekerja walaupun segalanya sudah dilimpahkan kepadaku. Aku yakin, aku yang sekarang masih bukan apa-apa dibandingkan dengan dirinya di umur yang sama sepertiku. Tak ada alasan baginya untuk langsung memberikan segalanya kepadaku. Peralihan ini membutuhkan proses dan waktu.
"Kau akan berkeja?"
"Ya."
Dia masih menatapku dari tempat duduknya.
"Ibumu ... dia terlihat sedih. Berbicaralah dengannya."
"Kau lebih ahli menghiburnya, Ayah."
"Dia tak ingin aku melakukan itu."
Aku memilih diam, tak berniat menjawab. Membahas kejadian di meja makan membuatku semakin jengkel.
"Kau ... Aku tak memaksamu menerima segala yang kutawarkan. Kau bisa menolaknya jika kau ingin. Kukatakan aku ingin segala yang terbaik untukmu, aku tak bisa melupakan apa yang terjadi denganmu semalam dan itu jauh membuatku ketakutan daripada kehilangan segala harta yang kumiliki."
Aku tak bisa melihat wajah ayahku karena dia kembali memasang kaca matanya dan memutuskan membaca dokumen lagi. Dia tak menunjukkan emosinya, selain dari kemarahan yang kadang muncul.
"Jangan pulang terlalu malam. Ibumu akan khawatir."
Aku mendengar kalimat itu sebelum keluar dari ruang kerjanya. Aku menatap sekeliling yang juga terasa sunyi, tak terdengar suara lantang ibuku seperti biasanya. Hanya ada suara para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Aku menghembuskan napas kasar dan memutuskan untuk pergi bekerja. Saat aku keluar mension, sudah ada mobil yang terparkir di ujung tangga dan beberapa bodyguard?
Tunggu dulu, mereka bukan bodyguard yang biasanya menemaniku. Saat aku mendekat, tanpa sadar mataku terbelalak karena di sana ada salah satu orang yang kukenal.
__ADS_1
"Dereck?"
Dia membalikkan badannya.
"Ah, Nona Amstrong. Lama tidak berjumpa. Kau tahu, aku kembali turun ke lapangan untuk pertama kalinya menjadi seorang bodyguard." Dia mengatakannya dengan suara kecil seperti bisikan.
Kuyakin perkataan ayah memang tak pernah main-main. Lihat saja, aku akan ditemani dengan para pengawal yang lebih kaku dari sebelumnya dan mereka semuanya bersenjata.
"Derack, bagaimana bisa kau di sini?" Entah mengapa aku bertanya juga seperti berbisik.
"Aku akan menceritakannya nanti. Kau tahu, banyak berbicara dengan klien bukan tugas kami. Mereka nanti akan melapor kepada sepupu menyebalkanmu itu dan gajiku mungkin akan dipotong karena itu."
Dia kembali berbisik. Aku memutar bola mataku dan masuk ke dalam mobil. Aku ditemani oleh Dereck dan seorang sopir yang baru kulihat juga, masing-masing di kursi depan. Bahkan masih ada satu mobil lagi yang membuntuti di belakang sana. Aku melirik Dereck dari kaca depan bagian atas mobil. Dereck memberikanku senyuman menjijikannnya.
...***...
45 minutes later ...
Amstrong Compony, City of London, UK – 10.25 am.
Aku masuk ke dalam kantorku dengan perasaan lega. Kyle masih belum sampai di kantorku. Kurasa dia masih jengkel karena aku memaksanya datang dengan tiba-tiba. Sedangkan aku di dalam sini bersama dengan Dereck.
Aku sebenarnya agak risih dengan masuknya dia ke dalam ruanganku, tapi itu lebih baik daripada dia menggoda sekretarisku di luar sana. Lagi pula, dia sepertinya sangat menikmati jam kerjanya dengan berbaring di sofa sembari memainkan handphone-nya.
Aku mengabaikannya dan membaca beberapa proposal yang harus kutandatangani. Sekitar satu jam kemudian, barulah terdengar pintu ruanganku terbuka tanpa seizinku, siapa lagi kalau bukan Kyle. Dereck saja tersentak dan terbangun dari tidur pulasnya.
"Ah, sial. Handphone-ku jatuh!"
Suara Dereck menjadi pusat perhatian kami berdua. Kyle melirik ke arahku seakan bertanya siapa pria bar-bar itu.
Aku hanya mengangkat bahuku dan berkata, "Pengawal pribadiku. Sudahlah, jangan pedulikan dia, aku membutuhkan bantuanmu untuk rapat proyek kita minggu depan."
Aku beranjak dari meja kerjaku dan bersama Kyle menuju ruang rapat yang lebih tertutup. Aku tahu dia sangat tidak nyaman membicarakan hal penting seperti ini jika ada orang asing.
Baru saja akan keluar, sesaat aku mendengar Dereck memelas, "Nona, apa aku bisa keluar sebentar? Mungkin dengan berkeliling melihat-lihat gedung ini."
Senyum menyebalkan Dereck membuatku memutar bola mata.
"Lakukanlah jika ingin gajimu dipotong lima puluh persen. Lagi pula aku tak kan lama, jangan kabur sebelum aku mengizinkanmu." Dengan seketika aku menutup pintu.
"Hey, Elisa. Apa ini tidak konyol? Seakan kau yang menjaga bodyguard-mu sendiri. Siapa dia?"
"Jangan pedulikan dia, Kyle. Dia bodyguard yang sebenarnya dari kediaman Zach. Dia khusus menjadi pengawal pribadiku saat ini. Aku membiarkannya di dalam sana karena jika dia keluar, entah apa yang akan dia lakukan dengan beberapa wanita di gedung ini."
"Apa?! Yang benar saja, orang seperti itu menjadi pengawalmu."
"Setidaknya dia tak lebih menyebalkan daripada yang lainnya. Sudahlah, mari kita mulai pekerjaan kita."
...***...
Three hours later ...
Saat aku kembali, aku melihat Dereck yang merokok dengan kakinya naik ke atas meja. Sikapnya benar-benar membuatku frustasi.
Dia terkejut ketika aku masuk dan dengan cepat menurunkan kakinya. Aku masa bodoh dengan sikapnya karena aku sudah lelah membicarakan proyek dengan Kyle selama 3 jam non stop.
Aku akhirnya menghubungi sekretarisku untuk menyediakan makan siang apa pun untuk kami. Kemudian aku berjalan ke lemari kaca di mana terdapat koleksi wine-ku dan mengambil satu botol yang menjadi favoritku.
"Aku tak pernah sekali pun membiarkan seseorang merokok dalam ruanganku."
Aku mengatakannya sembari menuangkan wine ke gelas.
"Ah, benarkah? Maafkan aku, Princess. Aku akan membuangnya karena Tuan Putri baik hati telah menyuguhkan wine mahalnya." Dia mengerlingkan satu matanya.
Aku memilih duduk di sofa di hadapannya dan meletakkan satu gelas wine untuknya juga.
"Aku heran, kau tak menyukai seseorang merokok, tapi aku pernah memergoki kau dan Leon berciuman. Kau tahu, Leon adalah perokok berat."
Aku tersedak oleh wine. Sial, mengapa hari ini aku begitu sering tersedak.
Salah tingkahku cepat teratasi karena pintu ruanganku diketuk dan sekretarisku masuk membawakan makanan. Aku melihat Dereck bermain mata dengan sekretarisku. Mereka menghentikan itu ketika aku mendehem dengan keras.
"Jadi ... apa Zach yang memintamu untuk melakukan pekerjaan membosankan ini?"
Dia mengunyah hamburger dengan sangat lahap. Sepertinya dia sangat kelaparan.
"Tidak juga. Tepatnya Zach, ayahmu, dan Leon. Tiga orang yang sangat protektif terhadapmu."
Sudah kuduga, semuanya pasti ada campur tangan mereka.
"Kau tahu kejadian semalam membuat semua orang gempar, terutama ayahmu."
Aku tak tahu bagaimana ekspresi ayahku saat itu. Apa dia hanya diam seperti biasanya? Tapi kenapa setelah kejadian itu, kedua orang tuaku malah membuatku jengkel saat sarapan tadi? Aku masih merasakan kekesalanku saat ini.
Aku kembali menyesap wine ketika ada pesan masuk ke handphone-ku dari Leon,
'Balasan yang sangat melegakan, kukira hari ini aku akan kecewa karena kau tak membalas pertanyaanku yang terakhir.'
Aku tersenyum ketika membacanya.
"Wow, wine ini luar biasa. Kau ahlinya, Nona. Kapan lagi aku akan mendapatkan minuman mewah dan memuaskan seperti ini?"
Aku menatap bergantian pesan dari Leon dan wajah Dereck hingga dia terlihat penasaran dengan apa yang kulakukan.
"Apa?"
"Hey, Dereck. Aku tak ahli membuat wine, aku bisa menemukan dan membelinya dengan mudah. Tapi, kau akan terkejut ketika mengetahui begitu ahlinya aku meracik minuman yang tak pernah kau rasakan."
Mata Dereck dengan seketika menyipit ketika aku menyeringai.
"Apa yang harus kulakukan untuk bisa merasakan minuman itu?"
Bingo ...
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...