THE SUMMONER

THE SUMMONER
Ch. 14 - Wajah baru


__ADS_3

Ruangan Raven.


Kini mereka pun akhirnya kembali ke ruangan kelas itu setelah melewati dimensi yang di kirimkan dari Raven. Rupanya disitu terlihat Evana, Raven, dan Paman Zell telah menyambut kedatangan mereka semua.


"Yah sepertinya kalian pulang dengan selamat ya, tak kusangka akan begitu hahaha" Sambut Raven kepada mereka.


"Bagus dengan ini kalian sudah resmi menjadi seorang summoner, selamat ya untuk kalian semua" Ucap Evana.


"Ah Aaron kau berhasil ya, selamat" Ucap Paman Zell dalam hati.


Selain Aaron, sepertinya mereka bertiga sedikit asing dengan pemuda di samping Bu Evana dan Raven itu.


"Eh Bu Eva, siapa pria di samping anda itu?" Ucap Xena sembari menunjuk ke arah Paman Zell.


"Oh iya perkenalkan, beliau adalah kepala sekolah di sini" Jawab Bu Evana.


"Yoo.. Salam semuanya perkenalkan namaku Zell. Aku adalah kepala sekolah disini sekaligus paman dari Aaron" Ucap Zell yang mencoba memperkenalkan diri dengan wajah coolnya.


Statistik.


Nama : Zell


Usia : 28 Tahun


Tipe sihir : Sihir Paladin/Terlarang


Status : Master Summoner****


"Jadi anda adalah pamannya Aaron dan sekaligus kepala sekolah di sini?" Ucap Firion.


Mendengar bahwa kepala sekolah di sini adalah pamannya Aaron, Dandelion kini mengingat kembali perbuatan-perbuatan usil yang di lakukannya kepada Aaron.


"Eh kepala sekolah? .. Maafkan aku Aaron yang selalu usil kepadamu" Ucap Dandelion.


"Yeah tak apa, lagi pula aku sudah melupakannya juga" Ucap Aaron.


"Kyaaa tambah lagi cowok gantengnya hihihi"


"Eh maaf atas kelancangan saya pak" Ucap Xena yang tak bisa mengontrol ucapanya itu.


"Yoo tak apa kalian semua, jangan kaku begitu kepadaku.. Anggaplah berbicara seperti teman sendiri ya" Ucap Zell.


"Baa..ik pak" Ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Baiklah pelatihan hari ini selesai sampai di sini saja, kalian boleh pulang sekarang dan istirahatlah yang cukup karena besok kita akan melakukan latihan kembali kali ini latihan sebagai seorang summoner, jadi persiapkan diri kalian masing-masing" Ucap Evana.


.....Angguk...Angguk... Mereka berempat terlihat menganggukkan kepala secara bersamaan.


"Paman Zell apakah paman ikut pulang bersamaku" Ucap Aaron.


"Kau duluan saja ron. Masih ada urusan yang belum ku selesaikandi sini, mungkin beberapa hari ini aku tidak pulang ke rumah. Jadi jaga adikmu dengan baik ya?" Ucap Zell.


"Baiklah paman kalau begitu aku pulang dulu, sampai nanti" Jawab Aaron.


Langit sudah mulai gelap dan mereka pun kini terlihat meninggalkan ruangan itu dan mulai beranjak untuk pulang.

__ADS_1


Di perjalanan sepertinya hanya Arah kepulangan Aaron saja yang berbeda sementara itu untukmereka bertiga pulang dengan jalan yang searah.


***


Dijalan.


"..Hoam.. Melelahkan sekali hari ini, bagaimana dengan mu Firion?" Tanya Dandelion.


"Lelah saja tak cukup bagiku, aku merasakan perbedaan yang signifikat setelah latihan dengan Tigrel" Ucap Firion.


"Hah siapa itu Tigrel?" Tanya Dandelion.


"Yah dia adalah Guardian Force ku, bagaimana dengan kalian?" Jawab Firion.


"Benar juga, seperti apa wujud dari Guardian Force milikmu itu Firion?" Tanya Dandelion kembali.


"Yah kurang lebih seperti sesosok macan yang tangguh, bagaimana denganmu?" Tanya balik Firion.


"Wah masih mending dong, masa Guardian Force ku berbentuk seperti burung aneh dengan empat tangan" Jawab Dandelion.


"Yah bagus dong, kau bisa di bawanya terbang dengan dua tangannya memegangi tubuhmu sementara kedua tangannya lagi berjaga-jaga" Ucap Firion.


"Hei jangan meledek ya, kau kira aku anak kecil sampai di gendong segala?" Ucap Dandelion.


"Hmm ngomong-ngomong kenapa kau diam saja dari tadi Xena?" Tanya Firion yang kini melihat Xena dengan raut wajah yang sedikit murung.


"Aku sedang tidak enak badan jadi ayo kita segera pulang saja" Ucap Xena sembari mengingat kejadian tak mengenakkan di masalalunya itu.


Akhirnya mereka bertiga pun memutuskan berpisah di sebuah gang karena arah kepulangannya yang kini berbeda-beda.


***


...Srakk...srakk..srakk..


"Siapa itu? Apa ada orang?" Ucap Aaron dengan tegas.


Namun tak ada jawaban yang terdengar. Aaron pun memutuskan untuk kembali berjalan dan menghiraukannya.


...Sraakk...srakk..srakk...


Suara itu terdengar kembali dan sepertinya arahnya berasal dari pepohonan yang sedang di lewati Aaron.


"Hmm dari atas pohon sepertinya" Ucap Aaron dalam hati sembari menengok ke atas pohon.


Lagi-lagi tak ada suara yang terdengar. Aaron pun mulai curiga dan kini berlari kencang. Namun suara itu sepertinya juga mengejar Aaron dengan kencang. Terdengar suara langkah kaki di pepohonan itu.


Mengetahui bahwa dirinya di buntuti, Aaron pun menghentikan langkahnya dan langkah dari suara itu pun juga ikut berhenti tepat di atas Aaron.


Aaron yang kini mulai kesal pun mencoba mengambil sebuah kerikil yang ada di dekatnya itu dan di lemparkannya tepat mengenai sumber dari suara asing itu.


Aaron pun kaget bukan main ternyata di balik suara asing itu terlihat seseorang yang jatuh di balik pepohonan dan kini menindih tubuh kekarnya.


"Ahh sakit tau" Ucap seseorang itu.


"Kau sendiri kenapa membuntuti ku seenaknya, Eh...."Cantik sekali orang ini, parasnya bagaikan seorang putri saja, matanya biru laut yang berkilauan" Ucap Aaron dalam hati.

__ADS_1


"Ke..napa kamu memandangiku seperti itu? Dasar tidak sopan."


......Plakkk...


Wajah Aaron pun sukses di tampar olehnya, Dan seketika dia pun beranjak bangun dari tubuh Aaron.


"Dasar, semua cowok itu sama saja ya otaknya" Ucap gadis itu sambil mengembungkan pipinya.


"Hei jangan salah paham dulu, lagian kenapa juga kau menindihku dan membuntutiku seperti ini?" Ucap Aaron sambil mengelus pipinya.


"Eh soal itu.. Sebenarnya aku sedang tersesat dan tanpa di sengaja aku melihatmu berjalan di sekitaran hutan ini, jadi aku ikuti saja kamu" Ucap gadis itu.


"Oh jadi orang tersesat toh" Ucap Aaron dalam hatinya.


"Baiklah sepertinya kamu bukan orang jahat, kalau boleh tau di mana tempat tinggalmu nona?" Tanya Aaron.


"Tempat tinggal ya... Aku mungkin tidak memilikinya" Ucap gadis itu mulai terlihat murung.


"Eh maafkan aku nona, aku tidak tahu" Ucap Aaron yang merasa bersalah.


"Iya tidak apa kok, jangan panggil aku nona. Panggil saja Riona" Ucap gadis itu.


Nama : Riona


Umur : 18 Tahun


Tipe Sihir : ????


Status : ????


"Baiklah kalau begitu, perkenalkan aku Aaron senang bertemu dengan mu Riona. Tapi maaf sepertinya hari sudah mulai gelap, aku harus segera pulang" Ucap Aaron yang kini beranjak pergi meninggalkan Riona sendirian.


Tak ada balasan dari gadis itu. Dia hanya berdiam diri di tangah hutan yang sunyi dan wajahnya memperhatikan langkah Aaron yang kini mulai menghilang dari pandangannya itu.


"Ah akhirnya aku sendirian lagi ya" Ucap Riona dengan murung.


Angin malam pun kini berhembus dengan kencang di hutan itu, yang mana membuat siapa saja yang ada di sana merasa kedinginan.


Saat gadis itu mulai terlarut dalam kesedihan tiba-tiba saja terdengar langkah kaki yang berlari dari belakang gadis itu, langkahnya begitu cepat. Belum sempat dia menengok ke arah belakang langsung saja dalam sekejap tubuh mungilnya itu sukses di bopong nya.


Riona pun kaget dan mencoba melihat siapa sosok di balik orang yang sedang membopongnya itu.


"Eh ka..kamu kenapa kembali lagi kesini" Ucap Riona.


"Mana mungkin aku meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah hutan seperti ini" Ucap Aaron.


Ya sosok yang membopongnya itu tak lain dan tak bukan adalah Aaron yang tak enak hati kepada Riona.


Seketika wajah yang cantik itu di buatnya menangis dalam kenyamanan.


"Terimakasih Aaron" Ucap Riona yang kini mulai tersenyum karena bahagia.


"Yeah kau tak perlu mengucapkannya... Kita pulang" Ucap Aaron.


"Emm" Ucap Riona yang kini mulai memeluk Aaron dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2