
Greenwich Park Cherry Blossom Avanue, Greenwich (London Raya), UK - 11.23 am.
Sepuluh menit lebih aku tak berniat menanggapi apa pun yang dikatakan Leon. Ini karena apa yang dia lakukan tadi, dia menciumku tanpa izin di depan orang-orang.
Memalukan.
Aku melirik ke sampingku dan menemukannya bersikap seakan tak pernah terjadi apa pun. Apa hanya aku sendiri di sini yang malu berlebih?
"Kau lapar?"
Dia akhirnya membuka pembicaraan.
"Sedikit. Tapi aku masih belum ingin meninggalkan tempat ini."
"Ayolah, Elisa. Tak ada yang menarik di sini, kita hanya berjalan tanpa tujuan."
Aku menghentikan langkahku karena kesal mendengar ocehannya. Dia sendiri yang ingin mengajakku jalan-jalan, kenapa juga dia harus protes dan merengek seperti anak kecil karena tak bisa menemukan yang menarik di sini.
Apakah semua pria tak bisa merasakan nuansa alam yang indah ini?
"Leon, berhentilah seperti ini. Kau membuat suasana tempat ini benar-benar tidak menyenangkan."
Mood-ku menjadi buruk karena ocehan Leon. Aku memutar arah berjalanku dan kembali menyusuri jalan awal kami masuk ke tempat ini. Leon kembali bertingkah saat aku berhasil meninggalkannya dengan langkah cepat.
"Elisa, maafkan aku. Baiklah, kau bisa menikmati tempat ini selama yang kau mau. Aku akan menemanimu."
"Diamlah, tutup mulutmu!"
Entah mengapa aku bisa mengeluarkan perkataan yang seperti teriakan itu hingga orang-orang yang kulewati melirik ke arahku.
Namun, tak lama setelahnya lenganku dicekal dengan cepat oleh Leon hingga langkahku terhenti. Perbuatannya memaksaku untuk memusatkan perhatian kepadanya.
"Elisa!"
Dia menaikan nada bicaranya lebih tinggi dariku. Kami mengambil banyak perhatian banyak orang. Kami seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat.
Aku merasakan wajah Leon berubah dengan seketika. Dia marah. Lihat saja urat di dahinya bermunculan. Kenapa kami selalu berkelahi dengan hal kecil seperti ini? Sangat merusak suasana sekali.
Aku tak menyukai dia yang selalu kasar dan berteriak. Aku ingin dia selalu mengalah untukku.
Aku melihat tajam ke lenganku yang dia tahan. Dia dengan seketika melepaskan lenganku dan menghembuskan napas kasar, seakan sedang frustasi.
"Baiklah. Aku tak kan merusak apa pun lagi setelah ini. Maafkan aku."
Gotch! Kumaafkan.
Aku tak mengatakan apa pun dan melanjutkan perjalanan dengan senyuman. Kami kembali menemukan diri kami di dalam mobil.
Baiklah, kali ini agenda yang kuinginkan adalah mengendalikan sifat Leon yang kasar. Dia harus terus menekan emosinya untukku.
"Aku ingin makanan yang manis."
"Baiklah. Adakah restoran yang ingin kau datangi?"
Dia mengatakannya sembari menjalankan mobil.
"Tidak. Aku ingin ke sungai Thames ... sepertinya dengan melihat sungai, pikiranku lebih tenang."
Leon cukup sadar aku sedang mengejeknya. Kami memiliki waktu yang sulit dengan emosi masing-masing.
"Aku hanya tak menyukai keramaian, Elisa. Akan sulit mengawasimu ketika banyak orang yang berlalu-lalang."
"Memangnya aku anak kecil. Jika tersesat juga aku tinggal menelponmu."
"Kau tahu bukan itu maksudku. Bagaimana di keramaian dan kita berdesak-desakkan tiba-tiba kau ditusuk dengan pisau tajam hingga perutmu sobek dan memuntahkan organ dalammu itu."
"Kau bercanda! Itu terlalu mengerikan. Kita tidak dalam film thriller."
"Itu bisa saja terjadi. Siapa tahu ada musuh keluargamu yang sangat membenci keluargamu dan ingin membunuhmu saat ini. kau tak tahu bahaya akan muncul dimana pun—"
"Lalu aku harus kebmana! Haruskah kita ke club untuk menemukanmu tidur dengan para jalang. Apa itu tempat yang manarik bagimu?!"
"Elisa!"
Leon menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Dia memukul setir mobil dengan sangat kencang. Kemarahan menyelimuti suasana di dalam mobil ini.
Dia kembali memejamkan mata dan perlahan menengadahkan kepalanya. Aku memilih menyandarkan punggungku ke tempat duduk dan melihat ke depan. Aku tak tahu mengapa hari ini begitu sangat emosional.
"See, kita melakukannya lagi."
Dia memijit kepalanya. Ini sangat menguras tenaga ketika mengeluarkan emosimu. Itu hanya hal sepele, kenapa aku selalu ingin marah juga?
"Baiklah, maafkan aku. Kita akan ke sungai Thames."
Dia mengalah. Tapi aku tak berharap akan ke sana ketika suasana hati kami sedang sangat jelek.
"Jika kau risih dengan banyak orang, maka aku akan menghubungi kolegaku. Aku akan—"
"Tidak. Biarkan aku mengurusnya sendiri. Sebelum itu, kita makan siang dulu."
Dia memotong ucapanku dan aku membiarkannya karena tak ingin kembali menyulut emosi masing-masing.
...***...
Royal Greenwich Cafe, Greenwich - 01.05 pm.
Mood-ku berubah dengan seketika saat mencicipi banyak dessert di kafe ini. Yeah, walaupun tak ada yang mengubah suasana interaksiku dan Leon, setidaknya ini membuat mood-ku kembali.
Leon hanya memesan sandwich yang bisa cepat dihabiskan, sedangkan aku tak memesan apa pun selain dessert. Dia tak protes sama sekali, walaupun dari awal masuk hingga sekarang dia terus menatapku tajam dan memilih diam. Keadaan sebelumnya membuat dia tak ingin merusak keadaan ini.
Sejak awal kami masuk, kafe ini sudah sepi karena ditutup dengan tiba-tiba dan akhirnya kami hanya makan berdua. Aku tak tahu dia menghabiskan berapa banyak uang menyewa kafe ini untuk memperbaiki keadaan canggung kami. Dan kejamnya aku mengabaikannya.
Setelah keluar dari kafe ini, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan selanjutnya. Untuk menempuh perjalanan ke sungai Thames sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, entah mengapa Leon sepertinya mengambil jalan yang berbeda sehingga kami lama di perjalanan. Aku berusaha untuk tak memprotes itu.
"Kau sudah baikan?"
Aku melirik ke arahnya.
"Hmm, yeah. Jadi ... kenapa kita menggunakan jalan memutar untuk mencapai sungai Thames?"
Aku harap pertanyaanku tak merusak suasana. Ayolah, aku tak berencana untuk itu.
"Kau menyadarinya?"
Dia tak pernah menjawab dengan melihat ke wajahku, hanya aku yang melakukan itu saat berbicara dengannya.
__ADS_1
"Yeah."
Dia tak menjelaskan lebih lanjut dan aku juga tak menuntut dia untuk melakukannya.
...***...
A few minutes later ...
Westminster Millennium Pier, Westminster (London Raya), UK - 02.05 pm.
Setelah sekian lama, akhirnya kami bisa mencapai sungai Thames. Awalnya, aku mencoba berbicara kepada Leon untuk tak memaksakan diri harus menaiki kapal dengan banyak orang. Cukup di tepian sungai ini saja sudah cukup. Tapi, dia sudah menggenggam tanganku dan membawaku duduk di salah satu tempat untuk menunggunya berbicara dengan seseorang.
Aku tak berniat mendengarkan pembicaraannya. Aku hanya mengamatinya berbicara dengan seseorang ber-jas, mungkin salah satu pengurus fasilitas kapal wisata. Beberapa menit kemudian, akhirnya Leon mengajakku naik ke kapal. Namun seperti sebelumnya, kapal ini juga sepi. Tak ada orang kecuali awak kapal.
"Leon, apa hari ini memang tak ramai orang? Kenapa sangat sepi? Ayo, kita keluar saja. Ini sangat aneh."
"Elisa, tenanglah. Aku memang sengaja membuat kapal ini hanya dinaiki kita berdua."
"Apa?!"
Okay, aku benar-benar terkejut untuk kali ini. Bagaimana bisa? Dia dengan mudahnya menyewa fasilitas ini hanya dalam beberapa menit. Aku memicingkan mataku kepadanya.
"Kau meminta bantuan Zach?"
Dia memutar bola matanya sambil berlalu begitu saja menuju bagian deck atas kapal. Dia menyandarkan tubuhnya di pembatas kapal sembari mengeluarkan rokoknya. Dia masih mengabaikanku saat kapal ini mulai berjalan.
"Hal satu-satunya yang ingin Zach bicarakan denganku adalah membawamu pulang dengan selamat."
Aku terdiam. Lalu?
"Aku menyewa kapal wisata ini untuk 24 jam. Kau bisa makan atau tidur jika sudah bosan di atas sini."
Apa dia memiliki uang cukup untuk ini? Kurasa dia akan menghabiskan seluruh perhasilan seumur hidupnya untuk satu hari ini.
Aku mengabaikannya yang tengah menikmati rokoknya. Aku memandangi pemandangan sekitar yang seketika membuatku senang. Angin yang menerpa wajahku memberikan suasana yang tak terkira. Entah mengapa aku sangat senang untuk ini.
Aku tak pernah ke sini hanya untuk sekedar menikmati suasana ini. Kenapa? Karena aku tak bisa datang sendiri untuk alasan keamanan. Terakhir aku datang ke sini hanya untuk menemani ayahku bertemu dengan kolega bisnisnya.
Aku mengeluarkan handphone-ku dengan seketika. Jangan tanya mengapa, karena semua orang akan melakukan hal yang sama. Aku mengambil semua foto pemandangan yang kusukai.
Aku juga ingin mengambil fotoku sendiri, tapi sangat susah jika sendiri. Aku melirik ke samping sana dan menemukan Leon yang masih berkutat dengan rokoknya sembari memandangiku.
Kurasa lama-kelamaan kepalaku akan bolong jika dia terus tak mengalihkan pandangannya. Kenapa dia selalu seperti ini? Aku tak kan hilang jika dia membiarkanku bernapas sebentar tanpa harus dipandangi. Ah sudahlah, aku mengurungkan niatku untuk memintanya membantuku mengambil foto.
Kami menikmati fasilitas ini dengan semestinya. Kapal wisata ini sebenarnya akan berhenti di beberapa dermaga, namun kali ini sepertinya tidak. Aku dan Leon menikmati waktu kami di sini hanya untuk memandangi pemandangan dengan disuguhkan beberapa makanan dan minuman.
Sudah lama di atas sini membuatku semakin mengantuk. Saat aku melirik handphone-ku, ternyata sudah agak sore. Mungkin aku akan tidur sebentar.
"Leon, aku mengantuk."
Dia akhirnya beranjak dari posisinya dengan aku yang mengikutinya masuk ke bagian dalam kapal. Dia membawaku ke suatu kamar dan membukakan pintunya untukku.
"Pakailah waktumu sebanyak yang kau inginkan untuk beristirahat." Dia akan menutup pintunya.
"Kau tak kan tidur?"
Entah mengapa aku menanyakan hal bodoh itu. Wajahku seketika memerah, maksudku dia mungkin juga harus tidur sebentar, tapi bukan denganku. Mungkin di kamar lainnya.
"Tidak." Setelah mengatakannya dia langsung berlalu.
Jari-jariku berhenti menggeser layar handphone-ku saat menemukan beberapa fotoku dan Leon yang berada di taman Greenwich. Wajahku kembali memerah.
"Ahhh!!!"
Foto di mana Leon menciumku juga terambil. Antara senang dan malu bercampur rata di benakku. Aku menendang udara di sekitar dengan kaki telanjangku. Aku bahkan memukul bantal-bantal saking malunya dengan foto itu.
Mungkin sekitar satu menit aku melakukan hal bodoh itu. Aku lelah, napasku terengah-engah. Aku berkeringat juga. Dan beginilah keadaannya, bantal-bantal berjatuhan dan selimut sudah tidak karuan. Inikah yang banyak wanita lakukan jika menyukai seseorang?
Aku mengganti wallpaper layar handphone-ku dengan fotoku dan Leon yang sedang merangkul lenganku. Di sana aku yang mencoba tersenyum kaku dan Leon dengan wajah datarnya.
Apa aku sudah gila?
Aku senang sekali.
Akhirnya, aku tidur dengan nyenyak ketika lelah tersenyum sendiri seperti orang gila.
...***...
Five hours later ...
Aku terbangun dengan susah payah untuk bergerak. Kepalaku pusing. Saat aku membuka mataku, aku tersadar tengah di dalam dekapan Leon. Oh, tidak!
Aku berteriak, "Ahhh!"
Dan dengan seketika Leon terbangun bersiaga dalam posisi duduk. Sedangkan aku masih terbaring karena kaget. Wajah kebingungan Leon masih sangat nampak dan dengan seketika wajah kesalnya muncul.
Sepertinya dia kesal dengan teriakanku. Ayolah, aku juga kaget menemukan diriku terbangun dalam dekapannya. Kupikir dia hantu.
Dia menyugar rambutnya sembari memejamkan matanya dan bangkit dengan seketika. Dia kembali mengambil rokok dan handphone-nya yang terletak di meja kecil.
"Leon, kenapa kau di sini?"
"Kau tak melihat aku tadi tidur."
Dia mengatakannya sembari menyesap rokok dan masih menatapku yang berantakan. Aku melirik kamar ini yang juga berantakan.
Ulahku.
Aku terbangun dengan perasaan malu. Tak lama setelahnya terdengar suara handphone-ku berbunyi. Aku tak bisa menemukannya karena ternyata dia ada di genggaman Leon. Oh, tidak. Foto tadi!
Mata Leon menyipit seketika saat memandang layar handphone-ku yang masih berdering. Aku bangun dengan seketika dan merebut handphone-ku dengan cepat dan mengangkat panggilan itu tanpa memeriksa. Aku membalikkan badanku menghindari tatapan Leon karena saat ini aku sangat malu.
'Elisa, dimana kau?!'
Zach?
"Aku ... aku sedang berada di salah satu tempat wisata di London. Kenapa?"
'Kapan kau akan pulang? Aku tak bisa membiarkanmu lebih lama lagi di luar sana tanpa penjagaan. Kau tahu ini sangat sulit bagi kami, kau tak memikirkan bagaimana ibu dan ayahmu tengah khawatir sekarang.'
Aku terdiam cukup lama. Oh, aku benci saat ini.
Aku membalikkan tubuhku ke arah Leon. Dia mengamati handphone-nya juga dan seketika menatap ke dalam mataku. Aku tak ingin berpisah secepat ini dengan Leon. Aku tak tahu akan memiliki waktu kapan lagi dengannya.
Aku memejamkan mataku dan menjawab dengan nada berat, "Baiklah, aku akan pulang besok."
__ADS_1
Aku menyaksikan Leon terkejut dengan jawabanku. Raut wajahnya berubah seketika. Saat itu juga dia keluar dari kamar ini dengan bantingan pintu yang sangat keras.
Maafkan aku?
Aku menyelesaikan percakapan itu dengan segera. Aku mencari Leon yang sekarang sedang berbicara dengan awak kapal. Dia melirik ke arahku dan saat itu aku mendengar apa yang tengah dia katakan, "Kembali ke dermaga. Kami sudah selesai."
Tidak. Apa dia marah denganku? Ini salahku.
Aku keluar dari ruangan awak dan kembali ke deck atas kapal. Ah, baru saja aku menikmati pemandangan ini, aku sangat kecewa dengan aku yang seperti ini.
Tak ada yang bisa berjalan lancar dengan ini semua, kecuali karir pekerjaanku. Apa sebenarnya yang bisa kuraih dengan kesenangan kecil itu? Tanpa sadar aku meneteskan air mata.
"Jadi perjalanan kita berakhir hari ini?"
Suara Leon terdengar di telingaku. Dia menatap ke arah pemandangan kerlap-kerlip malam. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu dengan air mata yang menyedihkan ini.
"Aku akan kembali ke Jerman dalam waktu lama."
Aku melirik ke arahnya dengan cepat. Apa dia meninggalkanku? Lagi.
"Kau ... tak harus mengatakannya—"
Aku menghapus air mataku.
"—Untuk apa juga memberitahuku."
"Kau tak kan merindukanku?"
Jawaban apa yang dia inginkan? Aku tak kan menjawab itu.
"Kau ingin ke London Eye?"
"Kita sudah terlambat, Leon. Fasilitas itu telah tutup—" Aku menjeda kalimatku untuk menarik napas. "—Ayo kita pulang."
Dia mengecek handphone-nya kembali tanpa ingin menanggapi saranku.
"Kau tak percaya aku bisa menyewanya saat ini."
Aku tersenyum. Leluconnya berfungsi untuk menyenangkanku saat ini. Mengapa dia mengubah sikapnya ketika kami akan berpisah?
Kami akhirnya berhasil keluar dari dermaga. Ini tak melelahkan, tapi entah mengapa aku sangat malas untuk berjalan. Aku bahkan sangat ingin menjatuhkan diriku ke permukaan karena tak ingin hari ini cepat berlalu.
Namun, Leon menggenggam tanganku kembali dan menarikku, bukan ke arah mobilnya, tapi menuju fasilitas yang akan membawa kami ke suatu tempat.
London Eye?
Benar saja. Dia benar-benar melakukannya. Sekali lagi pertanyaan itu muncul di benakku. Berapa banyak uang yang dia habiskan untuk hari ini? Apa dia benar-benar menyewa fasilitas ini hanya untuk kami berdua? Aku memilih untuk tidak menanyakannya.
Sebelum kami masuk ke dalam kapsul, Leon kembali berbicara dengan seseorang yang ber-jas.
"Kami hanya membutuhkan tiga putaran. Siapkan makan malam untuk kami."
Dia hanya mengatakan itu dan langsung membawaku masuk ke dalam kapsul. Aku masih kaget dengan semua yang bisa dia lakukan. Aku duduk di sampingnya. Dia tak melepaskan genggaman tangannya kepadaku.
"Ada yang kau inginkan?" Aku tersenyum sebelum menjawab.
"Ice cream dan wine."
Dia menyipitkan matanya. Apa dia akan mengabulkannya?
"Baiklah, aku hanya bercanda." Aku meralat permintaanku.
"Tidak. Kau akan mendapatkannya."
Dia kembali mengetik apa pun itu di handphone-nya dan dalam beberapa menit ternyata makan malam dan pesananku ternyata sudah disiapkan. Apa ini makan malam perpisahan?
Kincir raksasa ini berhasil bergerak ketika semua makanan kami datang. Beberapa menit kami makan dalam diam. Leon hanya makan sedikit dan sisa waktunya hanya dia habiskan untuk memandangku.
Aku tak bisa membaca apa yang tengah dia pikirkan. Apa kau sedih ini makan malam terakhir kita?
Setelah makan kami selesai, aku berdiri dari dudukku dan membawa gelas wine untuk melihat suasana malam yang luar biasa dari atas sini. Leon berdiri di sampingku dalam diam.
Suasana diam yang lama membawa kami hingga ke akhir putaran yang kedua. Leon seketika mengambil gelas wine di genggamanku dan menghabiskan sisa wine-ku. Dia nampak terlihat frustasi juga.
Aku memilih duduk kembali ke tempat semula karena saat itu juga aku ingin menikmati ice cream-ku. Tapi entah mengapa aku kembali ingin menangis. Ice cream di tanganku bergetar dan sebagian ada yang tumpah dari tempatnya dan mengotori tanganku. Leon mendekapku dengan seketika.
"Hey, tenanglah. Kenapa kau menangis? Apa ini tak menyenangkan?"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak. Ini bahkan sangat menyenangkan. Dia menghapus air mataku dengan jari-jarinya.
"Suatu saat aku akan mengajakmu kembali ke tempat ini. Aku akan sering mengajakmu kabur dari Zach. Bukankah itu menyenangkan?"
Aku seketika tertawa mendengarnya. Leon pun tersenyum juga. Namun, kami terdiam seketika saat ice cream yang kupegang terjatuh ke baju dan celana Leon. Dia mengumpat.
"Ah, sial!!!"
Aku kembali tertawa terbahak-bahak mendengar umpatannya. Tanpa sadar Leon mendekati wajahku dan itu berhasil membuatku diam tanpa kata.
Dia mengatakan kalimat itu sangat jelas hingga aku mengabaikan pemandangan yang seharusnya kusaksikan karena ini adalah putaran terakhir kami di atas sini.
"Haruskah aku mengatakan ini adalah kencan sepasang kekasih?"
Apa itu artinya sama saja dengan 'kau ingin menjadi kekasihku?'
Oh, tidak. Tak ada yang lebih mengambil perhatianku saat ini dari pada Leon di depanku. Dia mengatakannya dengan sangat jelas di depanku. Dia mengatakannya dengan tersenyum tulus.
Apa yang harus kulakukan untuk ini semua? Kau mengambil semuanya, Leon. Dan aku dengan suka rela memberikannya untukmu.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Rasa bahagia ini jauh dari pada apa pun. Dengan seketika aku memegang sisi wajah Leon dan menciumnya. Tak ada lagi air mata yang ingin keluar. Jutaan kupu-kupu serasa beterbangan di atas kepalaku.
Aku mengakhiri ciuman itu dengan memejamkan mataku dan menyandarkan tubuhku di dadanya. Leon memeluk tubuhku dengan sangat erat, seakan takut kehilanganku.
Tak lama setelahnya aku mendengar bisikan di telingaku, "Kau membuat wajah kekasihmu lengket dengan ice cream." Aku kembali tertawa dengan sangat lepas. Apa kalian bisa merasakan perasaanku saat ini?
.......
.......
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
__ADS_1
...•••...