
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 02.13 am.
"Bisakah kau mengizinkanku tidur bersamamu malam ini?"
Entah apa yang ada di pikiranku saat Leon menanyakan hal tersebut. Reaksiku hanya menganggukkan kepala, aku ingin Leon di sampingku saat ini. Aku ingin menghapus mimpi burukku yang tak kunjung menghilang setiap malamnya. Dan benar saja, dengan adanya Leon membuatku tak sempat untuk memikirkan itu semua. Aku hanya merasakan kebahagiaan karena rinduku yang terobati.
Leon terus mengusap wajahku yang entah mungkin terlihat tidak baik-baik saja saat ini. Sedikit terlintas di benakku, apa kami akan melakukan hal yang lebih dari sekedar menghapus rindu?
Terlalu jauh pikiranku berkelana, tanpa sadar Leon berhenti mengusap wajahku dan aku melihat dia terlelap begitu saja. Aku melihat wajahnya yang tenang, sepertinya dia telah melakukan perjalanan yang jauh hingga terlihat begitu lelah.
Perlahan aku mendekatkan diri kepada Leon, aku menciumnya yang tengah terlelap, namun ternyata hal itu berhasil membangunkannya. Matanya sayu menahan kantuk yang sudah sempat tak tertolong. Aku tersenyum melihatnya yang seperti ini.
"Tidurlah kembali, kau sepertinya sangat kelelahan."
Dia tak menjawab dan mendekapku lebih erat, dengan tangannya yang besar dia mengusap punggungku. Rasa hangat menjalar di sekujur tubuhku. Aku membalas pelukan Leon dan menyembunyikan wajahku di celuk lehernya.
Tanpa ingin menyembunyikan perasaanku, aku berbisik, "Aku sangat sangat merindukanmu, Leon."
Entah mungkin karena mendengar apa yang kukatakan, Leon seketika berhenti mengusap punggungku. Perlahan aku mendengar bisikannya, "Kau tak tahu saja bahwa aku sangat stres karena tak bertemu denganmu juga, Elisa."
Kami saling bertatapan sesaat sebelum luapan perasaan yang berasal dari bisikan tersebut berubah menjadi begitu intim. Tidak ada lagi yang bisa membendung perasaan di antara kami berdua. Dan kembali lagi kami melakukan ciuman yang sangat kami rindukan.
Aku tak bisa menolak diriku sendiri, bahkan aku tak ingin melakukannya. Aku menginginkan Leon sebesar Leon menginginkanku. Aku melepaskan ciuman kami dan berbisik di depan wajah Leon, "Aku tak keberatan untuk menjadi wanita bodoh malam ini, Leon."
Setelahnya aku tak memberikan Leon waktu untuk berkomentar bahkan untuk membantahku. Aku mendapatkan keberanianku, aku ingin melakukannya. Dan aku ingin pria itu adalah Leon.
Saat aku membawa tubuhku ke atas Leon, aku merasakan cengkraman tangan Leon mengencang di bahuku. Aku tak menghiraukannya dan masih bertahan dalam ciuman ini. Tanganku dengan berani menangkup wajah Leon, yang membuat ciuman ini bahkan lebih panas.
Perlahan aku merasakan Leon bangkit dari tidurnya. Kami bahkan enggan untuk saling mengakhiri ciuman ini. Aku merasakan pinggangku dengan mudah diangkat Leon sehingga posisiku duduk di pangkuannya.
Seketika aku merasakan gairah yang tak terbendung, saat Leon perlahan menyelipkan tangannya ke punggungku. Aku merasakan tangannya menari menggerayangi punggungku. Kejadian itu tak berlangsung lama saat Leon dengan tiba-tiba menggigit bibirku. Aku mengakhiri ciuman tersebut karena merintih kesakitan.
Aku melihat wajah Leon yang berbeda, dia terlihat begitu mendamba dan ini jauh membuatku semakin bersemangat.
"Elisa, kau salah membuatku harus terbangun di jam segini. Dan aku tak tahu harus menahan diri seperti apa lagi untuk menghadapimu."
Keberanianku bertambah dua kali lipat ketika aku mengecup bibir Leon, mencoba untuk memprovokasinya. "Sampai kapan kau akan menahan ini semua, Bajingan?"
Dia melihat ke dalam mataku dengan intens dan berkata, "Aku tak kan mengampumimu, Elisa."
Dengan tegas aku menjawab, "Coba saja."
Dan tanpa aba-aba Leon menciumku tanpa ampun, aku bahkan dibaringkan seketika. Ini seperti adegan di film action yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku tak ingin hanya berdiam diri. Aku membalas ciuman Leon dengan bersemangat.
Yang membuatku tak habis pikir ketika Leon dengan sengaja menarik baju tidurku dengan sangat cepat. Saking keras tarikannya membuat baju tipis itu sobek dan kini terkoyak tak berguna sebagaimana mestinya. Kurasa pelayan yang akan membersihkan kamarku besok akan terkejut menemukan pakaianku yang sobek.
Aku merasakan tangan leon menjelajahi tubuhku yang masih menyisakan pakaian dalam. Aku mengambil andil dengan membawa tanganku ke dada Leon yang bidang. Aku mencoba menyentuh lebih dengan memasukkan tanganku ke dalam baju Leon. Namun tanganku di tahan Leon dan dia menghentikan ciuman kami dengan mendadak.
Deru napas kami masih saling berlomba-lomba, dan saat itu Leon berbisik di depan wajahku, "Elisa... kurasa kita-"
"Aku menginginkanmu, Leon. Jangan membuatku kecewa dengan penolakan. Aku bukan pengemis dalam hal ini." Aku memotong ucapan Leon dengan segera. Aku tak ingin dia kembali menarik diri.
"Kau tahu aku tak mungkin bisa menolakmu, Elisa. Aku hanya takut akan menyakitimu."
Aku menggelengkan kepalaku tanda tak percaya Leon akan mengatakan hal itu. Aku mencoba meyakinkan, "Coba kita cari tahu bersama, Leon."
Sebelum Leon kembali menciumku dengan brutal, aku mendengar umpatan yang sangat keras darinya. Aku merasakan Leon menggerayangi tubuhku kembali dan perlahan aku merasakan Leon mengecupi leher dan yang berakhir dengan meng-absen ke bagian tubuh yang tak pernah kupikirkan hingga aku merasakan tak ada yang bisa menghalanginya untuk itu.
Dengan deru napas yang semakin berat, aku melihat siluet Leon di atasku. Aku melihat setiap gerak-gerik yang Leon lakukan untuk melepas bajunya satu-persatu. Dan aku menemukan lagi keberanianku saat memegang dadanya yang terekspos.
Tak ada yang bisa menghalangi kami untuk saling menyentuh. Aku merasakannya semuanya untuk pertama kali dan pria itu Leon. Ciuman yang kami lakukan bahkan tak pernah terbayangkan akan berakhir, hingga aku menyadari sesuatu yang membuatku begitu panik.
Leon menatapku dalam gelap, dia mengusap wajahku yang berkeringat dan berkata, "Elisa, apa kau yakin?"
Aku merasakan Leon di bawah sana, dan aku tahu dia hanya akan membuatku semakin panik jika terus bertanya sehingga aku hanya mengganggukkan kepala tanpa menjawab.
"Ini akan sedikit menyakitkan, Elisa. Tapi bertahanlah, aku-"
Aku melihat raut kepanikan juga muncul di wajah Leon. Aku tak tahu dia juga akan begitu gugup seperti ini, baru saja aku memikirkan apa yang membuat Leon panik, tiba-tiba aku merasakan desakan yang tak biasa di bawah sana. Begitu asing hingga membuatku begitu tidak nyaman.
Leon terus menatap wajahku dan mengusap keringat yang semakin banyak muncul seiring kepanikan bertambah. Rasanya sangat menyiksa ketika di bawah sana begitu mendesak tanpa henti. Rintihan kesakitanku semakin terdengar ketika aku mulai merasakan rasa sakit tadi membesar.
Leon semakin panik dan berkata, "Elisa, haruskah aku menghentikannya?"
__ADS_1
"Jangan jadi pengecut, Leon. Teruskanlah!" Tanpa sadar aku mengatakan hal itu sambil menangis dan itu tentu dirasakan Leon. Dia mengusap air mataku dan mengecup bibirku.
"Sial, kau membuatku gila, Elisa." Umpatan Leon malah membuatku yakin dia masih mengendalikan dirinya sendiri.
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, Elisa. "
Setelah mengataknannya, Leon segera menciumku dan beberapa detik kemudian, hal itu terjadi. Aku baru menarik napas dalam keterkejutan ketika merasakan Leon menembusku dan itu sangat sakit sekali. Air mataku kembali jatuh namun rintihan kesakitanku teredam oleh ciuman Leon.
Aku bereaksi dengan mencengkram punggung Leon sangat kuat dengan jari-jariku yang bahkan mungkin bisa menembus kulitnya. Aku merasakan Leon bergerak di bawah sana. Rintihanku semakin menjadi-jadi. Rasa sakit tersebut tak berkurang sedikit pun.
Tangan Leon beralih dari wajahku dan perlahan menyentuh dadaku dengan lembut. Diam masih mencoba membuatku lebih nyaman dengan perlakuannya yang lembut walaupun dia bergerak di bawah sana dengan sangat kasar.
Namun percaya atau tidak yang terjadi beberapa saat setelahnya aku malah tidak merasakan kesakitan yang berarti. Aku merasakan rasa sakit tersebut sirna dan dengan tidak tahu malunya aku malah bergerak bersama Leon. Ini gila.
Leon melepaskan ciumannya dan kami saling bertatapan. Akibat ciuman yang terlepas, tanpa sadar aku merintih dan mendesah akibat menikmati permainan Leon. Leon yang sudah tak terlihat panik seketika menahan bahuku dan aku mendengarnya menggeram dengan sangat keras dan dengan perlahan dia bergerak membabi-buta. Kamarku rasanya dipenuhi oleh suara geraman Leon dan desahanku yang saling bersautan.
Aku merasakan otakku sudah tak berfungsi karena merasakan desakan gairah yang begitu besar hingga aku mendengar Leon berkata, "Elisa, bersama."
Gerakan Leon semakin gila dan hal itu menimbulkan reaksi yang aneh pada tubuhku. Dan benar saja, kami mencapai puncak bersama. Aku merasakan hal yang luar biasa itu bersama Leon.
Deru napas kami masih berlomba-lomba saat Leon menopang tubuhnya dengan tangan yang masih berada di samping tubuhku. Setelahnya aku merasakan kekosongan saat Leon melepaskan diri. Leon mengusap keringat di dahiku.
"Elisa, aku mencintaimu."
Entah mengapa kalimat itu menyihirku begitu cepat sehingga aku kembali meneteskan air mata. Leon memelukku dengan sangat erat dan terus mengecupi kepalaku.
Dia mengusap punggungku dan menyelimuti kami berdua di dalamnya. Hal tersebut membuatku begitu nyaman dalam dekapannya hingga aku akhirnya kami berhasil memejamkan mata menuju alam mimpi.
...***...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 08.13 am.
Tok... tok... tok...
"Nona, apa Anda sudah bangun?!"
Suara ketukan semakin membuatku tak nyaman, ditambah aku merasakan pelukan di perutku mengencang. Hal tersebut berhasil membuatku mengedipkan mata di pagi ini. Saat aku tersadar, Leon masih bersamaku dan sialnya kami masih telanjang bulat.
"Sial, Leon ini sudah pagi, bagaimana ini?"
Aku segera berteriak untuk mencegah pelayanku menerobos masuk, aku bahkan tak sadar suaraku begitu serak, "Ya aku sudah bangun. Aku akan di kamar dan masih mengantuk, jangan mengganggukku, hari ini aku tak ingin bekerja."
Sautan pelayanku di luar sana membuatku lega karena tak akan menyaksikanku yang tidur dangan seorang pria di dalam sini.
Tak lama setelahnya Leon membuka mata dan berhasil bertatapan denganku. Aku tersipu malu sambil berkata, "Leon, kita harus membereskan ini dan-"
"Dan apa?" Dia menatapku begitu tajam hingga membuatku gugup.
"Kita masih tidak mengenakan pakaian."
"Aku tak masalah, kita bisa memulainya kembali, mungkin di kamar mandi, hmm bagaimana?" Aku terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Apa kau gila? Ini sudah pagi dan kita mungkin bisa terpergok."
Dengan wajah malasnya dia mengecup bibirku sebelum bangkit dari tidurnya. "Ya baiklah, sebentar lagi aku akan pergi."
Aku melihat punggung Leon yang dipenuhi tato membelakangiku. Dia perlahan mengumpulkan pakaiannya. Aku masih tersipu melihatnya, aku tak menyangka kami telah melakukannya.
Baru saja aku ingin menyusul Leon, tapi masalah kembali menghampiriku. "Ehm... Leon sepertinya aku membutuhkan bantuanmu," aku tak langsung menjelaskan.
"Ya katakanlah." Dia mengatakannya tanpa beban dan tak menatapku yang masih terbaring di belakang sini.
"Leon... sepertinya aku tidak bisa bangkit dan bergerak."
Sontak Leon menghentikan aktivitasnya dan langsung menatapku. Aku hanya tersenyum malu di dalam selimut.
"Elisa, ada yang sakit. Apa maksudmu?"
"Ya kurasa aku susah untuk bangkit. Lebih tepatnya tidak bisa bangkit."
Leon langsung menyingkap selimut yang kukenakan, hampir saja aku berteriak kencang. "Kemarilah, aku akan memeriksanya."
"Leon, ini sangat memalukan, aku tak ingin!"
__ADS_1
Aku menjauhkan tangan Leon yang berada di pahaku dan kembali menarik selimut.
"Elisa, bagaimana aku bisa menolongmu jika kau tak mau dicek, lagi pula kenapa kau malu, kita sudah melakukannya semalam."
Aku masih menggelengkan kepala, Leon menyerah dan akhirnya dia beranjak ke kamar mandi. Kurasa di bawah sana mengalami cidera ataupun pembengkakan ringan. Aku tidak tahu efek melakukan kegiatan malam akan separah ini. Kepanikanku bertambah besar ketika pikiranku mulai berkelana, bagaimana kalau aku sedang tak baik-baik saja. Apa ini akan membaik?
Bagaimana kalau Ayah dan Ibuku tahu, aku yakin mereka akan menghajar kami berdua.
Dan Leon?
Bagaimana dengannya?
Apa dia menyukai apa yang kami lakukan semalam?
Apa dia puas?
Apa aku hanya amatiran yang menyedihkan?
Tanpa sadar Leon dari tadi yang berada di sampingku berkomentar, "Apa yang tengah kau pikirkan? Jangan berpikir buruk di pagi hari ini, Elisa."
Dia ternyata membawa baskom dari kamar mandi. Aku bertanya, "Untuk apa itu?"
"Untuk mengompresmu, kurasa dia mengalami pembengkakan, ini tak kan lama maka kau harus menurut."
Aku hanya menurut apa yang dikatakan Leon, ya walaupun ini sangat memalukan. Leon mulai mengusapkan kain kompres yang terasa hangat di bawah sana. Sementara itu aku menatapnya dan tanpa sadar bertanya, "Apa kau juga melakukan hal yang sama dengan wanita sebelumnya?"
Aku merasakan dia menghentikan usapannya namun kemudian melanjutkannya sambil menjawab, "Tidak."
"Benarkah? kau tidak berbohong?"
"Apa yang kau inginkan dari pertanyaan itu?"
"Hanya penasaran."
Dia berhasil menyelesaikan pekerjaan tersebut dan kembali meletakkan baskom dan kompres di bawah kasurku. Dia menarik selimut dan mengecup dahiku, merapikan rambutku, dan berkata, "Lagi pula aku tak pernah menemukan wanita yang tak bisa bangkit di pagi hari setelah tidur denganku."
"Cih menyebalkan, aku tak mengungkit tentang itu."
Dia terkekeh sebelum beranjak dari kasurku. Melihat dia yang menghampiri pintu kamar, aku seketika agak berteriak, "Leon apa yang kau lakukan. Kau ingin keluar dari situ? Yang benar saja."
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, "Lantas aku harus keluar lewat mana?"
Aku menatap dan melirik jendela, dia memutar bola matanya sebelum membuka pintu kamar. Aku menyerah dan menutup mataku, kuyakin pelayanku yang terus berada di luar sana akan terus bergosip saat menenumukan Leon keluar dari kamarku. Parahnya lagi akan sampai ke telinga Ibuku.
"Oh ya ampun Tuan, saya kaget!"
Aku mendengar teriakan pelayanku, "Tuan bagaimana Anda bisa-"
"Bisakah kami mendapatkan sarapan di dalam kamar. Ya semalam aku menyelinap dan menumpang tidur di kamarnya dan dia tak keberatan jika itu yang ingin kau tanyakan kenapa aku di sini."
Sudah kuduga Leon akan berkata seperti itu. Dia enggan berbasa-basi.
"Baiklah Tuan, saya akan mengantarkannya beberapa saat nanti."
Aku mendengar pintu kamarku kembali ditutup Leon. Sambil berjalan dia berkata, "Lihatkan selesai, apa lagi yang kau khawatirkan. Aku yakin bodyguard-mu juga telah menemukan mobilku di luar sana jadi tak usah bersusah payah menyembunyikanku. Memangnya kita kriminal."
"Ya ya ya terserahlah."
Selang beberapa menit akhirnya ketukan di pintu kamarku berbunyi. Leon mengambil apa yang diantarkan oleh pelayanku. Dia tak mengizinkan mereka masuk.
Dengan beberapa kekuatan yang kupunya dan bantuan dari Leon akhirnya aku bisa mendudukan diri. Aku memakan apapun yang telah disediakan untukku. Biasanya aku tak tertarik dengan sarapanku, tapi kali ini aku sangat kelaparan, entah mungkin setelah aktivitas malam yang kami lakukan.
Ya, kami.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...