
Pagi ini aku ijin keluar untuk membeli keperluan pribadi ku, dan seperti biasa si kecil Putra selalu ikut kemana saja aku pergi, jadilah aku ke minimarket dengan Putra.
Bunda, Putla au itu.... tunjuk nya pada mainan di rak mainan anak-anak yang di posisi atas.
Boleh, Putra mau yang mana kataku sambil menggendong nya agar bisa memilih dengan leluasa.
yang itu Bun, tunjuknya pada sebuah mobil warna merah.....
Akupun mengambilkan box mobil yang dia pilih, sambil menyerahkan nya kepada putra.
ini sayang...
Acih bunda cayang.... kata putra sambil mencium pipi ku dan aku pun tersenyum melihat dia senang.
Setelah selesai membayar dikasir aku kembali menggendong putra dan mengangkat belanjaan ku,
bagi ku mengangkat putra bukan beban tapi sudah menjadi kebiasaan ku sekarang ini bahkan aku anggap berat badan putra seukuran berat barbel yang aku angkat setiap hari di markas.
๐ช๐ช๐ช๐ช๐ ๐ ๐
Sesampainya di rumah aku melihat sebuah mobil warna putih berada di depan rumah, seakan pikiran ku diajak untuk berpikir lebih keras menganalisa mobil putih didepan ku ini, rasanya pernah melihat mobil ini tapi dimana ya.... batinku, sambil keluar dari mobil dan menggendong putra dan menenteng tas belanjaan ku,
Sampai didepan pintu rumah aku mendengar perdebatan yang sangat panas antar dua orang, sepertinya masing-masing mau menang sendiri dan memenangkan ego mereka.
Aku bersyukur Putra dalam kondisi tidur sehingga tidak mendengar perdebatan sengit tersebut.
Aku masuk dan mengabaikan dua orang yang dengan bersamaan melihat ku yang sedang melangkah ke arah kamar putra.
Hei....berhenti kamu, kata seseorang kepadaku dan aku bisa pastikan itu suara seorang wanita.
Aku berhenti dan membalikkan badan ku untuk melihatnya,
Iya, apa anda memanggil saya....
nama saya Janeta kataku memperkenalkan diri kepada wanita yang sedang aku tatap.
Aku mau bicara sama kamu, katanya dengan kondisi masih emosi.
Baik, tunggu --- saya akan menidurkan putra dulu kataku sambil masuk kedalam kamar, dan langsung keluar untuk menemui wanita tadi.
Aku melihat ada tuan Arsenio yang masih duduk diam dikursi paling pojok sedangkan wanita tadi duduk disini pojok satunya seakan kompak untuk berjauhan.
Aku pun duduk dikursi single sehingga bisa melihat ke arah mereka berdua.
Aku diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh wanita ini.
Baik, siapa kamu kata wanita itu judes,
Sudah saya katakan nama saya Janeta dan saya pengasuh tuan muda Putra sahutku
Siapa putra katanya,
Kamu..... dengan anak mu sendiri sajaw kamu lupa namanya, kata tuan Arsenio marah
__ADS_1
Aku biasa memanggilnya Arsen katanya tak kalah keras.
Dia sendiri yang meminta untuk dipanggil Putra dan tidak mau dipanggil Arsen kata tuan Arsenio.
Aku melihat perdebatan antar suami istri, dan akhirnya aku tahu bahwa wanita yang ada dihadapanku adalah Nyonya Rumah ini.
Tampilannya cantik tapi atitude nya tidak secantik wajah nya, batinku.
Kenapa kamu tidak menggunakan baju seragam baby sitter katanya menyerang ku.
Sesuai dengan kesepakatan saya dan tuan Arsenio bahwa saya tidak akan mengenakan pakaian seragam tersebut, alasan saya karena akan menganggu kinerja saya dalam mengasuh dan menjaga tuan muda Putra sahutku tegas.
Kamu hanya pengasuh tapi terlalu lancang dan banyak alasan,
bagaimana suami saya tidak menuruti kemauan kamu, sudah pasti kamu yang menggodanya sehingga dia menuruti syaratmu itu, katanya
Maaf, perlu nyonya ketahui bahwa disini tidak ada yang menggoda dan di goda sahutku,
saya disini untuk bekerja secara profesional dan tidak ada sangkut pautnya dengan yang lain,
Clarisa.... !!! ๐ก teriak tuan Arsenio kepada istrinya.
Terlalu lancang mulutmu menuduh orang orang lain, jangan mencari alasan dengan menyalahkan orang lain,
terdakwanya saat ini adalah kamu... tunjuk tuan Arsenio dengan emosi kepada istrinya.
Iya aku yang selalu salah dimata kamu,
aku menjadi artis ada alasan nya,
Makanya aku melampiaskannya dengan menjadi artis sahutnya.
Buka mata dan hati kamu untukku Arsenio...
Aku ini istri mu, aku ini ibu nya Arsen anak kita katanya sambil teriak dan menangis....
Aku melihat tuan Arsenio tidak menghiraukan nya,
Aku sudah bilang berapa kali kepada mu bahwa sampai kapan pun aku tidak akan jatuh cinta kepadamu dan bahkan tidak ada namamu di hatiku, kata tuan Arsenio penuh penekanan.
Jahat kamu Arsenio, kata istri nya
Lihat dirimu sendiri apakah kamu tidak jahat sehingga harus membalikkan fakta,
kalau benar kamu seorang ibu harusnya kamu yang mengasuh putramu dan mendidiknya kata tuan Arsenio.
Bukannya meninggalkannya dan mencari kesenanganmu sendiri.
Aku hanya menjadi penonton saat ini atas perdebatan suami-istri ini, yang bakal menjadikan tambahan buat analisaku.
O...iya aku ingatkan kepadamu Clarisa,
kalau kamu menjadi simpanan Aji jangan terlalu mencolok memperlihatkan nya kepada khalayak umum, agar anak ku tidak malu dikemudian hari kata tuan Arsenio tegas dan penuh emosi.
__ADS_1
Aku melihat nyonya Clarisa terkejut dengan ucapan suaminya,
Tiba - tiba ada suara memanggilku,
Bunda......
ternyata Putra sudah bangun dan mencari ku seperti biasanya, dia berjalan kearahku dan minta gendong dan aku pun mengangkat tubuh nya dan memangku nya.
Arsen sayang, panggil Clarisa kepada Putra.
tapi Putra tidak mengindahkan nya justru putra memelukku erat, dan seperti anak yang tidak kenal siapa wanita yang memanggil nya.
Arsen ini mommy katanya sambil mendekati Putra yang ada dipangkuan ku, tapi putra tidak bergeming sama sekali.
Kamu apakan anakku katanya penuh tekanan amarah kepadaku.
Aku tersenyum mendengar kalimat yang dia ucapkan terlebih diarahkan kepadaku.
Kamu pasti sudah meracuni otak anakku katanya.
Anda bisa menanyakan kepada semua orang di rumah ini dan juga kepada putra anda, apa yang sudah saya lakukan selama saya bekerja di rumah ini sahutku tegas.
Anak kecil kan merasakan siapa orang - orang yang menyayanginya dan memperhatikannya sahutku.
Awas kamu..... !! ancam nya kepadaku
Apa anda kira saya takut dengan ancaman anda, dan perlu anda ketahui jangan menggunakan kalimat ancaman saat didepan anak kecil sahutku.
Wanita itu diam dan beranjak kembali duduk di sofa semula.
Bunda..... Putla lapal.....
Ayo sekarang kita makan, sahutku sambil berdiri dan menggendong nya menuju ke ruang makan.
See, kamu bisa lihat kan.... anakmu saja lupa kepadamu, bagaimana bisa kamu dikatakan sebagai seorang ibu, kata tuan Arsenio yang masih bisa aku dengar dan meninggal kan wanita itu seorang diri.
Tanpa pamit wanita tersebut keluar dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,
entah apa yang ada dibenak wanita itu sekarang mungkin; malu, marah, kecewa bercampur jadi satu, aku berharap dia sadar dan bertobat agar RT nya bisa dipulihkan, batinku.
Bunda,.....siapa wanita tadi katanya
Putra tidak kenal pada ibu tadi kataku
ndak.....Putla gak kenal sahutnya.
Putra tidak perlu kenal siapa wanita tadi kata seseorang di belakangku yang ternyata adalah tuan Arsenio.
Aku diam dan tidak menjawab, sebab hal tersebut merupakan wewenang tuan Arsenio pada anak nya.
Aku berharap pertikaian RT mereka tidak meninggalkan trauma bagi Putra, batinku.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE
__ADS_1
YA SAY ๐๐๐๐๐