
Amstrong Company, City of London, UK – 11.42 am.
Perasaan dongkol masih menyelimutiku karena menemukan Elisa yang begitu terbuka dengan Kyle, laki-laki yang sangat dia idamkan sebelumnya. Yang benar saja, aku harus menerima kenyataan ini.
Aku masih mengabaikan Elisa saat dering handphone-ku berbunyi. Aku mengerutkan dahi saat melihat siapa yang menelponku. Lucy? Sangat jarang sekali dia menghubungiku.
Seketika aku mengangkat panggilan tersebut dan sebelumnya aku mengisyaratkan kepada Elisa untuk diam.
"Katakan!"
'Jadi kira-kira kapan dua bocah tersebut akan pulang? Apa dia menginap di tempatmu?'
Sudah kukira akan seperti ini, tidak hanya aku tetapi semua orang di keluargaku akan sangat protektif terhadap Luxy dan Edward.
"Ya, dia di penthouse-ku, ada apa?"
'Informasi saja kalau Ayah menginginkan kita semua berkumpul.'
Memangnya ada urusan apa hingga harus berkumpul segala. Sangat jarang sekali pak Tua itu ingin membuat acara keluarga dengan mengumpulkan semua orang.
"Aku sedang dalam pekerjaan. Katakan saja aku tak ikut, mungkin Luxy dan Edward akan segera pulang beberapa hari lagi. Mereka tak lama di sini."
'Ya... ya... ya... Aku tak menjamin Ayah akan menerima alasan itu. Ah ya, kami semua sudah mengetahuinya. Apa benar kau tengah berkencan dengan sepupu Zach, keluarga Amstrong? Oh sial, aku tak percaya ini. Jangan tanya kami tahu dari mana, si Kutu Komputer datang-datang sudah mengoceh tentangnya dan Ayah juga sudah tahu itu. Dia juga menginginkan wanita itu kau bawa-'
Awalnya aku masa bodoh dengan ocehan Lucy, dia memang sangat mirip dengan Luxy yang sering mengoceh. Namun, mood-ku seketika turun saat dia menceritakan Elisa dan tentunya dengan keinginan Ayahku untuk bertemu Elisa.
Aku tidak menyukai keadaan seperti ini. Keluargaku sangat jarang sekali mencampuri urusan pribadiku, terutama dengan wanita. Dan mengapa tiba-tiba mereka ingin tahu, ditambah lagi dengan Ayah yang juga terlalu ikut campur dalam hal ini.
Dengan perasaan yang jengkel, aku memotong ocehan Lucy dan berkata, "Aku tak menjamin akan membawanya apa tidak. Tapi aku akan pulang bersama Luxy, katakan saja kepadanya jangan sekali-kali mengirim orang tak berguna untuk menembaki anaknya sendiri!" Seketika aku mematikan panggilan tersebut.
Rasa jengkelku berakhir ketika Elisa terlihat sangat khawatir. Kejengkelanku menguap karena ada dia di sampingku. Entah mengapa begitu cepat suasana hatiku berubah ketika dihadapkan dengan Elisa. Ini benar-benar ajaib. Bahkan aku begitu cepat melupakan hal tadi dan malah tergantikan dengan gelak tawa.
Namun tentu aku tak bisa melupakan hal itu sepenuhnya. Aku memutuskan untuk sejenak meninggalkan Elisa, aku memberikan kepercayaan penjagaan Elisa kepada Dereck dan para agen. Aku hanya tak ingin mengganggu fokusnya saat bekerja sehingga aku hanya memberitahukan hal itu kepada Dereck.
Untuk mempersingkat waktu, aku memutuskan untuk menghubungi Luxy agar bersiap-siap pulang ke Jerman. Kami berencana pulang langsung hari ini. Awalnya kami ingin menggunakan penerbangan biasa, namun Ayah sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk kami dan aku tak bisa menolak itu jika tak ingin menerima kemarahan Ayah.
Dan sialnya aku kembali marah dengan para suruhan Ayah di pesawat ini. Ayah sengaja melengkapi teknologi yang ketat dalam jaringan sehingga akses handphone kami dibatasi dan hanya bisa diakses jika disetujui oleh sistem pesawat. Kuyakin si Kutu Komputer berhasil menjual sistem ini kepada Ayah. Lihat saja nanti, aku akan mengobrak-abrik barang tak bergunanya saat di rumah.
...***...
One day later...
Bavarian Forest, Bavaria, Germany - 04.15 pm.
Edward masih enggan bangun dari dekapanku saat kami berhasil memasuki kawasan hutan yang akan berujung pada rumah tersembunyi keluarga kami. Hampir sama seperti istana Zach yang cukup tersembunyi, yang membedakannya hanya bangunan rumah kecil kami. Lebih parahnya, di sepanjang jalan akan ada orang-orang aneh yang bersembunyi yang dilengkapi dengan persenjataan yang gila dan siap untuk menembaki siapapun yang tidak mereka kenal.
Saat kami telah sampai di depan rumah sederhana pak Tua Broklyn, aku segera membangunkan Luxy yang sama tertidur nyenyak seperti Edward. Astaga lihatlah wanita ini, di sepanjang tidurnya dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan bahkan rambutnya acak-acakan menutupi wajahnya.
Aku meregangkan lenganku dan menggoyang-goyangkannya dengan kasar hingga kepala Luxy terhentak. Dia akhirnya bangun dan mengeluh kesakitan, "Aduh, sakit sekali!"
Dia mengusap kepalanya sambil menatap sinis kepadaku. Aku memutar bola mataku sambil mengatakan, "Kita sudah sampai, usap wajah bantalmu itu. Tak tahukah kau sejak di perjalanan aku terus menggendong Edward dan kau malah menambah bebanku."
"Cih, terlalu berlebihan." Dia mengatakan itu sambil keluar begitu saja. Lihat saja dia bahkan melupakan Edward.
Baru saja keluar dari mobil, teriakan Lucy sudah terdengar hingga telingaku, "Luxy mana Edward?!"
Luxy yang baru ingat langsung melihat ke arahku yang sedang menuju mereka. Lucy yang awalnya ingin mengoceh di depan Luxy akhirnya berteriak kegirangan melihat Edward yang di gendonganku terbangun mengusap matanya.
__ADS_1
"Ya ampun Edward kita bertemu lagi! Lihatlah kau begitu menggemaskan. Kemarilah, bibi akan menggendongmu."
Saat aku ingin memindahkan Edward ke rengkuhan Lucy, tiba-tiba dari arah belakangku cecunguk sialan yang paling menyebalkan merebut Edward.
"Dia keponakan, bukan keponakanmu." Ya dia adalah Greg. Lucy yang tak terima Edward dibawa lari oleh Greg ke dalam rumah segera berlari mengejar.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah kekanak-kanakan mereka. Aku dan Luxy segera menyusul mereka masuk ke dalam. Sambil berjalan aku perlahan mengusap kepala Luxy dan berkata, "Lihatlah
Edward begitu dicintai banyak orang, tidakkah kau bahagia dengan hanya memilikinya."
Aku tahu dia mendengar apa yang kuucapkan, tapi dia enggan berkomentar apapun. Aku melihat masih ada jiwa perempuannya yang rapuh saat menatap Edward, padahal ini sudah lama sekali tapi dia masih belum melupakan pria itu.
Saat memasuki rumah, kami tak melihat Ayah dan Ibu, hingga kami memasuki pekarangan belakang rumah baru kami melihat mereka sedang menyiapkan makanan. Ibu yang baru saja meletakkan beberapa piring di meja seketika sumringah saat kami datang, "Ya ampun anakku, akhirnya kalian pulang."
Dia mengecupi muka Luxy hingga membuat bekas lipstick-nya tertinggal. Aku yang terkekeh melihat tingkah Ibuku, tak menyangka dia juga akan melakukan hal yang sama terhadapku.
"Bu sudahlah, ini memalukan." Mendengar apa yang kukatakan seketika Ibu mencubitku di perut.
"Buuu, ini sakit. Ya ampun apa semua wanita suka melakukan hal ini!"
"Kau saja yang menyebalkan, tidakkah kau hitung sudah berapa lama kau tak pulang, hah! Ah ya ampun kukira aku sudah melupakan mukamu."
Mendengar Ibuku yang mengoceh akhirnya aku mengecup pipinya agar dia tak banyak berulah. Saat aku melirik ke belakang punggung Ibuku, aku melihat dua pria kaku yang tidak saling berinteraksi. Ya, itu Kendrick suami Lucy yang menjelma jadi tukang panggang daging dan Ayahku yang jadi tukang panggang jagung. Mereka bersebelahan tapi tidak mengobrol sama sekali.
Saat semuanya sudah siap, baru saja aku ingin duduk di sebelah Ayah, hal yang menyebalkan kembali terjadi. Ayah gila-ku mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke kepalaku sambil berkata, "Dimana Edward kau tinggalkan?"
"Yang benar saja kau menodongkan senjata saat kita ingin makan bersama?" Semua orang di atas meja sini terlihat muak dengan tingkah Ayahku yang selalu emosi jika bertemu denganku.
"Sudahlah yah, Edward bersama Greg, kurasa dia sedang mendoktrin Edward dengan barang-barang anehnya," celoteh Luxy.
Ayahku menurunkan senjatanya dan berkata, "Panggil mereka, ini waktunya makan."
"Greg, turunlah bersama Edward jika tidak ingin membuat Ayah menghancurkan meja makan ini!"
Kendrick yang mendengar istrinya berteriak seperti itu seketika terkekeh, namun setelahnya terdiam saat istrinya yang sedang dalam masa sensitif berkata, "Ada apa denganmu, memangnya ada yang lucu?"
Gelak tawaku dan Luxy terdengar sangat kencang melihat apa yang dikatakan Lucy, sedangkan Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kami yang selalu ribut saat di meja makan. Tak lama setelahnya, Greg berlari dengan menggendong Edward yang terlihat sangat bersemangat ingin makan.
Kami akhirnya menghabiskan waktu bersama yang sudah sangat lama tidak kami lakukan. Setelah makan, segala hal yang berantakan segera dibereskan oleh para wanita, sedangkan Ayah mengajakku, Greg, dan Kendrick untuk ke ruangannya.
Kami yang terlihat tidak begitu antusias dengan ajakan Ayah hanya menurut saja. Baru saja aku mendudukkan diri, Ayah sudah bertanya, "Jadi kau mendekati keluarga Amstrong?"
"Apa masalahnya?"
Dia hanya menatapku sinis, dan aku melanjutkan, "Lantas untuk apa dua cecunguk ini di sini jika hanya ingin menanyaiku?"
"Aku dengar kau pergi ke pelelangan Wenzel dan entah dari mana aku mendapatkan kabar mereka mengincar keluarga Amstrong, apapun masalahnya tak ada jaminan jika mereka tak bisa menyentuh kita?"
Alis matanya naik dan itu menandakan dia tak suka dengan apa yang kulakukan dengan membuat orang-orang asing mengalihkan perhatiannya padaku, ya keluargaku tentu akan mendapatkan sedikit ancaman.
"Kau sudah tahu semuanya." Aku bisa apa jika itu terjadi.
Ayahku melirik kepada Kendrick, "Kau memiliki hubungan yang dekat dengan Wenzel, aku tidak memintamu tapi menyuruhmu untuk menegaskan kepadanya jangan sekali-kali menyentuh keluarga ini, aku tahu ini bukan salahnya tapi akibat pelelangannya keluargaku akan menjadi incaran banyak orang. Dan kau tahu bahwa kau juga termasuk dalam keluarga ini."
Setelahnya Ayah melirik Greg yang dari tadi terlihat masa bodoh dengan membaca buku tak jelas, "Dan kau cecunguk sialan, berhentilah berulah jika tak ingin kuhanguskan segala properti yang kau miliki, jangan kira aku tak tahu apa yang kau kerjakan."
Dia mengatakan itu semua dengan sangat cepat tanpa membuat kami bisa membela diri. Dia bahkan mengakhirnya dengan cepat, "Aku sudah selesai dan kalian bisa keluar."
__ADS_1
Kami hanya menurut tanpa ingin memperdebatkan hal tersebut. Saat kami keluar, aku mendengar gerutuan Kendrick, "Sial, kenapa aku juga harus ikut disalahkan."
Gerutuannya itu disambut oleh Greg, "Kau tanya saja pada biang masalahnya."
Aku yang tak terima dengan apa yang mereka katakan segera memukul kepala mereka dengan tangan kosong dan berlalu begitu saja. Aku tahu dua pria yang sudah lama di keluargaku sangat membuatku emosi apalagi bertambah lagi satu orang. Ya, kamilah keluarga Broklyn. Ayahku adalah salah satu pimpinan underground yang cukup disegani sebelum dia meninggalkan itu semua karena sudah memiliki kami.
Dan tentu saja hampir semua orang yang ada di dunia tersebut tahu. Sayangnya tak ada yang tahu jika dia memiliki anak. Tak ada dari kami yang memakai nama Broklyn. Yang mengetahui latar belakang kami hanya orang yang setia sampai mati bekerja melindungi keluarga ini. Kurasa hanya orang-orang tertentu yang menyadari kami adalah keturunan pak Tua ini. Hanya satu orang yang membuatku curiga, dari mana Wenzel mengetahui identitasku?
...***...
One week later...
Broklyn's House, Bavarian Forest (Bavaria), Germany - 11.02 pm.
Sudah seminggu aku menghabiskan waktu di Jerman, dan itu sungguh menyiksaku karena tak bertemu dengan Elisa. Sialnya aku tertahan karena kerinduan dari Ibuku yang menginginkan kami berkumpul selama satu minggu. Dan yang paling menyebalkan dari semuanya tentu Greg, dia mematikan akses jaringan komunikasi di area sini dan hanya membukanya di saat malam hari.
Ini membuatku frustasi karena hanya bisa mengirim pesan kepada Elisa di malam hari dan harus menunggu balasannya lagi besok. Memang tak banyak yang bisa kulakukan di sini selain bercengkerama dengan keluargaku, tapi dibalik itu semua aku mendapatkan tanda bahwa ini bukan hanya perkumpulan keluarga kecilku. Tapi ini adalah peringatan dari Ayahku jika keluarga ini mungkin akan tidak baik-baik saja setelah aku mengikuti pelelangan itu.
Hari ini adalah hari terakhirku di sini. Malam ini aku berkesempatan untuk menyelinap ke kamar Greg. Saat aku memasuki kamarnya, aku cukup kagum karena ini terlihat sangat tak masuk akal. Cecunguk ini memang sangat gila dengan teknologi, lihatlah entah barang apa lagi yang akan diciptakannya di dalam sini. Kurasa Ayah memang selalu menuruti kemauan anak bungsunya.
Aku menghidupkan komputer Greg dan mengobrak-abrik jaringan komunikasi agar bisa mengirim pesan ke Elisa. Aku juga memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada eksekutor dari pelelangan yang sudah menjadi bawahanku melalui handphone khusus-ku.
'Kirimkan informasi apa saja yang mencurigakan dari beberapa petinggi mafia yang sedang mengincar keluarga Amstrong.'
Aku melihat dengan jelas kalau pesan itu sudah terkirim tapi masih belum ada respon apapun. Aku akhirnya iseng memutuskan untuk memakai kesempatan yang tidak biasa ini untuk mencoba melacak lokasi dari nomor tersebut. Dan yang kutemukan malah membuatku tak habis pikir, ini sangat gila.
Bagaimana bisa lokasi sinyalnya persis berada di 20 km di luar jalanan rumahku? Bagaimana bisa? Siapa orang ini? Tiba-tiba titik lokasi sinyal tersebut berkedip beberapa kali, hal tersebut membuatku cukup panik. Apa orang itu mengetahui aku tengah melacaknya? Aku segera menutup akses jaringan komunikasi komputer Greg agar dia tidak tahu posisi pastiku di sini.
Dan yang membuat dadaku semakin sakit yaitu saat Greg tiba-tiba masuk ke kamar ini, "Sial, apa yang kau lakukan di kamarku?" Dia yang tengah memegang minuman bersoda di tangannya terlihat tak suka dengan keberadaanku.
Aku yang terlihat masa bodoh beranjak dari duduk dan melewatinya, "Hanya mengecek sampah-sampah yang tidak berguna di kamarmu."
"Bukan kamarku yang harus kau cek, tapi kekasihmu. Kau cek sendiri apa kekasihmu di sana baik-baik saja."
...***...
One day later...
Amstrong's Mension, Newcastle (Tyle and Wear), UK - 01.05 am.
Dan benar saja apa yang dikatakan Greg kemarin. Saat aku perlahan diam-diam menyelinap ke kamar Elisa melalui jendela, aku melihat Elisa yang tidak tenang dalam tidurnya. Dia mengigau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak... jangan... siapa kau?"
Saat aku ingin memegang tangannya ternyata hal itu segera membuatnya tersadar dari tidurnya dengan ekspresi yang tidak biasa. Elisa membelalakkan mata, dia sangat terlihat panik, dan keringat memenuhi wajahnya.
"Elisa... tenanglah ini aku."
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...
...•••...