
Country Road, Westminster (London Raya), UK – 10.04 pm.
Aku sangat lega karena berhasil mengatakannya. Sial, aku seperti remaja yang benar-benar dimabuk cinta.
Memalukan.
Aku mengatakan hal menggelikan itu karena tak ingin kehilangannya. Yeah, ini jauh lebih baik. Sangat luar biasa.
Dan di sinilah kami sekarang, di mobilku dalam keadaan canggung karena masing-masing memilih untuk diam. Aku mencoba melirik ke sampingku dan menyaksikan wajah Elisa yang tak pernah berhenti memerah semenjak kami turun dari kapsul London Eye.
Aku tersenyum membayangkan kami sekarang benar-benar sepasang kekasih.
Aku membuka pembicaraan pertama, "Elisa ... ini sangat canggung. Berbicaralah."
Dia agak lama terdiam dengan menundukkan wajahnya sebelum menanggapi ucapanku, "Aku ... aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku sangat senang sekali."
Sial, sekarang aku yang sangat malu karena dia mengatakan apa yang dia rasakan. Aku menutup mulutku dengan punggung tanganku karena tak bisa menahan senyumanku yang seperti orang gila saat ini.
Aku tak bisa menahan ini lebih lama lagi.
"Ah, sial!"
Aku menghentikan mobilku sembarangan di tepi jalan dengan mendadak. Elisa sepertinya agak kaget dengan aksiku tersebut, tapi itu tak berlangsung lama karena dengan cepat aku menciumnya.
Aku mencium bibir ranumnya yang telah menjadi canduku. Elisa membalas ciumanku, dia bahkan memegang sisi wajahku dengan sangat lembut.
Kami terbuai dalam ciuman tersebut, hingga mengabaikan beberapa klakson yang sesekali berbunyi dari pengendara yang emosi. Aku tak peduli.
Bahkan saat di tengah keramaian kota, aku akan terus bersikap bajingan karena aku adalah kekasihnya.
Dia wanitaku.
Ini membuatku semakin frustasi ketika desahan Elisa tertahan dalam ciuman kami akibat aku memasukkan tanganku ke dalam kaos longgarnya. Elisa tersentak, seketika membuat ciuman kami terhenti karena baru saja aku menyelipkan tanganku ke balik bra-nya.
Dia memegang tanganku yang masih di dalam bajunya. Dia mengatur napasnya sembari menempelkan dahinya ke dahiku.
Mata kami bertemu. Dia terengah-engah dan terlihat sangat menggoda saat ini. Aku ingin sekali memakannya jika saja pikiranku sudah tak waras.
"Leon ... kita di jalanan."
Hanya itu yang bisa dia katakan untuk membuatku lebih terkendali. Aku mencium bibirnya sesaat sebelum merapikan bajunya kembali.
Aku memeluknya sangat erat sembari mengecupi kepalanya dan duduk kembali ke posisi semula.
"Maafkan aku, kita pulang. Ini sudah malam."
Aku sangat sulit mengendalikan diri di sepanjang perjalanan. Kepalaku masih sangat berdenyut menahan ini semua. Aku juga melihat Elisa yang sepertinya masih berkelana dengan pikirannya yang sama tidak karuannya denganku.
...***...
A few minutes later ...
Aku tersenyum melihat Elisa yang tertidur. Sejak keluar dari daerah perkotaan, dia memang mengantuk.
Yeah, walaupun ini sangat sulit bagiku ketika manahan tubuhnya dengan satu tanganku yang masih mengemudi. Akan lebih baik ketika dia tidur di bangku penumpang belakang, tapi ini sudah terlanjur, dia sangat pulas dalam tidurnya.
Aku kembali mengingat pesan yang disampaikan Dereck hari ini. Pesan itu jugalah yang memaksa Zach harus menyuruh Elisa segera pulang untuk memastikan keselamatannya.
Kukira aku memiliki waktu lebih lama lagi dengan Elisa, ternyata kami akan secepat ini terpisah ketika sudah menjadi kekasih sekali pun.
Aku harus berhenti bersikap egois karena nama Elisa sudah masuk ke dalam daftar incaran sindikat mafia besar. Mereka menginginkan cetak biru sistem bangunan persenjataan canggih yang dimiliki kerajaan Britania Raya, dan sayangnya disimpan di salah satu brangkas yang dikelola oleh perusahaan Amstrong. Sial, ini telah menjadi masalah internasional.
Pikiranku teralihkan karena di belakang sana ada tikus sialan yang dari tadi mengikutiku. Itu salah satu dari mereka, Dereck telah membereskan sebagian besar dan sialnya masih ada yang tersisa di belakang sana. Aku menggoyang pundak Elisa agar dia terbangun.
"Hey, Elisa bangunlah!"
Dia perlahan sadar dari tidurnya dan mengusap matanya.
"Kita sudah sampai?"
Dia mengamati daerah sekitarnya dan menyadari kami bukan lagi di jalanan perkotaan, tapi di kawasan hutan yang sepi pengendara.
"Kita di mana?"
"Elisa, dengarkan aku. Ini mungkin akan mengejutkanmu. Tapi kita tak memiliki banyak waktu, kau lihat di belakang sana ada yang mengikuti kita—"
Dia melirik kaca spion mobil dan agak sedikit kaget karena memang ada satu mobil yang mengikuti.
"Leon, mungkin itu hanya pengendara biasa."
"Tidak. Mereka sudah mengikuti kita saat keluar dari London Eye. Ini sudah satu jam lebih dan aku yakin itu alasan mengapa Zach menyuruhmu segera pulang. Mereka mengincarmu."
Dengan seketika Elisa menggenggam pergelangan tanganku yang bebas. Dia gemetaran.
"Jangan panik, kau bersamaku. Kita sedang berada di kawasan hutan lindung. Sebentar lagi kita akan masuk menerobos hutan dan menyelesaikan ini dengan segera. Kau pindahlah ke belakang dan buka kotak di bawah tempat duduk di belakang sana."
Dengan susah payah Elisa mengikuti instruksiku. Dia sudah berhasil duduk di kursi belakang dan membuka kotak panjang di bawahnya.
Dia sedikit kaget ketika menemukan Barret-ku di sana. Ini kedua kalinya dia kaget melihat shotgun-ku ini.
"Peganglah itu sebentar."
Setelah mengatakannya, dengan kecepatan tinggi aku membawa mobilku menerobos masuk ke kawasan hutan dari tikungan yang sangat tajam bersamaan dengan mematikan lampu mobilku.
Aku memasukkan mobilku jauh ke dalam hutan dan menyembunyikannya di semak-semak. Aku mematikan mesin mobil dengan cepat dan mengambil Barret-ku yang sebelumnya dipegang Elisa.
__ADS_1
"Elisa, tutup telingamu dengan ini."
Aku memberikan ear plugs kepadanya sebelum memposisikan Barret-ku di jendela mobil di mana sisi Elisa duduk sebelumnya. Aku membuka jaket jeans-ku karena ini sangat mengganggu.
Aku melihat empat orang keluar dari mobil itu. Mereka semuanya bersenjata dan sepertinya sedang bingung karena kehilangan jejak kami.
Sialnya, mereka berpencar. Dua orang mendekati jalan masuk kami tadi dan sepertinya akan menemukan jejak ban mobilku.
Dua orang lainnya menunggu di sekitar mobil sembari mengamati keadaan sekitar. Samar-samar aku mendengar dua orang tadi berhasil menemukan jejak roda mobilku, "Hey, kemarilah! Mereka di dalam sana!"
Sial, ketahuan.
Aku mengokong Barret-ku sebelum benar-benar melontarkan dua peluru ke dua orang yang berdekatan itu. Bunyi tembakan menggelegar hingga aku pun sedikit mundur tersentak dan bagian kaca mobilku ada yang pecah. Dua orang berhasil memakan peluru Barret-ku.
Aku tak yakin jika dua orang itu tak dibereskan teman-temannya, mungkin polisi akan menemukan dua mayat itu dengan wajah hancur mengerikan. Walaupun malam hari, tapi aku masih bisa melihat dengan akurat hanya dengan bantuan cahaya bulan.
Aku melirik Elisa yang semakin gemetaran menutup mulutnya. Sial, seharusnya dia tak memaksakan dirinya untuk melihat ini. Aku kehilangan dua orang lainnya. Mereka sudah masuk ke hutan dan sedang memburu kami.
"Elisa merunduklah, aku akan keluar."
Dia menggenggam tanganku dengan sangat erat dengan cicitan, "Leon, jangan tinggalkan aku. Aku takut."
Aku mengecup kepalanya, "Hey, kau akan baik-baik saja. Aku tak kan meninggalkanmu. Aku akan keluar untuk bisa melihat di mana mereka. Di dalam sini akan sangat sulit, dan cepat atau lambat kita akan tertangkap kalau diam saja. Dan jangan sekali-kali menghidupkan layar handphone-mu. Itu sangat membahayakan."
Dia seperti akan menangis saat aku meninggalkannya keluar. Aku harus fokus menemukan dua bayangan manusia itu.
Aku berjongkok di depan mobilku dan mengamati sekeliling. Aku mendengar derap langkah mendekat. Kecil. Sepertinya satu orang.
Aku mendekati arah sumber suara setelah benar-benar memeriksa sekitaran mobilku aman tak ada yang mendekati. Aku bersembunyi di balik salah satu pohon dan mengincar satu orang yang ternyata tengah gemetaran sendirian.
Kena kau!
Aku tak segan-segan membidik orang tersebut tepat di depan matanya. Ini akan menjadi mimpi burukmu. Saking dekatnya aku membidik, darahnya bahkan terkena bajuku.
Ah, sial.
Namun, selanjutnya yang membuatku panik adalah suara teriakan Elisa. Sial, sial, sial. Aku berlari ke arah mobilku dan menemukan Elisa ditawan dengan kepalanya ditodong pistol.
Tangisan Elisa memenuhi isi hutan ini. Dia sangat ketakutan dan bergetar saat ini.
"Aku tak menyangka akan menemukan kalian semudah ini."
Bajingan tersebut mulai membuka suaranya. Sepertinya dia sangat puas. Kau kira aku akan membiarkanmu bernapas lega setelah ini?
Aku masih diam mengamati Elisa. Orang itu tak kan mungkin membunuh Elisa, mereka hanya akan menyanderanya saat ini.
"Letakkan senjatamu, Brengsek! Apa kau tak tahu di mana posisimu saat ini?!" Aku mengabaikannya dalam diam.
"Kau ingin wanita ini mati dengan cepat?" Dia tertawa setelah mengatakannya.
"Lakukanlah jika kau ingin."
"Sial, kau pikir aku tak bisa melakukannya?!"
Orang tersebut dengan seketika mengeluarkan isi pistolnya ke langit. Kau pikir aku akan takut hanya dengan gertakan itu?
Jika aku menembaknya saat ini, akan sangat beresiko. Dia membuat Elisa sebagai tamengnya. Barret-ku juga tak memungkinkan untuk digunakan dan sangat sulit mengatur posisinya dengan cepat jika orang itu bergerak mengubah posisinya.
Aku memutuskan untuk melempar Barret-ku ke tanah. Dia juga tak kan bisa menggunakan Barret itu dengan benar jika ingin merebutnya.
"Bagaimana jika kita bertaruh untuk wanita itu? Aku tak kan menggunakan senjataku. Yeah, walaupun aku bukan apa-apa tanpa senjata itu, tapi aku memiliki sedikit ilmu bela diri."
Aku mencoba bernegosiasi dengannya. Orang tersebut menyeringai dengan jelas saat wajahnya terkena cahaya bulan. Namun, selanjutnya yang membuat darahku semakin mendidih adalah perlakuannya terhadap Elisa, menjijikkan.
Tanganku mengepal sangat erat saat melihat dia menjilati sisi wajah Elisa. Tangisan Elisa semakin menyedihkan ketika bajingan itu melakukannya.
Aku merasakan seluruh gejolak emosiku meronta-ronta untuk menghantam wajah sialan ini.
"Seberapa penting wanita ini bagimu? Padahal kau bisa saja meninggalkannya tanpa harus bersusah payah seperti ini. Menyedihkan sekali. Tapi—"
Dia menjeda kalimatnya dan mencengkram rambut Elisa hingga membuat Elisa memekik dalam tangisnya.
"—Suatu kehormatan untuk menerima tantanganmu. Kudengar kau adalah anjing gila milik Parker. Parker sangat berhati-hati di zona abu-abunya dan tak ada yang berani menyentuhnya karena memiliki peliharaan yang sangat menyeramkan."
Dia menghempaskan Elisa begitu saja ke tanah. Elisa masih menangis dan bergetar, dia sudah tak bisa memiliki kekuatan untuk berjalan. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membunuh orang ini.
Dia melempar pistolnya berdekatan dengan Barret-ku. Bodoh. Dia tak tahu itu adalah satu-satunya benda yang bisa mempertahankan nyawanya.
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya dan itu adalah pisau. Dia mendekatiku dengan perlahan dan mengarahkan pisau itu sembarangan menyayat udara.
Aku menggemeretukkan leherku sebelum maju. Ah, ini sudah sangat lama. Leherku bahkan berbunyi sempurna.
Aku tak perlu berlagak seperti orang berhati-hati karena Elisa yang seperti itu. Aku segera maju tanpa berpikir dan mengangkat kakiku tinggi menendang wajah sialan ini.
Lihat, dia limbung dan tak kan kubiarkan memiliki waktu untuk berpikir lagi. Aku dengan seketika memundurkan tubuh saat dia masih memiliki kekuatan untuk menggerakkan pisaunya ke arahku.
Dia tidak ahli.
Memalukan sekali.
Sekali lagi aku mendekat dan memukul wajahnya dengan sikuku dan diakhiri dengan menendang dadanya. Dia terhempas dengan sangat keras.
Kesempatan itu aku gunakan untuk mengarahkan tangannya yang masing menggenggam pisau untuk menikam dirinya sendiri dalam posisi terbaring. Sial, darahnya kembali mengotori baju dan wajahku.
__ADS_1
Elisa berteriak sangat kencang melihat itu semua. Dia bergetar melebihi sebelumnya. Maafkan aku, kau harus melihat aku seperti ini.
Emosi masih melingkupiku ketika bajingan yang tertikam ini masih bisa tertawa.
Aku segera bangkit dari posisiku dan mengambil pistolnya yang tergeletak tak jauh dan menembakkan seluruh peluru-nya sampai habis ke wajahnya.
Mayat ini bahkan sudah tak memiliki wajah yang utuh. Aku meludahinya karena saking muak dengan orang ini.
Aku segera menggendong Elisa yang masih bergetar dan mencium kepalanya. Dia mencengkram kaos-ku dengan sangat kuat. Aku membawanya duduk di atas pangkuanku untuk menenangkannya.
"Elisa, kau sekarang tak apa-apa. Tenanglah, kita hari ini akan pulang ke istana Zach. Tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan."
"Kau—" Suaranya bergetar.
"—Bagaimana bisa semudah itu? Mereka ... mereka mati."
"Aku tahu ... Maafkan aku jika kau harus melihat ini semua. Maafkan aku."
...***...
One hours later ...
Parker's Palace, Waltham Forest (London Raya), UK – 11.58 pm.
Kami telah sampai di kediaman Zach, namun aku masih belum masuk karena menunggu petugas keamanan melapor kepada Zach.
Saat menunggu, kepalaku pusing karena bau darah yang melekat di bajuku. Aku akhirnya membuka kaos-ku dan masih tetap menunggu di pintu gerbang yang tinggi ini.
Tak lama setelahnya, terdengar teriakan dari dalam gerbang, seseorang berlari menghampiri mobilku.
"Leon! Leon, kau tak apa? Bagaimana dengan Elisa?"
Itu Dereck. Dia terlihat panik. Dia bahkan berkeringat.
"Elisa tertidur. Dia sepertinya sangat terkejut."
"Masuklah ke mobilku. Aku akan membawa kalian ke mension Timur. Zach telah menunggu kalian."
Aku segera keluar dari mobilku dan membawa Elisa bersamaku menuju mobil Dereck. Mobil ini bergerak dengan sangat perlahan dan Dereck tak berniat bertanya lebih lanjut. Dia melemparkan tisu basah kepadaku.
"Sisi wajah dan tanganmu penuh dengan percikan darah."
"Itulah yang membuatku melepaskan kaos. Sial, kepalaku pusing karena darah ini."
Saat aku sampai ke mension Timur, Zach menyambutku di ruang tamu. Dia hanya duduk tenang saat melihat aku membawa Elisa masuk ke dalam salah satu kamar. Aku menyuruh pelayan wanita untuk membersihkan tubuhnya karena ada sedikit darah bekas sentuhanku.
Aku menghampiri Zach dan ... Tuan Amstrong? Dia datang ke sini malam ini. Dia tentu panik dengan anaknya, tapi dia sangat pintar menyembunyikan kepanikannya itu.
"Di mana?" Pertanyaan Zach yang pertama.
"Di kawasan hutan lindung perbatasan luar Greenwich Selatan. Satu mobil dengan empat orang. Semuanya tewas."
Zach dan Tuan Amstrong dengan seketika memijit kepala masing-masing. Aku melanjutkan lagi penjelasanku.
"Elisa sedikit panik melihatku membunuh mereka. Dia sempat tertangkap tapi tak ada yang terluka. Tak ada informasi penting apa pun yang mereka berikan, bersih hanya untuk menyandera Elisa dan sepertinya—"
"Terima kasih."
Itulah yang dikatakan Tuan Amstrong. Kepanikannya baru terlihat. Dia sama seperti seorang yang akan hancur jika ditinggalkan orang yang paling dia cintai.
Aku hanya menundukkan kepalaku dan memijit telapak tanganku. Pertama kalinya aku benar-benar mendapatkan rasa terima kasih yang tulus dari seseorang.
"Tinggallah di sini lebih lama hingga Elisa lebih baik."
Aku melirik Zach yang tiba-tiba memberikan kata-kata yang tak biasa.
"Aku tak bisa. Aku harus segera ke Las Vegas."
Aku menatap nanar ke arah Zach. Zach tak kan berani mengomentari ini semua karena dia juga tak pernah mengambil keputasan yang benar-benar tepat untuk melindungi posisinya.
Aku tahu, sejak awal dia akan menahanku untuk terus menjaga Elisa karena musuh sudah mulai bergerak. Aku tak bisa diam ketika melihat banyak orang memburu Elisa.
Seperti yang dikatakan bajingan yang kubunuh sebelumya, Zach tak kan mengotori tangannya karena dia selalu ingin berada di zona abu-abu. Maka jalan satu-satunya hanya aku. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Elisa.
"Adakah yang kau butuhkan agar aku bisa membalas ini semua?"
Tuan Amstrong memberikan pertanyaan yang sebenarnya sangat menyiksaku. Dengan menghembuskan napas kasar, aku menjawab, "Bukan untukku, tapi untuk Elisa. Aku ingin dia dilindungi oleh para agen, bukan para bodyguard biasa."
"Tentu, itu akan kulakukan."
Aku tersenyum kepadanya sebelum meninggalkan mereka untuk kembali menuju kamar di mana Elisa berada. Dia masih belum sadar.
Aku mengecek handphone yang ada di atas meja. Dia memakai foto kami berdua sebagai wallpaper handphone-nya. Aku menghampirinya yang masih belum tersadar dan mengecup dahinya.
"Aku akan cepat kembali."
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...