
Penthouse Greenwich Avenue, Greenwich (London Raya), UK – 09.35 am.
Sialan! Sialan! Sialan!
Demi senjata terkeren dan termahal yang pernah kumiliki, aku bersumpah akan mengutuk pria bernama Kyle selama hidupku. Kegiatanku dan Elisa terhenti seketika karena dering handphone Elisa yang tak kunjung berhenti.
Firasatku mengatakan suatu hari nanti aku akan membanting handphone itu hingga hancur. Bunyi berisik tersebut tak kian berhenti, membuat Elisa memiliki sedikit kekuatan dan kesadaran untuk menolakku.
Aku menjauhi Elisa untuk sementara waktu dan diam berdiri dengan kepala berdenyut menatap koleksi senjata-senjataku. Aku akan memikirkan senjata mana yang cocok untuk menembak bajingan itu.
Aku memutuskan merokok untuk meredakan amarahku. Aku tak ingin membayangkan kekesalanku akibat gairah yang sudah memuncak, namun begitu cepat terhentikan.
Aku masih membayangkan di belakang sana, Elisa yang masih menggunakan pakaian dalamnya. Dia berusaha mengontrol deru napasnya yang masih terengah-engah karena kegiatan kami tadi yang terhenti di tengah jalan. Perlahan aku memfokuskan diriku untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Ya. Aku baik-baik saja, Kyle. Maafkan aku pergi tanpa memberitahumu."
Aku membalikkan tubuhku dan menemukan Elisa yang ternyata sejak tadi menatap punggungku. Raut wajahnya menyiratkan rasa menyesal kepadaku. Ah, sudahlah. Mood-ku sudah hancur. Aku tak pernah sekali pun mengakhiri kegiatan seperti ini secara mendadak, kecuali aku sendiri yang menginginkannya.
Sial.
"Aku? Emm ... di suatu tempat bersama seseorang. Mungkin ... aku akan mengabarimu nanti saat aku benar-benar ingin masuk bekerja. Aku membutuhkan waktu untuk sendiri saat—"
Tiba-tiba kalimat Elisa terhenti. Dia terlihat terkejut. Aku mengangkat sebelah alisku, masih penasaran apa yang tengah membuatnya bereaksi seperti itu.
"Bagaimana kau tahu?"
Sial, apa bajingan itu tahu tempat ini? Untuk memastikan keamanan Elisa, bahkan semalam aku mengendarai mobilku mengelilingi kota sebelum benar-benar ke sini.
Kuyakin tak ada yang mengikuti kami, terkecuali orang-orang Zach. Walaupun Zach tahu aku akan membawa Elisa, tapi dia tak sebodoh itu untuk mengungkapkan keberadaanku. Dari mana bajingan itu tahu? Aku segera merebut handphone Elisa dan mematikan panggilan itu.
"Elisa, dengarkan aku. Jika dia kembali menelpon, jangan pernah mengangkatnya. Aku telah berjanji kepada Zach akan mengembalikanmu dan kuyakin dia mengerti itu. Aku tak ingin bajingan ini mengganggu waktu kita. Dan untuk sementara, bisakah kau mengizinkanku menyimpan handphone-mu. Hanya untuk berjaga-jaga."
Elisa mengerutkan dahinya. Dia terlihat tak ingin melakukannya. Aku tahu ini melanggar privasi seseorang. Tapi percayalah, sejak pertama bertemu dengannya, aku sudah banyak melanggar privasinya.
"Aku akan mematikannya jika itu mengganggu."
Tidak. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin melihat apakah ada yang menyadap handphone-nya.
"Baiklah, jika ini membuatmu tak nyaman."
Aku mengembalikan handphone tersebut ke Elisa dan berbalik karena tak ingin berlama-lama memandangnya.
"Leon kau ingin ke mana?"
Aku menjawab tanpa ingin membalikkan tubuhku dan terus berjalan menuju pintu keluar.
"Aku akan mandi. Bersiaplah, kita akan keluar setelahnya. Kau bisa memakai pakaian apa pun yang kau inginkan. Aku meletakkannya di walk in closet."
"Leon, kau tak apa?"
Aku akhirnya menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menatapnya sangat lama, tapi aku tak kuat menahan gejolak itu lagi jika kembali muncul. Aku mengabaikan pertanyaannya dan berlalu begitu saja.
Aku menghabiskan beberapa menit untuk menenangkan diriku sendiri. Aku membasahi seluruh tubuhku dengan air yang sangat dingin. Aku harus bisa mengontrol diriku sendiri.
Saat aku keluar dari kamar mandi, aku tak melihat Elisa ada di kamar ini. Aku beralih ke walk in closet dan melihatnya yang sedang bercermin memeriksa penampilannya. Dia terlihat berbeda.
Dia memakai celana jeans yang semalam dikenakannya dan ... baju kaos longgar? Itu punyaku. Baju itu terlihat sangat kebesaran di tubuhnya. Apa dia tak salah pilih?
Dia agak sedikit terkejut melihat aku yang tiba-tiba masuk. Apa dia malu melihatku seperti ini?
"Maaf, aku akan keluar."
Dia segera bergegas keluar meninggalkanku. Kenapa juga dia harus meminta maaf? Dia tak melakukan kesalahan apa pun. Padahal aku telah membelikan beberapa baju yang cukup sesuai dengan seleranya, tapi dia memakai pakaian yang biasa. Baiklah, aku akan membiarkan apa pun yang diinginkannya saat ini.
Aku memutuskan memakai baju yang juga santai. Sebenarnya aku ingin bertanya hari ini dia ingin mengunjungi tempat mana, tapi itu terlalu memalukan. Mungkin nanti akan kutanyakan saat kami sudah di luar.
Apa ini kencan?
Sial, sudah berapa usiamu, Leon?
Kau pasti bercanda.
Mungkinkah dia juga tak berpikir begitu?
Aku terlalu bingung untuk menyesuaikan penampilanku dengan apa yang Elisa kenakan. Segala yang melekat di tubuhnya sangat terlihat menarik karena usianya yang masih muda.
Jangan lupakan, dia cantik dan postur tubuh yang tinggi membuat penampilannya tak kan pernah terlihat cacat sedikit pun. Dia hanya memasukkan kaos kebesaran itu ke dalam celana jeans-nya, tapi entah mengapa itu masih terlihat seksi.
Setelah sekian lama, aku akhirnya selesai dengan penampilanku. Apa aku terlalu berlebihan? Aku tak tahu harus keluar dengan penampilan seperti ini di usiaku yang sekarang. Aku menggunakan celana jeans-ku dan juga menggunakan baju kaos.
Aku tak percaya diri dengan tanganku yang terus terang ada beberapa tato yang terlihat, ini akan menakuti beberapa orang, sehingga aku memutuskan untuk memakai jaket berbahan jeans.
Tak lupa aku mengambil dua topi untukku dan Elisa. Sentuhan terakhir, aku menggunakan sepatu bertali berbahan kanvas. Sial, aku seperti melompati waktu saat melihat diriku di cermin.
Aku keluar walk in closet dan tak menemukan Elisa. Apa dia sudah di bawah? Saat aku menuruni tangga, aku melihatnya sedang bermain bersama Edward dan Luxy. Aku menatap lama ke mereka dan menemukan Luxy memandangku.
"Wow, kau terlihat berbeda. Sudah berapa lama aku tak melihat jeans kesayanganmu itu. Kau mencoba berpenampilan seperti anak muda sekarang. Tunggu dulu, apa kalian akan berkencan?"
Elisa menundukkan kepalanya, sedangkan aku malas menanggapi ucapan Luxy dan terus berjalan.
"Elisa, ayo!"
__ADS_1
Aku sudah siap turun, namun berhenti saat memandang Elisa yang tak memakai flat shoes-nya. Ada apa? Dia terlihat murung.
"Kenapa kau tak memakainya? Kau tak menyukai itu."
"Tidak. Aku menyukainya."
Dia memakainya dengan sangat perlahan dan terus memandang sepatu itu. Aku menyerah, akhirnya aku meninggalkannya dan kembali ke kamarku di lantai dua untuk mengambil sepatu high heels-nya. Aku tahu dia lebih menyukai sepatunya sendiri.
Aku kembali secepat yang kubisa saat Luxy dan Edward kembali memandangku lewat.
"Ini sepatumu."
"Leon, ini tak perlu."
"Tidak. Kutahu kau tak menyukainya. Lepaskan!"
Dengan nada agak memerintah, aku menyuruhnya melepaskan sepatunya dan memakaikan plester ke bagian pergelangan kakinya. Kakinya akan lecet dan mungkin terluka. Kenapa dia masih suka memakai sepatu seperti ini? Aku segera memakaikan sepatu itu ke kakinya.
Aku membawa flat shoes tadi bersama kami saat keluar penthouse. Aku berjalan ke parkiran dan hingga aku berhenti di depan mobilku, tak lama setelahnya Elisa menubruk punggungku.
Dengan refleks aku membalikkan tubuhku dan melihat dia agak limbung. Aku memegang lengannya dan saat itulah dia terlihat kaget juga dengan apa yang terjadi.
"Elisa, ada apa denganmu?"
"Aaa, maaf. Aku tak apa. Aku tadi hanya melamun."
Aku menghembuskan napas kasar dan membiarkannya saat ini. Kami akhirnya memasuki mobil dan aku melempar sepatu yang kubawa tadi ke kursi penumpang di belakang.
...***...
15 minutes later ...
Country Road, Greenwich – 10.23 am.
Ini sudah lebih dari 15 menit kami di jalanan dan tak ada seorang pun yang ingin memulai pembicaraan. Aku tak mengerti mengapa Elisa diam. Apa aku membuat kesalahan? Dia terlihat murung dan hanya menatap kaca di sampingnya. Aku bahkan tak bisa menatap wajahnya.
Aku akhirnya memulai percakapan, "Elisa, apa aku membuat kesalahan?"
Dia akhirnya berhasil mengembalikan atensinya kepadaku, "Tidak."
"Kau mendiamiku dari tadi. Kau menunjukkan wajah murungmu, bagaimana aku tak kesal dari tadi?"
Aku melihat ke arahnya sebentar dan dia dengan cepat mengalihkan wajahnya dengan menunduk sambil menggenggam handphone-nya.
"Maafkan aku."
Okay, kali ini aku benar merasa kesal berkali lipat ketika dia meminta maaf tanpa sebab. Aku akhirnya menghentikan mobilku di tepi jalan yang cukup sepi. Aku mematikan mesin dan menengadahkan kepalaku ke langit mobil.
"Kau tahu aku sangat tak suka diabaikan. Aku tak kan mengerti jika kau tak berbicara. Aku akan memperbaiki yang telah kulakukan jika itu membuatmu tak nyaman."
"Leon. Kau tak seperti itu. Aku hanya merasa ... kau jengkel denganku dan terlihat begitu kesal dan tak ingin berbicara denganku. Kejadian tadi pagi saat kau meninggalkanku begitu saja dan tak ingin menatapku. Dan seterusnya, kau sepertinya tak ingin banyak bicara denganku. Aku juga sebenarnya menyukai barang-barang yang kau belikan. Aku ingin sekali memakainya, seperti sepatu itu, tapi kau melepaskannya begitu saja. Aku tak tahu apa aku yang terlalu sensitif atau ... entahlah."
Aku menghembuskan napas kasar sekali lagi, setidaknya dia ingin berbicara.
"Elisa, maafkan aku karena sikapku tadi pagi. Aku tidak mengabaikanmu sama sekali. Aku hanya tak ingin lepas kendali dengan apa yang telah kita lakukan tadi pagi."
Aku menghentikan penjelasanku sejenak untuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk ini semua.
"Lalu dengan aku yang tak banyak bicara, kurasa itu tak perlu ditanyakan lagi. Apa kau pernah melihatku banyak bicara? Aku tidak menjauhimu atau apa pun itu. Aku hanya perlu melakukan apa yang kuinginkan itu dan tak perlu banyak bicara."
Sejenak aku menatap ke arahnya yang dari tadi tak mengalihkan tatapannya dariku.
"Okay ,selanjutnya apa? Sepatu? Kukira kau sangat menyukai sepatu high heels-mu itu adi tak ingin memakai sepatu yang kubelikan. Dan aku tak merasa keberatan dengan itu semua. Apa aku terlihat marah saat memakaikan sepatumu, tidak kan?"
"Leon, aku juga menyukai sepatu itu. Dia cantik, tapi aku berpikir itu tidak akan cocok dengan pakaian yang kugunakan. Makanya, aku berpikir lama tadi saat memakainya."
"Baiklah, kita telah menemukan masalahnya bukan? Aku sebenarnya juga telah membelikanmu pakaian yang cukup banyak. Kau ingat, tadi pagi kau juga mengenakan pakaian baru. Yeah, aku membelikannya untukmu, sayangnya itu sudah hancur dan aku menyuruhmu mengenakan apa pun yang ada di lemariku. Di sana aku menaruh semua pakaian baru lainnya. Dan aku ... sedikit terkejut kau memakai kaos-ku."
"Apa! Ini bajumu? Kukira ... kukira baju yang kau maksud adalah baju yang sudah diletakkan di meja dalam walk in closet. Aku ... tak mengecek yang lainnya."
"Yeah, itu bajuku. Tak apa, kau masih terlihat cantik dengan pakaian apa pun."
Sial, apa yang baru saja kukatakan. Aku saja ingin segera menarik itu semua saat ini. Saat aku melirik Elisa, wajahnya seketika memerah. Kuyakin dia juga sangat malu saat ini.
"Sepertinya ini salahku yang tak begitu banyak bicara padamu. Kita selalu salah paham dengan perkataan masing-masing, bukankah begitu?"
Dia menatapku dengan wajah yang masih memerah. Dia tersenyum dan aku sangat senang dia memberikan senyuman itu kepadaku.
"Apa kakimu sakit menggunakan high heels itu?" Dia menggelengkan kepalanya.
"Apa kita harus kembali, Leon? Sayang sekali jika hari ini aku tak mengenakan apa yang kau belikan."
"Tidak, Elisa. Kita sudah cukup jauh dan aku tak berencana menghabiskan waktuku balik lagi ke penthouse. Kuyakin Edward akan merengek dan ikut bersama kita."
"Bukakah itu menyenangkan mengajak mereka juga?"
Aku mengerutkan dahiku tanda tak suka. Aku mengabaikannya dan kembali menghidupkan mesin mobilku dan melajukannya entah ke mana.
Apa dia tak tahu hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamanya? Aku tak peduli dia memakai pakaian yang tak cocok ataupun tak berdandan. Aku hanya ingin hari ini bersamanya tanpa ada gangguan apa pun.
"Baiklah, aku akan diam. Emm ... kita akan ke mana?"
__ADS_1
"Ke mana pun yang kau inginkan."
Dia mencoba berpikir sejenak sebelum mengucapkan apa yang dia inginkan.
"Hmmm, bagaimana jika ke Greenwich Park?"
"Di sana hanya taman biasa. Ramai orang, tak ada yang spesial selain bangunan museum mungkin." Aku hanya menjawab seadanya.
Dia mengerutkan wajahnya dan diam, dia sepertinya jengkel dengan jawabanku, "Terserah kau sajalah."
Baiklah, aku kembali membuat mood-nya kacau.
"Baiklah, kita ke sana."
...***...
A few minutes later ...
Greenwich Park Cherry Blossom Avanue, Greenwich – 10.53 am.
Dia masih diam dan enggan berbicara kepadaku. Ah, aku baru mengingat sekarang sudah hampir pertengahan musim semi, pantas saja dia ingin ke sini.
"Elisa, jangan lupa pakai topimu!" Aku memberikan topi kepadanya sebelum keluar dari mobil.
"Kenapa kita harus memakainya?"
"Kau akan mudah dikenali. Dan kau tahu keamanan akan sangat penting saat ini." Walaupun dia terlihat tak suka, tapi dia tetap memakainya.
Kami menyusuri taman yang cukup luas dan sampai ke spot jalanan yang memiliki sisi-sisinya pohon yang ditutupi bunga. Dia sangat senang sekali, mood-nya dengan cepat berubah.
"Kau belum pernah ke sini?" Aku mencoba berbicara dengannya untuk mengurangi kecanggungan kami.
"Belum. Aku tak memiliki waktu yang cukup untuk mengelilingi daratan Inggris."
Mungkin inilah yang membuatnya begitu antusias dengan perjalanan hari ini. Tapi, ini jauh lebih membosankan dari yang kukira. Sedangkan, dia mengabaikanku dan terus berlarian dangan sangat senang.
Dia akhirnya berhenti melakukan hal bodoh itu saat bertemu dengan sepasang paruh baya yang duduk di kursi taman.
"Wow, kalian berdua sangat romantis. Bisakah, aku mengambil foto kalian berdua?"
Saking senangnya, dia lupa meminta maaf terlebih dahulu ketika menginterupsi kesenangan pasangan itu. Sedangkan aku hanya mengamatinya tanpa ingin bergabung dengan permainannya.
"Tentu saja. Aku tak menyangka seorang anak muda akan tertarik dengan pasangan tua seperti kami." Dia hanya tersenyum dan terlihat puas dengan poto yang telah dia ambil dengan handphone-nya.
"Apa kau juga ingin kami melakukan hal yang sama denganmu dan kekasihmu?"
Dia seketika terlihat malu. Apa dia malu karena orang-orang melihat kami seperti sepasang kekasih?
"Tidak, kalian tak perlu. Kami hanya berjalan-jalan—"
"Bisakah kalian melakukannya?"
Aku tak sadar akan mengeluarkan kalimat itu. Aku memberikan handphone milikku dan Elisa kepada masing-masing pasangan tersebut dan berdiri di samping Elisa. Pasangan tersebut hanya tersenyum memandang kami berdua dan mulai mengambil poto kami.
"Kau terlalu jauh, Elisa." Aku berbisik di dekat telinganya.
"Tidak. Ini sudah cukup."
Sial, kami sangat canggung, bahkan kami tak terlihat seperti sepasang kekasih. Tentu saja, aku bahkan tak pernah mengatakan kami akan menjadi sepasang kekasih. Aku akhirnya menarik pundak Elisa agar lebih dekat denganku. Terdengar tawa dari pasangan di depan sana.
"Baiklah kalian bisa mengganti pose apa pun, kami akan terus mengambil fotonya." Itu instruksi selanjutnya yang diberikan dari pasangan tersebut.
"Leon, sudah cukup. Aku sangat malu."
Kali ini dia berbisik tanpa melihat ke wajahku. Dia mencoba mempertahankan senyumnya.
"Kenapa juga kau harus malu. Kita tidak sedang melakukan hal mesum di depan umum."
"Leon!!!"
Dia menyakiti telingaku. Aku menatap wajahnya yang memerah dan saat itulah kugunakan untuk menciumnya.
Sial, ini begitu menyenangkan. Aku tak pernah melakukan ini di depan umum. Aku sama terkejut dengan apa yang kulakukan, aku bahkan tak ingin memejamkan mataku saat bibir kami bertemu.
Kami menjadi pusat perhatian karena aku mendengar banyak orang yang bersiul untuk tindakanku ini. Aku tak peduli apakah pasangan itu akan terus mengambil foto kami atau tidak.
Dengan sekejap mataku tertutup oleh tangan Elisa yang sengaja menjauhkan kepalaku dengan paksa. Aku melepaskan tubuhnya.
Dia seketika jongkok dan menutupi wajahnya. Pasangan tersebut mendekatinya dengan tertawa saat memberikan handphone tersebut kepadaku.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1
...•••...