The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 27. You're Still Like A Child


__ADS_3

Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 07.37 am.


"Sial, kenapa tak memudar?"


Aku menepuk-nepuk wajahku di depan cermin. Masih jelas terlihat wajahku merah merona. Entah karena tepukan tanganku yang semakin keras kulakukan atau karena Leon yang menyebalkan tadi menggodaku. Jelas saja karena lelucon Leon sangat tidak lucu.


Kegiatan menepuk wajahku terhenti ketika ketukan di pintu kamarku terdengar dan setelahnya suara lantang pelayanku, "Nona, apakah Anda ingin sarapan di dalam kamar?!"


Mereka selalu berteriak seperti itu akibat sering aku abaikan dan tak kujawab.


Dan aku melakukan hal yang sama ketika menjawab, "Tidak! Aku akan sarapan di bawah!"


"Baiklah, Nona."


Jawaban terakhir pelayanku diucapkan dengan nada lembut. Sepertinya teriakan tadi sudah menguras tenaganya.


Tak lama setelah itu, aku segera bergegas mandi untuk membersihkan diri setelah mengeluarkan keringat banyak saat berlari tadi. Kegiatan mandiku tidak lama mengingat perutku sudah keroncongan.


Tak ada yang menemaniku saat sarapan kali ini, terlihat begitu sepi. Sambil mengunyah sarapanku, aku berbisik kepada pelayan yang berlalu-lalang menyiapkan makanan di meja ini, "Ssssttt ... Ke mana ayah dan ibu? Pagi ini aku belum melihat mereka."


Dia nampak terkejut ketika aku bertanya kepadanya dengan tiba-tiba.


"Ya ampun, aku terkejut, Nona. Mereka telah sarapan beberapa menit yang lalu, Nona. Sekarang mereka sedang berjalan-jalan menikmati udara pagi di sekitar lapangan golf."


Dia mengatakannya sambil berbisik, sama seperti yang kulakukan saat bertanya. Dan kami melakukan interaksi seperti itu untuk selanjutnya.


"Emm ... Kalau Leon, kau melihatnya?"


"Leon ... Siapa Leon? Apa pria yang berwajah menyeramkan yang tadi pagi keluar dari kamarmu, Nona?"


Kurasa wajahku kembali memerah. Pelayan ini tahu bahwa semalaman Leon ada di kamarku. Dan kemungkinan dia akan berpikir semalam kami tidur bersama. Nyatanya, memang seperti itu.


"Ya ... Dia Leon, dia—" Baru saja aku ingin menjelaskan, namun ...


"Aaa, ya, aku mengingat pria itu, Nona. Dia sepertinya ada di depan mension dengan para bodyguard. Dia sebenarnya sangat cocok untuk profesi seperti itu, Nona. Mengingat wajahnya yang sangat menyeramkan, membuat aku merinding tadi pagi saat berpapasan dengannya. Dia terlihat sangat tidak ramah. Nyonya juga sepertinya tidak menyukai dia. Oh iyah, dia juga semalam sudah membuat keributan di luar mension, Nona. Para bodyguard mengangkat senjata kepadanya karena dia mengamuk di depan pintu. Belum lagi—"


"Stop! Okay ... Aku paham. Ya, aku tak ingin mendengar semuanya. Aku sudah tahu itu. Kau bisa pergi."


Kepalaku rasanya berdenyut tak karuan saat mendengar ocehan pelayan tadi. Untuk masuk ke dalam rumahku, dia ternyata membuat keributan besar semalam. Tidak, apa ibu dan ayah juga tahu? Tadi pelayan itu mengatakan bahwa ibu tak menyukai Leon. Bagaimana ini?


Pikiranku yang sudah tak karuan membuat aku melupakan sarapanku. Aku memutuskan untuk tak menghabiskan makananku dan kembali ke kamarku. Aku akan bersiap-siap sebelum pergi bekerja dan segera menemui Leon di luar sana. Semoga saja dia belum pergi.


...***...


A few minutes later ... 


"Dereck, Apa yang kau lakukan!"


Itulah kalimat yang pertama kulontarkan saat membuka pintu mension. Aku melihat Leon yang terduduk di lantai dan Dereck yang masih memegang kerah kemejanya.


Saat aku mendekat, terlihat sudut bibir Leon yang terluka. Seperti akibat pukulan dari Dereck. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?


Aku segera mendorong tubuh Dereck menjauh dari Leon. Aku memegang sisi wajah Leon dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Namun, yang dilakukannya malah mengecup tanganku.


"Aku tak apa-apa, Princess."


"Lantas apa ini! Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Jangan kekanakan seperti ini. Apa kalian tidak malu berkelahi seperti anak kecil." Dereck memalingkan muka, enggan untuk mendebatku.


Sedangkan Leon malah cekikakan saat bangkit dengan merangkul lenganku dan berkata, "Hahaha ... Sudahlah, Elisa. Kami hanya berdebat tentang hal kecil, bukankan begitu, Dereck?"


"Itu tak lucu, Leon. Berhentilah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Kalian bukan lagi anak kecil." Aku kembali mengingatkan hal yang sama.


Aku berkata sembari berjalan meninggalkan mereka berdua untuk mencapai mobil. Kepalaku rasanya pusing jika melihat Leon yang melukai seseorang ataupun dia yang dilukai seseorang.


Tak beberapa lama, sudah ada seorang sopir yang sudah masuk ke dalam mobil yang akan membawaku ke tempat kerja. Namun, tak lama setelahnya juga masuk dua bajingan tadi ke dalam sini. Leon masuk dan duduk di sampingku, sedangkan Dereck ternyata menggantikan posisi sopir tadi.


Aku mengabaikan mereka berdua. Tenagaku rasanya akan terkuras sebelum bekerja jika terus berdebat tentang mereka. Biarkanlah perjalanan ini menjadi perjalanan yang tenang dan aku memutuskan untuk berkutat dengan pikiranku sendiri.


Benar saja, situasi yang tenang ini bertahan lebih dari setengah perjalanan menuju tujuan dan berakhir ketika ...


"Jangan terburu-buru, aku tak ingin cepat berpisah dengan wanitaku."


Aku memutar bola mataku mendengar apa yang Leon katakan. Berbicara tentang Leon, entah mengapa dia hari ini agak berbeda, bagaimana aku menyebutnya—mungkin dia terlalu ... bersemangat. Bahkan memar di dekat bibirnya tak lagi membuatku begitu khawatir dengannya.


Diam-diam aku mengamati sisi wajahnya yang masih baik-baik saja setelah aksinya tadi pagi. Bibir itu, aku jelas masih mengingat rasanya. Tanpa sadar aku meneguk ludahku  mengingat adegan panas kami tadi pagi. Sialnya, otakku tak berpikir jernih saat terus memikirkan sesuatu yang pernah kupegang tadi pagi dengan jari-jariku.


Aku memang tidak memegangnya secara langsung, tapi tentu saja aku bisa membayangkannya. Aku mengingatnya, ukurannya sangat—tunggu dulu, apa yang kau pikirkan, Elisa! Jangan rusak pikiranmu dengan pikiran mesum!


"Hey, apa kau sadar wajahmu sekarang sangat merah? Apa kau tengah memikirkan hal yang mengasyikan seperti tadi pagi?"


Pertanyaannya berupa bisikan jauh membuatku risih daripada apa yang kupikirkan. Ditambah lagi dengan apa yang tengah Leon lakukan kali ini sungguh membuatku ingin mengumpatinya.


"Leon, apa kau gila?! Menjauhlah. Kau tak lihat di sini ada orang lain?"


Bisikan-bisikan yang kami lakukan malah membuatku berpikir bahwa kami memang melakukan hal yang aneh-aneh. Tentu saja itu betul, aku tak bisa membiarkan Leon yang merayuku dengan terus mengelus tengkukku. Aku bahkan sangat kesusahan saat menahan tangannya yang ingin menyingkap rok-ku.


"Aku tak peduli. Bahkan aku tak masalah jika dia ingin melihat apa yang bisa kita lakukan di belakang sini. Elisa ... aku begitu kesal, mengapa kau hari ini begitu cantik dan sexy?"

__ADS_1


Kembali aku memukul tangannya yang tidak berhenti bergerak di atas pahaku. Wajahku kurasa sudah sangat memerah karenanya. Tentu saja Leon sengaja melakukan ini dengan tujuan tertentu.


Suasana di dalam sini semakin gerah saat Leon tidak berhenti membisikkan hal-hal mesum di telingaku. Aku akhirnya berdehem keras saat menyadari Dereck yang tertangkap sedang mengamati apa yang kami lakukan di belakang sini.


"Leon ... Berhenti ... Sekarang ... Juga ... Atau aku akan menurunkanmu di sini."


Leon pun berhenti dengan apa yang dilakukannya pada tubuhku. Dia terlihat tidak suka dengan apa yang kukatakan. Lihatlah, dia bahkan mengerutkan wajahnya dan berpaling tak ingin menatapku.


Aku menghembuskan napas kasar untuk kesekian kalinya. Aku merapatkan diriku kepadanya dan menggenggam tangannya sembari berbisik, "Maafkan aku, Dereck tadi melihat kita."


Dia membalasku dengan berbisik, "Sudah kukatakan aku tak peduli. Kau ingin aku menegurnya?"


Aku terkejut saat Leon seketika benar-benar melakukannya. "Bisakah kau tak mengganggu kegiatan kami dengan mencoba mengintip seperti itu?"


Kurasa Leon sudah tak waras saat mengatakannya. Aku mendengar Dereck yang masih fokus mengemudi seketika mendengus. Samar-samar aku bisa mendengar gerutuan Dereck.


"Percayalah, dia juga melakukan hal yang sama saat ingin meniduri wanita lainnya. Aku tak percaya harus terjebak di dalam sini. Sialan!"


Aku sontak memelototi Leon yang ternyata terlihat agak panik melihat reaksiku. Aku mengatakannya 'agak' karena dia jarang sekali mengeluarkan ekspresi di wajahnya. Tapi kali ini aku berhasil menangkap ekspresinya yang jarang, jelas sekali dia terpengaruh dengan ucapan Dereck.


Mungkin aku akan mulai dengan melepaskan genggamanku di tangannya dan berkata, "Aku akan berusaha untuk tidak menanyakannya kepadamu."


Aku tahu aku hanya ingin melihatnya lebih panik lagi, nyatanya aku memang khawatir juga jika Leon memperlakukan wanita lain seperti itu.


Dan yang kudapatkan adalah, "Elisa, kau meragukanku?" Aku merasakan kepanikannya bertambah di setiap kata yang dia ucapkan.


Ini menyenangkan. Aku menahan senyumku dengan mengalihkan pandanganku ke jalanan. Kesannya memang menunjukkan aku sedang malas menanggapinya.


"Elisa, berbicaralah agar aku tahu kau tak seperti apa yang kupikirkan."


"Aku enggan berdebat dengan sesuatu yang tidak perlu untuk diperdebatkan. Aku hanya ingin menenangkan pikiran sebelum memulai rapat satu setengah jam lagi."


Kuharap acting-ku tidak terlalu buruk. Aku tak tahu dan hanya ingin menebak bagaimana ekspresi Leon saat ini.


"Aku tak suka situasi seperti ini, jangan mengesampingkan hal yang jelas membuatmu sedikit menjauhiku. Aku akan menganggap acara 'menenangkan pikiranmu' itu omong kosong jika kita tak membahasnya saat ini juga."


Aku tidak menanggapi keseriusannya karena sudah mulai tersenyum. Kumohon jangan merusaknya, Elisa. Kau harus membuatnya lebih tersiksa. Dan yang membuat acting-ku hancur adalah Dereck yang ternyata dari tadi juga menahan tawanya. Wajahnya bahkan sudah memerah dari pantulan spion yang kulihat.


Namun, kejadian setelahnya begitu cepat hingga aku melupakan apa yang kurencanakan.


"Kau akan membuatku sangat marah dan tidak akan membiarkanmu memulai rapat pentingmu. Jika kau tak berbicara, maka aku tak punya pilihan lain."


Setelah mengatakannya, Leon langsung menarik kasar lenganku yang membuatku nyeri sekaligus kaget. Leon menarik tengkukku mendekati bibirnya. Dan yang dilakukannya dengan gigi-gigi itu sontak membuatku memekik dan pening.


Bukan hanya aku, mobil ini juga oleng karena pengemudinya yang juga terkejut, "Wowowow! Leon apa yang kau lakukan? Hey, kalian jangan seperti ini. Sial, aku tak bisa mengemudi dengan baik jika kalian meneruskannya!"


Kebisingan itu seketika membuatku melepaskan cengkeraman di pundak Leon. Tubuhku masih lemas akibat rasa sakit dan ... panas di leherku bekas gigitan Leon yang mendadak masih membuatku merasakan pening.


Entah apa lagi yang bisa Leon lakukan untuk membuatku gila. Apa aku harus marah karena kebejatannya. Ayolah, aku bahkan tak bisa berpikir jernih saat ini.


Tak lama setelahnya, pintu di belakang punggung Leon terbuka. Samar-samar aku mendengar suara Dereck yang ternyata bisa menghentikan kegiatan Leon.


"Kita sudah sampai dan cepatlah keluar. Jangan membuatku mengumpati kalian karena tak ingin mengakhiri aktivitas panas ini."


"Ah, sial. Mengganggu."


Leon menyandarkan punggungnya dan terus menatap ke dalam mataku. Tatapannya sangat tajam hingga aku tak berkutik.


Aku mengalihkan tatapanku untuk melihat keluar sana, ternyata sudah banyak pengawalku yang berbaris rapi untuk menyambutku. Terlepas dari itu, tindakan Dereck yang membuat kebisingan sebelum mencapai gedung ini malah menarik banyak perhatian orang, tak terkecuali para karyawan yang bekerja di gedung ini.


Leon terus menggerutu sembari memejamkan matanya, sedangkan aku masih terdiam kaku. Leon perlahan menyugar rambutnya dan merapikan segalanya, membuatnya terlihat baik-baik saja.


Dia seketika melirik kepadaku dan menggenggam tanganku sebelum berkata, "Kemarilah, kita harus keluar sebelum dia bertambah jengkel."


Baru saja dia ingin melangkahkan kakinya untuk keluar, aku segera menahannya, "Leon sebentar, aku tak bisa keluar seperti ini."


Dia segera menatap lekat-lekat penampilanku. "Sial aku melupakan yang satu ini." Dia mengatakannya dengan mengelus leherku yang kurasa sudah tercetak ruam akibat gigitannya tadi. Kurasa cukup serius, terlihat dari kerutan dahinya. Wajahnya menunjukkan penyesalan.


Dia segera melepaskanku dan membuka ruang penyimpan kecil di belakang jok pengemudi untuk mencari apa pun yang bisa membuat segalanya lebih baik.


Aku beralih mencari cermin kecil di dalam tas genggamku untuk melihat bekas gigitan yang terdapat di leherku. Sial, ini memang sangat parah. Bekas gigitannya sangat terlihat, bukan hanya ruam biasa. Aku bahkan masih merasakan nyeri saat menyentuhnya.


"Ehem ... Apa kalian sudah selesai? Sadar atau tidak kalian sudah terlalu lama di dalam sana."


Dereck berkata dengan sangat pelan yang kurasa hanya kami di dalam sini yang mendengarnya. Dia melindungi pintu mobil yang terbuka dengan setengah badannya dari pandangan di luar sana agar tidak ada yang bisa melihat apa yang tengah kami lakukan.


Tak lama setelahnya, Leon sudah menemukan apa yang dia cari. Dia kembali menarik daguku untuk menghadap kepadanya. Aku menatapnya yang serius dengan benda-benda di tangannya.


Seketika aku teralihkan oleh wajahnya. Dia memang tampan, sangat tampan. Aku sudah lama menyadarinya tapi entah mengapa aku selalu saja berdebar ketika menatapnya. Aku bahkan diam-diam selalu merasa bangga ketika bisa menjadi wanita yang selalu dia puja.


Tanganku sangat ingin menyentuh wajah yang tengah serius ini. Bagian rambutnya ada yang sedikit berantakan, namun aku urungkan ketika perlahan merasakan bagian leherku yang diusap dengan tisu basah. Dia melakukannya dengan perlahan agar aku tak merasakan nyeri yang sebenarnya memang sudah kurasakan.


Kurasa ada sisi di mana dia menjadi pria yang romantis di tengah sifat temperamennya. Aku tersenyum ketika menyadarinya.


"Aw, Elisa! Itu sakit." Cubitanku di perut Leon berhasil menginterupsinya.


"Itu akibat dari apa yang kau lakukan. Bahkan tak sebanding. Entah apa yang ada di kepalamu. Kau pikir kau vampir?"

__ADS_1


Aku tak bermaksud memarahinya. Hanya saja ingin menggodanya yang tengah serius memperbaiki apa yang dia perbuat.


"Iya, aku memang vampir. Apa kau baru menyadarinya? Dari dulu aku tak sabar ingin menggigit leher jenjangmu."


Aku kembali mencubit sisi perutnya dan dia kembali memekik kesakitan.


"Elisa, jangan melakukan itu!"


"Jangan bercanda, usaplah dengan perlahan. Aku juga merasakan kesakitan bodoh."


Dia hanya menggerutu terus, sepertinya dia kesal dengan cubitanku. Ternyata aku bisa menemukan apa yang harus kulakukan ketika dia begitu menyebalkan, yaitu mencubitnya.


Aku perlahan mengangkat tanganku untuk menyugar rambutnya agar kembali rapi. Dia yang tengah membuka bungkusan plester luka seketika berhenti dan beralih menatap mataku. Seketika dia tersenyum. Oh, dia akan terus membuatku semakin mencintainya saat dia tersenyum seperti itu.


Dia kembali melakukan aktivitasnya dan kurasakan dia menempelkan plester luka itu di bekas usapan yang tadi. Aku mengernyit saat menatap pantulan leherku di cermin kecilku.


"Leon. Ini tak membantu, malah membuat orang semakin curiga."


"Ayolah, Princess. Ini lebih baik daripada mereka langsung menatap ruam merahnya."


Setelah selesai, dia kemudian menarik kuncir rambutku dan melepaskan ikatannya yang sudah kutata sejak tadi pagi. Dia merapikan rambutku agar bisa menutupi bagian leharku.


"Kau menghancurkan pekerjaanku yang sudah susah payah kulakukan tadi pagi."


Dia kemudian mengecup bibirku dengan cepat sebelum berkata, "Kau selalu cantik, Princess."


Setelahnya dia menarik tanganku untuk mengikutinya keluar. Seketika para pengawalku bersiaga saat kami keluar. Leon segera menggenggam tanganku dengan sangat percaya diri saat kami melewati para bodyguard.


Dia tak lagi berjalan di depan atau di belakangku seperti yang sering dia lakukan dulu sebagai pengawalku. Dia bersamaku, menggenggamku seakan aku akan kabur jika dia tak memegangku.


Dan yang terjadi kepadaku adalah menundukkan kepala. Aku sangat tahu di sekitar kami banyak orang yang menatap kami. Kuyakin para karyawan akan menjadikanku tranding topic di gosip-gosip murahan mereka.


Tak hanya itu, kurasa media juga akan mulai mengangkat hubungan kami mengingat kamera dan wartawan selalu ada di sekitaran gedung ini.


Dan itu sungguh tak masalah bagiku. Selama ini tak ada skandal buruk tentangku kecuali menyangkut Kyle. Itu disengaja dan sebuah kesalahan yang pernah kulakukan.


Berbicara tentang masalah, apakah membiarkan Leon melakukan keinginannya terhadapku akan menjadi masalah?


Jawabannya iya.


Aku tahu pria ini memang memiliki tekad yang kuat untuk menahan hasratnya ketika bersamaku. Buktinya dia tak pernah melewati batasannya dan malah itu membuatku begitu sedikit kurang percaya diri. Setiap kali kami mendekati batasan itu, dia selalu menarik diri dan setelahnya selalu frustasi.


Dan hal itulah yang membuatku tak bisa menahan diri ingin menanyakannya saat kami sudah ada di dalam lift tanpa orang lain.


"Leon ... Apa yang ada di pikiranmu saat ini?"


Dia sedikit menarik sudut bibirnya sebelum berkata, "Kau ingin aku mengatakannya atau langsung melakukannya?"


Aku tak menjawabnya. Aku hanya ingin melihat cara wajah itu menatapku. Dan hal itu membuatnya mengeluarkan wajah seriusnya. Entah mengapa hatiku sedikit meringis saat Leon cepat-cepat menghindari pandanganku.


"Jangan menanyakan hal seperti itu lagi. Aku tak menyukainya."


Apa yang salah. Tak semua hal tentangnya selalu kupertanyakan, dan tentu saja hal seperti ini bukan hal yang sulit untuk dibicarakan.


"Mengapa?" Aku menyentuh lengannya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa Leon tak menarik dirinya.


Dan aku mendapati hatiku hancur ketika Leon benar-benar menarik diri dariku. Dia menurunkan genggaman tanganku di lengannya.


"Elisa, jangan sekarang. Ada hal yang lebih penting untuk kita bicarakan selain hal itu."


Dia menatap mataku sangat tajam seakan ingin membaca apa yang tengah kupikirkan. Aku sangat yakin mataku saat ini menunjukkan penghaparan yang besar. Tapi Leon tak menggubrisnya, dia ingin aku lebih mengerti dirinya.


"Baiklah." Aku menjawabnya sembari menganggukkan kepala.


Aku menyerah dengan banyak keinginan di kepalaku dan bersikap seakan semua akan baik-baik saja.


Lift ini serasa begitu suram saat aku sadar ada Leon di dalamnya. Suasana hatiku benar-benar sedang tak baik-baik saja saat ini. Saat pintu lift terbuka, aku melangkah keluar dan berjalan menuju ruanganku.


"Maddie, tak perlu mendikteku. Kirim saja semua jadwalku ke email. Aku akan memeriksa sendiri. Dan simpan saja berkas-berkas yang harus kutandatangani jika tak membutuhkan persetujuanku dalam waktu dekat."


"Baik—"


"Dan juga ... hubungi Bradley saat makan siang nanti. Aku ingin dia di kantorku saat itu, katakan saja aku ingin membahas mini proyek dengannya."


Tanpa ingin mendengar jawaban sekretarisku, aku melaju ke dalam ruanganku yang telah dibukakan olehnya. Aku duduk di kursi kebesaranku dan langsung membuka komputer. Baru saja ingin membuka email, seketika aku mendengar suara deheman.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2