
Belum lama Aaron tertidur pulas setelah banyak kejadian yang menimpa dirinya, tiba-tiba sebuah ketukan yang cukup keras berhasil membangunkannya. Dengan wajah yang masih mengantuk dia mencoba membuka pintu rumah itu, Riona yang juga terbangun itu sontak keluar dari kamar dan mengendap-endap dari balik tembok. Aaron pun membuka pintu itu dan terlihat dua sosok pemuda berjubah sudah menanti dari luar.
"KETEMU... " Ucapan dari orang itu membuat Aaron tersadar sepenuhnya, mendeteksi adanya bahaya dia pun segera menutup pintu itu, namun dengan cepat tangan dari tamu tidak di undang itu mencegahnya dan semua itu membuat Aaron sedikit kesal.
"Maaf! Siapa anda sekalian, kalau tidak ada keperluan silahkan pergi dari sini! " Ucap Aaron dengan kesal.
"Hohoho tentu saja kami sangat perlu denganmu, tepatnya melumpuhkanmu dan membawamu pergi" Mengetahui kedua orang itu adalah musuh, Aaron pun mencoba bernegosiasi dengan mereka.
"Baiklah kalau itu keinginan kalian cepat bawa aku pergi, sebagai gantinya jangan pernah menginjakkan kaki lagi disini" Kata Aaron mencoba melindungi orang yang ia sayangi.
"Bagus, anak yang penurut akan membuat pekerjaan kami menjadi mudah" Ucap pemuda berjubah itu yang kini mulai membawa Aaron pergi dari sana. Riona yang menyadari hal tersebut mencoba membuntutinya.
__ADS_1
"Bagus, dengan ini aku bisa membawa pergi mereka agar tidak membahayakan Riona dan adik. Tinggal menunggu situasi yang tepat untuk menyerang" Ucap Aaron dalam hati.
Mereka pun terus membawa Aaron hingga menuju kesebuah bukit yang jauh dari tempat tinggal Aaron berada, menyadari sudah cukup jauh Aaron pun mencoba bertindak sesuatu.
"Anu permisi.. Sebenarnya saya mau dibawa kemana" Tanya Aaron berbasa-basi.
"Diam dan ikuti saja kami bocah, jika kamu menurut semua akan cepat selesai, hahaha."
"Benar, jika tidak ingin terluka sebaiknya dengarkan kami baik-baik" Sahut rekan berjubah satunya. Mengetahui mereka sedang sibuk berbincang-bincang, Aaron pun tidak mau melewati kesempatan itu, langsung saja dari belakang ia melayangkan sebuah bola api besar yang siap menghantam mereka berdua.
"Apakah aku berhasil mengalahkan mereka? " Gumam Aaron yang terus memperhatikan efek dari ledakan itu yang kini perlahan hilang berganti dengan kepulan asap, akan tetapi Aaron merasa aneh dengan asap itu yang tak kunjung hilang dan seolah membentuk sebuah tameng untuk mereka berdua. Setelah menunggu dan menunggu akhirnya asap itu mulai menghilang dan Aaron kaget melihat mereka berdua yang masih dapat berdiri kokoh.
__ADS_1
"Cih terlambat sedikit saja kami sudah hangus terbakar" Ucap musuh berjubah yang memiliki sihir asap itu, sepertinya jubah mereka terbakar dan sontak membuat mereka melepaskannya.
"Dasar bocah tidak tahu diri! Beraninya menyerang dari belakang" Terlihat sebuah darah mengalir dari bibir mereka. Saat salah satu dari mereka mulai menyerang Aaron, tiba-tiba sebuah belati melayang dan membuat dia berhenti seketika.
"Ternyata kecurigaanku itu benar, aura sihir ini? Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan, Erlos dan Erlisa" Ucap seseorang yang melempar belati tadi, dia melangkah menuju arah Aaron dan sosok Riona terlihat di mata mereka bertiga.
"Hihihi, lihat siapa yang mengganggu misi kita ini, Erlos" Ucap Erlisa yang mulai tersenyum melihat rekan lamanya.
"Riona! Aku pikir siapa sampai-sampai aku tidak menyadari keberadaanmu dari tadi" Kata Erlos.
"Eh Riona, kenapa kamu ada disini? Dan siapa mereka, kenapa mereka mengenalmu? " Tanya Aaron kebingungan.
__ADS_1
"Eh soal itu tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian saat didepan pintu, dan aku memutuskan untuk membuntutimu karena aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa ron. Soal mereka, yah mereka adalah mantan dari anggota Huntermonster sama sepertiku" Jelas Riona kepada Aaron. Saat Riona sedang sibuk menjelaskan sebuah asap berbentuk pedang melayang menghantam mereka, namun Riona berhasil menangkisnya dengan sihirnya yang membentuk pohon yang ada disekitaran sana menjadi hidup. Akan tetapi asap itu kembali terurai melewati sihir Riona dan kembali membentuk sebuah pedang dan menggores pipi Aaron hingga berdarah.
"Anggap saja kita impas bocah, selanjutnya kami tidak akan main-main" Ucap Erlisa.