
Cannon Street, City of London, UK - 10.27 pm.
Dua jam bukanlah waktu yang cukup untuk mengurung amarahku setelah menutup panggilan dari ayah. Ayolah, aku juga tak ingin terus bersikap egois seperti ini. Dua hari lalu ketika aku meninggalkan Jerman dan keluargaku bukan karena aku ingin. Aku tak membenci siapa pun yang berada di sana.
Percayalah, aku sangat menyayangi keluargaku tanpa batas. Dan sialnya di hari bahagia bagi keluargaku, tepatnya pernikahan adikku di mana aku mendapat panggilan mendadak dari pekerjaan. Untungnya aku masih bisa menerima senyuman indah yang diberikannya saat acara tersebut berlangsung.
Dan yang kudapatkan adalah ini. Amarah keluargaku yang tak terbendung akibat kepergianku yang mendadak terulang kembali. Ini bukanlah kali pertamanya aku menerima banyak kemarahan dari keluargaku karena pekerjaan.
Hal ini dimulai saat aku tertangkap basah di salah satu stasiun tv yang menyiarkan kedatangan Raja dan Ratu Inggris yang tengah melakukan kunjungan ke beberapa negara Eropa. Aku tak bisa membantah hal tersebut karena sangat jelas wajahku terpampang saat mengawal orang penting tersebut.
Keluargaku sangat kecewa dengan apa yang sudah lama kusembunyikan selama lima tahun ini. Ibuku bahkan berusaha melarangku untuk melakukan pekerjaan yang akan membawa resiko besar. Tapi aku tak bisa, aku menyukai pekerjaan ini.
"Ahhhh ..." Aku seakan ingin memaki diriku sendiri. Aku memukul kemudi mobil berulang kali hingga akhirnya terdengar pesan masuk ke dalam handphone-ku. Aku mengernyitkan dahiku membaca pesan dari rekanku, Dereck.
'Kau sudah di Inggris? Jika belum, segeralah terbang ke Inggris dan jika sudah maka segeralah datang ke mension. Zach sangat membutuhkanmu untuk klien penting. Kau harus membagi jatahmu kali ini. Percayalah, kali ini dia sendiri yang memintamu. Dia berusaha menghubungimu tapi ponselmu tak aktif.'
Aku segera menelpon temanku dan saat berhasil tersambung aku segera menyerbunya dengan pertanyaan, "Kenapa harus aku?"
"Ayolah, apa kau bodoh? Kuyakin ini adalah pekerjaan yang sulit. Maaf untuk permintaan yang mendadak ini. Tapi sungguh, kau tahu sendiri dia sangat pemaksa dan dia hanya mempercayakan orang yang butuh pengamanan khusus kepadamu. Sial, aku iri." Terdengar helaan napas kasar Dereck di ujung sana.
"Jika kau ingin maka katakanlah kepadanya. Aku tak yakin untuk kembali terekspos. Kau tahu keluargaku tak suka dengan pekerjaan ini. Dan perlu kuingatkan kembali dua hari lalu kau menyeretku ke dalam tugasmu, sialan. Aku bahkan tak sempat mengatakan sesuatu ke adikku."
Sejenak aku kehilangan suara Dereck, namun tak lama setelahnya terdengar suara geramannya. Sial, apa yang dilakukan bajingan ini saat aku masih menunggu jawabannya.
"Maaf untuk hal itu ... tapi percayalah bahkan jika aku menangis merangkak kehadapannya dia tetap tak kan mempercayakannya kepadaku ... Lagi pula kenapa kau menolak permintaannya? Kau sangat tak tahu diri ... Biarpun dia temanmu, setidaknya homatilah dia ... Dia telah menjadi tokoh dunia yang hampir semua orang tahu ... Aku tak habis pikir kenapa dia tak juga memecatmu-"
"Baiklah, aku akan ke sana." Aku segera memotong ocehannya dengan menghentikan panggilan tersebut. Menjijikkan, dia mengatakan hal panjang lebar itu dengan suara terengah-engah. Aku tak ingin menerima sesi kuliah satu jam darinya yang tengah menunggangi seorang wanita.
...***...
A few minutes later...
Zach's Club, City of London - 11.47 pm.
Maksudnya aku akan ke sana, bukan segera ke sana. Aku harus menenangkan pikiranku terlebih dahulu. Aku mendatangi salah satu club mewah Zach yang ada di London. Segelas winsky dan seorang wanita mungkin akan membantuku. Aku hanya harus menuntaskan ini dengan segera dan datang ke mension dengan pikiran yang sudah jernih.
Aku juga seorang laki-laki normal yang harus menyalurkan segala gairahku. Dengan banyak masalah yang kuhadapi setidaknya aku membutuhkan pelempiasan.
Tapi bagiku ini cara yang lebih aman tanpa harus menjalin hubungan percintaan dengan seorang wanita karena itu jauh akan membuatku lebih kacau. Kurasa wanita sejalang apapun yang pernah kutemui tak yakin akan menerima pasangan yang selalu meninggalkannya.
Contohnya seperti saat ini ketika aku sudah memungut pakaianku dan memakaikannya lengkap ke tubuhku. "Kau akan langsung pergi? Setidaknya beristirahatlah sebentar."
"Aku tak membutuhkannya."
Aku mengabaikan wanita yang tak kuketahui namanya ini dan masih dengan tubuh polosnya enggan pergi dari ruangan ini. Aku beralih mengecek jam melalui handphone-ku. Sial, sekarang sudah lewat tengah malam. Baru saja aku mengambil jas-ku dan ingin beranjak dari ruangan tapi wanita itu menahan tanganku.
"Kita bisa memulainya kembali, jangan terburu-buru." Inilah yang selalu membuatku risih dengan para jalang yang menjijikkan. Wanita yang terhormat sekali pun tak bisa menahanku apa lagi hanya seorang jalang.
"Lepaskan." Dia masih belum menyerah denganku. Tanpa ragu dia mendorongku ke kasur dan mendudukkan dirinya di pangkuanku. Dia mengalungkan tangannya ke tengkukku.
"Akan kuberikan pelayanan terbaikku, aku tak kan mengecewakanmu." Setelahnya dia dengan cepat mengecup bibirku.
Menjijikkan.
Aku mendekatkan diri ke telinga wanita ini dan berbisik dengan suara rendah, "Menyingkirlah. Aku meminta dengan sangat sopan sebelum kutarik rambutmu dan kuhempaskan dengan gelas winsky yang mungil itu. Tidak akan membuatmu mati seketika. Tapi dengan hantaman keras dan sedikit kekuatan tanganku mungkin akan membuatmu bermimpi indah malam ini, baby."
Seketika wanita ini tegang dan dengan kaku berdiri. Dia membawa pakaiannya yang berceceran di lantai dan keluar ruangan ini. Raut wajahnya yang aneh membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Dengan mengabaikan kepergiannya, aku terus meneguk winsky-ku sebelum akhirnya aku memutuskan ke mension Parker.
Perjalanan ke mension Parker membutuhkan waktu yang kurang lebih 30 menit mengingat mension tersebut berada jauh dari daerah perkotaan. Parahnya lagi mension itu terletak di tengah-tengah hutan di daerah Waltham Forest.
__ADS_1
Aku tak tahu apa yang telah dilakukan Parker sialan itu untuk mendapatkan bangunan yang sering disebut Istana Parker yang terdiri dari empat mension megah. Yeah, itu adalah salah satu aset kuno yang dihadiahkan kerajaan Inggris untuknya.
...***...
Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 01.01 am.
Saat aku memasuki mension, keadaannya sudah sangat sunyi dan gelap. Suasana ini menambah kesan menakutkan yang disuguhkan mension ini. Aku berjalan perlahan ke ruang kerja tempat aku harus menemuinya.
Tunggu dulu, ada yang mengikuti. Siapa tikus kecil itu? Langkah mengendap-endap bodohnya jauh lebih berisik daripada hentakan sepatuku. Abaikan saja.Aku membuka pintu ruangan tersebut, dan nampaklah wajah kesal seseorang yang duduk di kursi kebesarannya. Zachary Parker.
"Bagaimana kau datang selarut ini? Sebenarnya siapa di antara kita yang membutuhkan pekerjaan?" Dengan santai aku membaringkan diri di sofa yang tak jauh darinya sembari menutup mataku.
"Maafkan aku, aku butuh menenangkan diri."
"Kau minum?"
"Hmm."
"Kau sudah kuberikan waktu untuk beristirahat, Leon. Apa lagi yang harus kau pusingkan?"
Aku terdiam, malas menanggapi pertanyaan Zach. Dia adalah temanku saat berada di pelatihan militer dulu dan sekaligus pemilik perusahaan tempatku bekerja. Mungkin aku tak sopan selalu bersikap seperti ini dengan atasanku, tapi percayalah bahkan dia lebih membenciku yang bersikap formal di depannya.
Tak ingin membuang waktu, akhirnya aku langsung bertanya, "Jadi siapa kali ini? Kuharap siapa pun yang tak ingin berhubungan dengan media."
"Sebagai seorang pekerja kau sangat pemilih. Baiklah, kali ini orang itu memang tak suka dengan media. Dia sepupuku, dari keluarga yang hampir tiap hari diliput media London-"
"Sial, itu sama saja, Brengsek!"
"Berhentilah mengumpatiku. Dia ingin berlibur tanpa ada gangguan apa pun. Aku menjanjikannya berkeliling Eropa mungkin ke cabang perusahaan. Aku hanya ingin kau menemaninya di saat aku tak ada." Aku mengernyitkan dahi. Ini pekerjaan yang memuakkan. Aku harus menjadi baby sitter?
"Kenapa bukan orang lain? Itu cukup mudah hanya menemaninya. Dia tidak dalam status bahaya."
Zach menghembuskan napas kasar dan memutar bola matanya. "Dia sepupuku, Leon. Dan aku menginginkannya merasa nyaman tanpa ada pun satu ancaman yang berarti. Kau ingin aku memberikannya kepada Dereck?"
"Bagus, kita tahu pasti itu. Besok aku akan membawanya ke mension Timur untuk melihat pelatihan. Kau tidurlah di sana, aku tak suka kau pulang ke apartemen-mu dan membuatku lama menunggu."
Aku beranjak dari sofa tersebut dan berniat keluar namun sebelumnya, "Zach ..."
"Hmm?"
"Kau membawa jalangmu ke sini?"
"Kau gila? Tentu saja tidak!"
Setelah mendapatkan jawabannya segera aku keluar dari ruangan itu. Genangan air? Ada yang mendengarkan pembicaraan kami. Siapa? Mension ini sangat ketat untuk penjagaan di luar sana. Orang dalam? Aku melangkahkan kakiku perlahan keluar mension ini dan menyusuri lorong terbuka yang cukup jauh untuk mencapai mension Timur. Tapi masa bodoh, ini tidak akan melelahkan.
Ada yang mengikutiku lagi. Apakah orang itu bodoh? Bahkan tanpa membalikkan badan, aku sudah tahu dia bersembunyi di balik pilar-pilar. Bunyi kakinya yang basah tanpa alas bahkan terdengar di telingaku. Aku memutuskan untuk berhenti dan sedikit bermain dengan tikus ini. Perlahan aku mengeluarkan pistol dan memasang peredam suara pada ujungnya.
Pot bunga kesayangan Zach. Maafkan aku Zach. Kubawa tubuhku menyamping dan mengarahkan pistol itu ke arah pot bunga yang paling besar. Dari sudat mataku aku dapat melihat dia seorang wanita. Basah? Dia hanya menggunakan bikini! Di tengah malam? Dia gila.
Aku akhirnya menembakkan isi peluru ke arah pot tersebut yang sekarang sudah hancur lebur. Seketika wanita yang bersembunyi di pilar tadi ambruk ke lantai. Dengan seringai licik aku memandangi pot besar itu yang telah hancur. Tanaman yang tertanam di sana bahkan terjatuh ke lantai tak berdaya. Cukup menyenangkan.
Kurasa wanita itu sangat terkejut. Itu menjadi pelajaranmu tikus kecil. Jangan sekali-kali menguntitku. Dengan seringai konyol yang masih melekat di bibir, aku meneruskan perjalananku hingga ke mension Timur.
...***...
East Mension (Parker's Palace), Waltham Forest - 09.34 am.
"Luruskan lengan kalian! Hey, jika kau memegangnya seperti itu aku akan mematahkan lenganmu!"
__ADS_1
Keringat mengucur deras dari dahi. Bukan dahiku tapi dahi para pemuda yang sedang kulatih. Kutahu ini bukan pekerjaanku, ini pekerjaan Dereck. Tapi kali ini aku harus memberikan sedikit ilmuku untuk para cecunguk ini. Bagaimana bisa mereka takut karena ancaman konyolku.
Dari kejauhan aku bisa melihat Zach datang dengan seorang wanita cantik dan sexy menurutku. Lihat saja, dia bahkan masa bodoh dengan penampilannya yang mengundang banyak mata menikmatinya, tak terkecuali diriku.
Bagaimana dia nyaman menggunakan blouse putih yang hampir transparan itu? Aku saja bisa melihat dengan samar-samar apa yang ada di balik blouse itu.
Wanita itu cukup tinggi untuk seukuran orang Eropa namun tak melebihi daguku. Dia sebenarnya memiliki proporsi tubuh yang tepat sebagai seorang wanita dengan lekukan yang pas di bagian ... Tunggu dulu, apa yang kupikirkan. Sial, wanita ini membuatku berfantasi kotor. Apa dia sepupu tercinta Zach yang harus kujaga? Damn.
"Kau membuat mereka panik, Leon. Kuyakin mereka kaget mengetahui yang menjadi mentor hari ini adalah kau." Kata-kata Zach menyadarkanku dari dunia fantasiku.
"Well, aku bosan dan menemukan mereka menunggu Dereck. Aku tak yakin Dereck akan cepat mengingat tiap malam dia akan berolahraga panas dengan beberapa wanita."
Aku kembali membalikkan badan mencoba mengalihkan pandangan dari tubuh wanita itu. Dan yang kulihat malah membuatku semakin kesal. Para cecunguk ingusan di sana hanya terdiam melihat ke belakangku, kuyakin wanita itu juga mewarnai pikiran kotor mereka.
"Sial, apa yang kalian lakukan. Siapa yang menyuruh kalian berhenti fokus?! Jika ada yang tak berhasil mengenai sasaran saat ini juga aku akan membolongi kepala kalian semua!" Seketika semua cecunguk itu meluruskan pandangan ke sasaran di ujung sana dengan lengan yang bergetar hebat.
"Hahaha, aku tahu persis ini akan terjadi jika kau menjadi mentor kembali." Gelak tawa Zach membuatku harus membalikkan badan ke arahnya.
"Leon, ini klien baru kita. Kenalkan ini sepupuku, Elizabeth Amstrong. Dan Elisa, ini Leon yang akan menjadi pengawal pribadimu. Dia yang akan menemanimu selama aku tak ada. Jangan terlalu formal dengannya karena dia juga temanku."
Aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan. Namun dia hanya memandangi tangan itu tanpa ingin menerimanya. Tatapannya tampak sinis, kenapa dia seperti itu? Zach melirik ke arahku, raut wajahnya seakan mengatakan 'maafkan aku'. Aku dan Zach sangat paham dengan orang seperti ini, dia wanita yang sangat angkuh.
Aku menurunkan tanganku dan mendengar wanita itu angkat bicara, "Aku sangat tak meragukan keahlianmu, mohon bantuannya." Setidaknya dia masih memiliki sedikit tata krama yang bisa kumaafkan. Aku hanya membalasnya dengan anggukan.
"Elisa, kau mungkin bisa berkeliling sebentar, aku butuh waktu untuk berbicara dengan Leon." Tanpa menoleh dia telah berjalan ke arah tempat pelatihan dan duduk di salah satu kursi.
"Leon, maafkan aku atas sikapnya. Kau tahu dia hidup dalam keluarga yang selalu memanjakannya. Dia jarang berteman dengan orang seusianya dan hanya berkutat dengan dunia bisnis di umurnya yang masih muda. Dia juga memikul beban-"
"Aku paham, Zach. Sudahlah. Banyak manusia yang seperti itu di dunia ini." Zach menghembuskan napas dengan kasar. Terlihat raut khawatir di wajahnya. Aku yakin dia merasa bersalah karena memberikan tugas ini kepadaku.
"Kau tahu ... aku sangat menyayanginya. Tapi kau bisa memberikannya sedikit pelajaran jika itu menyangkut sikapnya." Aku hanya mengangguk mendengar pernyataannya. Terdengar bunyi dering handphone Zach dan dia segera menerimanya.
Aku membalikkan badan mengalihkan pikiranku ke arah para cecunguk yang kulatih tadi. Sejurus pandanganku teralihkan oleh pemandangan Elisa yang menatap ke arah mereka. Dia hanya duduk diam memperhatikan dengan serius. Dia nampak ... Cantik. Angin yang menerpa rambutnya bahkan tak mengurangi kecantikannya. Sial, apa yang kupikirkan?
"Leon, aku harus segera pergi. Katakan kepada Elisa tak perlu menungguku makan siang karena aku tak kan pulang."
"Baiklah." Setelah kepergian Zach, aku memutuskan untuk menemani Elisa. Aku duduk di sebelahnya tanpa ragu. Dia tak menolak hanya saja ini sangat canggung. Dia bahkan tak mengeluarkan satu kata pun semenjak kami duduk di sini. Dereck telah datang sehingga aku tak butuh lagi melatih para cecunguk itu.
"Aku bosan." Akhirnya aku berhasil menemukan suaranya.
"Zach sudah pergi dan dia mungkin tak kan pulang hari ini."
"Aku tahu, aku mengatakan aku bosan dan masa bodoh dengan Zach." Sial, aku tak suka dengan ucapannya. Aku hanya sedikit memberikan informasi tentang sepupunya. Aku tak suka berbicara dengan orang yang mudah menyulut emosiku.
"Kau ingin ke suatu tempat?" Seketika dia melihat ke arahku dan spontan aku juga melihat ke arahnya. Apa?
"Mension Selatan?"
"Tidak, kudengar bagian itu harus dijauhi. Akan ada tamu penting dan kita tak kan membuat Zach marah karenanya."
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...