
"Sudah sekian lama aku menantikan kebangkitanmu Tuan Argon" Ucap seorang monster yang telah berhasil membangkitkan Tuannya tersebut.
"Khu..khu..khu jadi kau yang telah membangkitkanku dari tidur panjangku? Siapa namamu wahai prajurit setia?" Tanya Argon kepada monster tersebut, dia terlihat memujinya karena keberhasilannya.
"Saya Zemus yang mulia Argon. Suatu kerhomatan bisa berbicara dengan Tuan" Kata Zemus, dia senang bahwa tuannya telah bangkit namun dia juga sepintas memandang prajurit-prajurit yang telah berkurang drastis.
Statistik.
Nama : Zemus
Kemampuan : ????
Status : Raja Monster Setelah Argon
"Lihatlah Tuan, kaum kita sudah semakin berkurang akibat perang di masa lalu itu" Ucap Zemus sambil memperlihatkan prajurit monster yang ada di sekitarnya kepada Argon.
"Hm jadi kau bilang sebelum ini terjadi pertempuran! Siapa yang memimpin kaum ini saat itu terjadi?" Tanya Argon yang memandangi Zemus karena penasaran.
"Hamba yang mulia. Saat itu tujuan kami ialah ingin menaklukkan kaum Guardian Force dan merebut wilayahnya" Jawab Zemus.
"Kau bilang menaklukkan Guardian Force? Lantas apa yang terjadi setelah itu? " Kembali Argon pun makin penasaran dengan ceritannya itu.
"Yeah, Kami hampir berhasil memenangkan pertarungan itu kalau saja summoner sialan itu tidak datang dan ikut campur dalam pertarungan kala itu" Jawab Zemus yang masih kesal dengan kejadian 10 tahun lalu.
"Apa katamu? Setauku sejak aku masih hidup para summoner sudah aku binasakan semuanya. Jadi siapa summoner yang berani ikut campur itu?" Ucap Tuan Argon dengan nada marah.
"Hamba tidak mengenalinya yang mulia, yang hamba tau dia bertarung bersama dengan Guardian Force yang bersamanya" Jawab Zemus dengan ekpresi takut.
__ADS_1
"Seperti apa Guardian Force miliknya itu?" Tanya Tuan Argon kembali.
"Sesosok naga dengan sisik emasnya, dia memporak porandakan tempat itu hingga hampir seluruh kaum kita lenyap di sapu nya" Jawab Zemus sambil menundukkan kepala.
"Khu..khu..khu.. Jadi memang dia orangnya, menarik" Tuan Argon pun menyeringai, sepertinya dia mengenali summoner yang dimaksud itu.
"Lantas kenapa kalian bisa lolos dari serangannya?" Tuan Argon memandang Zemus dengan serius seolah sedang menantikan jawaban dari Zemus.
"Saat itu ada Fyn yaitu panglima kami yang bisa dibilang memiliki kekuatan pertahanan yang sangat kuat yang mulia. Dia mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi hamba dan sisa pasukan yang ada saat ini" Jawab Zemus sembari mengingat kembali kejadian dimasa lalu itu.
"Yah apapun itu dia pantas di sebut sebagai panglima yang tangguh" Puji Argon. Dia pun sejenak terdiam sedang memikirkan sesuatu untuk memulai deklarasinya.
"Dengarkan wahai pengikutku! Tujuan kita selanjutnya adalah untuk mengambil sebuah pedang bernama ragnarok. Yang mana pedang itu telah menyegel sebagian besar dari kekuatanku dimasa lalu" Ucap Argon yang memulai deklarasinya.
"Mungkin saja seorang summoner yang kalian temui itu sama dengan yang telah mengalahkanku dimasa lalu dan berhasil menyegel sebagian dari kekuatanku di dalam pedang itu" Ucap Argon dengan tegas.
"Berani-beraninya dia melalukan semua itu pada Tuan kami!! Tuanku berikanlah kami perintah untuk mencari keberadaan orang itu dan membawanya kepada Tuan" Ucap Zemus, dia terlihat sangat marah karena telah mengalahkan tuannya, pengabdiannya kepada Argon begitu besar.
"Hamba merasa sangat terhormat bisa menjadi tangan kanan Tuan, Segeralah beri kami perintah Tuan" Ucap Zemus sambil berlutut di hadapan Tuannya itu.
"Tak usah terburu-buru, kalian bukanlah tandingannya dan kekuatanku masih belum terkumpul semuanya. Selain itu aku ingin memastikan sesuatu, jadi jagalah tempat ini selagi aku pergi. Zemus" Perintah Argon yang kini bersiap untuk melakukan sesuatu
"Baiklah yang mulia Argon, keinginan anda adalah perintah bagi kami" Jawab Zemus.
Argon pun terlihat merapalkan sebuah mantra sihir dan berhasil menciptakan sebuah lubang hitam yang menghubungkannya ke suatu tempat.
Dia pun kemudian memasuki lubang hitam itu dan seketika lubang hitam itu lenyap bersama dengan Argon. Dengan kembalinya Argon dunia ini akan melihat mimpi buruk untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
***
Sementara itu di tempat Aaron berada terlihat Aaron telah berhasil membuat kontrak dengan Guardian Forcenya yang tak lain adalah Zero.
"Hey Zero, cahaya apa yang barusan saja kau masukkan kepadaku?" Tanya Aaron yang masih penasaran dibuatnya. Zero pun kembali dibuat kesal oleh Aaron, sambil marah-marah dia mencoba menjelaskannya.
"Dasar kau ini!! Itu adalah secuil dari energiku yang ku letakkan kepadamu agar aku bisa selalu terhubung denganmu! Dan kau bisa memanggilku kapan saja" Ucap Zero sambil melototkan matanya.
"Lantas bagaimana proses pemanggilan itu?" Tanya Aaron.
"Kamu ini sangat crewet sekali bocah kecil. Biar ku pertegas, cukup rasakan saja energiku dan panggil namaku dengan sebelah tanganmu memegang segel tanda di lehermu itu. Maka aku akan terpanggil dan keluar" Jawab Zero.
"Sepertinya aku paham. Baiklah mula-mula pusatkan pikiran ke energi dari Zero, lalu tangan memegang sebuah tanda segel? Hey tunggu dulu aku tak memiliki sebuah segel di leherku tau" Ucap Aaron yang sepertinya belum menyadari bahwa lehernya kini telah tertera sebuah tanda segel.
"Hadeh, tak usah cerewet dan lakukan saja!!" Kata Zero.
Aaron pun tak sengaja melihat sebuah genangan air yang ada didekatnya itu.
"Hah sejak kapan ada tanda ini dileherku?"
"Apa mungkin gara-gara ini aku bisa selamat dari serangan Zero barusan"
Aaron yang masih terkejut dengan tanda di lehernya itu mencoba untuk tak mempedulikannya dan kembali fokus ke proses pemanggilan tadi. Dia mulai memejamkan matanya sambil memegangi tanda dilehernya sesuai apa yang Zero jelaskan barusan.
"ZERO KELUARLAH !!!" Teriaknya dengan kencang. Perlahan dia buka matanya yang terpejam itu.
"Lho kok tidak terjadi apa-apa?" Ucap Aaron.
__ADS_1
"Arggh, jelas tidak terjadi apa-apa. Aku kan ada disini dasar bocah sialan!!!" Ucap Zero terlihat kesal sekali, disisi lain dia sepertinya juga terlihat senang karena telah menemukan patner yang dapat mengisi kekosongan hatinya.
"Hehehhe jadi pemanggilan ini hanya dapat terjadi jika aku ada di dunia manusia sendiri ya? Maafkan aku Zero" Aaron mencoba meredamkan kemarahan Zero.