The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 07. It Comes Rushing Back


__ADS_3

Newcastle General Hospital, Newcastle (Tyne and Wear), UK - 10.01 pm.


Ini memalukan. Sial, bisikan di sekitar semakin terasa, seperti perbincangan menarik saja. Bahkan saat sedikit mengintip dari sela-sela rambutku, aku bisa melihat banyak orang memperhatikan. Bagaimana tidak, seorang wanita dewasa sedang digendong oleh pria tampan yang mengundang banyak mata.


Tapi sungguh, semenjak aku menunjukkan diriku yang lemah di depan Leon, suasana hatiku menjadi berubah. Untuk pertama kalinya aku merasa tenang dan aman bersama orang asing selain Zach. Saat tubuh kokoh itu menyembunyikan tubuhku dan memberikan ketenangan yang berarti, seakan segala bebanku terpecah-pecah. Entah kenapa saat ini bahkan aku tak merasakan kesedihan yang terlalu mendalam.


Dengan langkah tegasnya, Leon terus membawaku dengan tenang, seakan berat tubuhku tak berarti. Posisi yang seperti ini terlihat begitu intim. Kurasa orang sekitar akan berpikir kami adalah pasangan kekasih gila yang mempertontonkan kemesraan di rumah sakit ini. Tapi aku menyukai punggung ini. Apakah bisa aku memiliki Leon sebagai kendaraanku setiap ingin berjalan? Tidak.


Aku terus menyembunyikan wajah bodohku di antara celuk leher Leon. Setidaknya itu sedikit membantu. Aku tak pernah sedekat ini secara fisik dengan pria asing. Dalam posisi ini aku bisa mencium aroma Leon yang menurutku sangat maskulin. Ada sedikit aroma parfum yang bisa kuingat dan sisanya tentu saja rokok.


Terus terang aku sangat membenci rokok. Zach bahkan tak berani merokok di hadapanku karena itu akan sangat menggaguku. Tapi, entah kenapa saat aku menemukan Leon tengah menyesap rokok tadi, seakan dia bisa mengontrol apa pun itu. Dan bodohnya aku ingin melakukan hal yang sama yang tentu saja tak kan berhasil.


Bisikan yang tertangkap telingaku semakin kencang. Ah, kami hampir mencapai lift yang telah banyak kerumunan orang-orang di depannya. Aku mengeratkan pelukanku di leher Leon saat aku mendengar dua wanita di samping kami terang-terangan membicarakan kami. Sial, kenapa lift ini lama sekali.


Cepatlah, cepatlah, cepatlah.


"Jangan pedulikan mereka."


Dengan cepat aku mengangkat wajahku dan menatap sisi wajah Leon dari samping. Wajah tegasnya tak berubah sama sekali. Apakah suara pikiranku terdengar seperti gumaman di telinganya. Tidak, kurasa Leon juga menyadari rasa maluku yang berlebihan di sini.


Leon seketika melihat ke wajahku. Tindakannya yang tiba-tiba membuat wajah kami hampir bersentuhan. Dia tetap menatapku dan aku juga tak ingin mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Dari posisi ini aku bisa dengan jelas memperhatikan wajah Leon yang tak bisa kutatap dengan jelas saat di tempat remang sebelumnya. Mengapa aku baru menyadarinya?


Leon memiliki mata hijau kelam yang sangat menakjubkan. Ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari maniknya itu adalah alisnya. Alisnya yang coklat gelap tersebut dan tepatnya alis kirinya cukup menarik.


Bagian itu seperti terdapat bekas luka jahitan, jelas sekali seperti terdapat parit kecil pemisah bagian alis kirinya yang seperti terpotong menjadi dua bagian oleh garis miring. Jariku sangat gatal ingin menyentuh bagian itu.


"Ehemmm ..."


Acara pandang-memandang kami terhenti akibat deheman seseorang. Sial, sial, sial. Kami terlalu sibuk dengan dunia masing-masing, tanpa sadar lift sudah lama terbuka dan orang-orang di dalam sana terlihat kesal menunggu kami masuk. Kenapa kalian mengganggu? Tutup saja lift-nya.


Pikiranku tak seperti apa yang dipikirkan Leon tentunya. Dia membawaku masuk ke dalam lift dan dengan ahlinya dia bisa menempatkan diri ke sudut paling belakang.


Bisikan orang dalam lift ini tentang kami masih bisa kudengar, terutama dua wanita tadi yang sekarang di depan kami. Mereka mengejek dengan perumpamaan dua anjing yang sedang memasuki masa kawin. Telingaku seperti terbakar saat mereka cekikikan tanpa henti.


"Bisakah kalian berdua menutup mulut kalian. Sangat menggangu pendengaranku. Jika kalian tak menyukai apa yang kulakukan, maka katakan. Kalian pikir aku bodoh dan tak mengerti tentang apa yang kalian bicarakan."


Wow, luar biasa. Bukan hanya dua wanita itu, tapi seluruh orang dalam lift ini memusatkan perhatiannya kepada Leon dan lift terasa sunyi. Kali ini aku sangat bersyukur untuk mulut tajam yang dimiliki Leon. Yeah, perkataannya sangat mewakili apa yang ingin kulontarkan.


Lihat saja ekspresi kaget mereka saat melihat ke arah kami dan hanya dibalas Leon dengan menunjukkan wajah yang lebih dingin. Aku melihat kekesalan mereka yang tak bisa tertutupi, namun tak bisa membalas apa pun.


Saat pintu lift terbuka di lantai 18, entah mengapa semua orang tiba-tiba keluar. Padahal kuyakin ada di antara mereka yang tak seharusnya turun di sini. Sedangkan kami berdua masih bertahan di lift untuk naik ke lantai teratas gedung ini, yang tentunya menuju lantai vip. Setidaknya sekarang aku bisa bernapas dengan leluasa.


"Terima kasih."


Itu ucapan yang sangat jarang kukatakan. Tapi, sungguh aku merasa harus mengatakan itu kepada Leon. Dia tak berkata apa pun selain menjawab dengan deheman kecil.


Setelah lift sampai ke lantai tujuan, kami disambut oleh beberapa bodyguard Zach. Kami menyusuri lorong menuju kamar ayahku berada. Oh, aku seketika tak ingin masuk ke dalam sana dan menginginkan terus berada di punggung Leon. Kuyakin mereka yang di dalam sana sedang tidur. Ayolah Leon, kita berjalan ke mana saja asalkan jangan ke sana.


Tentu saja aku tak mungkin mengatakan hal itu. Aku membiarkan Leon membuka perlahan pintu kamar tersebut. Namun, tak kusangka ternyata orang-orang di kamar ini masih belum tidur. Dan yang membuatku lebih terkejut adalah keberadaan Kyle. Kenapa dia di sini? Aku sungguh tak menginginkan dia di sini.


"Elisa!"


Kyle memanggil namaku dengan sangat lantang. Keterkejutannya juga sama sepertiku. Sial, aku harus menjaga sikapku karena keluarganya juga hadir di sini.


Perlahan Leon menurunkanku dan kakiku yang telanjang menyentuh lantai dingin yang tak kusukai. Dinginnya lantai tak berarti saat Kyle tiba-tiba memelukku dan membisikkan kata-kata motivasi, seakan aku adalah orang yang menyedihkan. Aku tak menyukainya. Aku tak menyukai dengan apa yang dia lakukan. Dia tak perlu iba seperti itu kepadaku. Aku sungguh tak membutuhkannya.


Bunyi pintu tertutup menyadarkanku dari pikiranku. Leon? Dia pergi. Aku melepaskan pelukan Kyle dariku. Aku menatap mereka yang sedang menonton adegan tadi.


"Sayang, kau tak apa-apa?"


Ibuku menanyakan pertanyaan konyol. Memangnya apa yang terjadi kepadaku?


Aku mengabaikkan keberadaan Kyle dan menghampiri tamu-tamu ayahku, yang tentu saja keluarga Bradley. Aku menyapa mereka seperti biasa dan menguatkan diri untuk berbincang seperti biasa. Mulai dari pembicaraan bisnis hingga pembicaraan remeh yang tak penting membuatku semakin muak. Aku tak tahan ingin pergi dari ruangan ini. Aku akhirnya berbisik ke ibuku.

__ADS_1


"Bu, apakah dokter mengatakan sesuatu tentang kondisi ayah?"


Ibuku mengalihkan pandangan ke arahku dan menjawab dengan bisikan juga, "Ayahmu sudah stabil, kau tak perlu khawatir lagi. Ibu tak kan membiarkan ayahmu kembali dengan tumpukan kertas sialan itu." Aku tersenyum mendengar apa yang telah ibuku katakan.


"Aku akan mengurus apa pun itu yang tengah dikerjakan ayah. Bisakah aku menyelesaikannya di istana Zach?" Ibuku mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia kurang setuju dengan pendapatku.


"Jangan membuat masalah Zach bertambah, Honey. Kita tahu dia tak selalu berada di istananya. Aku tak kan membiarkan dua orang yang kucintai masuk ke dalam gedung ini lagi."


Aku mencoba memelas dalam bisikan, "Ayolah Bu, aku sungguh menyukai suasana tenang istana Zach. Aku akan membawa pekerjaan kantorku ke sana, kuyakin di sana akan membantuku menenangkan pikiran dan menyelesaikan segalanya dengan lancar." Ibuku menghembuskan napas kasar.


"Baiklah, aku akan menghubungi Zach nanti. Aku akan memberikan alasan yang sama jika ayahmu bertanya. Mampirlah ke sini setiap hari agar ayahmu tak khawatir."


"Tak usah, Bu. Aku sudah bertanya kepada Zach dan dia mengizinkanku." 


Okay, itu bohong. Zach akan mengerti dengan situasi ini. Maafkan aku, sepupuku. Aku akan berdoa setiap hari untuk keselamatan istrimu.


"Baiklah, tapi-"


"Bu, aku bisa pergi sekarang? Aku tak tahan di sini."


Ibuku melihat ke sekeliling. Tentu saja dia sadar aku tak ingin melihat keluarga Bradley lebih lama lagi. Ibuku hanya mengangukkan kepalanya. Aku akhirnya meminta izin dengan sopan kepada semua orang untuk pamit pulang. Dan mereka menanggapinya seperti biasa.


Setelahnya, aku keluar dari kamar ini dengan perasaan lega. Aku baru menyadari masih belum mengenakan alas kaki. Aku akhirnya bertanya kepada seorang bodyguard yang tadi kutitipkan sepatuku. Dia mengatakan sepatuku dibawa oleh Leon. Untuk apa Leon membawanya?


Aku memaksa bodyguard itu untuk meminjamkanku handphone-nya dan tak lupa diam-diam untuk memasukkan nomor Leon ke handphone-ku. Tuan Aldrich? Aku baru tahu Leon memiliki nama keluarga itu. Haruskah aku bertanya nama lengkapnya? Tidak.


Aku menghubungi Leon melalui handphone bodyguard tersebut. Panggilannya sangat lama diangkat. Ke mana saja dia? Ah, akhirnya tersambung.


"Katakan!"


Kenapa dia menjawab sangat ketus? Samar-samar aku mendengar suara musik kencang dari sana. Apa dia di club?


"Kau di mana? Aku membutuhkanmu untuk ke istana Zach."


"Elisa ..."


"Elisa, kau masih di sana?"


"Iyah?"


"Aku tak bisa sekarang. Aku akan menyuruh salah satu orangku untuk mengantarmu ke sana. Aku masih memiliki urusan, mungkin akan sedikit lama, maka-"


"Aku akan menunggu ... Kau membiarkanku berjalan tanpa sepatu. Aku masih di rumah sakit ini, aku hanya sedikit lelah dan menginginkan kasurku di istana Zach. Kuharap kau bisa menyelesaikan kegiatanmu dan jalangmu dengan cepat."


Aku mematikan panggilan tersebut dengan paksa. Agak sedikit kecewa ketika mengetahui dia berada di tempat seperti itu. Dia baru saja menggendongku tadi dan beberapa jam setelahnya dia sudah ingin menyentuh wanita lain. Dasar Brengsek.


Hey, untuk apa aku kesal? Kau jangan seperti seorang kekasih yang sedang cemburu, Elisa. Yeah, aku hanya membutuhkannya agar aku tak kesepian.


Setelahnya, aku menyuruh bodyguard Zach untuk memindahkan berkas-berkas pekerjaan yang ada di mension Amstrong untuk dibawa ke istana Zach. Aku memang bersungguh-sungguh untuk bekerja di istana Zach. Dan jangan lupakan aku akan masih terus bekerja di kantorku.


Aku akan menyusahkan Leon untuk itu. Dia harus membayar kekesalanku dengan terus mengantarku ke London dari istana Zach yang jauh dan terpencil. Akan sangat menyenangkan ketika melihatnya terus kesal akibat tingkahku. Tanpa sadar aku terkekeh.


Aku telah meminta sandal pasien kepada petugas rumah sakit. Tentu saja akan sangat memalukan jika aku terus bertelanjang kaki. Aku memasuki lift untuk ke lantai dasar. Aku akan mencari makanan di restoran yang ada, entah kenapa nafsu makanku semakin meningkat saat ini.


Kurasa Leon akan lama sehingga aku memutuskan untuk makan. Tentu saja ditemani oleh satu bodyguard yang sengaja kusuruh untuk mengikutiku karena kuyakin nanti Leon akan menghubunginya untuk mencariku.


Aku memesan makanan apa pun yang kusukai. Aku duduk sembari memainkan handphone-ku, membaca apa pun kabar dari dunia bisnis. Aku juga meluangkan waktuku untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya kurang efektif jika melalui handphone. Aku harus mempersiapkan apa pun yang akan kuhadapi menjelang hari itu tiba.


"Kau berbohong. Kau mengatakan akan pulang."


Sial, mengapa dia muncul kembali? Dia membuat jantungku hampir copot. Aku membalikkan tubuhku dan melihat Kyle berjalan menghampiri. Dia duduk di sampingku dan berniat untuk meminta penjelasan.


"Aku mengatakan akan pulang, bukan berarti aku akan segera pulang saat ini juga, Kyle. Aku hanya lapar." Aku memutar bola mataku dan kembali fokus bekerja dengan handphone-ku.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja? Maksudku tentang kondisi ayahmu."


"Aku tak apa, Kyle. Kau tahu bukan hanya sekali ayahku seperti itu."


Makanan yang kupesan sudah datang. Sembari memakan makananku, aku terus bermain dengan pekerjakaanku di handphone dan mengabaikan Kyle.


"Maafkan aku tentang hari itu. Sungguh, aku tak berniat menyakitimu. Aku tak ingin berbohong dengan-"


"Sudahlah, Kyle. Aku tak memikirkan hal itu lagi. Yang penting untukku sekarang adalah keluargaku."


"Tapi kau mengacuhkanku, Elisa."


"Lantas aku harus seperti apa? Bersikap seperti biasanya seakan-akan tak pernah terjadi apa pun di antara kita. Ayolah, kita sangat paham akan situasi kita masing-masing. Kuharap kau mengerti dan tak menuntut situasi dahulu yang tentu saja tak bisa, Kyle."


Yeah, aku sedikit kesal. Aku ingin makan dengan tenang, tapi dia menggangguku dengan pertanyaan konyolnya. Dia akhirnya diam setelah aku mengatakan hal itu. Aku hanya mengingatkan tentang posisi kami masing-masing. Dia menundukkan kepalanya seakan sangat menyesal.


"Kyle, dengarkan aku. Aku tak bermaksud untuk mempersulit ini semua. Tapi sungguh kau tak perlu seperti ini, kau tak bersalah apa pun. Aku tak bisa memaksakan apa pun pada orang lain. Dan aku sekarang tak berminat untuk membahas hal tersebut karena aku sudah tak memikirkannya lagi."


Dia memandang ke dalam mataku seolah mencari kebenaran dari kata-kataku. Aku tersenyum kepadanya dan dia akhirnya membalas senyumanku.


"I'm okay. Kau bisa melihatnya sendiri."


Dia sepertinya percaya. Kami kembali membangun suasana yang semestinya dengan sedikit rasa canggung. Tanpa sadar aku sudah tak memikirkan permasalahan perasaan kepada Kyle. Aku bahkan kembali memesan banyak makanan dan dia ikut membantuku dalam menangani pekerjaan ayahku.


...***...


Newcastle General Hospital - 11.43 pm.


Entah sudah berapa lama kami menghabiskan waktu untuk berdiskusi hingga akhirnya Leon datang. Dari dalam restoran yang berdinding kaca ini, aku melihat Leon berlari terburu-buru sembari menempelkan handphone di telinganya. Sepertinya dia menelpon bodyguard yang tadi kubawa.


Dia akhirnya menemukanku. Dia berlari memasuki restoran menghampiriku dan Kyle dalam keadaan masih terengah-engah. Ini kali pertamanya aku melihat dia seperti ini. dia benar-benar datang.


"Kau lama sekali."


Aku mengatakannya sembari tersenyum kepadanya. Tiba-tiba suasana kehadiran Leon berubah menjadi tidak mengenakkan. Dia memandang ke arah Kyle, dari tatapannya, dia sangat menunjukkan ketidaksukaannya.


Kyle berdiri dan menjulurkan tangan untuk berkenalan, tapi Leon menyambutnya dengan sangat dingin. Mereka seperti dua orang yang sangat bertolak belakang. Leon saat ini jauh lebih angkuh untuk seorang bodyguard.


Dia beralih melihat jam tangannya dan kembali melihat ke arahku. "Ini sudah sangat larut, ayo pulang." Dia hanya mengatakan itu. Seperti biasa, dia tak meminta dengan benar.


"Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Kyle. Tunggulah sebentar."


"Aku sedang tak ingin menunggu, Elisa. Kau membuatku harus meninggalkan pekerjaanku dengan tergesa-gesa. Jika kau membuatku menunggu, maka pulanglah dengan siapa pun yang kau-".


"Jaga ucapanmu! Kau bukan siapa-siapa di sini. Lancang sekali-" Aku menahan cengkraman tangan Kyle di kerah Leon.


"Kyle, sudahlah. Dia benar, aku membuatnya datang tergesa-gesa. Aku akan pulang dan kita bisa membicarakan hal itu lagi nanti."


Kyle akhirnya menyerah. Dia melirik sinis ke Leon dan tiba-tiba memelukku. Dia berbisik, "Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku tak menyukainya." Aku terkekeh dan melepaskan pelukannya.


Tanpa kusadari Leon ternyata sudah keluar dari restoran dengan berjalan cepat. Aku menyusulnya dengan berlari menggunakan sandal yang tidak enak ini. Aku memanggilnya dengan sangat keras tapi dia mengacuhkanku.


Apa dia marah? Ada apa dengannya. Apa dia begitu kesal denganku karena harus meninggalkan pekerjaannyanya. Yang benar saja! Bahkan hingga ke tempat parkir dia terus berjalan tanpa menungguku. Menyebalkan.


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TO BE CONTINUED...


...•••...


__ADS_2