
Everlyn terkejut saat apa yang dilihat oleh kedua matanya. Jasper lelaki itu membunuh seseorang begitu saja dengan peluru yang menembus dahinya hingga berlubang.
Jasper melirik kearah sebuah mobil dimana Everlyn dan Laura berada. Lelaki itu tampak tergesa dan memasuki mobil yang sama dengan Everlyn.
" Jalan Daniel! " ucap Jasper terdengar sangat memerintah. " Hubungi anak buah mu untuk pergi dari tempat kejadian! Jangan sampai para polisi itu menemukan jejak pertempuran. " ucap Jasper lagi dingin dengan mengusap wajah nya kasar yang terkena noda darah dari lawan nya.
Everlyn terdiam dengan bibir bergetar, rasanya Everlyn tak percaya dengan apa yang dilihatnya hingga pergerakan Laura membuyarkan wanita itu.
" Darah " lirih Laura seraya menatap lekat wajah sang ayah. Jasper yang mendengar itu hanya bisa mengumpat dalam hati. Mereka menyerang di waktu yang tidak tepat bahkan Jasper yakin jika Everlyn akan memberondong segudang pertanyaan kepadanya.
" Laura tutup matamu dan lupakan semuanya. Daddy berjanji akan melindungi mu " ucap Jasper lembut seraya mengusap kepala Laura perlahan.
" Tuan kita akan..
" Mansion! Putriku butuh istirahat Daniel! " tegas Jasper hingga Daniel terkejut dengan perkataan tuan nya.
__ADS_1
Daniel segera melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dimana tangan nya berselancar pada ponsel pintarnya. Jasper dan Everlyn saling diam satu sama lain dimana mereka seperti enggan untuk berbicara.
Everlyn lebih memilih menatap kearah samping jendela dimana hujan deras mulai mengguyur ibu kota rusia, tangan nya sibuk membelai punggung sang putri dimana Laura seperti enggan untuk turun dari pangkuan nya.
" Eve.. " ucap Jasper namun ucapan nya terhenti kala manik wanita nya menyiratkan sesuatu.
" Jangan disini.. " pinta Everlyn hingga Jasper mengurungkan niat nya untuk berbicara.
Tak menunggu lama akhirnya mobil mewah itu mulai memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggu, manik Everlyn menyipit dan menatap sekitar nya dengan lekat.
" biar aku yang membawa Laura " pinta Jasper namun Laura terlihat enggan dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang ibu. " Baiklah, ayo turun. " ucap Jasper dan Everlyn mengangguk patuh dengan perasaan kalut dihatinya.
" Siapkan kamara yang nyaman untuk putriku! " ucap Jasper tegas kepada salah satu Maid yang datang menyambut, seorang wanita muda yang bekerja dengan Jasper hanya mengangguk patuh walaupun terkejut dengan ucapan sang tuan.
" Jasper " panggil Everlyn hingga lelaki bertubuh kekar itu menoleh kearah sumber suara. " Bagaimana jika aku pulang saja, tampak nya Laura tak nyaman " ucap Everlyn hati-hati.
__ADS_1
" Tak nyaman? " ulang Jasper dan Everlyn hanya mengangguk samar. Jasper melangkah perlahan membuat Everlyn memundurkan langkah nya secara reflek.
" Eve..
" Jasper, Laura..
" Dia putriku juga. Menurut lah padaku! " ucap Jasper penuh penekanan. " Laura, kau takut padaku? " tanya Jasper lembut hingga manik yang sama persis itu saling menatap satu sama lain. Laura menggeleng pelan. " Jika begitu turunlah, " ucap Jasper lagi hingga Laura menurut dan berada di pangkuan sang ayah.
Jasper menatap lekat wajah cantik Laura mulai dari mata, alis, hidung bahkan bibir Laura pun tak luput dari perhatian Jasper. Laura yang paham diperhatikan sang ayah hanya tertunduk dengan tersipu malu.
" Apa yang kau lihat? " tanya Laura dengan nada pelan nya. Jasper tersenyum kemudian mencubit hidung Laura gemas.
" Kau sangat cantik " hanya itu yang dapat Jasper katakan hingga membuat Laura tersipu malu karena perkataan sang ayah. Tak lama seorang Maid datang dan langsung menunduk sopan pada majikan nya. " bersihkan tubuh mu, lalu istirahat lah. Daddy akan berbincang terlebih dahulu dengan mommy mu, bagaimana hmmm? " tanya Jasper lagi.
" Tapi pakaian ku " ucap Laura bingung.
__ADS_1
" Kau tenang saja, daddy sudah menyiapkan nya. " ucap Jasper dan Laura hanya mengangguk perlahan lalu menatap maid yang sedari tadi tersenyum ramah. " Jessy! jagalah putriku, pastikan semuanya tak ada gangguan. " ucap Jasper dengan nada dingin nya.
" Saya mengerti tuan Jasper. Mari nona, aku akan membantu mu " ucap seorang wanita yang dikenal bernama Jessy itu. Laura tampak ragu namun melihat sang ibu yang mengangguk samar akhirnya Laura menurut.