The Gun In My Hand

The Gun In My Hand
Chapter 08. Something Inside Me's Changed


__ADS_3

Newcastle General Hospital, Newcastle (Tyne and Wear), UK – 08.21 am.


"Dimana posisimu saat ini?"


"Newcastel. Apa yang kau inginkan?"


"Sial, aku membutuhkanmu saat ini. Aku ditarik dari Greece oleh Zach, kali ini kolega bisnis James Amstrong yang bermasalah dengan sindikat mafia Rusia. Mereka menyandera satu orang penting."


" ... "


"Leon, kau masih di situ. Sial, katakan sesuatu, Zach baru saja hampir menembakku tadi. Kupastikan ini kelalaian terakhirku, kau ikut bertanggungjawab dalam hal ini. Seandainya kau yang memimpin, kuyakin tak kan seperti ini. Kita memiliki waktu 2x24 jam untuk melepaskan sandera. Aku menunggumu." 


Aku menghembuskan napas kasar, pantas saja Zach langsung pergi saat dua jam lalu kami sampai di London.


"Aku tak bisa, Dereck. Kau ingin Zach juga marah kepadaku? Dan Zach tak memberikan instruksi apa pun kepadaku saat ini. Dia masih mempercayaimu untuk menangani ini. Ayolah, kau yang terahli dalam memikirkan strategi, buang pikiran rendahanmu itu. Aku akan berusaha memantau semuanya. Berikan beberapa data target dan sandera. Aku akan datang saat Zach meminta."


Lama tak terdengar jawaban dari Dereck. Sepertinya dia sangat tertekan saat ini. Tentu saja, dalam mengatasi situasi yang darurat dia masih sangat tidak percaya diri.


Perlu kalian ketahui, perusahaan keamanan Zach tidak hanya perusahaan swasta yang biasa menyediakan jasa keamanan. Tapi di balik itu semua, keuntungan perusahaan terbesar sebenarnya juga mengalir dari pengusaha dunia maupun petinggi-petinggi negara.


Secara tertutup, Zach kadang menerima instruksi langsung dari Negara sebagai penjamin keselamatan beberapa pengusaha bisnis dan pejabat. Dan hanya beberapa bodyguard yang notabene-nya juga merangkap sebagai agen. Kenyataannya perusahaan ini juga bergerak di dunia gelap.


Dereck adalah salah satu agen yang kurekrut sebagai orang kepercayaanku. Aku merekrutnya saat dia menjalani pelatihan militer. Dia memiliki keahlian membaca situasi dengan solusi strategi yang luar biasa. Tapi aku tak mengetahui pengaruhku terhadap Dereck sangat besar.


Kami selalu bekerja bersama untuk mengatasi itu semua. Kami hanya akan turun ke lapangan bersama para agen jika situasi memang sangat tak terkendali. Dan kuyakin sekarang dia tengah mengalami itu.


Aku tak mengatakan Dereck ahli di lapangan. Oleh karena itulah, aku kesal saat Zach memberikan pekerjaan yang menjengkelkan kepadaku dan mengharuskanku untuk melimpahkan segalanya ke Dereck.


"Baiklah. Kau harus tahu ini kali pertamanya aku turun tanpamu. Aku tak tahu kapan kita akan bertatap muka kembali." Aku terkekeh mendengar perkataan Dereck.


"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Kau bukan pengecut, aku merekrut agen-agen terbaik untuk menemanimu. Kau bahkan mungkin tak kan tersentuh."


"Yeah, tentu saja. Kau tahu Zach marah karena aku tak melukai target dengan benar. Mereka bahkan masih bernapas saat aku menembak banyak peluru ke tubuh mereka."


"Hahaha, haruskan kau mengikuti pelatihan kembali?"


"*Tidak, terima kasih. Lebih baik aku berada di posisiku saat ini daripada harus mengulang masa itu. Ah, kami harus segera bergerak. Kami sedang diperjalanan, sepertinya target menuju daerah perkotaan. Aku di London dan akan mengirimkan koordinat kepadamu jika Zach membutuhkanmu saat ini. Aku memperkirakan mereka sengaja membawa sandera ke perkotaan agar mempersulit kami bergerak ...


... Dan kuyakin Zach tak memberitahukan juga kepadamu kalau FBI ikut andil. Aku tak tahu mengapa mereka ikut mengejar target, dan salah satu kekesalan mereka karena banyak agen mereka yang gugur. Jangan katakan kepada Zach, salah satunya karena aku salah menembak kepala*."


"Apa kau gila?! Sial, kau membuat masalah besar, Dereck. Tunggu ketika aku—"


Dia mematikan telponnya. Sial, aku sudah pernah bermasalah dengan beberapa badan intelijen seperti mereka dan itu sangat merepotkan. Bagaimana Dereck bisa salah tembak? Kepusinganku tak sampai di situ. Aku tak bisa melakukan apa pun di situasi seperti ini.


...***...


A few minutes later ...


Newcastle General Hospital – 10.17 pm.


Aku menutup pintu ruang rawat yang sudah penuh orang di dalamya. Kuyakin akan ada pembicaraan penting di dalam sana. Dan pria tadi? Kekasihnya? Ya, sepertinya.


Aku berjalan melewati lorong dan menghampiri bodyguard yang dititipi sepatu Elisa. Entah mengapa aku menginginkan sepatu itu? Aku menenteng sepatu itu masuk ke dalam lift. Sepertinya aku harus kembali menenangkan pikiran. Elisa membuatku tak karuan sepanjang jalan.


Saat aku telah turun ke lantai terbawa dan berniat untuk kembali merokok, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Zach? Aku segera menjawab panggilan tersebut.


"Leon, tambahkan beberapa agen di rumah sakit. Kau pergilah ke London sesuai dengan koordinat yang kukirim dan tangani apa pun yang tengah dilakukan Dereck. Aku menginstruksikan mereka untuk bertahan di posisi dan berniat mengirim agen kembali. Aku kehilangan kontak dengan Dereck 15 menit yang lalu."


"Baiklah." 


Aku segera berlari ke area parkir untuk menemukan mobilku. Aku melempar sepatu Elisa ke bangku penumpang dan segera membawa mobil ini ke jalanan. Akan memakan waktu yang sedikit lama untuk mencapai London dengan kecepatan tinggi sekali pun, apa lagi untuk menuju daerah padat.


Dan itu terbantahkan.


Kurasa aku sudah gila, aku bisa mencapai London dalam waktu 30 menit. Bagaimana tidak, aku baru saja menerima panggilan dari Dereck. Dia tertembak. Sial, aku tak kan memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal yang lebih mengerikan kepadanya.


Tempat kejadiannya berada di salah satu club besar di pinggiran kota London. Dari luar club ini masih terlihat normal, tapi kita tak tahu apa yang tengah terjadi di dalam sana. Club seperti ini dirancang memang untuk menjaga kebisingan dan aku sudah berapa kali berurusan dengan beberapa orang di dalam club ini.


Aku menghubungi salah satu agen yang bersama Dereck, "Bawa aku ke Dereck. Aku berada di sudut kiri belakang club arah jam dua. Aku membutuhkan Barret M82 kaliber 50 BMG."


"Baik. Kami akan menjemput dari arah sebaliknya." 


Sambungan kuhentikan saat dua orang agen yang kukenal keluar dari arah yang telah disebutkan. Aku melepaskan coat dan keluar dari mobil yang telah kusembunyikan cukup jauh dari club. Aku berlari menghampiri dua orang tersebut yang salah satunya telah menenteng senjata yang kuinginkan.


Aku memasuki club yang terus terang sudah hancur. Musik? Yeah, club ini memang luar biasa. Terdengar aneh saat kami memulai aksi dengan musik yang terus menggema bercampur dengan tembakan dan darah di mana-mana. Sial, adrenalinku kembali terpacu.


Beberapa agenku masih bertahan menyelinap di antara agen FBI yang membabi buta melawan para cecunguk. Sebelum menemui Dereck, aku akan menguji senjata laras panjang ini yang sebenarnya terdengar gila saat dipakai dalam pertarungan jarak dekat. Setelah menyandarkan bipod senapan pada meja bar, aku segera memilih satu target. 


Satu tembakan kuarahkan ke kepala salah satu target.

__ADS_1


Bingo!


Apa aku berlebihan jika menggunakan senjata ini? Lihat saja, semua orang terlihat semakin panik saat mengetahui tembakan mengerikan ini muncul. Sial, menjijikkan kepalanya bahkan sudah tak berbentuk.


Belum ada agen yang menggunakan senjata ini karena akan sangat sulit menahan hentakan saat melakukan tembakan, dan aku bersyukur dengan tubuh besarku ini akan sangat membantu.


Setelahnya, aku segera pergi ke tempat Dereck bersembunyi. Aku melihat Dereck dilindungi oleh dua agen. Dia tengah terduduk dengan perut bagian kanannya mengeluarkan darah. Dia cukup tenang bagi seseorang yang sudah tertembak.


"Hey, Boy. Kau baik-baik saja?"


"Bodoh, apa kau harus menanyakannya. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidupku tertembak di bagian perut. Kau sangat lama, aku tak tahu berapa agen lagi yang kita punya."


"Aku akan membalasnya. Katakan orangnya."


"Dia si Anjing Gila yang mereka miliki. Kau akan menemukannya di dekat sandera. Di lantai tiga."


"Baiklah, kau harus mengatasi perutmu. Bawa setengah agen yang menyelinap di antara FBI untuk melindungimu keluar. Aku akan mengatasi sisanya."


"Kau gila! Agen kita sudah tak banyak lagi, bawalah mereka bersamamu. Sisanya sudah naik ke lantai tiga. Aku akan menunggu, aku juga memiliki peledak skala kecil."


"Tidak, Dereck. Aku masih membutuhkanmu untuk misi kita selanjutnya. Kau mengejekku?! Aku bisa mengatasinya."


Setelah semuanya siap, Dereck beserta beberapa agen keluar menuju pintu belakang tempatku masuk tadi. Sedangkan aku bersiap-siap bersama dua agen menuju lantai tiga. Baku tembak masih terjadi, sialnya agen FBI bertambah semakin banyak.


Di perjalanan menuju lantai tiga, aku melakukan pemanasan kembali dengan senjataku. Aku memilih posisi di lantai dua yang bisa mengarah langsung ke lantai satu yang begitu ramai orang. Aku memilih sudut tergelap dan meletakkan bipod senapan di sudut yang paling tepat.


Aku memosisikan diri agar nyaman untuk membuat bidikan tepat sasaran. Sedangkan dua agen lainnya hanya kusuruh diam untuk memperhatikan. Mereka cukup mengamati sekeliling untuk melindungiku.


Let's start the game!


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Tujuh ...


Sepuluh ...


Dua puluh ...


The game has been finished!


Para agen FBI menyadari sumber tembakan ini. Tapi mereka tidak berusaha untuk melakukan tembakan balik. Tentu saja, aku menyelamatkan nyawa mereka. Tak ada lagi suara tembakan di lantai pertama. Clear ...


Kami bertiga segera naik ke lantai tiga yang sebenarnya tidak terlalu tertutup karena ruangan ini bisa di akses dari segala arah, hanya di kelilingi oleh meja bar yang sudah tidak ada penghuni. Sepertinya musuh terlalu percaya diri jika musuh mereka tak kan bisa mencapai ruangan ini. Saat memasuki lantai tiga, ternyata sudah ada tiga agenku yang terbunuh.


Aku berusaha mencari posisi yang tersembunyi untuk mengamati situasi. Dua agen lainnya mengikutiku. Aku meletakkan senjata laras panjangku dengan posisi terbaik.


Sial, kantong celanaku bergetar. Ada panggilan masuk. Apakah Zach? Aku merogoh handphone-ku dan melemparnya ke agen yang mengikutiku.


"Ini panggilan dari nomor prioritas." Agen tersebut memberitahu dan aku masih fokus meneropong dari senjataku.


"Tolak panggilan itu."


"Tapi ini panggilan prioritas agen." 


Aku berhenti meneropong dan beralih ke agen yang memegang handphone-ku. Handphone para agen memang dirancang untuk menerima panggilan sesama agen yang bersifat prioritas walaupun dalam mode senyap.


Aku mengambil handphone-ku kembali untuk menjawab panggilan dan melanjutkan meneropong. "Katakan!"


"Kau dimana? Aku membutuhkanmu untuk ke istana Zach." Apa pendengaranku bermasalah? Suara Elisa.


"Elisa ..." 


Sial, ini waktu yang kurang tepat. Aku membawa senjataku berpindah. Aku menyuruh dua agen tersebut tetap pada posisinya dengan senjata yang tepat mengarah pada target. Sedangkan aku keluar ruangan dan pergi ke tempat yang lebih strategis.


Aku menaiki tangga menuju lantai empat dengan menenteng senjata dan handphone di telingaku. Dari lantai tiga tadi aku melihat tangga menuju lantai empat jauh lebih baik untuk membidik target. Selain itu, hanya lantai empat yang jauh dari suara kebisingan.


"Elisa, kau masih di sana?"


"Iyah?"


"Aku tak bisa sekarang. Aku akan menyuruh salah satu orangku untuk mengantarmu ke sana. Aku masih memiliki urusan, mungkin akan sedikit lama, maka—"


"Aku akan menunggu ... Kau membiarkanku berjalan tanpa sepatu. Aku masih di rumah sakit ini, aku hanya sedikit lelah dan mengingingkan kasurku di istana Zach. Kuharap kau bisa menyelesaikan kegiatanmu dan jalangmu dengan cepat." 


Baru saju aku akan menjelaskan jika yang dia katakan itu tidak benar, namun Elisa sudah menutup panggilan. Aku mengumpat ketika hal itu terjadi.

__ADS_1


Aku akhirnya sampai di sisi gelap tangga lantai empat. Posisi ini cukup jauh dengan target, tapi ini tempat terbaik agar aku bisa menembak kepala anjing gila itu. Kuyakin dia yang tengah memukuli sandera yang telah menembak Dereck.


Sial, waktunya kurang lebih 30 menit berdasarkan waktu yang dikatakan Dereck untuk mereka mengeksekusi sandera jika tidak mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Di sana terdapat lima cecunguk dan si anjing gila. Entah apa yang sedang mereka tanyakan, tapi jelas saja tak bisa mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.


Seharusnya aku menunggu waktu yang sesuai untuk membidik karena aku tak bisa pulang dengan tangan kosong. Informasi yang mereka keluarkan saat ini sangat penting. Tapi Elisa memenuhi pikiranku. Tanganku gatal untuk menekan pelatuk.


"Dimana kalian menyembunyikannya?!" Satu pukulan kembali diberikan ke perut sandera yang bungkam.


"Kudengar terakhir kalian menitipkannya di salah satu bank swasta di London?" Sandera itu tetap diam dan malah tertawa keras.


"Haruskan kami membobol seluruh bank? Kau tahu kami hanya menginginkan apa yang telah menjadi milik kami. Aset itu tak seharusnya kalian sembunyikan dan lihatlah sekarang? Kau akan mati hanya melindungi harta karun kami. Biar kukatakan satu hal, target kami selanjutnya adalah—"


Bingo!


Aku memecah kegaduhan dengan menembak tepat di kepala si anjing gila. Sisanya bisa diselesaikan oleh agen yang telah berada di lantai tiga tadi. Aku berlari keluar club dengan masih menenteng senjata laras panjang. Aku menelpon agen lainnya untuk membereskan segalanya dan mengamankan sandera.


Aku tak ingin menunggu terlalu lama lagi. Aku melupakan apa yang seharusnya kulakukan dengan tepat saat situasi seperti ini terjadi. Terlalu tergesa-gesa.


Sial, Zach akan marah besar kepadaku. Seharusnya aku bisa menahan pelatuknya. Kepalaku pusing, seakan perkataan Elisa, 'aku menunggumu' terus terngiang di kepalaku. Aku sudah gila terus memikirkannya.


Seperti saat pergi tadi, aku mengendarai mobil menggila dijalanan. Aku bahkan lupa untuk menyembunyikan kembali senjata yang masih teronggok di bangku penumpang belakang. Aku hanya langsung memakai coat-ku untuk menutupi beberapa bekas darah Dereck yang tertempel.


Setelah sampai, aku berlari dari tempat parkir dan menelpon agen yang bersama Elisa. Dia ada di restoran rumah sakit. Aku berlari tergesa-gesa untuk menghampirinya. Namun yang kutemukan sangat menjengkelkan, dia ternyata bersama dengan pria yang sebelumya kulihat di ruang rawat tuan Amstrong.


Entah mengapa saat pertama bertemu, aku sudah tidak menyukainya. Bahkan ketika dia mengajakku berkenalan, aku hanya berbicara seperlunya. Dan yang membuatku lebih kesal ketika Elisa menyuruhku menunggu. Yang benar saja!


Dengan perasaan kesal aku keluar dari restoran itu. Aku tak ingin melihat adegan romatis mereka di depan mataku. Merusak penglihatanku. Tanpa kusadari Elisa ternyata berlari mengejarku dan berteriak hingga ke tempat parkir. Aku masih mengacuhkannya saat dia mengikutiku masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kau meninggalkanku?!"


"Pakai sabuk pengamanmu cepat." 


Aku tak ingin menjawab pertanyaannya. Dia hanya melihat ke arahku dan melakukan apa yang kuperintahkan.


"Ah sepatuku! Untuk apa kau membawanya kemana-mana? Aku muak memakai sandal rumah sakit yang tak nyaman ini." 


Dia menemukan sepatunya dan dengan segera memakainya. Sandal tersebut dilemparnya di bangku penumpang belakang dan tak sengaja dia melihat senjata laras panjangku. Dia terlihat dua kali lipat lebih terkejut, namun dia tak berkata apa-apa.


Dalam posisi masih menyetir mobil, aku segera melepaskan coat-ku dan melemparnya ke belakang untuk menutupi senjata itu. Namun yang selanjutnya membuatku kaget dan harus menghentikan mobil dengan mendadak adalah teriakan Elisa. Dia terlihat sangat ketakutan.


"Leon!!! AAAAAAAAh!!! Perutmu berdarah!!!" Dia berteriak sangat kencang. Aku melepaskan sabuk pengaman dan mendekatinya.


"Hey, tenanglah." Aku mencoba memegang tangannya namun dia menepisnya dan mencoba menutupi mulut dengan tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Elisa ... tenanglah, ini bukan darahku. Kau lihat ... aku tak apa-apa." 


Aku menekankan tanganku ke bagian perut untuk membuktikan aku tak kesakitan. Perlahan Elisa tenang dan mencoba menyentuh kemejaku. Dia menekannya dan merasakan kemejaku memang sudah ternodai darah yang mengering.


"Leon, sebenarnya apa yang terjadi?"


Aku kembali menyandarkan tubuh. Aku menghela napas dan kembali menghidupkan mesin mobil. Elisa masih memandangiku, menunggu penjelasan.


"Elisa, dengarkan aku. Aku tak bisa mengatakannya kepadamu. Ini sangat berbahaya dan mengertilah. Saat ini aku hanya perlu melakukan apa pun yang harus kulakukan."


"Leon ... tapi ini—"


"Aku tak apa-apa dan kuharap kau tak usah membahasnya lagi."


Elisa terdiam dan terlihat kecewa mendengar jawabanku. Setelah pembicaraan itu Elisa tak pernah sedikit pun melihat ke arahku. Dia memegang tangannya yang gemetaran. Dia sangat kaget dengan apa yang dia lihat.


Butuh waktu lama untuk mencapai istana Zach. Dan aku membawa mobil dengan tidak terburu-buru seperti sebelumnya. Bagaimana bisa aku melewatkan waktu ini? Elisa tertidur dengan nyenyak di sampingku.


Sesampainya di istana Zach, aku membawa Elisa ke kamarnya. Dia tak merasa terganggu dalam tidurnya. Aku tak tega untuk membangunkannya hanya untuk melepaskan sepatunya. Akhirnya aku berinisiatif melepaskan sepatu tersebut dan membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dan entah keberanian dari mana aku bisa dengan mudah mengecup dahi Elisa. 


Kurasa aku sudah gila.


Selamat malam, Elisa.


.......


.......


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2