
Parker’s Palace, Waltham Forest (London Raya), UK - 10.17 am.
“Hey! Mau kemana kau?!” Aku mengacuhkan pertanyaan berupa teriakan di belakang sana. Dengan langkah lebar aku terus berjalan tanpa berniat menunggu pria berisik itu. Bagaimana bisa ketika sudah di istana ini aku bahkan tak bisa leluasa pergi ke setiap sudat yang kusuka. Zach keterlaluan.
“Apa kau tuli?! Aku sedang bertanya kepadamu. Jawab pertanyaanku jika kau punya mulut, Nona.” Aku menghentikan acara berjalan cepatku. Apa aku salah dengar? Dia ‘menyuruhku’? Yang benar saja. Kurasa semua orang sudah gila. Sekarang pria ini berani memerintahku.
Aku membalikkan badanku dan menatap tajam ke arahnya. Siapa dia, aku lupa. Ah ya, Leon. Orang stress yang menembak pot bunga tak bersalah sambil tersenyum. Point kekurangan kedua sudah kudapatkan darinya yaitu bibirnya yang tajam sangat tak sopan.
“Tarik kata-katamu.” Aku mengatakannya sambil menyentuh dadanya dengan jari telunjukku. Wajahnya yang menampakkan ketidaksukaan jelas terlihat namun tak mengurangi ketampanannya sedikit pun.
“Apa yang kau lakukan?” Dia malah balik bertanya. Tiba-tiba tangannya mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat. Ini sakit sekali, dia sangat kasar kepada wanita. Kalimat selanjutnya yang keluar dari bibirnya berhasil membuatku tercengang.
“Berhentilah, jangan menyentuhku seperti itu.”
Oh ya Lord, siapa juga yang ingin menyentuhnya. Lagi pula, apa dia ada semacam ketakutan dengan wanita. Begitu tak sukanya dia saat aku melakukan ini. Apa dia ‘gay’? Zach memang brengsek, dia memberikanku sampah seperti ini untuk menjagaku.
Aku menghentakkan tanganku dengan kuat agar terlepas darinya. Sembari memegang pergelangan tanganku yang sudah berbekas cengkramannya, aku masih menatap sinis ke arahnya. Dia bahkan tak berusaha meminta maaf dan hanya menatap nanar ke tanganku.
“Aku tak butuh kau temani. Urusi urusanmu, aku tak kan ke mana-mana dan tak kan menyusahkanmu.” Setelah mengatakannya aku langsung kembali berbalik dan meninggalkannya. Tak ada waktu untuk berkelahi dengan seorang gay. Itu akan membuatku lebih rendah daripada dia.
Namun tak lama setelahnya aku tersandung. Ini memalukan sekaligus menyakitkan. Sial, heel sepatuku patah. Leon yang melihatku seperti itu dengan cepat mengahampiri dan memegang pergelangan kakiku. Dia terlihat memeriksa cidera yang dialami kakiku.
Entah datang dari mana pikiran tak suka muncul dan mengusik harga diriku. Dengan cepat aku menepis tangannya yang tengah memegang kakiku. Perbuatanku tanpa berpikir itu membuatku semakin meringis kesakitan di dalam hati. Leon ikut terkejut dengan apa yang kulakukan.
“Jangan memegangku, Brengsek! Menjauhlah. Aku tak apa.” Aku berusaha berdiri sendiri dan melepas sepatu high heel-ku. Dan dengan bodohnya aku melempar sepasang sepatuku tersebut ke taman bunga Zach yang indah. Dengan telanjang kaki aku berjalan seperti biasa mengabaikan sakit yang kurasakan. Aku kembali masuk ke dalam mension utama menuju kamarku dan meminta seorang pelayan membawakan kompres.
Aku membaringkan diriku di kasur yang empuk. Syukurlah Leon tak mengikutiku. Sial, hanya ingin mempertahankan harga diri, aku membiarkan kakiku lecet. Aku tak ingin meminta bantuannya. Dia pria yang kasar untuk menjadi seorang penjagaku. Aku akan meminta Zach menggantinya, mungkin wanita lebih baik.
Setelah menyuruh pelayan yang sudah mengompres kakiku keluar, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Zach? Aku mengabaikan panggilan tersebut. Tapi Zach yang menyebalkan masih saja mengganggu. Aku akhirnya memutuskan untuk menjawab.
“Hey, kenapa lama sekali?!” Suara bertanya Zach yang keras di ujung sana membuat telingaku sakit.
“Lagi pula mengapa kau menggangu waktu istirahatku? Aku baru saja ingin tidur, Zach.” Hembusan napas Zach yang kencang terdengar.
“Kau ingin tidur di jam segini? Kau sakit atau sedang marah denganku kali ini?” Aku memutar bola mataku seolah Zach akan melihatnya.
“Tidak, aku hanya ingin. Sudahlah, jika kau ingin menggangguku maka—“
“Pergilah ke mension Barat. Kau akan menemukan sesuatu yang menarik di sana. Leon akan menemanimu karena di sana sudah tak ada penjaga. Ya, mungkin hanya beberapa pelayan yang berlalu-lalang.”
Aku masih terdiam dengan penjelasan Zach. Ah, seandainya kakiku masih baik-baik saja mungkin aku sekarang akan pergi ke sana. Mungkin nanti.
“Elisa, kau masih di sana? Jawab aku, ayolah jangan membuatku khawatir. Aku malam ini tak kan pulang maka aku harus mengetahui keadaanmu. Leon tadi menghubungiku, dia mengatakan kau nampak sangat bosan.” Sial, kepalaku semakin pusing saat dia menyebut nama pria itu. Dasar seorang pengadu. Aku yakin dia melakukannya untuk mencegahku mengatakan perlakuannya kepadaku tadi.
“Mungkin nanti, aku hanya ingin istirahat sekarang, Zach. Aku tadi baru selesai makan dan sekarang aku mengantuk.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Yeah, sudahlah. Bye.” Setelah menutup panggilan sepihak, aku segera melempar handphone-ku sembarangan. Aku tak ingin diganggu dengan kekhawatiran Zach yang berlebihan. Cukup dengan mengatakan aku sudah makan dan baik-baik saja itu sudah cukup. Ya, walaupun itu berbohong.
Aku hanya membiarkan diriku terbaring dalam diam. Setelah jarum jam menunjukkan waktu makan siang, aku segera memanggil pelayan untuk membawakanku makanan. Aku tak ingin mengambil resiko bertemu dengan Leon kembali. Setelah menikmati waktu kebosananku akhirnya aku memutuskan menutup mata. Semoga saat aku terbangun kakiku sudah membaik.
...***...
Five hours later...
Aku terbangun dari tidurku dengan perut yang kelaparan. Saat aku mencoba bangkit dari kasur, kakiku masih sedikit sakit tapi sudah tak separah siang tadi. Sebelum turun ke meja makan, aku memutuskan untuk membersihkan tubuh. Berlama-mana di bath up membuatku tak sadar telah satu jam aku berendam.
Aku memutuskan hanya menggunakan baju kaos longgar dan hot pants. Tak ada yang akan melarangku melakukan hal yang kusuka selama aku masih sendiri di istana tua ini. Mungkin besok aku akan merengek kepada Zach untuk mengizinkanku keluar mension.
Makan malam seorang diri akan sangat membosankan. Yang benar saja, aku ke sini untuk menenangkan hatiku yang hancur. Zach yang menyebalkan menyarankan hal yang kurang tepat. Tapi perlu kuakui, sejauh ini pikiranku teralihkan dari Kyle akibat sibuk memikirkan hal menyebalkan yang ditawarkan istana Parker ini.
Tapi yang kudapatkan saat menuju meja makan berbeda. Leon sedang memainkan jari besarnya di atas handphone. Dia duduk diam di salah satu kursi di meja makan ini. Saat langkah kakiku terdengar mendekat, dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku duduk di kursi yang agak jauh darinya. Aku tak masalah dia ingin makan di meja makan ini. Dia memang semaunya bahkan dia tak tahu malu untuk makan di satu meja denganku.
Saat aku mulai makan dalam diam, dia juga melakukan hal yang sama. Keheningan menyelimuti ruang makan ini. Hanya ada bunyi pelayan yang mondar-mandir di dapur belakang sana yang terdengar. Dengan cepat aku menghabiskan makananku karena tak ingin belama-lama bersama Leon.
Saat aku ingin beranjak dari meja makan, tiba-tiba Leon mengatakan sesuatu yang membuatku kembali melihat ke arahnya. “Kau ingin mencoba berjalan-jalan ke mension Barat?”
Aku menatap sinis ke arahnya. Dia hanya membalas tatapanku dengan wajah dinginnya. Dia bahkan tak merasa terintimidasi denganku. Lihat saja matanya, laki-laki tetaplah laki-laki. Dari matanya bahkan aku tahu dia tengah menggerayangi tubuhku dengan tatapannya.
“Tidak, terima kasih. Aku ingin istirahat.” Aku segera berjalan dengan cepat menuju lantai dua di mana kamarku berada. Aku tak ingin dia menatapku seperti itu. Itu tatapan yang menjijikkan. Tunggu dulu, bukankah dia gay? Saat aku sudah di ujung tangga teratas, aku membalikkan badan mencoba melihat ke bawah. Dan perasaanku semakin takut tidak karuan. Aku melihat Leon menatapku dengan tatapan yang sama. Aku segera berlari dengan cepat ke kamarku dan menutup pintu itu dengan kencang hingga bantingannya terdengar keras.
“Hey, ada apa denganmu, Elisa? Apa yang terjadi, kenapa napasmu tidak teratur seperti itu?”
“Zach, kau yakin tak kan pulang malam ini? Kumohon pulanglah. Aku sangat tak nyaman Leon berada di sekitarku.” Keheningan di ujung sana membuatku semakin panik hingga akhirnya suara Zach kembali terdengar.
“Dia tak kan menyakitimu, Elisa. Dia baru saja menghubungiku, dia mengatakan kau sudah masuk ke kamarmu dan beristirahat. Dia juga sudah kembali ke mension Timur. Kau bisa beristirahat semaumu. Tenanglah, mengapa kau bisa sepanik ini?”
Mendengar penjelasan Zach membuatku sedikit tenang. Leon sudah kembali ke mension Timur. Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega.
“El—“
“Baiklah, maafkan aku. Aku hanya merindukanmu dan susah tidur. Berjanjilah kepadaku kau akan pulang besok. Bye.”
Aku mengakhiri panggilan tersebut tanpa meminta jawaban Zach. Berangsur-angsur otot-ototku melemas dan menginginkan kasur. Aku membaringkan diri dan memikirkan tingkah lakuku yang menggelikan. Bagaimana bisa aku takut dengan pengawalku sendiri? Bodoh.
Perlahan-lahan aku mencoba menutup mata untuk menenangkan segala saraf tubuhku.
Satu jam.
Dua jam.
__ADS_1
Tiga jam.
Aku kembali membuka mataku. Seketika aku menendang udara di balik selimutku. Aku kesal dengan diriku yang tak bisa tertidur dengan tenang. Ini akibat dari tidur siangku yang terlalu lama. Aku memutuskan untuk bangun dan mengecek jam. Sudah jam sepuluh lewat. Apa yang bisa kulakukan di jam segini. Tak ada orang lain yang bisa menemaniku mengobrol. Pelayan bahkan sudah terbaring di tempat tidurnya.
Aku membuka pintu kamarku dan turun ke lantai bawah dengan menentang sepatuku. Pertama aku menuju dapur untuk meminum air putih. Setelah aku mengikat tali sepatuku dengan kencang, aku megendap-endap dari dapur ke arah aula terbuka bagian dalam mension. Aku berencana mengunjungi mension Barat. Di saat seperti inilah aku bisa berjalan seorang diri dan tak perlu repot-repot untuk membangunkan banyak orang karena ulahku ini.
Perjalanan ke mension Barat tidak membutuhkan waktu banyak karena jaraknya kurasa sama seperti mension Timur. Aku cukup berjalan ke arah yang berlawanan dari tempat yang kukunjungi tadi pagi.
Aku mendapat cerita dari para pelayan bahwa mension Barat sangat indah. Mension Barat adalah tempat yang dulu pernah menjadi kediaman istri Zach. Kudengar hanya beberapa kali dipakai untuknya istirahat, namun dia sudah membawa perubahan yang berarti. Dia mengubah bagian yang paling tua dari istana ini menjadi bangunan yang paling bersinar. Zach tak pernah membiarkan tamunya menyentuh bagian barat.
Benar. Mension ini jauh berbeda dengan mension lainnya. Taman bunga yang menjadi pendamping sepanjang jalan membuatku seperti masuk ke dalam dunia dongeng. Bunyi riak air? Dimana? Aku terus menyusuri jalan hingga sampai ke bagian halaman mension yang sangat indah. Sayangnya mension ini gelap sekali. Dari pelayan, aku mengetahui bahwa mension ini hanya dibersihkan setiap hari tanpa seorang pun pelayan ingin tidur di sini.
Aku tak bisa membangunkan pelayan untuk membuka mension ini sehingga aku cukup puas untuk beralih ke belakang mension. Dan selanjutnya yang kutemukan lebih memukau. Suara riak air yang kudengar tadi adalah sungai yang menjadi pembatas halaman belakang mension dengan perkebunan anggur. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat dengan jelas ada menara yang lampunya bersinar terang. Sepertinya ada penjaga yang mengawasi kebun anggur ini.
Pemandangan di ujung sebrang sana membuatku tergiur untuk melihat lebih jauh. Dengan bodohnya aku mencoba mencelupkan sepatuku ke dalam sungai dangkal tersebut.
“Ah, shit …” Aku mengumpat begitu keras saat merasakan air dingin menyentuh kakiku. Air merendam sepatuku hingga sebatas lutut. Aku membiarkan sepatuku basah daripada membuat kakiku lecet karena batu sungai yang akan melukaiku jika aku melepaskan sepatu. Setelah berada di tengah-tengah sungai, aku mendengar bunyi suara asing dari arah belakang.
Dengan cepat aku melihat ke arah belakang. Samar-samar aku bisa melihat ada tubuh tinggi tak bergerak dan sosok itu baru saja masuk ke dalam sungai. Jantungku tiba-tiba berdetak semakin kencang. Sepertinya dia juga berhati-hati agar aku tidak mengetahui keberadaannya. Itu terlihat ketika dia berhenti bergerak saat sadar aku sudah tak berjalan.
Mataku terbelalak saat melihat sosok itu mengeluarkan pisau dari balik punggungnya. Dengan jelas aku bisa melihatnya membalikkan posisi pisaunya seperti siap untuk menikam. Dia berjalan perlahan dalam riak air menyembunyikan suara langkahnya.
Seketika aku mendapatkan kekuatan untuk berlari dalam kegelapan. Suara langkah kakiku tak tertahankan karena menerobos riak air sehingga suara percikannya semakin kencang. Dan aku merasakan sosok di belakangku juga semakin mendekat. Saat aku hampir saja menyentuh tepian sungai tiba-tiba baju bagian belakangku tertarik oleh sosok itu. Seketika tubuhku terbalik dan terhempas ke tepian sungai dengan posisi punggungku jatuh ke tanah dan kakiku masih di air. Sedangkan sosok itu telah mencapai tepian sungai.
Hal selanjutnya membuatku sangat kaget. Dia langsung mencekik leherku dengan keras dan menikam pisau itu tepat di samping wajahku. Aku merasakan ada sedikit rambutku terpotong akibat tancapan pisau itu. Aku berusaha bernapas dengan susah payah dan mencoba melepaskan cekikan di leherku. Air mataku tak tertahankan. Dengan kesadaran yang masih ada, aku berusaha berbicara.
“To … long ... Lepas … kan.” Seketika cekikan kuat di leherku terlepas. Dengan cepat aku meraup udara sebanyak-banyaknya. Aku berusaha bangkit untuk duduk. Aku terbatuk-batuk tak karuan bersama dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
“Elisa?” Aku mendengar suara sosok tersebut. Dia mengenalku.
“Itu kau?” Aku merasakan tangannya bergetar menyentuh pipiku. Dia ketakutan. Sedangkan aku masih menundukkan kepala dan mengatur napasku yang masih tak karuan. Aku masih belum bisa memastikan siapa yang melakukan hal kejam ini kepadaku.
“Elisa, maafkan aku. Ini aku Leon. Kukira tadi—“ Sontak saat tahu yang melakukan itu adalah Leon, aku segera menepis tangannya di wajahku dan dengan kekuatan yang masih tersisa aku menamparnya. Bagaimana bisa dia telah menyakitiku separah ini?
Emosi yang semakin besar kurasakan membuat air mataku terus mengalir. Aku terisak sembari memukul dadaku yang terasa semakin sesak. Kepalaku menjadi pusing, aku tak bisa merasakan semuanya dengan jelas. Hening. Gelap. Dingin. Dan dengan seketika tubuhku ambruk ke tanah.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...