
Parker Grand Hotel, City of London, UK – 10.21 pm.
"Jika kau ingin masuk, maka cepatlah. Jika tidak, maka biarkan pintu lift ini tertutup." Sial, kenapa dia harus muncul saat ini. Aku tak menyangka dia akan hadir di acara ini.
Leon memasuki lift dengan perlahan. Aku masih menahan tombol lift karena di belakang sana sepertinya ada sepasang kekasih yang ingin masuk. Namun, usahaku sia-sia saja.
"Maaf, apakah kalian bisa masuk lift lainnya? Kami membutuhkan sedikit privasi saat ini." Pasangan di depan lift ini terlihat kebingungan sesaat.
"Ah, aku mengerti maksudmu, Dude. Kalian harus menyelesaikannya dengan cepat, sebelum orang lain mengetahuinya. Jangan terlalu kasar dengan wanitamu."
Pria yang merangkul wanitanya tersebut seketika mengerlingkan satu matanya sebelum beranjak pergi. Samar-samar aku mendengar mereka berbincang dan baru menyadari yang sedang mereka ejek tadi adalah bintang utama acara hari ini.
Setelah pintu lift tertutup, aku menyandarkan punggungku di sisi lift. Kami dalam jarak yang cukup jauh di kotak sempit ini untuk dua orang yang saling mengenal. Aku menutup mataku enggan menatap apa pun yang berhubungan dengan pria ini.
"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" Haruskah aku menjawab pertanyaan ini? Tidak. Aku mempunyai hak untuk diam saat ini.
Aku merasakan lift ini berhenti di suatu lantai. Tapi kemudian kembali bergerak. Apa dia sudah keluar? Saat aku membuka mataku, betapa terkejutnya aku saat melihat Leon begitu dekat denganku. Dia di hadapanku. Aku hanya bisa menatap lehernya yang sejajar dengan wajahku. Perlahan aku menaikkan pandanganku ke matanya.
"Aku sangat tidak suka diabaikan, Elisa." Aku menegakkan punggungku.
"Kau tahu jawabannya, Leon. Kau bisa melihatnya. Haruskah aku membuang tenagaku untuk menjelaskannya?"
Seperti biasa dia hanya memandangku dalam diam dengan wajah tak sukanya. Dia tak harus melakukan ini. Aku sudah lelah.
"Aku tak mempercayai apa pun yang kulihat sebelum semuanya keluar dari mulutmu."
"Omong kosong."
Aku kembali mengabaikannya dan menutup mataku. Aku tak bisa bernapas dengan tenang ketika menyadari dia begitu dekat.
"Kau puas dengan pertunjukkanmu tadi? Sangat mengesankan. Tuan putri kembali mendapatkan pangerannya. Apakah harus menunggu hingga jam 12 malam sebelum mantranya hilang? Sangat lucu sekali jika itu terjadi."
Dia memancingku. Apa sebenarnya yang dia inginkan?
Aku membuka mataku dan tak lagi melihat sosok Leon di hadapanku. Aku melihat ke samping dan menatapnya yang juga tengah melakukan hal yang sama.
"Ya, aku menikmatinya. Aku sangat mengharapkan kenyataan ini lebih dari yang kau pikirkan. Tak ada yang salah dengan kami berdua, bukankah kami pasangan yang luar biasa?"
Aku mengakhirinya dengan senyum simetris. Saat ini aku berada dalam kepercayaan diri yang tinggi jika di hadapannya, walaupun yang kukatakan bohong. Dan ...
Gotcha!!!
Aku berhasil mengeluarkan ekspresi itu dari sosoknya yang selalu tenang. Bukankah kau merasakan hal yang menyakitkan, Leon? Persetan dengan wanita dan anak laki-laki yang kau bawa hari ini. Aku tak kan ambil pusing. Hatiku sudah terlalu sakit karenamu.
Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Lift terus bergerak menuju ke lantai berapa pun yang dia mau. Aku tak ingin terus menatap matanya yang menyiratkan aura menyeramkan. Dia seakan ingin mencekikku saat ini. Tapi bukankah dia sudah sering memikirkan hal itu?
"Tidak ada masalah yang harus dibicarakan antara kita, Leon. Cobalah untuk memahami situasi dengan lebih baik. Aku tak mengerti kau ingin membawa pembicaraan ini ke mana. Kau sudah memiliki seorang wanita dan anak yang harus kau jaga. Lantas untuk apa—"
"Kau masalahku."
Dia memotong ucapanku dan seketika memerangkapku dengan tubuhnya yang besar. Kembali seperti ini. Aku benci dihadapkan dengan situasi seperti ini. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke sisi wajahku.
Dia membisikkan sesuatu di dekat telingaku, "Itulah mengapa aku lebih mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut seseorang daripada penglihatanku. Seharusnya kau juga seperti itu."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
Dia memosisikan wajahnya sejajar dengan wajahku. Dia terlihat lebih brengsek ketika mengeluarkan senyum liciknya. Dan bodohnya aku masih terpedaya dengan wajah bajingan ini.
"Aku menginginkanmu." Aku membencimu, Leon. Dan aku juga membenci diriku sendiri.
"Aku tak membutuhkan omong kosongmu! Aku bukan jalang—" Tiba-tiba dia mencium bibirku dengan sangat kasar. Sial, dia memperlakukanku seperti jalangnya? Tak ada kelembutan di setiap tindakannya.
Aku memukul-mukul dadanya dan saat itu juga dia mencengkram tanganku dan menempelkannya ke dinding lift ini. Aku mendengar pintu lift terbuka, "Sial, apa tidak ada tempat yang lebih baik untuk bercinta selain di lift!!!"
Aku mendengar sumpah serapah seseorang yang tengah menyaksikan kami. Karena tubuh Leon yang besar, orang tersebut tak menyadari aku yang sedang meronta-ronta ingin terlepas.
Setelah pintu lift tertutup kembali, Leon merenggangkan cengkramannya pada tanganku. Aku mengambil kesempatan itu untuk menarik tanganku kembali. Saat itulah aku berhasil melayangkan satu tamparan keras di pipinya.
Aku melihat dengan jelas sisi wajah Leon yang memerah. Entah karena tamparan itu, atau karena amarahnya yang memuncak. Aku dengan segera menghapus bekas ciuman itu yang sebenarnya hanya sia-sia saja. Bahkan lipstikku ikut pudar karena aku mengusap kasar bibirku.
"Aku bukan jalangmu, Brengsek!!!"
__ADS_1
"Bagaimana denganmu yang membuka diri untuk pria yang jelas-jelas belum tentu menginginkanmu?!"
"Masa bodoh! Aku mencintainya dan sampai kapan pun aku akan terus mencintainya!"
Saat teriakanku berakhir, Leon tiba-tiba memukul dinding lift tepat di samping kepalaku dengan sangat keras. Aku bahkan sangat takut setengah mati saat ini. Matanya memerah, dia marah. Tidak, dia sangat marah. Aku serasa ingin menangis saat ini juga.
"Kau bilang masa bodoh? Kau—" Dia berbisik tepat di depan wajahku dengan senyum yang menyeramkan.
"—Kau ingin menjadi jalang untuk pria itu? Hah!!! Aku akan menjadi orang pertama yang mewujudkan keinginanmu itu."
Bertepatan dengan puncak kemarahannya, pintu lift terbuka begitu saja. Leon menyeretku keluar dengan sangat kasar. Dia mencengkram tanganku dengan sangat kuat. Pergelangan kakiku terasa sakit karena dipaksa mengimbangi langkahnya yang cepat.
Aku terus meronta dalam perjalanan dan Leon tak mempedulikannya. Kami sampai ke sebuah kamar di ujung lorong entah lantai berapa. Tapi sungguh, bukan ini yang kuinginkan. Aku berkeringat lebih dari biasanya. Aku ... ketakutan.
Leon melepaskan cengkraman itu dengan sangat kasar, seakan dia seperti melempar barang. Aku terjatuh ke lantai dengan perasaan tidak karuan. Dia membanting pintu di belakangnya dengan sangat keras hingga aku tersentak.
Dia melepaskan jasnya dengan cepat dan menghempaskannya di hadapanku. Aku sungguh tak pernah berpikir Leon akan seperti ini. Dia kembali mencengkram tanganku dan memaksaku berdiri. Dia kembali menyeretku ke kasur dan kembali menghempaskanku. Tubuhku bergetar menahan takut yang berlebih.
"Kau takut, Tuan Putri?" Suara serak yang dia keluarkan membuatku merinding. Aku tak bisa berkata-kata dan hanya menundukkan kepalaku. Aku tak bisa menatap wajah penuh amarah itu.
Tiba-tiba Leon mencengkram daguku dan kembali memaksaku untuk menatap matanya yang penuh emosi. "Jawab, Jalang! Bukankah kau memiliki mulut?" Tanganku menggenggam sprei dengan sangat kuat. Aku merasakan mataku sudah berkaca-kaca. Tahan, Elisa.
Dia kembali mendekatkan wajahnya ke hadapanku dan berkata dengan sangat perlahan, "Jangan bersikap menyedihkan seperti ini. Bukankah kau sendiri yang berniat ingin menjadi jalang untuk seorang pria?"
Setelahnya dia kembali mencium bibirku dengan sangat kasar. Aku bahkan merasakan sudut bibirku seperti berdarah akibat gigitannya.
Air mataku akhirnya keluar ketika dia berhasil merobek gaunku dengan sangat kasar. Aku tak bisa menahannya. Dia benar-benar memperlakukanku seperti seorang jalang.
Leon menghentikan ciuman itu dengan menarik rambutku. Sakit sekali rasanya setiap helai rambutku tercabut paksa. "Kau menangis, hah? Ingin menjelaskan sesuatu?"
Aku tak bisa menjawab apa pun dari apa yang dia tanyakan. Aku hanya menatap wajahnya dengan pandangan yang mengabur karena air mata.
Tapi, entah mengapa ekspresi yang dia tunjukkan setelah melihatku menangis malah semakin menakutkan. Apa dia begitu marah denganku? Aku tak bisa melakukan apa pun di saat tubuhku tengah bergetar hebat. Ini pertama kali terjadi di hidupku. Aku ... merasa tak berdaya.
"Diam semakin membuatku muak. Itu keputusanmu untukku? Kau tahu, tangisan bahkan tak kan cukup untukku. Gunakanlah tubuhmu dengan baik agar nama jalang itu lebih nyata."
Setelah menyelesaikan kalimat itu, Leon segera menyeretku kembali ke salah satu sudut kasur. Aku berteriak meraung-raung dan menangis dengan keras ketika dia dengan cepat membuka dasinya untuk mengikat kedua pergelangan tanganku di tiang kasur. Ikatannya sangat kencang, bahkan pergelangan tanganku terasa sakit setiap kali aku meronta.
Tangisanku semakin kencang ketika dia selesai membuka bajunya dan terus merangkat ke tubuhku. Dan dalam satu sentakan dia berhasil melepas gaunku seluruhnya. Hatiku sangat sakit, sungguh harga diriku sangat terinjak-injak saat ini. Dia memilih menutup telinga dari tangisanku.
Dia terus mempermainkan tubuhku. Dia menciumi leherku dan merambat turun hingga ke bagian dadaku. Aku meronta dan terus meronta hingga rasanya aku sudah tak peduli dengan bekas yang muncul di pergelangan tanganku. Aku membencimu. Aku membencimu, Leon.
Dia melepaskan bra yang menghalangi dan melakukan apa yang ingin dia perbuat untuk menjadikanku seorang jalang. Dia mencengkram setiap inci tubuhku dengan sangat kuat. Sakit. Aku merasakannya. Aku merasakan Leon di bawah sana.
Mataku kembali terbelalak saat dengan tanpa aba-aba dia merobek celana dalamku. Pertahananku hancur. Semuanya hancur. Aku tak bisa menanggung ini semua, Leon. Kau menyiksaku.
Aku tak sanggup hancur seperti ini. Cukup.
"Cukup!!! Kau menyakitiku, Leon!!!" Pergerakan Leon yang mengecupi perutku berhenti. Dia terdiam. Sedangkan tangisanku terus terdengar. Aku tak bisa menahan sakit yang terlalu besar kau berikan.
"Kau puas?! Aku sudah menjadi jalang bagimu! Kau menyakitiku, Leon. Kau ... Aku tak berharga bagimu ... Cukup." Linangan air mataku terus mengalir dengan sesak yang berlebih.
Leon menghentikan ini semua. Dia menjauh dari tubuhku dan menutupiku dengan selimut. Dia turun dari kasur dan membelakangiku. Tak ada kata-kata yang keluar darinya. Hanya punggung lebar yang bergerak naik turun, menandakan dia sedang mengatur emosinya.
Tak sampai di situ. Dia seketika melempar lampu meja ke lantai dan berteriak sangat kencang. Aku terkejut dan menutup mataku. Saat kembali membuka mataku, aku menyaksikan Leon berjalan di atas pecahan lampu tadi. Dia bahkan tak terlihat kesakitan.
Dia mencapai sudut ruangan dan memukul tembok dengan kepalan tangannya. Dia berdarah, aku melihat tembok putih itu berbercak merah.
Aku tak tahu harus seperti apa. Kami berdua gila dengan situasi ini. Aku tak mengerti dengan ini semua. Leon berhenti memukuli tembok itu dan terduduk dengan menyandarkan punggungnya. Aku tak bisa melihat wajahnya yang tertunduk.
Setelahnya semuanya samar-samar. Aku tak bisa mengingat apa pun yang terjadi.
Aku ...
...***...
30 minutes later ...
"Leon, Apa kau gila?!"
Pertanyaan yang seperti teriakan itu memaksa mataku terbuka. Pergelangan tanganku terasa sakit kembali, namun sepertinya ikatan itu sudah terlepas. Aku tak tahu siapa orang di depanku yang telah membukakan ikatan ini.
__ADS_1
Aku masih di ruangan yang sama. Aku pingsan karena kejadian yang mengejutkan sebelumnya. Tubuhku masih terkulai di kasur yang sama tanpa pakaian apa pun. Untungnya selimut tebal di atasku masih setia melindungiku.
Orang yang telah membukakan pengikat tangan tadi segera beranjak dari kasur. Kuyakin dia tak tahu aku telah sadar. Dia berjalan ke sofa di mana Leon duduk.
"Brengsek, jangan katakan kau melakukannya? Ya, Tuhan. Wanita ini sepupu Zach. Kau ingin mati?! Dia bukan jalangmu yang bisa kau perlakukan sekasar ini. Dia bahkan pingsan, Leon. Kau memaksanya!"
Leon hanya duduk di tempat duduknya dengan terus menyesap rokok. Dia tak berniat membahas apa pun.
"Aku akan membawanya ke dokter Robinson." Pria tersebut segera berdiri dari duduknya dan berniat menghampiriku kembali.
"Jangan menyentuhnya." Hanya itu yang bisa Leon keluarkan dari mulutnya.
Pria tersebut seketika menghadiahkan Leon satu pukulan di wajahnya sehingga rokok yang tadi disesapnya terbuang. "Kau bilang jangan menyentuhnya! Kau sadar apa yang telah kau lakukan? Di saat kami semua panik mencari wanita ini, dan kau dengan santainya menelponku hanya untuk membelikan pakaian untuknya yang telah kau—"
"Apa pedulimu? Bukankah kau juga memperlakukan wanita sepertiku, Dereck?" Pria tersebut kembali duduk di hadapan Leon. Pria tersebut menarik rambutnya tanda frustasi.
"Kita berbeda. Aku tak sepertimu. Aku memang tidur dengan banyak wanita, tapi aku tak pernah memaksa. Aku memperlakukan mereka selayaknya. Kau ... kau memperlakukan wanita seakan peliharaanmu. Kau mengasari mereka. Apa aku harus mendeskripsikannya agar kau bisa melihat perbedaannya?"
Keadaan kembali sunyi. Aku sendiri tak bisa berpikir untuk beberapa saat. Apa yang telah kudengar? Kepalaku menjadi semakin pusing. Ini gila.
Beberapa saat kemudian, kami semua tersentak karena dobrakan pintu yang begitu kencang. Aku melihat dengan jelas wajah Zach di ambang pintu. Kami semua terkejut. Beberapa pengawal Zach mengepung Leon begitu saja dan mereka semua menodongkan pistol.
"Sudah kukatakan jangan pernah mendekatinya lagi. Kau tak mendengarkan instruksiku, Aldrich." Leon berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Zach. Dia tak terlihat takut sama sekali.
"Terakhir aku mendengar seseorang memanggilku seperti itu seminggu lalu. Apa kau juga akan mengganggapku orang lain, Zach?"
"Kau melewati batasmu. Kau tahu aku tak suka pengkhianatan seperti ini. Apa lagi jika menyangkut keluargaku. Kau tak lagi kuberikan hak apa pun atas pekerjaanmu, segala aset yang kuberikan, bahkan kerja sama dalam bentuk apa pun."
"Begitukah?" Sejenak semuanya hening hingga Zach berkata, "Bawa Elisa sekarang."
Aku hanya terdiam dengan kedatangan banyak orang. Sebagian ada yang wanita dan mereka ingin membantuku bangkit. Namun ...
"Jangan menyentuhnya!" Semua orang kembali terdiam.
"Lakukan dengan segera." Geraman suara Zach semakin meninggi.
"Kukatakan jangan menyentuhnya! Akan kupatahkan setiap tangan yang berani membawanya saat ini." Semua pengawal Zach terlihat kebingungan.
Zach tiba-tiba mengeluarkan pistol dari jasnya dan meletakkannya tepat di dahi Leon. Leon hanya menatapnya tanpa takut, dia bahkan tak berniat mengemis untuk meminta tolong. Aku yang seketika terduduk segera panik dengan keadaan ini.
"Katakan sekali lagi dan aku akan mengeluarkan satu peluru."
"Jangan. Pernah. Menyentuhnya." Setelahnya Zach segera mengokang pistolnya, sontak aku berteriak.
"Tidak, Zach!!!" Semua orang terlihat panik dua kali lipat ketika mendengar teriakanku.
"Zach, jangan!" Aku kembali mengulang teriakanku. Zach terlihat masih emosi ketika dia beralih melihat ke arahku, tapi dia tak melepaskan pistolnya.
"Kenapa aku tak harus menembaknya, Elisa?" Dengan mata berkaca-kaca, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tak ingin mereka seperti ini.
Detik berikutnya Zach berhasil menarik pelatuk pistol dan satu tembakan keluar.
Seketika aku memejamkan mata dan menutup telingaku.
Semuanya sunyi.
Aku tak sanggup melihatnya.
"Semuanya keluar." Suara Zach masih terdengar. Sedangkan aku? Aku menangis dalam diam.
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1
...•••...